
"Aku rasa ide dari daddy zio memang jauh lebih aman." Miabella menimpali seraya memandang penuh arti kepada sang suami, yang saat itu masih dalam keadaan bertelanjang dada serta mengenakan celana jeans basah.
"Ya, tapi apakah tuan Ricci kira-kira bersedia untuk membantu, mengingat kesibukannya selama ini. Aku merasa tak enak jika harus merepotkan dia hanya untuk urusan seperti ini," sahut Carlo terdengar ragu.
"Ricci harus bersedia. Lebih tepatnya akan kubuat begitu," jawab Adriano seraya tersenyum kalem. "Serahkan saja urusan tentang dia padaku," ujar pria bermata biru itu, seraya berlalu dari hadapan putri beserta menantunya. Namun, sebelum benar-benar keluar, Adriano kembali menoleh dan mengarahkan pandangan kepada Carlo. "Segeralah bersihkan dirimu." Setelah berkata demikian, Adriano pun melanjutkan niatnya tadi. Dia membuka pintu, lalu keluar dari ruangan tadi.
Dengan mengenakan pakaian yang basah, Adriano melangkah gagah menyusuri koridor lebar dengan desain yang sangat menakjubkan. Harus diakuinya bahwa Istana Klan Serigala Merah memang sangat luar biasa. Segala ornamen dan ukirannya tampak begitu detail dan juga berkelas, menunjukkan setinggi apa status sosial dari pemiliknya.
Langkah tegap Adriano kemudian berhenti di depan kamar yang dirinya tempati. Pria paruh baya tadi segera mengeluarkan kunci, lalu bergegas masuk untuk membersihkan diri. Beberapa saat kemudian, sang ketua Tigre Nero telah berganti pakaian dengan yang baru. Seperti biasa, dia selalu terlihat necis. Bagi Adriano, penampilan luar memang sangat penting. Hal tersebut tentunya dapat memunculkan image positif dari lawan bicara atau siapa pun yang dirinya temui. Lagi pula, itu semua sudah menjadi ciri khasnya sejak dulu.
Adriano kemudian mengambil ponsel yang dia letakkan di atas meja, berdampingan dengan telepon genggam milik Mia. Hingga detik itu, sang istri masih belum kembali. Kesempatan tersebut Adriano gunakan untuk menghubungi Coco yang kini telah sukses dengan bisnis bengkel dan showroom mobilnya di Kota Roma.
"Pronto." Suara Coco terdengar di ujung telepon.
"Apa kabar, Ricci?" sapa Adriano sambil duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
"Sangat baik, amico. Namun, setelah mendapat telepon darimu tiba-tiba aku menjadi resah," celetuk Coco dengan gaya bicaranya yang terdengar sangat khas. "Bagaimana kabarmu dan Mia? Sudah lama sekali kau tidak menghubungi atau mampir kemari."
Sementara Adriano hanya tertawa pelan mendengar celetukan dari sahabat dekat mendiang Matteo de Luca tadi. Namun, dia sudah sangat mengenal sosok suami Francesca tersebut, sehingga dirinya tak harus merasa tersinggung. "Aku dan istriku baik-baik saja. Ada banyak sekali urusan. Padahal aku kerap datang ke Casa de Luca, tapi tak sempat mampir ke Roma. Mungkin lain kali aku dan Mia akan meluangkan waktu untuk ke sana," jelas Adriano dengan tenang.
"Ya sudah, tak apa-apa. Aku bisa memahaminya. Sekarang, katakan ada apa? Langsung saja, kau tidak perlu banyak basa-basi karena aku tidak punya banyak waktu untuk itu." Coco langsung saja berucap demikian, padahal Adriano belum mengatakan apapun juga. Sang ketua Tigre Nero, lagi-lagi hanya tertawa. "Kenapa kau hanya tertawa?" protes Coco kecing.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kagum dengan instingmu," sahut Adriano seraya menghentikan tawanya.
"Ini bukanlah insting, amico. Aku sudah tahu setiap kali kau menghubungiku, pasti karena ada alasan tertentu atau untuk meminta tolong akan sesuatu. Jadi, bantuan apa yang kau butuhkan?"
__ADS_1
Jika Coco sudah berkata demikian, maka Adriano pun tak ingin berbasa-basi lagi. Dia langsung saja mengutarakan niat yang sebenarnya. "Aku ingin kau meluangkan waktu akhir pekan ini," ucap suami Mia tersebut.
"Untuk apa? Aku selalu meluangkan waktu setiap akhir pekan agar bisa berkumpul dengan keluarga," sahut Coco.
"Aku ingin agar kau segera datang ke Rusia. Saat ini, kebetulan diriku sedang berada di St. Petersburg. Kami membutuhkan bantuanmu." Nada bicara Adriano terdengar begitu lugas dan juga serius.
"Rusia?" Coco begitu terkejut saat mendengar nama negara yang Adriano sebutkan tadi. "Sedang apa kau di sana?" tanyanya kemudian.
Selama ini, Coco memang telah ketinggalan banyak informasi. Setelah memutuskan untuk keluar dari Casa de Luca dan memulai kehidupan dengan pekerjaan yang normal, Coco memang seakan menutup diri dari apapun yang berbau dunia mafia. Namun, dia tak pernah menolak setiap kali Adriano membutuhkan bantuannya.
Tanpa menjelaskan apapun kepada Coco, Adriano langsung saja mengutarakan maksud dan tujuan dia menghubungi saudara ipar Mia tersebut. Dia membicarakan perihal kaset-kaset kuno yang telah ditemukan oleh dirinya dan Carlo di dalam ruang bawah tanah rumah kaca. Mendengar penuturan dari Adriano, Coco pun tampaknya menjadi sangat tertarik.
"Apa di sana ada alat pemutar kasetnya, amico?" tanya Coco setelah Adriano selesai bercerita.
"Astaga, usia tua membuat otakmu semakin tumpul Adriano," ledek Coco dengan seenaknya. Dia seakan lupa bahwa dirinya pun telah sama-sama berumur. "Sederhananya begini. Jika di sana ada kaset-kaset semacam itu, maka pasti ada juga alat pemutarnya. Untuk apa seseorang menyimpan benda tak berguna. Segala hal itu harus ada pasangannya. Saranku, sebaiknya kau coba cari dulu. Jika kau tak bisa menemukannya, maka kau dapat membeli di toko barang-barang antik. Kurasa benda-benda seperti yang kau maksud ada di sana, meskipun aku sendiri tak yakin tapi ...."
"Apa kau memiliki alat pemutar semacam itu?" sela Adriano.
“Ah, aku tahu maksudmu. Kau ingin aku membawa peralatanku jauh-jauh dari Italia ke Rusia. Iya, ‘kan?” tebak Coco. “Aku tidak mau merepotkan diriku dengan membawa banyak barang ke sana. Siapkan dulu alat pemutarnya, baru aku akan datang!” tegas pria berambut ikal tersebut.
“Kau tidak perlu repot, Ricci. Aku akan menjemputmu menggunakan pesawat pribadi. Seperti biasanya,” sahut Adriano kalem.
“Aku akan ikut, asalkan aku tidak membawa apapun selain koper berisi baju ganti!” Permintaan sahabat mendiang Matteo de Luca tersebut seolah menjadi harga mati dan tak bisa ditawar lagi.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan berusaha mencari alat pemutar itu di sini, karena yang terpenting adalah kau bersedia datang kemari.” Adriano tak memiliki pilihan selain mengalah.
__ADS_1
“Baguslah. Aku menyukainya. Kalau begitu, jemput aku besok!” seru Coco. Suaranya terdengar begitu semangat.
“Besok?” ulang Adriano seraya berdecak pelan.
“Bukankah aku tadi mengatakan baru akan menjemputmu saat akhir pekan?” protesnya.
“Besok dan lusa adalah hari libur nasional. Sedangkan akhir pekan nanti, aku mempunyai jadwal yang tak bisa kutinggalkan bersama Francy dan anak-anak. Jadi, jemput aku besok atau diriku tidak akan datang sama sekali!” pungkas Coco dengan seenaknya.
“Astaga, bene (baiklah)! Aku akan menyuruh pilotku untuk menjemputmu besok. Bersiaplah di bandara pukul delapan tepat!” putus Adriano sebelum mengakhiri panggilannya.
......................
Sementara itu di satu sudut kota St. Petersburg, pada sebuah kastil tua kediaman Romanov, Stefan terlihat sangat gusar. Tak jauh dari pria itu, tampak beberapa gelas kristal dan botol minuman yang sudah dalam kondisi hancur berkeping-keping. Beling dari pecahan benda-benda itu berserakan di atas lantai kayu. “Brengsek! Pria itu ternyata hanya memanfaatkanku!” geramnya penuh emosi dengan suara yang cukup nyaring. “Gadis itu masih hidup, bahkan sudah kembali ke Volch'ya Kletka (kandang serigala)!”
Yelena, sang putri satu-satunya saat itu berdiri tak jauh dari pria yang tengah dikuasai amarah. Wanita cantik tersebut tampak jauh lebih tenang daripada sang ayah. Sambil melipat kedua tangan di dada, Yelena si pemilik rambut hitam yang indah melangkah anggun untuk mendekat pada Stefan.
“Sebaiknya segera hapus semua bukti bahwa kau pernah melakukan kontak dengan Damien, ayah,” sarannya. “Kau tidak akan menyukai jika suatu saat nanti, Karl Volkov menemukan bukti bahwa dirimu turut andil dalam rencana penculikan yang gagal itu,” imbuh Yelena seraya duduk sambil melipat kaki di atas meja kerja sang ayah.
“Damien tak bisa disentuh, Yelena!” sentak Stefan. “Aku baru tahu jika Damien adalah staf elite agen rahasia, sekaligus tangan kanan Roderyk Lenkov. Pria itu sekarang cuci tangan atas tindakan gegabahnya di Palermo, Italia,” geram salah satu pentolan dari Klan Romanov tersebut.
“Jika memang Damien tak bisa melindungi kita saat ini, maka kita hanya perlu mencari pelindung yang lain,” sahut Yelena dengan santai, sambil menyunggingkan senyum sinis.
“Siapa?” Stefan mengernyitkan kening sembari menatap sang putri dengan sorot penuh tanda tanya.
“Siapa lagi jika bukan Vlad Ignasevich, anak haram dari si tua bangka Viktor Drozdov,” jawab Yelena pelan sambil tertawa penuh kepuasan.
__ADS_1