
Mereka bertiga telah sama-sama duduk di meja makan. Sekitar tiga orang pelayan, mengambilkan mereka beberapa menu yang tersedia. Setelah selesai, barulah para pelayan tadi kembali ke belakang untuk melakukan tugas yang lain.
Mia tampak memasang raut berseri saat itu. Begitu juga dengan Vlad yang tak jarang mencuri-curi pandang kepada Miabella. Namun, gadis cantik tersebut masih saja memasang raut datar, dan seakan tak tertarik dengan kerja sama yang sudah mulai Mia serta Vlad bahas.
“Seperti yang telah tuan Adriano katakan kepadaku melalui panggilan telepon, bahwa nona de Luca telah menerima proposal kerja sama yang kuajukan,” ucap Vlad seraya menggenggam pisau steak dengan tangan kanannya.
Mia tersenyum sembari melirik kepada Miabella yang lebih banyak menunduk dan tak melakukan apapun. Jangankan menyendok makanannya, berbicara pun tidak gadis itu lakukan. Miabella menatap kosong pada piring yang sudah berisi daging panggang dengan tambahan salad sebagai pelengkapnya.
“Ya. Itu sebuah keputusan yang terbaik menurutku, Tuan Ignashevich. Kudengar dari Miabella sebelum dia jatuh sakit, putriku sudah berhasil memperbesar area perkebunan dengan membeli lahan kosong di seberang jalan depan wilayah Casa de Luca,” tutur Mia. “Mulai musim depan, penanaman bibit anggur akan dilakukan secara besar-besaran,” sambungnya.
“Kuserahkan semuanya pada ibu,” sahut Miabella. Pada akhirnya gadis itu membuka mulut. Namun, kata-katanya bukanlah kalimat yang ingin didengar oleh Mia. “Aku ingin menyerahkan semuanya pada ibu,” ulang Miabella lagi sembari berdiri dan hendak meninggalkan meja makan.
“Tunggu, Nak,” cegah Mia. Dia mencekal lengan putri sulungnya, sampai gadis itu berhenti bergerak dan memilih berbalik sambil berusaha melepaskan tangan sang ibu.
“Aku tidak bisa berpikir dengan baik saat ini. Maafkan aku,” ucap Miabella. Sekilas dia melirik ke arah Vlad yang tengah memandangnya dengan sorot mata yang tampak sangat teduh.
“Setidaknya hargailah tamu kita. Tuan Ignashevich sudah bersusah payah untuk datang kemari dan berbicara denganmu," tegur Mia. Sebisa mungkin dia menggunakan kalimat selembut serta penuh kehati-hatian.
“Bukankah semuanya sudah jelas? Daddy Zio sudah menerima proposal kerjasamanya. Tuan berambut panjang ini tinggal menunggu anggurku berbuah dan dipanen,” sahut Miabella dengan nada yang terdengar begitu dingin.
“Ya. Akan tetapi, sambil menunggu waktu panen tiba, mungkin kita bisa membicarakan strategi yang akan diterapkan ke depannya untuk membuka pasar di Rusia.” Vlad segera menimpali obrolan Mia serta Miabella, sebelum gadis cantik itu berlalu dari meja makan.
__ADS_1
Mendengar kata Rusia, Miabella segera berbalik dan menatap tajam kepada Vlad. “Rusia?” desisnya.
“Bukankah sejak awal sudah kukatakan, bahwa aku akan mengemas dan memasarkan anggur berkualitas dari sini ke luar wilayah Italia. Khususnya adalah Rusia? Sebagai langkah awal, kota St. Petersburg akan menjadi tempat yang paling strategis untuk mengenalkan produk anggur istimewa yang hanya berasal dari perkebunan Casa de Luca,” jelas Vlad dengan senyuman menawan yang tersungging di bibirnya.
“Kenapa kau ingin membicarakan strategi pemasaran denganku? Aku hanyalah seorang produsen anggur, bukan tenaga marketing,” sahut Miabella ketus.
“Kupikir dengan mengenalkan figur Nona sebagai pemilik merk anggur terkenal ini, maka akan semakin meningkatkan daya tarik konsumen,” jawab Vlad masih dengan gaya bicaranya yang kalem.
“Apakah itu artinya kau akan mengajakku ke Rusia?” tanya Miabella dengan suara bergetar.
“Jika Nona tidak keberatan,” sahut Vlad tersenyum lebar. Dia dapat merasakan bahwa gadis cantik yang berdiri di hadapannya itu mulai tertarik.
“Bagaimana, Bella?” tanya Mia setelah beberapa saat berlalu. Mia belum merasa tenang, karena Miabella kembali terdiam tanpa memberikan jawaban.
Vlad semakin sumringah, saat melihat Miabella yang sudah mulai melontarkan pertanyaan serta bersedia untuk berbincang-bincang. Dia menjelaskan seluk beluk negara asalnya dengan begitu antusias. Vlad bercerita tentang keindahan, kekayaan alam, serta segala keunikan dari wilayah yang terbentang luas tersebut
Akan tetapi angan Miabella tidak sedang membayangkan apa yang dikatakan oleh Vlad. Pikirannya justru tengah membayangkan Carlo, yang berada di suatu titik pada daratan seluas Rusia. Mengunjungi negara itu, sama halnya dengan membuat dirinya semakin dekat dengan pria tersebut. Hal itu akan memperbesar kemungkinan bagi Miabella, agar dapat bertemu dengan seseorang yang sudah memporakporandakan hati dan juga hidupnya.
Untuk sesaat mata biru dan senyuman menawan Carlo menari-nari di pelupuk mata Miabella. Gadis itu lalu menyunggingkan senyum samar yang langsung bisa ditangkap oleh Mia maupun Vlad. “Katakan padaku, kapan kita akan memulai kerja sama di Rusia?” tanya Miabella tiba-tiba. Sementara Mia segera menoleh ke arah putrinya dengan terheran-heran. Dalam waktu yang singkat, sikap Miabella dapat berubah seratus delapan puluh derajat.
“Semua membutuhkan proses, Nona. Mari kita mulai dengan langkah awal terlebih dulu. Contohnya menentukan desain produk, membuat skema pemasaran dan hal-hal teknis lainnya yang berkaitan dengan pengiriman barang ke luar negeri,” sahut Vlad menjelaskan tanpa terkesan menggurui.
__ADS_1
“Setelah itu ... kita ke Rusia?” tanya Miabella lagi.
“Jika memang itu yang Nona inginkan,” jawab Vlad pada akhirnya, membuat Miabella tersenyum lebar. Secercah semangat dan harapan kembali muncul dalam diri gadis tersebut. Dalam hati, dia memutuskan untuk merangkak naik dari keterpurukan.
Miabella akan menunjukkan sehebat apa dirinya di hadapan Carlo. Dia ingin membuat pria itu bertekuk lutut serta mendapat balasan, atas semua rasa sakit yang telah diberikannya.
Berbeda dengan Mia dan juga Vlad, yang menganggap bahwa Miabella mulai dapat membuka diri. Ini adalah peningkatan yang teramat bagus. Bagi Mia, hal itu merupakan salah satu langkah besar untuk melepaskan Miabella dari bayang-bayang Carlo. Sedangkan Vlad sudah membayangkan yang jauh lebih besar dari sekadar mitra kerja.
Semenjak pertemuan dan makan siang di hari itu. Miabella berangsur kembali seperti dirinya yang dulu, walaupun tak sepenuhnya. Dia mulai bersungguh-sungguh dan tekun bekerja. Pelan tapi pasti, putri dari mendiang Matteo de Luca tersebut memperbesar wilayah perkebunan dengan membeli bangunan di sekitarnya.
Ratusan bibit baru ditanam pada setiap siklusnya. Produksi semakin ditingkatkan, sehingga menghasilkan anggur puluhan kali lipat dari produksi tahun-tahun sebelumnya. Miabella juga semakin berambisi meningkatkan kualitas dan kemasannya menjadi produk yang disukai oleh semua segmen usia.
Hingga tiga tahun kemudian, nama anggur de Luca sudah terdengar gaungnya sampai ke luar negeri. Salah satunya adalah Rusia. Saat itu, Carlo sedang mengadakan pertemuan dengan kepala pasukan rahasia, Pavel Sashenka di sebuah villa tersembunyi milik Boris Vasiliev.
Dua orang pelayan membawakan troli makanan serta beberapa botol anggur yang terlihat amat mahal. Carlo terus memperhatikan botol anggur yang dibawa oleh salah satu pelayan, sampai-sampai perbincangannya dengan Pavel dan Boris harus terjeda.
“Itu produk terbaru, Tuan muda Volkov. Seorang pengusaha muda bernama Vlad Ignashevich menjadi distributor resmi atas anggur berkualitas A yang berasal dari dataran tinggi Italia. Sebelum memulai soft opening, Vlad yang merupakan salah satu kenalan putraku, sudah mengirimkan beberapa sampel botol untuk Fyodor. Salah satunya adalah yang kusuguhkan pada Anda sekarang,” terang Boris. Dia memperhatikan sorot mata Carlo yang tak lepas dari botol anggur berdesain mewah tadi.
“Italia?” Carlo mengalihkan pandangannya kepada Boris.
“Ya. Kabarnya Vlad Ignashevich akan mengadakan pesta terbuka di St. Petersburg, untuk meresmikan peluncuran produk anggur. Diia juga akan turut mengundang produsen utamanya,” jawab pria tua itu lagi.
__ADS_1
Carlo menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat saat mendengar penjelasan Boris. “Kapan pesta itu akan diadakan?” tanyanya.
“Kebetulan pesta terbuka yang akan dihadiri oleh artis-artis ternama itu, akan diadakan pada tanggal yang sama dengan agenda utama kita, yaitu menghancurkan salah satu sudut kota St. Petersburg yang menjadi markas Viktor,” papar Boris, membuat Carlo harus menghela napas dalam-dalam.