
Carlo menatap pria di hadapannya untuk beberapa saat. Stefan Romanov merupakan seorang pria dengan usia yang sepertinya hampir sama dengan Igor dan juga Grigori. Pria itu berambut gelap yang tersisir rapi ke samping, dengan wajah khas pria-pria asal negara Beruang Merah.
Sesaat kemudian, perhatian Carlo beralih kepada wanita muda berambut panjang dan memiliki warna sama dengan milik sang ayah. Yelena sangat cantik. Dia memiliki bibir penuh yang tampak menggoda. Sepasang matanya bulat, indah nan bersinar dengan iris berwarna hitam. Selain itu, gadis cantik tersebut memiliki bentuk tubuh proporsional dalam balutan dress ketat berwarna merah muda yang terlihat mahal.
"Apa maksud Anda, Tuan Romanov?" tanya Carlo memastikan kembali ucapan pria asing tadi.
"Seperti yang telah Anda dengar sebelumnya, Tuan Volkov. Putriku Yelena adalah calon menantu di keluarga ini. Bukankah begitu, Nyonya?" Stefan mengalihkan pandangan kepada Fabiola.
"Apa yang Ibu ketahui tentang kegilaan yang dikatakannya?" tanya Carlo. Dia juga ikut memandang ke arah wanita paruh baya tersebut, sang nyonya besar di dalam Istana Serigala Merah.
Sementara Fabiola tak segera bicara atau menjelaskan apapun. Wanita cantik berambut gelap tersebut memperhatikan satu per satu wajah yang ada di ruangan luas tadi, sebelum akhirnya terpaku pada paras tampan sang anak kesayangan. "Karl," ucapnya pelan dan juga terdengar sangat lembut. Sedangkan Carlo menanti jawaban darinya dengan raut tak sabar.
"Waktu itu, hubungan mendiang ayahmu dan tuan Romanov sangat dekat. Karenanya mereka berdua memutuskan untuk menjodohkan Yelena yang baru berusia beberapa bulan dengan salah satu putra kembar kami, yaitu Alexei. Padahal usia mereka masih sangat kecil, teramat kecil. Oleh sebab itu, ayahmu dan tuan Romanov menunggu hingga usia keduanya cukup. Barulah kami akan meresmikan pertunangan," tutur Fabiola.
"Akan tetapi, siapa yang tahu dengan rencana Tuhan. Kedua putraku tewas dengan mengenaskan," lanjut Fabiola lagi menutupi rasa sakitnya, di balik sikap tegar yang selama ini selalu dia tunjukkan.
"Anda dengar sendiri, Tuan Romanov. Perjodohan itu ditujukan kepada kakakku yang kini bahkan telah tiada. Kenapa tiba-tiba Anda membidikkan hal itu padaku?" protes Carlo kemudian.
__ADS_1
"Karena itu adalah sebuah perjanjian resmi antara diriku dan juga mendiang Nikolai. Selama ini, Yelena juga telah menolak banyak pria yang datang padanya ...."
"Itu bukan urusanku!" tegas Carlo memotong ucapan Stefan. Dia tak mungkin menerima kegilaan tersebut. Jangankan saat ini setelah dirinya kembali pada Miabella. Dalam perpisahan selama kurang lebih tiga tahun pun, Carlo tak berminat untuk bermain gila, atau sekadar mencari pelampiasan terhadap wanita manapun di Rusia. Padahal, gadis-gadis Rusia terkenal dengan kecantikan mereka.
"Lagi pula, berita kematian suami dan kedua putra kembarku pasti sudah Anda ketahui sejak dulu. Itu telah terlewat selama puluhan tahun yang lalu. Kenapa Anda masih berharap untuk melanjutkan rencana perjodohan yang disepakati bersama mendiang suamiku?" Fabiola ikut menimpali.
"Alasannya karena aku tahu bahwa putra bungsu Anda masih hidup dan suatu saat pasti akan kembali. Lihatlah kenyataannya sekarang. Dia berdiri di antara kita. Pria yang sangat gagah, tampan, dan juga pemberani. Aku berani datang kemari dengan membawa Yelena, setelah menerima undangan pesta penobatan putra Anda, Nyonya Volkov." Stefan mencoba menjelaskan. Sementara Yelena tak sedetik pun mengalihkan pandangan dari sang ketua Klan Serigala Merah tersebut.
"Terserah. Akan tetapi, menurutku ini sangat konyol. Lagi pula, aku sudah menikah dengan gadis cantik ini, meskipun upacara pernikahan kami hanya dilaksanakan di hadapan seorang pendeta dan tentu saja Tuhan. Itu sudah cukup," ujar Carlo seraya meraih jemari Miabella, kemudian menggenggam erat dan menciumnya mesra.
"Anda tidak menghargai putriku, Tuan Volkov," protes Stefan mulai kehilangan kesabaran atas sikap dan penolakan Carlo.
“Jaga mulutmu, Tuan!” seru Stefan demikian nyaring. Wajahnya yang tadi tenang, kini tampak merah padam menahan amarah. Sedangkan Yelena hanya menyunggingkan senyuman sinis.
“Karl.” Fabiola menyentuh bahu putra bungsunya, sambil mengangguk tenang. Apa yang dia lakukan menjadi isyarat bagi Carlo, agar berhati-hati dalam memilih kata-kata. Dia lalu mengalihkan perhatian sepenuhnya pada pria yang memandang sang pewaris tahta dengan garang.
“Maafkan putraku, Tuan Romanov. Namun, apa yang dia katakan sungguh benar adanya. Perjodohan anak-anak kita selesai ketika Aleksei dan Liev meninggal dunia. Tak ada lagi wasiat yang tersisa dari mendiang Nikolai, selain pisau peninggalan Yuri Volkov dan tampuk kekuasaan yang diwariskan untuk putra bungsu kami,” jelasnya.
__ADS_1
“Anda tidak tahu bahwa perjanjian yang kubuat dengan Nikolai adalah perjanjian darah dan tidak bisa dibatalkan dengan begitu mudah, meskipun salah saltu dari kami mati!” sahut Stefan. “Yelena harus menikah dengan Karl Volkov!” tegasnya kemudian.
“Aku menolak!” sela Carlo tak kalah tegas. “Sudah kukatakan jika aku telah menikah dengannya.” Pria rupawan itu semakin mendekatkan tubuh Miabella. Sejenak, dia merasa iba dengan gadis yang baru dinikahinya beberapa saat yang lalu. Belum genap dua puluh empat jam menikah, mereka sudah dihadapkan pada masalah seperti saat ini. Sementara Miabella pun tampak jauh lebih pendiam dan tak nyaman. Gadis itu memang tak suka berada di tengah keramaian, maupun menjadi pusat perhatian seperti sekarang.
“Pernikahan Anda tidak sah, karena belum tercatat secara sipil. Anda tak memiliki kekuatan hukum untuk itu,” sahut Yelena yang sedari terdiam dan hanya memberikan tatapan nakal kepada Carlo. “Aku bisa dengan mudah membatalkan pernikahan kalian dengan dukungan para tetua Klan Romanov yang juga merupakan orang-orang kepercayaan tuan Nikolai dulu.”
Wanita itu melangkah gemulai. Dia mendekat ke arah Miabella, lalu menyentuh rambut indah putri dari Matteo de Luca tersebut. Yelena bahkan sempat meraih rambut Miabella dan menempelkannya di hidung. “Harum sekali,” celetuknya seraya tertawa kecil.
Miabella tentu merasa aneh pada wanita di sebelahnya yang memiliki sikap tak biasa itu. “Lepaskan tanganmu!” geram gadis bermata abu-abu tersebut seraya mencengkeram pergelangan Yelena.
“Punya nyali juga kau,” seringai wanita beriris mata gelap tadi. “Bagaimana kalau kau membagi suamimu denganku?” kelakarnya.
Sontak hal itu membuat Miabella semakin naik pitam. Dia semakin mempererat cengkeraman tangannya sampai Yelena meringis. “Jangan main-main denganku, Perawan tua. Kenalilah dulu siapa yang sedang kau hadapi. Baru berulah,” desisnya pelan, tetapi penuh penekanan.
“Hei!” Stefan yang tak terima atas perlakuan yang diterima oleh putrinya, segera bergerak maju dan bersiap untuk melayangkan tamparan ke arah wajah Miabella.
Namun, sebelum itu terjadi Carlo sudah lebih dulu menghadang dan menepis tangan pria tersebut. “Tak ada yang boleh menyentuh, apalagi menyakiti istriku!” geram Carlo dengan sorot mata garang. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada Yelena, “dan kau, Nona. Kau tak tahu betapa pencemburunya dia! Jadi, mundurlah jika kau tak ingin merasakan kemarahan dari keturunan Klan de Luca yang sesungguhnya!” ancam pria itu sembari memasang badan untuk melindungi Miabella.
__ADS_1
“Kau! Kalian!” Stefan menunjuk semua orang di sana, tak terkecuali Fabiola. “Akan kuingat hari ini! Hari di mana kalian mempermalukan keluarga Romanov!” sentaknya dengan suara menggelegar, sambil menarik tangan Yelena. Dia lalu pergi begitu saja meninggalkan istana Serigala Merah.