The Bodyguard

The Bodyguard
To Meet You


__ADS_3

Dengan langkah anggun, Miabella turun dari helikopter bertuliskan de Luca. Salah seorang pengawal dari istana megah Serigala Merah, berjalan menghampiri dan membantunya berjalan menuju tangga turun. Dari tangga turun tersebut, seorang pelayan mengarahkan gadis cantik tersebut untuk memasuki lift menuju aula pesta yang berada di lantai paling bawah.


Mata indah berwarna abu-abu Miabella tak henti-henti mengamati segala ornamen mewah yang dia lalui.Begitu juga dengan pilar-pilar raksasa yang menjulang di sisi kiri dan kanan lorong menuju lift. Lebih uniknya lagi, pada setiap bagian atas pintu masuk terdapat ukiran simbol huruf V dalam bentuk latin. Ukiran yang sama persis dengan inisial pengirim bunga dan kartu undangan yang sudah Miabella terima.


“Apakah majikanmu yang mengirimiku bunga lily setiap hari dalam tiga tahun belakangan ini?” tanya Miabella pada seorang pelayan yang kini berdiri di sebelahnya. Pelayan itu menunduk hormat sambil memencet tombol angka di sisi pintu lift.


“Maafkan aku, Nona. Aku sama sekali tidak tahu,” jawab pelayan itu dalam bahasa Inggris seraya menggeleng pelan.


Miabella mengempaskan napas pelan, kemudian memusatkan pandangannya ke depan, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Gadis itu kembali melewati lorong terbuka yang langsung berhadapan dengan taman luas dan tampak begitu indah dengan penerangan lampu-lampu hias berjumlah ratusan.


Perhatian Miabella kemudian berpindah pada sebuah pintu masuk yang tinggi menjulang berukir emas. Dua daun pintu dibuka lebar oleh pelayan tadi, sehingga Miabella dapat melihat dengan jelas ruangan teramat luas yang sudah penuh dengan tamu-tamu undangan.


Di ujung ruangan tersebut, terdapat panggung yang tak kalah megah dengan dua layar monitor raksasa di sebelah kiri dan kanannya.


Namun, yang membuat Miabella seketika membeku adalah seraut wajah tampan yang memenuhi layar. Gadis cantik itu memfokuskan pandangan ke tengah panggung.


Tak salah lagi, sosok itu adalah pria yang selama ini menjadi penghias mimpinya setiap malam. Sumber kebahagiaan sekaligus penderitaan bagi Miabella, kini berdiri gagah di atas panggung dan tengah menyampaikan sebuah sambutan formalm


Sosok itu lalu menangkap pergerakan dirinya. Mata biru si pria mengunci setiap gerak tubuh Miabella, sehingga gadis cantik tersebut hanya dapat terpaku di tempatnya. “Carlo,” desis putri Matteo de Luca tadi.


Setitik air mata jatuh dan menetes di pipi. Jutaan kenangan indah masa lalu menyeruak, seakan membentuk rangkaian adegan film yang berputar di depan mata. Akan tetapi, kenangan itu berakhir tatkala Miabella membayangkan darah yang menetes di antara sela-sela pahanya. “Tidak,” desah Miabella pelan, sebelum memutuskan untuk membalikkan badan dan berlari secepat kilat untuk kembali ke landasan helikopter.


Sementara Carlo sama sekali tak menyangka bahwa Miabella akan menghindar. Dadanya serasa ditusuk ribuan belati, ketika gadis itu sama sekali tak membalas senyumannya. Andai bisa, Carlo akan melompat dan menerjang setiap orang di depannya demi untuk merengkuh Miabella. Namun dia sadar akan posisinya kini.


Sambil memaksakan tersenyum, Carlo mengangguk seraya mengangkat tangannya ke udara. “Bersama restu yang telah diberikan oleh Pendeta Agung kepadaku, aku akan menjalankan tugas dengan baik,” ucapnya sembari membungkukkan badan.


“Silakan menikmati pesta, para hadirin. Segala hidangan dan hiburan istimewa malam ini, khusus kupersembahkan hanya untuk anda semua.” Carlo membungkuk sekali lagi lalu berbalik masuk ke balik tirai.


Grigori, Igor, dan Ivan saling pandang, karena bukan seperti itulah rangkaian acara yang sudah mereka intruksikan kepada Carlo. Seharusnya, pria itu turun dari panggung dan menyalami tamu penting satu per satu.


“Biar kau saja yang mewakili tuan muda, Grigori,” cetus Igor.

__ADS_1


“Hm, baiklah.” Grigori menruuti saran dari Igor dan mulai berbaur dengan para tamu. Sedangkan sang tuan muda yang baru saja dilantik menjadi ketua klan, kini tengah berlari cepat menyusuri lorong untuk menyusul sosok Miabella yang tengah berusaha menghindarinya. Miabella melangkah dengan cepat. Dia bahkan menyingkapkan bagian bawah gaun yang panjang. Gadis itu terus menghindari Carlo yang terlihat menyusul dirinya.


"Nona de Luca!" panggil Carlo dengan nyaring. Walaupun Miabella sempat menoleh padanya, tapi gadis itu tak berniat untuk berhenti apalagi sampai berbicara. Dia justru masuk kembali ke dalam helikopter dengan tergesa-gesa.


Carlo pun tak dapat semakin mendekat, ketika baling-baling sudah berputar. Dia hanya berdiri terpaku sambil memandang alat transportasi bertuliskan de Luca tadi, yang kini telah mulai mengudara.


"Selamat atas penobatanmu." Suara berat seseorang yang teramat Carlo kenal, terdengar dari arah belakang. Putra mahkota Klan Serigala Merah itu pun segera menoleh. Tak jauh darinya, telah berdiri Adriano yang terlihat tenang dengan tangan kanan di dalam saku celana. Sang ketua Tigre Nero berjalan gagah menghampiri. Sedangkan Carlo tak mengatakan apapun.


"Bagaimana rasanya, Carlo?" tanya Adriano. Dia kini telah berdiri berhadapan dengan seseorang yang beberapa tahun silam telah dirinya usir. "Bagaimana rasanya berada di puncak kekuasaan?" Tatapan lekat Adriano tak teralihkan sejak tadi. Akan tetapi, Carlo masih tak bersedia untuk bersuara. Pria yang baru saja dinobatkan sebagai pemimpin tertinggi dari organisasi Serigala Merah tersebut, hanya membalas tatapan lekat Adriano dengan hal yang sama.


"Setidaknya, apa yang menjadi wasiat paman Alessandro telah kulakukan. Kau sudah kembali pada keluarga besarmu. Seharusnya di sinilah Karl Volkov berada," ucap Adriano lagi.


"Anda sudah mengetahui siapa diriku yang sebenarnya sejak dulu." Suara dan ucapan Carlo terdengar penuh penekanan.


"Aku bahkan pernah menggendong dirimu saat kau masih bayi, di dalam rumah paman Alessandro," sahut Adriano pelan dan dalam.


"Lalu kenapa Anda tidak pernah mengatakan apapun padaku?" Carlo memicingkan matanya.


Sementara Adriano tak segera menjawab. Pria paruh baya tersebut lebih memilih untuk berdiri, di sebelah seseorang yang pernah menjadi putra asuhnya selama sekian tahun. "Aku menyayangimu." Suara berat Adriano kembali terdengar. "Sama seperti yang selalu Mia katakan, bahwa kau merupakan anak laki-laki yang tak pernah kami miliki. Itu bukan hanya sekadar ucapan."


"Karena kau telah meniduri putriku!" sela Adriano dengan tegas. Dia melayangkan tatapan tajam kepada pria dengan tuksedo di sebelahnya. "Sudah kuperingatkan padamu. Jangan pernah melibatkan perasaan. Namun, apa yang kau lakukan? Kau telah meniduri putriku bahkan entah sampai berapa kali hingga Miabella-ku hamil!" Nada bicara Adriano terdengar semakin tegas.


"Apa? Miabella hamil?" Carlo begitu terkejut saat mendengar penuturan dari Adriano. Dia bahkan sampai terlihat kebingungan dan tak tahu harus berkata apa. "Miabella hamil?" ulangnya lagi.


"Ya, Carlo," jawab Adriano dengan intonasi yang jauh lebih pelan dan kembali tenang. Itulah ciri seorang Adriano D'Angelo. Dia dapat mengubah karakternya dalam waktu yang tak terduga. "Setelah beberapa bulan dari kepergianmu, Miabella mengalami keguguran. Dia melewatinya seorang diri," ucap Adriano lagi, membuat Carlo semakin merasa tak karuan.


"Aku tak pernah menyesal karena telah mengusirmu. Lihatlah sekarang di mana kau berada, Karl Volkov. Aku menyuruhmu pergi selain agar kau dapat menemukan jati diri, juga karena rasa kecewa yang teramat besar. Kau telah menyalahgunakan kepercayaanku." Seusai berkata demikian, Adriano berjalan meninggalkan Carlo yang masih terpekur seorang diri.


Pria tampan dengan setelan tuksedo itu pun kian gelisah. Dia berkali-kali menyugar rambut, kemudian mengusap-usap tengkuk kepala. "Hhh sialan!" dengus Carlo dengan amarah yang begitu besar. Dia merasa begitu bodoh. Namun, sesaat kemudian Carlo terdiam dan tampak berpikir sambil memicingkan kedua matanya. Dengan segera dia merapikan rambut serta pakaian, lalu melangkah gagah untuk kembali masuk ke aula di mana pesta masih berlangsung.


Di dalam sana, rupanya tengah digelar pertunjukkan sebuah tarian yang dibawakan oleh dua orang wanita muda yang sangat cantik. Ya, gadis-gadis Rusia memang terkenal dengan keindahan parasnya.

__ADS_1


Hal itu pula yang membuat Romeo tak berhenti memandang ke arah panggung. Bagaimana tidak, salah satu dari dua penari di atas panggung adalah Oxana Miroslava. Gadis yang dulu pernah dia selamatkan, dan meninggalkan satu kesan berbeda di hati calon pewaris tahta Klan de Luca tersebut.


"Apakah itu gadis yang sama, Romeo?" bisik Marco yang juga mengenali sosok Oxana, berhubung dialah yang telah membantu gadis cantik tersebut agar dapat kembali ke negaranya.


"Ya, Ayah. Dia adalah Oxana," jawab Romeo. "Oxana di pesta Carlo," pikir pemuda yang kini telah berusia dua puluh tiga tahun tersebut. Beberapa tahun lagi, dia akan segera dinobatkan untuk menjadi ketua klan dan menggantikan posisi sang ayah.


Setelah tarian berakhir, Romeo segera beranjak dari duduknya. Dia memanggil seorang pelayan dan membisikkan sesuatu. Setelah itu, Romeo bergegas melangkah keluar dari dalam aula.


"Hendak ke mana dia?" tanya Daniella yang melihat putra sulungnya berlalu tanpa mengatakan apapun.


"Ke toilet," sahut Marco. Pria itu sepertinya paham dengan apa yang akan Romeo lakukan.


Pada kenyataannya, Romeo berdiri menunggu seseorang di dekat jembatan panjang berlapis batuan alam. Jalur itu menghubungkan pintu gerbang utama dengan bangunan megah di dalamnya, serta memiliki panjang sekitar kurang lebih dua ratus meter.


"Ada yang bisa kubantu, Tuan?" Suara lembut terdengar menyapa Romeo yang tengah berdiri dalam posisi membelakangi. Perlahan, pria itu pun membalikkan badan. "Romeo?" Oxana begitu terkejut melihat seseorang yang sudah sekian lama tidak dirinya temui. Sepasang mata biru wanita muda tersebut tampak membulat, indah dan sangat menggemaskan.


Tanpa ada rasa canggung sama sekali, Oxana tiba-tiba saja menghambur ke dalam pelukan Romeo yang belum siap. Sulung dua bersaudara tadi bahkan hampir saja terjengkang, andai dia tak segera menjaga keseimbangan tubuh. Namun, dengan begitu akhirnya Romeo dapat memeluk seseorang yang selama bertahun-tahun dia cari keberadaannya.


Berbeda dengan Carlo. Dia yang saat itu ditemani oleh Grigori beserta kedua seniornya Igor serta Ivan, tengah sibuk menyapa beberapa tamu. Carlo harus mulai membiasakan diri dengan suasana seperti yang sedang berlangsung saat ini. Makin dia dikenal banyak orang, maka akan semakin mudah bagi dirinya dalam mengembangkan sayap Klan Serigala Merah yang telah lama lumpuh.


Setelah berbasa-basi dengan yang lain, Carlo kini berpindah ke arah keluarga Marco de Luca. Dia menyalami mereka satu per satu, barulah Carlo beralih pada keluarga Adriano. Dia mencium punggung tangan Mia dengan sopan. "Nyonya," sapanya.


"Selamat Carlo. Aku tak pernah menyangka bahwa kau adalah ...."


"Kau terlihat sangat keren dan juga tampan. Kenapa tidak sering-sering saja berpenampilan seperti ini. Seperti daddy," sela Adriana sambil menonjok lengan Carlo. Gadis itu memang terbiasa melakukan hal demikian kepadanya.


Sedangkan Carlo segera menoleh kepada Adriano, pria yang selalu terlihat necis dalam segala suasana. Penampilan yang sangat berlainan dengan dirinya. Putra Nikolai Volkov pun tersenyum kalem. "Aku takut akan menjadi saingan tuan D'Angelo," ujar pria itu dengan bernada candaan.


"Kau tahu bahwa tak ada siapa pun yang bisa menyaingi Adriano D'Angelo." Adriano merengkuh pinggang Mia yang segera tersenyum lembut padanya. Sedangkan Carlo hanya menggumam pelan.


Hingga lewat tengah malam, pesta baru selesai dilaksanakan. Romeo yang sejak tadi menghabiskan waktu di luar bersama Oxana, menyempatkan untuk berpamitan kepada Carlo sebelum mereka bertolak ke Italia.

__ADS_1


"Apa sepupuku menolakmu?" tanya Romeo yang sempat melihat kehadiran Miabella.


"Aku akan segera ke Italia," sahut Carlo.


__ADS_2