The Bodyguard

The Bodyguard
Bring You Back


__ADS_3

"Bukankah kita akan ke Italia sore ini. Jika Anda mau, maka ...."


"Miabella tak ingin bertemu denganku, Grigori," sela Carlo dengan segera. Kedua tangannya erat mencengkeram pagar besi yang menjadi pembatas balkon.


"Anda seorang pria, Tuanku. Ada seribu satu cara bagi kaum lelaki untuk dapat menaklukan hati seorang wanita. Seberapa tingginya puncak sebuah gunung. Namun, tetap saja ada pendaki yang mampu untuk menaklukannya. Seberapa keras hati seorang wanita? Aku yakin bahwa tak akan ada yang bertahan dari sebuah rayuan memabukan." Grigori menyeringai kecil.


Carlo yang tadinya membelakangi pria paruh baya tersebut, langsung saja menoleh. Dia menaikkan sebelah alis, sebagai tanda bahwa dirinya mulai tertarik dengan ucapan sang penasihat. "Kau ingin aku menjadi seorang perayu?"


"Apapun demi nona muda, Tuanku," sahut Grigori.


"Bagaimana caranya? Aku ...." Carlo terdiam sejenak. Dia tampak berpikir sambil menggaruk-garuk kening. Setelah itu, Carlo mengusap-usap tengkuk kepala. "Jam berapa kita akan berangkat?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.


"Kita akan berangkat pukul lima belas sore ini. Akan tetapi, bisa disesuaikan dengan keinginan Anda, Tuanku," sahut Grigori memberikan sebuah pilihan.


Carlo pun tak segera menjawab. Dia kembali berpikir. Sesaat kemudian, sebuah senyuman samar muncul di sudut bibirnya. "Kita berangkat satu jam lagi," putus Carlo seraya


berlalu begitu saja.


"Sesuai keinginan Anda, Tuanku," sahut Grigori sambil mengangguk hormat. Dia tak berani membantah keputusan sang tuan muda. Grigori pun segera menyiapkan segala sesuatunya. Ini sama saja dengan keberangkatan yang mendadak bagi pria paruh baya tersebut.


"Bukankah kau dan tuan muda baru akan berangkat nanti sore?" tanya Ivan yang tampak keheranan.


"Tuan Karl sengaja memajukan jadwal keberangkatan kami karena satu dan dua alasan. Apa kau sudah mengkoordinasikannya dengan Simic?" tanya Grigori. Simic merupakan nama pilot helikopter yang akan mengantar dia dan Carlo menuju Italia.


"Aku sudah memberitahunya sejak tadi. Beruntung karena helikopter sudah siap. Kau tahu jika Simic selalu dapat diandalkan," sahut Ivan seraya mengisap rokok yang hampir habis, kemudian mematikan sisanya di dalam asbak. "Lalu, kapan tuan muda akan kembali lagi kemari? Ingatkan dia bahwa di sini juga masih ada banyak urusan penting yang harus segera ditangani," ujar Ivan. Dia berpesan kepada mantan penasihat Nikolai tersebut.

__ADS_1


"Tuan muda berencana akan berada di Italia selama satu minggu," jawab Grigori. "Kau tidak perlu khawatir. Aku rasa dia pasti tahu dengan tugas dan kewajibannya. Kami hanya akan menyelesaikan beberapa urusan mengenai bisnis batu permata," jelas Grigori. Dia tak melanjutkan lagi perbincangannya dengan Ivan, karena Carlo sudah muncul di sana.


Walaupun sudah diangkat menjadi ketua dari Klan Serigala Merah, tetapi hal itu tak membuat penampilan Carlo menjadi berubah. Dia masih setia dengan celana jeans yang sobek pada bagian lutut dan dilengkapi sebuah jaket bomber. Kaca mata hitam pun tak ketinggalan ikut menambah ketampanannya.


"Anda sudah siap, Tuan?" tanya Grigori.


"Kita berangkat sekarang," balas Carlo. Sebelum berlalu dari sana, pria berambut gelap tersebut kemudian mengalihkan perhatian kepada Ivan. "Kutitipkan ibu di sini. Tolong jaga dia dengan baik," pesannya.


"Tenang saja, Tuan muda. Tidak Anda pesankan pun, kami semua yang berada di sini pasti akan menjaga nyonya besar dengan baik," balas Ivan meyakinkan. "Sekadar informasi, tadi Igor mengatakan bahwa dia akan kembali besok dari Sochi. Kasihan sekali, dia pasti sangat kelelahan."


"Ajak dia ke spa untuk mandi sauna," ujar Carlo menanggapi, dan segera berbalas tawa renyah dari Grigori. Sebelum beranjak dari hadapan rekannya, Grigori sempat menepuk lengan Ivan dengan akrab. Setelah itu, dia kembali tertawa sambil melangkah pergi meninggalkan pria tadi sendirian.


Dengan menggunakan helikopter pribadi milik Grigori, Carlo terbang menuju Italia. Untuk pertama kalinya, pria itu kembali menginjakkan kaki di negara yang menjadi tempat dia menghabiskan masa kecil. Tujuan pertama Carlo dan Grigori adalah tentu saja bengkel yang menjadi tempat pengolahan batu-batu permata berkedok perusahaan investasi.


"Kami mendapat email dari seseorang bernama Martin Sosa. Dia merupakan distributor batu permata untuk seluruh wilayah Kroasia. Pria itu menawarkan kerja sama dengan kita. Kami sudah berdiskusi kemarin, dan dia berencana untuk bertemu Anda secara langsung," lapor Feliks, ketika Grigori telah berada di ruang bawah tanah yang merupakan bengkel tempat penyortiran dan segala hal yang berkaitan dengan batu permata.


"Aku belum berani mengambil keputusan. Kau tahu bahwa diriku tidak memiliki basic seorang pengusaha," sahut Carlo ragu.


"Tuan Nikolai merupakan pengusaha yang sangat luar biasa hebatnya. Di Rusia, dia memiliki beberapa lahan usaha selain batu permata ini. Satu di antaranya adalah perusahaan kilang minyak bumi, yang telah dijual oleh Viktor dan saat ini beralih ke tangan seorang pengusaha bernama Ludwik Klemens. Aku mengikuti berita tentang pengusaha asal Polandia tersebut. Menurut berita yang kudengar, perusahaan itu kini sedang oleng. Kurasa ini adalah kesempatan kita untuk kembali mengambil alih kepemilikan," tutur Grigori menerangkan. Sementara Carlo menyimak dengan saksama.


"Setelah kekuasaan jatuh ke tangan Viktor, dia tidak ingin direpotkan dengan mengurusi perusahaan-perusahaan yang telah mendapat perizinan dari pemerintah. Viktor menjual semuanya, dan hanya memegang bisnis senjata. Dia juga menyelundupkan obat-obatan terlarang," tutur Grigori lagi.


"Bagaimana bisa dia menjual seluruh perusahaan yang bukan atas namanya?" Carlo mengernyitkan kening karena tak mengerti.


Sementara Grigori mengempaskan napas panjang sebelum menjawab pertanyaan tadi. Ingatannya melayang pada beberapa puluh tahun silam, ketika dia menyaksikan sendiri Viktor dan anak buahnya yang sudah menodongkan senjata di dekat kepala Fabiola. Sementara wanita itu tengah menggendong Carlo yang masih bayi. Sedangkan si kembar Alexei dan Liev terus menangis karena ketakutan.

__ADS_1


Dalam tekanan berat seperti itu, Nilokai pada akhirnya setuju untuk menandatangani surat perjanjian yang menyatakan bahwa dia mengalihkan seluruh aset harta kekayaan atas nama Viktor Drozdov, anak haram dari gundik ayahnya.


"Jangan lakukan itu, Tuan!" cegah Grigori dengan tegas dan lantang. Dia sendiri saat itu dalam todongan senjata tajam. Setelah Grigori berseru demikian, seorang anak buah Viktor menusukkan belati di punggung bagian belakang dan menyayatnya hingga ke pinggang. Grigori pun ambruk bersimbah darah.


Dalam keadaan yang sudah tak berdaya, dia masih dapat melihat ketika Viktor menembak kepala Alexei dan Liev, karena kedua anak itu terus menangis. Sementara keributan terjadi, saat Nikolai melakukan perlawanan dan sempat membawa Fabiola beserta bayi mereka entah ke mana. Namun, sayup-sayup Grigori mendengar seseorang yang berseru bahwa mereka melarikan diri ke dalam terowongan rahasia.


Lemas kaki seorang Carlo membayangkan kejadian saat itu. Dia pun terduduk, apalagi ketika melihat Grigori melepas t-shirt lengan panjang yang dikenakannya. Pria paruh baya tersebut kemudian membelakangi Carlo, dan menunjukkan bekas luka sayat yang memanjang hingga ke dekat pinggang.


"Bagaimana kau bisa selamat?" tanya Carlo.


"Ketika Viktor dan anak buahnya yang belum seberapa banyak tengah melakukan pengejaran terhadap tuan Nikolai serta nyonya Fabiola, Igor datang. Dia juga sudah terluka parah. Dia membawaku pergi," terang Grigori.


"Terus terang saja, saat itu aku dan Igor tak memiliki harapan lebih untuk tuan dan nyonya. Mereka hanya berdua, membawa seorang bayi. Sementara yang mengejar di belakang ...." Grigori kembali mengenakan pakaiannya. "Itu adalah kisah paling kelam dari Klan Serigala Merah. Karena itu pula aku merahasiakan kondisi nona muda. Aku hanya ingin agar Anda fokus dan bisa mengambil kembali segala hal yang telah direbut paksa oleh Viktor. Sudah terlalu lama pria itu berkuasa."


Grigori kemudian duduk di sebelah Carlo yang masih diam terpekur. "Kini kekuasaan telah kembali ke tangan Anda. Saatnya untuk merangkak dan membangun Serigala Merah agar bisa berada di puncak kejayaannya lagi seperti dulu. Aku dan yang lainnya begitu yakin bahwa darah tuan Nikolai yang mengalir dalam diri Anda, bisa menjadikan sebuah motivasi besar." Grigori terus menumbuhkan rasa percaya diri seorang Carlo.


"Jika nona muda itu merupakan salah satu yang menjadi penyemangat hidup Anda, maka kupastikan bahwa dia akan kembali lagi. Jangan khawatir. Aku adalah ahlinya dalam merayu perempuan ... ah maksudku ... serahkan saja semuanya padaku," ralat Grigori seraya tersenyum.


Setelah perbincangan tadi, Carlo kemudian berkeliling bengkel bawah tanah dengan sekat kaca yang dulu pernah dia datangi. Feliks melaporkan segala hal yang terjadi selama Grigori berada di Rusia. Dari percakapan mereka, Carlo pun dapat menangkap poin-poin penting yang bisa dijadian acuan dan pelajaran berharga baginya. Hingga menjelang sore, Carlo baru keluar dari bengkel permata tersebut. Dia lalu menuju tempat parkir basement, di mana motornya berada.


"Kami kerap melakukan pengecekan pada motor Anda, Tuan. Sekadar untuk memastikan semuanya baik-baik saja," lapor Feliks saat memperhatikan Carlo yang baru membuka kain penutup motor kesayangannya.


"Aku yang memerintahkan Feliks untuk melakukan itu. Lihatlah, tak ada yang berubah sedikit pun dari body motor Anda. Kupastikan kondisi fisiknya masih sama seperti saat dulu Anda meninggalkannya di sini," jelas Grigori seraya menyodorkan helm dan peralatan berkendara lainnya kepada Carlo.


"Terima kasih semuanya. Aku merasa tenang karena telah menitipkan motorku pada kalian," balas Carlo sambil mengenakan helm dan kaca mata hitam. Setelah itu, dia lalu menaiki dan duduk di atas motor besarnya. Carlo menyalakan mesin dan memanaskan hingga beberapa saat. Tak lama kemudian, pria itu pun melajukan kendaraan roda dua tadi keluar dari area parkir basement menuju ke kota Brescia.

__ADS_1


Dengan kecepatan cukup tinggi, Carlo menggeber motornya. Namun, sebelum tiba di tempat yang dituju, pria tampan tersebut menyempatkan diri untuk membeli sesuatu. Barulah dia kembali melanjutkan perjalanan.


Dalam waktu singkat saja, Carlo telah tiba dan berhenti di depan gerbang yang terlihat sangat kokoh, dengan papan bertuliskan Casa de Luca. "Miabella, aku datang untuk membawamu kembali," ucapnya.


__ADS_2