
"Apakah itu merupakan suara ayahku, Grigori?" tanya Carlo dengan raut wajah tak percaya. Dia menatap kepada Grigori dan Ivan secara bergantian.
"Ya, Tuanku. Anda benar sekali," sahut Grigori. Sedangkan Ivan pun ikut mengangguk setuju dengan jawaban sang rekan.
Sementara Adriano tampak berpikir serius. Lain lagi dengan Coco yang memang tak mengerti dengan isi dari rekaman suara tadi, karena seluruhnya menggunakan Bahasa Rusia. "Coba kau putar kaset yang lainnya, Ricci," suruh sang ketua Tigre Nero.
"Ini merupakan kaset rekaman video, Amico," ucap Coco sambil meraih satu kaset terakhir di atas meja. Dia mengamati, lalu membolak-balik benda persegi dan tampak berbeda dari kaset-kaset perekam suara yang telah diputar sebelumnya. Coco melakukan hal itu untuk beberapa saat, hingga akhirnya ayah tiga anak tersebut memasukkan kaset itu ke dalam alat perekam khusus berwarna hitam. Sebuah alat yang terlihat sangat tua dan antik.
Pada layar yang telah disambungkan dengan alat tadi, tampaklah gambar hitam putih. Kualitas gambar yang muncul, memang tidak secerah hasil rekaman zaman sekarang. Namun, untuk alat perekam pada waktu itu, benda tersebut merupakan termasuk yang paling bagus dan juga populer di Eropa.
Terlihatlah sebuah ruangan khusus dengan interior dan suasana khas tahun '70an. Di dalam sana, ada sebuah meja berbentuk elips berukuran tidak terlalu besar. Di meja tadi, telah berkumpul beberapa orang yang sudah duduk dengan penuh wibawa, di mana salah satunya merupakan sosok Nikolai Volkov.
"Ya, Tuhan. Tuan besar ...." Grigori dan Ivan berucap hal yang sama. Kedua pria itu terlihat jelas tak mampu menyembunyikan perasaan dalam diri mereka, saat melihat kembali sang junjungan tercinta. Semuanya terasa begitu hidup dan seakan nyata, meski hanya melihat dari rekaman video saja.
"Dia adalah tuan Nikolai Volkov," tunjuk Grigori pada seorang pria yang mengenakan mantel hitam serta memiliki rambut gelap seperti Carlo. Pria itu duduk dengan gagah dan penuh wibawa, memandang satu per satu pada rekannya yang lain.
"Ayahku sangat tampan," ucap Carlo. Seutas senyuman terlukis di bibirnya yang berhiaskan janggut dan kumis tipis. Sementara sorot mata biru sang ketua Klan Serigala Merah, menyiratkan pergolakan batin yang sulit untuk diungkapkan dengan untaian kata. Carlo tampak menyentuh sudut matanya yang basah. Dia tak ingin terlihat betapa emosional dirinya, di hadapan mereka semua
"Dia adalah Piotr Rylov. Aku pernah bertemu dan bahkan bertegur sapa dengannya, sewaktu pria tersebut menemui tuan Nikolai di sini," tunjuk Grigori lagi, pada seorang pria berambut pirang dengan kulit putih khas orang Rusia.
"Lalu, yang mana Roderyk Lenkov?" tanya Carlo. Hal sama yang tadinya hendak Adriano tanyakan kepada Grigori. Sang mantan penasihat kepercayaan Nikolai itu pun tampak memicingkan mata, melihat satu per satu pria yang berjumlah sekitar empat orang di meja pertemuan itu.
"Roderyk tidak ada di sana. Namun, lihatlah ada satu buah kursi yang masih kosong. Mungkin saja dia datang terlambat," pikir Grigori.
__ADS_1
Apa yang Grigori ucapkan tadi memang benar adanya. Selang beberapa saat, tampaklah seorang pria berperawakan tegap dengan rambut pirang. Wajah pria itu belum terlihat jelas, karena posisi kedatangan si pria sedikit membelakangi kamera. Namun, pada awalnya dia terlihat menyalami semua, termasuk Nikolai yang langsung memeluk dengan hangat. Dari bahasa tubuh kedua pria tadi, dapat disimpulkan bahwa mereka memang memiliki kedekatan yang istimewa.
"Apakah dia Roderyk Lenkov?" tanya Adriano tanpa mengalihkan perhatian dari layar.
"Benar sekali, Tuan D'Angelo. Entah sudah berapa kali aku bertemu dengannya. Jika dibandingkan Piotr Rylov, rasanya tuan Nikolai jauh lebih sering berbincang bersama pria itu," jelas Grogori lagi. "Namun, siapa sangka ternyata dia sama saja, bahkan jauh lebih kejam dari Viktor Drozdov."
Grigori menjadi orang yang terakhir bersuara di dalam ruangan itu, karena tak lama kemudian suasana hening saat mereka kembali fokus pada rekaman. Terdengar beberapa percakapan dalam Bahasa Rusia, yang merupakan sebuah perbincangan hangat pembuka pertemuan antara keenam pria dalam rekaman yang tengah mereka saksikan. Ada gelak tawa dan juga candaan-candaan yang khas.
"Sepertinya, sebagian dari mereka merupakan pengusaha," ucap Ivan yang sejak tadi tak bersuara sama sekali.
"Benar sekali Ivan. Kau lihat pria yang meletakkan tangan di atas topi fedora hitam itu? Dia adalah Artyom Karavayev, seorang pengusaha pertambangan dan minyak bumi yang merupakan rekan bisnis tuan Nikolai," tunjuk Grigori pada pria yang dirinya maksud.
"Ah ya. Sekarang aku ingat siapa pria itu," sahut Ivan.
Mereka pun kembali terdiam dan menyimak obrolan di dalam rekaman video yang sudah mulai menyinggung masalah keadaan ekonomi yang merosot dan juga upaya pemerintah untuk melakukan pembersihan dari oknum-oknum pejabat korup.
Sementara Roderyk hanya tersenyum sinis. "Intinya aku tak akan pernah menyetujui kebijakan apapun yang mereka canangkan atas nama demi kemajuan negara ini," tolak pria itu dengan tegas.
"Kenapa kau harus merasa gusar, Kawan? Kau bukan salah satu dari sekian banyak koruptor yang akan disidik pemerintah," ujar Artyom tenang.
"Tutup mulutmu!" tunjuk Roderyk yang menanggapi serius celetukan pria tadi.
"Apakah selentingan yang kudengar memang benar adanya?" tanya Piotr. Seperti Nikolai dan Artyom, dia masih memperlihatkan sikap yang sangat tenang.
__ADS_1
"Tentang apa?" tanya Roderyk. Nada bicara pria berambut cokelat tembaga itu, sudah tak terdengar nyaman seperti sebelumnya di telinga kelima rekan yang hadir di sana.
Melihat sikap Roderyk yang mulai berapi-api, Nikolai pun mencoba untuk meredam. "Tenangkan dirimu, Sahabatku. Kita berada di sini untuk berunding. Bukankah itu maksudmu mengumpulkan kami semua?" Nikolai memandang penuh arti pada sahabat dekatnya tersebut. Sementara Roderyk hanya hanya mengempaskan napas kasar.
Beberapa saat kemudian, Nikolai yang telah mengundurkan diri dari dunia militer dan pemerintahan, demi menggantikan peran sang ayah dalam organisasi pun kembali bersuara. "Kami mendengar bahwa kau bermain mata dengan kelompok fasis, dan telah membuat organisasi pemberontak bawah tanah yang didanai oleh Jerman Timur. Kuharap selentingan yang beredar itu tidak benar. Bagaimanapun juga, kita telah sama-sama berjuang demi negara ini."
“Bagaimana jika yang kau dengar itu memang benar adanya?” Roderyk menyeringai lebar, membuat suasana dalam ruangan tadi menjadi tegang. “Untuk itulah aku mengadakan pertemuan dengan kalian semua di tempat ini,” imbuhnya.
“Apa maksudmu!” Piotr berdiri dari kursi sambil menggebrak meja. Tatapan pria itu tertuju sepenuhnya kepada Roderyk.
“Tidakkah kalian sadar bahwa presiden kita telah mengadakan reformasi besar-besaran? Dia akan mengubah sistem pemerintahan serta ekonomi menjadi sistem demokrasi dan liberal,” ujar Redoryk nyaring. Intonasi pria itu terdengar sangat tinggi.
“Bukankah itu bagus? Aku yakin dengan kebijakan yang baru, hal itu dapat membawa angin positif pada perekonomian Rusia,” sahut Nikolai yang masih tetap bersikap tenang.
“Apa kau gila, Nikolai!” geram Roderyk, satu telunjuknya mengarah tepat ke wajah tampan sang ketua Klan Serigala Merah kala itu.
“Jaga mulutmu!” Piotr yang merasa tak terima dengan perlakuan Roderyk terhadap Nikolai, langsung berdiri dan balas meluruskan jari telunjuk pada pria yang duduk di seberang meja.
“Aku mengatakan yang sebenarnya! Tak ada kejayaan lebih besar dari paham komunis yang selama ini kita pegang! Siapa pun tak boleh mengganti komunisme di Uni Soviet! Tidak juga presiden kalian yang tercinta itu!” sentaknya. Suara Roderyk menggema di setiap sudut ruang hitam.
"Untuk itulah aku menawarkan kerja sama dengan kalian,” ucap Roderyk lagi yang tiba-tiba memelankan nada bicaranya sembari menyeringai kecil. “Mari kita hentikan upaya presiden untuk merombak dasar negara ini. Kita gulingkan kekuasaannya, lalu bersama-sama mengembalikan lagi kejayaan paham komunis,” lanjutnya berapi-api.
“Maksudmu … kau ingin melakukan kudeta?” desis Nikolai seraya memicingkan mata.
__ADS_1
“Ya! Itulah yang kucita-citakan. Lalu, kau Nikolai. Kau adalah kandidat paling tepat untuk membantu mewujudkan impianku. Bersama-sama, kita akan menguasai Uni Soviet dan dunia tentunya!” Roderyk terbahak seraya merentangkan kedua tangan penuh kebanggaan atas pemikiran yang dia utarakan tadi. "Aku dengan kekuasaan di pemerintahan, sementara kau dengan organisasi Serigala Merah yang pasti akan semakin berkibar namanya di kancah Eropa dan seluruh dunia." Roderyk kembali tertawa lebar.
"Lalu untuk kalian," tunjuk Redoryk pada yang lain dan sedang memperhatikan pria itu dengan saksama. "Siapa yang tak ingin menjadi raja dan dapat mengendalikan roda perekonomian? Jika aku dapat menjadi seorang penguasa sejati, maka semuanya pasti akan menjadi sangat mudah."