
“Bella!” seru Carlo. Dia melepaskan cengkeramannya begitu saja dari bagian belakang kemeja Damien. Pria itu bergegas menghampiri Miabella yang terbaring menyedihkan di rerumputan.
Carlo merengkuh tubuh sang istri yang selama ini dia rindukan. Dengan sangat hati-hati, dia merebahkan kepala Miabella di atas pangkuannya. “Bella,” panggil Carlo lagi seraya membelai pipi wanita yang sudah tak sadarkan diri tersebut.
Carlo mencari urat nadi Miabella. Dia memeriksa dengan saksama. Sesaat kemudian, pria itu dapat mengembuskan napas lega, ketika masih dapat merasakan denyut nadi belahan jiwanya. "Syukurlah, Bella. Tetap bertahan, Cara mia." Carlo mengecup kening sang istri, sebelum berbalik pada Damien. Dia hendak meminta pertanggungjawaban atas kondisi istrinya yang menyedihkan. Carlo juga sepertinya akan menghajar Damien habis-habisan, hingga pria itu meregang nyawa.
Akan tetapi, niat sadis tadi sepertinya tak dapat Carlo wujudkan, ketika dia menyadari bahwa Damien ternyata sudah tewas. Carlo mendengkus kesal, sambil mengangkat tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Tak berselang lama, dia mengempaskannya dengan penuh amarah. Sang ketua Klan Serigala Merah bahkan menampar pipi Damien, kemudian memeriksa lehernya.
“Sialan! Kenapa kau harus mati semudah ini?” gerutunya. “Apa yang membunuhmu?”
Pertanyaan Carlo segera terjawab, ketika dia melihat perut dan kaki Damien sudah berlubang. Carlo juga memperhatikan darah yang berceceran di tanah, pada saat dirinya menyeret pria itu keluar dari lorong gelap tadi.
Suami Miabella tersebut sempat berpikir sejenak. Itu artinya, Damien sudah terluka sejak baku tembak di halaman depan bangunan. Mungkin karena itulah pria tersebut melarikan diri ke ruang bawah tanah, dan tidak dapat melakukan perlawanan yang sengit saat bertarung dengan Carlo.
“Ah, sudahlah!" Carlo tak ingin membuang waktu lebih lama. Baginya, yang terpenting adalah keselamatan Miabella. Carlo segera membopong tubuh lemah sang istri. Dia membawanya berlari melintasi padang rumput luas. Di sana, Adriano sudah menunggu dekat mobil yang tadi dikendarai oleh Vlad. Adriano juga rupanya sudah memesan satu mobil lagi.
“Apakah dia masih hidup?” tanya Carlo, ketika melihat Adriano mengangkat tubuh Vlad ke dalam mobil. Saat itu posisi sang ayah mertua membelakangi menantunya.
“Ya, dia masih bernapas. Aku ... Astaga!” Adriano terkejut bukan kepalang saat berbalik dan mendapati Miabella yang tak sadarkan diri, dengan kondisi bersimbah darah. “Carlo! Jangan katakan bahwa putriku ....” Adriano tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Amarah telah lebih dulu terpancar dari sorot matanya.
“Bella masih hidup, Ayah Mertua. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit,” ucap Carlo.
“Berikan dia padaku.” Adriano tak menunggu persetujuan Carlo. Dia langsung merengkuh tubuh putrinya. Tanpa membuang waktu, Adriano memasukkan Miabella ke dalam mobil sewaan. Mereka harus bergegas ke rumah sakit.
Setelah itu, Adriano kembali ke dekat mobil Vlad. Di sana sudah bersiap seorang pria yang merupakan salah satu anak buah Damien. “Bawa kami ke rumah sakit terdekat. Jika kau berani berbuat macam-macam, maka kupastikan Eropa bukan tempat yang aman bagimu!” ancam sang ketua Tigre Nero dari luar jendela mobil.
__ADS_1
Pria yang juga sudah penuh luka di wajahnya itu mengangguk. Semua rekannya telah tewas. Dia tak akan berani melawan. “Ikuti saja mobil ini, Tuan,” ucapnya ketakutan.
“Bagus.” Adriano menyeringai. Dia kembali ke mobil yang tadi dia sewa. Adriano membuka pintu belakang, di mana dirinya merebahkan Miabella. Namun, pria paruh baya itu segera mengernyitkan kening. Pasalnya, dia melihat Carlo sudah duduk di jok belakang sambil merengkuh Miabella. “Sedang apa kau di situ? Pindah ke depan!” suruh Adriano.
“Tapi, Ayah mertua ….” Carlo hendak melayangkan protes. Namun, hal itu segera dia urungkan setelah melihat sorot mata Adriano. “Sudah kukatakan padamu,” ucap Adriano penuh penekanan, “jika sampai terjadi sesuatu yang buruk terhadap Miabella, maka aku tak segan mengambilnya kembali darimu. Menantu tidak berguna!” cerca Adriano. Dia mengisyaratkan agar Carlo segera keluar.
Carlo yang tampak keberatan, tak berani menolak. Dengan terpaksa, dia mengambil tempat duduk yang tersedia di samping pengemudi. Sementara Miabella yang masih belum sadarkan diri, terkulai di pangkuan Adriano.
Dua sedan pabrikan Jerman itu berjalan beriringan menuju rumah sakit terdekat. Setibanya di sana, mereka bergegas membawa Miabella masuk. Adriano juga meminta beberapa petugas medis untuk menjemput Vlad di dalam kendaraannya.
Para petugas medis dengan cekatan melakukan tindakan kepada dua orang yang terluka parah itu. Miabella dan Vlad, didorong di atas brankar masing-masing menuju ke dua ruangan yang berbeda.
Tak ada yang dapat dilakukan oleh mertua dan menantu itu selain duduk pasrah di ruang tunggu. Hingga beberapa saat berlalu, salah seorang pria berseragam biru khas dokter, keluar dari ruang tindakan dan menghampiri Adriano beserta Carlo.
“Bagaimana istriku?” tanya Carlo was-was.
“Apa?” sela Adriano sebelum sang dokter menyelesaikan kalimatnya.
“Luka sobek pada kedua kakinya sangatlah banyak. Nantinya, akan ada bekas jahitan yang memenuhi betis istri Anda. Bekas luka seperti itu biasanya tidak bisa hilang. Terkecuali jika Anda melakukan bedah plastik,” jelas sang dokter hati-hati.
“Apakah hal itu mempengaruhi keselamatannya?” tanya Carlo.
“Tidak sama sekali, Tuan,” jawab dokter itu dengan yakin.
“Kalau begitu, bukan masalah sama sekali bagiku,” sahut Carlo. “Keselamatan Miabella adalah hal terpenting untukku."
__ADS_1
Dokter itu mengangguk, kemudian menatap Adriano dan Carlo secara bergantian.
“Sebaiknya, dampingi dan berikan perhatian lebih pada istri Anda. Berikan juga pengertian padanya terkait luka-luka yang akan terus membekas di permukaan kulit,” lanjut sang dokter.
“Anda pasti paham, bukan? Wanita sangat mengutamakan penampilan,” ujar dokter itu lagi, membuat Carlo tercenung lalu menunduk dengan dalam.
“Apakah luka-luka putriku akan mempengaruhi kekuatan fisiknya, seperti berjalan atau berlari misalnya?” tanya Adriano.
“Tidak sama sekali, Tuan. Putri Anda tetap dapat melakukan semua aktivitas, selama luka bekas jahitannya sudah benar-benar mengering secara sempurna. Seperti yang kita ketahui, bahwa tulang manusia jauh lebih kuat dari ujung logam belati. Benda tajam itu hanya bisa menggores, tapi tidak akan bisa mematahkan tulang,” jelas sang dokter.
“Bisakah aku bertemu dengannya?” Carlo semakin sedih mendengar itu. Sejuta perasaan bersalah, hinggap dan menyiksa dirinya. Dia merasa gagal sebagai seorang suami, karena tak mampu melindungi Miabella.
“Untuk saat ini, istri Anda masih berada di ruang steril dan dalam tahap observasi. Tunggulah sampai dua puluh empat jam ke depan,” pungkas sang dokter sambil menepuk pelan bahu Carlo sebelum berlalu. Dia juga sempat mengangguk pada Adriano.
Pria yang sebentar lagi akan berulang tahun yang kelima puluh lima itu tak mengucapkan sepatah kata pun selepas berlalunya sang dokter. Dia duduk terpekur. Sesaat kemudian, Adriano menoleh pada Carlo. Tak disangka, pria dengan banyak tato di tubuh dan selalu terlihat kuat seperti batu karang itu menitikkan air mata.
Carlo menangis tanpa suara sambil meraup wajahnya kasar dengan kedua tangan. “Ya, Tuhan, aku telah gagal,” gumamnya lirih. “Apa yang harus kulakukan, Cara mia? Mungkin memang kematian adalah hukuman yang paling pantas untukku,” racaunya.
“Dia akan semakin terpuruk jika kau mati. Sejatinya, kaulah kekuatan putriku, Carlo. Bukan aku ataupun Mia,” sahut Adriano setelah sekian lama terdiam. “Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku juga tak akan sanggup memisahkan Bella denganmu. Aku tidak kuat menghadapi sikap keras dan penentangan putriku. Aku terlalu menyayanginya,” imbuh Adriano.
“Aku sudah merusak fisiknya, Ayah Mertua. Miabella pasti akan sangat kecewa,” sahut Carlo pelan.
“Kukira kau paham benar seperti apa putri kecilku, Carlo. Namun ternyata aku salah,” cibir Adriano seraya berdecak pelan.
Carlo langsung menoleh sambil mengernyitkan kening.
__ADS_1
“Bella tidak peduli dengan penampilan. Dia terbiasa tampil apa adanya. Apa kau lupa?” Adriano membalas tatapan Carlo dengan sorot tajam. “Untungnya, dia dianugerahi wajah dan fisik yang indah. Mau berapapun luka yang menghiasi tubuhnya, Principessa-ku tetaplah sempurna.”