
Semenjak tercetus ide mengadakan sayembara untuk memperebutkan Miabella, Marco selaku paman kandung gadis itu menjadi sangat sibuk. Dia menyusun daftar keluarga mafia, dan para pemilik organisasi besar di daratan Eropa. Sementara Romeo yang mengetahui hal tersebut, langsung saja menghubungi Carlo. Dia tahu betul seperti apa kedekatan yang terjalin antara sang ketua Klan Serigala Merah dengan sepupunya.
"Apa kau serius?" tanya Carlo ketika putra sulung Marco tersebut memberitahukan perihal rencana ayahnya.
"Paman Adriano dan bibi Mia sudah menyetujui hal itu. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi sepupuku yang setiap hari, setiap saat hanya mengurung diri di dalam kamar. Aku rasa, Miabella butuh penyegaran," ujar Romeo menuturkan apa yang diketahuinya.
"Kapan acara itu akan dilangsungkan?" tanya Carlo.
"Kurang dari tiga hari. Ayahku dan paman Adriano tengah sibuk menyiapkan daftar penerima undangan. Entah kau ada di antaranya atau tidak," sahut Romeo membuat Carlo tampak gusar.
"Astaga. Minggu ini aku sangat sibuk. Aku baru mengajukan perizinan untuk membuka perusahaan minyak bumi di sini," ucap Carlo setengah bergumam. Pria itu kemudian mengempaskan napas kasar.
"Luar biasa. Seharusnya hal itu sudah cukup untuk bisa memboyong Miabella ke atas tempat tidurmu yang mewah," celetuk Romeo sekenanya.
"Tutup mulutmu. Dia menolakku." Carlo masih terlihat gusar. Dia lalu terdiam sejenak untuk berpikir. Beberapa saat kemudian, pria itu pun tampaknya seperti memiliki sebuah ide. "Katakan padaku, apakah Miabella tahu tentang rencana ayahmu dan juga tuan Adriano?" tanyanya kemudian.
"Entahlah. Bisa jadi sepupuku belum mengetahui hal ini. Aku tak yakin Miabella akan diam saja andai dia tahu bahwa dirinya akan .... Astaga! Kututup dulu teleponnya. Ayahku datang kemari." Tanpa berkata apa-apa lagi, Romeo mengakhiri perbincangan tadi bersama Carlo. Dia juga bersikap biasa saja, ketika Marco dan Adriano melintas di dekatnya.
Sementara itu, Carlo segera menghubungi pilot helikopter. Dia meminta agar segera diantarkan ke Italia. Carlo bergegas keluar dari ruang kerja menuju kamarnya. Saat itulah, dia berpapasan dengan Fabiola. "Kau terlihat sangat terburu-buru, Nak. Apakah ada masalah besar?" tanya wanita paruh baya tersebut penasaran.
"Aku akan ke Italia, Bu," sahut Carlo seraya menghentikan langkahnya untuk sejenak.
"Tidak biasanya kau pergi dengan mendadak seperti ini," ujar Fabiola lagi setengah curiga.
__ADS_1
"Ya, karena urusannya pun sangat mendadak," jawab Carlo lagi berusaha mengurangi sedikit rasa gusarnya di hadapan sang ibu. "Aku harus pergi, Bu." Setelah mengecup kening wanita yang telah melahirkannya, Carlo pun bergegas menuju kamar dan mengambil beberapa barang yang dia perlukan. Tak berselang lama, dia telah keluar lagi dengan mengenakan jaket berbahan jeans tebal. Pria itu langsung menuju landasan helikopter, yang berada di atas atap bangunan istana Serigala Merah.
Tanpa menunggu terlalu lama, helikopter yang telah siap menunggu pun akhirnya segera mengudara. Ia terbang tinggi membelah langit kota St. Petersburg menuju kota Milan di Italia.
Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Carlo untuk menempuh perjalanannya kali ini. Helikopter tadi sudah mendarat dengan mulus di atas atap perusahaan milik Grigori, yang begitu terkejut karena Carlo datang ke sana tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Kenapa tidak memberi kabar dulu, Tuanku?" tanya pria itu yang menyejajari langkah Carlo menuju ruang tempat pertemuan.
"Aku mengambil keputusan mendadak untuk datang kemari," jawab Carlo. Dia mengempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya Grigori penasaran, saat melihat raut wajah serta bahasa tubuh Carlo yang tampak tidak biasa. "Apakah ini ada kaitannya dengan pengeboran minyak bumi?" tanya pria itu lagi mencoba mengurangi sedikit rasa penasarannya.
"Tidak. Bukan tentang itu," bantah Carlo.
"Kau pasti bosan karena aku selalu membahasnya," ujar Carlo pelan.
"Tak apa. Namanya juga cinta. Anda justru harus merasa beruntung karena dianugerahi dengan perasaan seperti itu. Berbeda denganku yang lebih memilih untuk menyendiri," ucap Grigori seraya tersenyum getir.
"Semua orang hidup dengan pilihannya sendiri," balas Carlo. Dia lalu beranjak dari duduknya. "Di mana kunci motor beserta perlengkapan berkendara milikku?" tanyanya kemudian.
"Apa Anda akan ke Brescia?" Grigori ikut berdiri. Dia berjalan ke arah sebuah lemari kabinet dari besi berjumlah tiga susun. Dari sana, Grigori mengeluarkan semua peralatan berkendara milik Carlo yang tersimpan rapi. Grigori kemudian meletakkan semuanya di atas meja.
Tanpa banyak bicara, Carlo segera meraih semuanya. Pikiran pria itu sedang tak karuan. Dia melangkah ke area parkir basement dengan tergesa-gesa. Beberapa saat kemudian, motor besar kesayangannya pun telah melaju dengan gagah meninggalkan gedung perkantoran tadi.
__ADS_1
Seperti biasa, Carlo menggeber motornya dengan kecepatan tinggi. Sementara hari pun sudah mulai gelap. Dapat dipastikan jika dia akan tiba di Brescia saat malam menjelang.
Sekitar pukul delapan malam, motor besar yang dikendarai Carlo telah memasuki area Casa de Luca. Setelah memarkirkannya, pria tampan tadi bergegas turun kemudian berjalan masuk. Namun, suasana di dalam bangunan megah itu terasa begitu sepi.
"Nona muda ada di kamarnya. Dia jarang sekali keluar selain ke perkebunan. Itu pun sekarang tak terhitung setiap hari. Saat ini, nona lebih memilih menyuruh tuan Dante yang mewakili semua pekerjaan dia di sana," jelas Luciella yang saat itu menyambut kedatangan Carlo.
"Apa dia sakit?" tanya Carlo.
"Aku rasa tidak. Nona hanya ...." Luciella tak melanjutkan kata-katanya, karena Carlo telah terlebih dahulu berlalu tanpa mendengar apa yang akan dia ucapkan. Luciella pun hanya menggeleng pelan.
Sementara Carlo yang telah tiba di depan kamar Miabella, langsung saja mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Akan tetapi, tak ada respon apapun dari sang penghuni kamar tersebut. Carlo pun kemudian berdiri sambil bersandar pada dinding dekat pintu. Dia mengeluarkan ponsel dan mulai mengirimkan pesan. Hal itu dirinya lakukan setelah beberapa kali mencoba untuk menghubungi secara langsung, tapi tak ada jawaban. Apalagi, mungkin karena Carlo memakai nomor baru untuk menghubungi gadis itu.
Sesaat kemudian, Carlo melihat pesannya sudah terbaca. Namun, Miabella tak membalas. Pria tampan tadi lalu terdiam sejenak. Barulah dia memutuskan untuk kembali mengetuk pintu. Namun, belum sempat dirinya melakukan hal itu, pintu kamar telah lebih dulu terbuka.
Wajah cantik Miabella dengan rambut lurusnya yang panjang, muncul tanpa senyum atau apapun yang menunjukkan keramahan. Gadis tadi menatap kosong kepada Carlo. "Sedang apa kau di sini?" tanyanya datar.
"Aku kemari untuk menemuimu," jawab Carlo.
"Sudah kukatakan jangan menggangguku lagi. Aku hanya ingin sendiri," tolak Miabella.
"Aku kemari bukan untuk mengganggumu," ujar pria itu.
"Lalu untuk apa?"
__ADS_1
"Aku kemari untuk membawamu pergi."