The Bodyguard

The Bodyguard
Coronation Prince


__ADS_3

Dari sebuah kamar khusus yang cukup luas, Carlo dapat mengawasi setiap sudut ruangan di istana megahnya lewat beberapa monitor besar yang terpajang di sana. Pria yang terlihat sangat tampan malam itu, mengembuskan napas perlahan, ketika dia tak dapat menemukan sosok Miabella di antara ratusan tamu-tamu yang telah hadir.


Carlo bangkit dari duduk, kemudian bergegas ke luar ruangan rahasia yang sempat dia tempati selama hampir satu jam tersebut. Dia berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan ruang rahasia dengan aula pesta. Beberapa meter di depan pria tampan itu, Grigori, Ivan, dan juga Igor sudah berdiri gagah menunggunya.


“Pesta penobatan Anda akan dilangsungkan sebentar lagi, Tuan. Kuharap Anda bersiap di belakang layar sampai Pendeta Agung memanggil,” tutur Grigori.


“Tentu. Aku akan berdiri di sini,” balas Carlo mencoba untuk terlihat bersemangat, meskipun dia dilanda kegundahan yang luar biasa.


“Baik, Tuan. Kami permisi dulu.” Igor dan Ivan membungkuk secara bersamaan, sebelum mengikuti langkah Grigori menuju aula pesta.


Pada ruangan super luas dengan hiasan interior mewah itu, para tamu sudah berkumpul di tempat duduk masing-masing. Mereka semua mengitari meja jamuan yang berbentuk melingkar, berhiaskan taplak meja berwarna merah marun. Tampak pula Marco de Luca bersama sang istri Daniella, serta kedua putranya, Romeo dan Tobia. Pada meja sebelah, duduklah Adriano yang diapit oleh Mia serta putri bungsunya Adriana.


Dua keluarga yang saling bercakap-cakap hangat itu harus mengakhiri perbincangan mereka, ketika terdengar suara mikrofon yang disalurkan melalui pengeras suara dan memperdengarkan suara berat penuh wibawa milik Grigori. Pria paruh baya tersebut memberikan sambutan untuk menyapa para tamu yang telah hadir.


“Kami ucapkan selamat datang di istana utama milik keluarga Volkov. Sudah berpuluh tahun, tempat ini berada dalam kegelapan. Namun, kini tuan muda kami telah kembali untuk membawa seberkas cahaya pada tempat megah ini,” ujar Grigori, membuat para tamu serempak melihat ke arah panggung berdesain elegan di depan.


“Oleh karena itu, untuk menyambut transformasi besar-besaran dalam tubuh organisasi Serigala Merah, kami mengadakan pesta besar ini. Kami juga bermaksud untuk melakukan pengukuhan serta penobatan penguasa klan yang baru. Dia adalah keturunan langsung dari mendiang tuan Nikolai Volkov. Darinya, mengalir darah murni Yuri Volkov, Serigala Pertama yang memimpin dunia bawah tanah Rusia.” Penjelasan Grigori tadi diakhiri dengan lampu panggung dan seluruh ruangan yang tiba-tiba meredup.


Bersamaan dengan itu, dari masing-masing pintu yang tersebar di setiap sisi aula, masuklah puluhan pria berjubah merah. Mereka berbaris rapi sambil membawa obor di tangan kanan, kemudian berkumpul pada satu titik yang berada tepat di depan panggung.


Satu per satu pria berjubah merah tadi menaiki panggung sambil terus mengangkat obor yang menyala terang. Mereka kembali berbaris berjajar dan berbalik menghadap ke arah penonton. Pria-pria yang kesemuanya berbadan tinggi besar, membuka jubah-jubah yang mereka kenakan secara serempak, lalu membuangnya begitu saja ke atas lantai.

__ADS_1


Seketika, tampaklah tubuh-tubuh kekar yang dipenuhi oleh tato, bahkan hingga kulit mereka hampir tak terlihat. Hal itu tak luput dari pengamatan seorang Adriano, yang sedari tadi mengawasi jalannya pesta dengan saksama. Satu hal yang dia temukan dari atraksi di panggung tersebut, bahwa setiap orang memiliki tato yang sama di bagian dada sebelah kanan yang bergambar kepala serigala dengan warna mata yang merah menyala.


“Tidakkah mereka terlihat mengerikan, Daddy?” celetuk Adriana pelan seraya meringis kecil.


“Hm, tidak juga. Mereka terlihat biasa saja. Ada yang jauh lebih mengerikan dibandingkan mereka di ruang bawah tanah milikku,” sahut Adriano dengan sikapnya yang tenang.


“Oh, ya? Apakah itu, Daddy?” tanya Adriana. Bola mata biru gadis cantik berambut gelap itu tampak berkilat dan terlihat begitu indah.


“Jangan berpura-pura tidak tahu, Adriana,” balas Adriano seraya berdecak pelan, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada penampilan pria-pria tinggi besar di atas panggung.


Mendengar hal itu, Adriana pun terdiam seribu bahasa. Dia tak ingin memperpanjang pembahasan itu. Gadis cantik tersebut kemudian mengikuti sang ayah, menikmati atraksi seru di atas panggung tanpa banyak berkomentar lagi. Terlebih, makin lama gadis itu mulai menikmati acara di mana-mana pria-pria yang menurutnya ‘mengerikan’ itu mengangkat obor itu tinggi-tinggi ke udara sambil memulai tarian tradisional turun temurun.


Sebuah gerakan yang luwes dari puluhan pria, yang menggerakkan kakinya ke depan dan ke samping secara serempak mengikuti irama alat musik khas Rusia. Balalaika, sebuah alat musik yang mirip dengan gitar, tetapi berbentuk segitiga. Petikan senarnya menimbulkan nada yang terdengar begitu khas di telinga.


Lampu panggung dan aula kembali menyala terang, tatkala seorang pria tua memakai jubah putih keemasan, dengan penutup kepala yang terbuat dari kain putih dan dihiasi simbol salib di bagian depan.


Pria yang tak lain adalah Pendeta Agung itu berjalan dengan menggunakan tongkat emas setinggi tubuhnya. Di belakang pria tua tadi, berbaris para pemuda yang memakai jubah berwarna biru dan juga seragam. Mereka terus bergerak ke arah panggung dan berhenti saat lampu lagi-lagi dipadamkan.


“Dengan hormat, kami persilakan kepada para tamu undangan untuk berdiri dan menyambut kedatangan tuan muda Karl Volkov, penguasa baru dari klan Serigala Merah.'


Perlahan, lampu-lampu kristal kembali menyala terang. Layar monitor besar yang terletak di sisi kiri dan kanan panggung juga turut menyala. Lampu sorot dari arah atas bergerak pelan menuju tirai merah yang berfungsi sebagai latar belakang panggung. Tirai itu terbuka sedikit demi sedikit, menampakkan satu sosok yang berdiri gagah di baliknya.

__ADS_1


Seorang pria bermata biru laut, berkilau terkena cahaya lampu. Rambut gelapnya tersisir rapi ke belakang. Tuksedo hitam terlihat begitu indah membalut raga sempurna itu. Tak ada kegagahan, seperti yang dimiliki si pria yang baru menampakkan sosoknya tersebut


Tak hanya Romeo, semua anggota keluarganya pun ikut terbelalak sempurna melihat sosok tadi. Begitu pula Mia dan Adriana. Mereka sama sekali tak berkedip, ketika pria yang dimaksud berjalan ke tengah-tengah panggung sambil memamerkan senyum menawannya.


“Carlo?” desis Mia dan Adriana secara bersamaan. Berbeda dengan Adriano yang tetap terlihat tenang sambil sesekali tersenyum simpul.


“Dialah putra yang tak pernah kau miliki, Sayang,” ucap Adriano sambil melirik ke arah sang istri.


Sedangkan Mia sama sekali tak menghiraukan perkataan sang suami. Dia fokus memandang ke arah panggung, di mana Carlo kini berdiri setengah membungkuk saat Pendeta Agung menempelkan tongkat pada pucuk kepala serta kedua bahu lebarnya.


Dua pemuda yang mengiringi pendeta tadi maju ke depan dan menyematkan sebuah mahkota berhiaskan batu permata merah delima di atas kepala Carlo. “Kami ucapkan selamat datang kembali, Yang Mulia Volkov,” sambut sang pendeta. Suaranya yang terekam mikrofon, nyaring menggema ke seluruh area istana Serigala Merah.


Carlo tersenyum dengan tubuh setengah membungkuk. Setelah itu, dia membalikkan badan dan menghadap kepada para tamu undangan yang sebagian besar belumlah mengenal sosok dirinya. Sebelum menyampaikan sesuatu, Carlo sempat mengedarkan pandangan ke seluruh sudut aula. Lagi-lagi, tatap matanya mencari si pemilik wajah cantik yang sangat dia nantikan untuk hadir di sana, mengobati segala rasa rindu yang telah sekian lama tertanam di dalam dada. Akan tetapi, sosok yang dirinya harapkan untuk hadir ternyata tak juga muncul. Carlo pun menahan rasa kecewanya dengan tetap memperlihatkan sikap wibawa di hadapan para tamu.


"Selamat malam. Kuucapkan terima kasih atas kesediaannya untuk menghadiri undangan dari kami. Aku tahu bahwa banyak di antara anda semua yang tak mengenal siapa diriku." Carlo memberikan sambutan secara pribadi kepada para tamu undangan.


"Aku adalah putra bungsu dari Nikolai Volkov, sang ketua dari Klan Serigala Merah. Setelah sekian lama kekuasan diambil alih oleh orang yang tidak tepat, kini aku telah kembali untuk melaksanakan tugas dalam mengembalikan citra serta nama baik dari Klan Serigala Merah. Atas dukungan anda semua, aku akan menjadi salah satu dari sekian banyak organisasi, yang turut menjadi penopang dalam mewujudkan dan menjaga perdamaian di Eropa. Dengan ini pula, aku Karl Volkov menerima tanggung jawab sebagai penguasa untuk menggenggam tampuk kepemimpinan dari Klan Serigala Merah yang baru ...."


Carlo terdiam. Dia tak dapat melanjutkan ucapannya, ketika sepasang mata biru itu menangkap sesosok gadis berambut cokelat yang tergerai indah tengah berjalan memasuki aula megah tadi. Darah dalam diri pria itu, seketika berdesir dengan dua kali lebih cepat dari keadaan normalnya.


Sang pewaris tahta hanya dapat berdiri terpaku, saat pandangannya saling beradu dengan gadis bergaun merah yang terlihat sangat cantik. Gadis itu pun demikian. Dia berdiri mematung di tempatnya, menatap tak percaya pada pria tampan di atas panggung dengan mahkota di kepala.

__ADS_1


Seutas senyuman perlahan muncul di sudut bibir Carlo yang berhiaskan kumis tipis. Dia ingin segera berlari dan menghampiri gadis itu. Carlo sudah tak sabar untuk segera memeluk dan menumpahkan segala kerinduan yang selama ini dirinya tahan untuk mendapatkan tahta, demi rasa pantas yang dia butuhkan agar dapat bersanding dengan gadis pujaannya tersebut.


"Miabella ...." Pelan dan dalam, Carlo menyebutkan nama yang selama ini hanya menjadi penghias mimpi-mimpi malam serta angan-angannya. Namun, seketika sang pewaris tahta tersebut harus menelan rasa kecewa yang mendalam, ketika dirinya melihat si gadis yang selama ini dia rindukan dan begitu ditunggu kehadirannya, bergerak mundur dengan perlahan. Gadis itu bermaksud untuk pergi dari sana.


__ADS_2