
Carlo dapat bernapas lega, ketika pertemuannya dengan Boris dan Fyodor Vasiliev berjalan lancar. Pria tua itu berjanji akan membantu dirinya untuk mengumpulkan kekuatan, sekaligus menjembatani dirinya dalam kerja sama dengan pemerintah.
“Akan ke mana kita sekarang?” tanya Grigori sembari menyusuri trotoar. Sementara malam semakin larut. Udara di kota Moskow pun terasa kian dingin.
“Kita ke rumahku saja,” jawab Igor sambil memasukkan kedua tangan dalam saku jaketnya.
“Maksudmu markas kita yang lama?” sahut Ivan.
“Markas?” Carlo ikut menyela pembicaraan pria-pria paruh baya tersebut.
“Ya, Tuan Muda. Rumah yang pertama kali kau datangi adalah markas rahasia kami, sesaat setelah Viktor mengambil alih Klan Serigala Merah. Akan tetapi, lama kelamaan tempat itu menjadi sepi, karena pengikut tuan Nikolai mulai berpencar. Banyak dari mereka yang berpindah ke luar negeri atau menghilang entah ke mana. Bagaimanapun juga, kami harus melanjutkan hidup,” jawab Igor menuturkan. "Apa kalian masih ingat dengan Roman dan Alan? Kudengar mereka berdua membuka restoran kecil-kecilan di Sibenik, Kroasia," tanya Igor pada kedua rekannya dengan menggunakan bahasa Rusia.
"Astaga. Siapa sangka, padahal dulu mereka berdua merupakan ahli dalam menembak jarak jauh," sahut Grigori tak percaya. "Mungkin sama halnya dengan Dominik yang menjadi tukang kayu, dan Misha kini beralih menjadi pelatih senior di salah satu pusat kebugaran Slovenia. Semua telah mencari penghidupan mereka masing-masing," tutur Grigori.
"Ya, kali ini juga Alan dan Roman menembak para pelanggan dari kejauhan. Sasarannya adalah perut," kelakar Ivan membuat ketiga temannya ikut tertawa.
"Aku rasa mungkin sama saja denganku yang mengelola sebuah penginapan jelek dan murah. Kalian tak tahu betapa sulinya bersaing dengan penginapan-penginapan mewah di Sochi," tutur Igor.
Namun, sangat berbeda dengan Carlo. Selain karena dirinya tak mengerti dengan apa yang tengah ketiga senior itu bahas, pikiran pria tampan bermata biru itu juga kembali tertuju pada Miabella. Rasa rindu yang begitu berat kepada gadis cantik tersebut sangatlah menggebu dalam dada. Jika bisa, Carlo ingin sekali berlari sambil meneriakkan namanya sekencang mungkin.
Namun, sesaat kemudian pria tampan pemilik banyak tato tadi pun mencoba untuk menyingkirkan sementara godaan itu. Dia berbisik kepada Grigori, karena merasa penasaran dengan apa yang tengah mereka perbincangkan. Grigori segera menjelaskannya dalam bahasa Italia.
“Kenapa mereka harus pindah ke luar negeri? Bukankah Moskow adalah tempat yang paling aman?” tanya Carlo setelah mendengar penjelasan pria paruh baya itu, seraya menautkan alisnya.
__ADS_1
“Banyak dari mereka yang merasa sakit hati, atas kejadian pembantaian tuan Nikolai beserta dua putra kembarnya. Mereka menganggap agen-agen rahasia turut andil dalam kejadian tersebut. Namun, hingga kini kami tidak tahu entah apa tujuannya,” jelas Grigori. “Akhirnya mereka memilih pergi dari Rusia. Setidaknya, hal itu dapat sedikit membantu untuk melupakan tragedi terburuk dalam hidup mereka,” tutur pria itu lagi. "Kami yang sama-sama memiliki loyalitas tinggi kepada tuan Nikolai, tak bisa memaksa mereka untuk tetap bertahan dengan mengandalkan harapan semu."
“Jadi, begitu rupanya.” Carlo bergumam pelan. Matanya menerawang, menatap permukaan trotoar. Terbayang ketika Grigori yang menyebutkan bahwa ayah dan kedua kakaknya terbunuh dengan cara yang teramat keji.
“Mari, Tuan Muda. Kita hanya perlu menyeberang jalan, lalu melintasi monumen kota. Setelah itu, maka sampailah kita ke tempat tinggal Igor,” jelas Ivan dengan yakin. Dia masih mengingat dengan jelas rute menuju komplek perumahan, yang dulu pernah Carlo datangi pada awal kedatangannya ke Rusia.
Carlo mengangguk pelan. Dia berkali-kali mengembuskan napas. Sedangkan kedua tangan, sejak tadi tak keluar dari dalam saku jaket hoodienya.
Selang beberapa saat, keempat pria itu telah tiba di tempat yang mereka tuju. Igor maju terlebih dahulu dan segera mengetuk pintu. Sama seperti yang Carlo alami dulu, si penghuni rumah tersebut tak langsung membukanya. Terlebih karena saat itu sudah lewat dari pukul satu dini hari.
"Mungkin Isodora tak mendengar. Aku yakin, dia pasti sedang terlelap di bawah selimut tebal," ujar Ivan. Dia mengatakan sesuatu yang ada dalam angan-angannya, mengingat cuaca yang terasa semakin dingin.
"Baiklah. Tidak etis rasanya bertamu pada jam seperti ini. Tuan rumah tentu tak akan membukakan pintu untuk kita," sahut Igor menimpali. Tanpa membuang waktu, pria berambut cokelat itu menggeserkan sebuah pot bunga yang berada di dekat pintu. Di bawah pot tadi, terdapat sebuah lantai berlapis kayu. Igor kemudian meminta Ivan untuk menyalakan senter dari ponselnya.
"Aku rasa mungkin karena tenagamu sudah berkurang," cibir Ivan yang segera diiringi tawa dari Grigori.
"Bukannya membantu, kau malah mengejekku!" dengus Igor kesal.
Sementara Carlo yang sejak tadi hanya berdiri sambil memperhatikan, kini bergerak maju. Dia mengisyaratkan agar Igor segera menyingkir dari tempatnya. Si pemilik penginapan itu pun tak membantah.
Setelah Igor menyingkir dari sana, Carlo segera mengambil alih tempat itu. Dia lalu menurunkan tubuhnya. Dengan sekuat tenaga, Carlo menarik pengait besi kecil tadi. Rasanya begitu berat. Akan tetapi, kekuatan Carlo jauh lebih besar jika dibandingkan dengan penutup berbentuk kotak tersebut.
"Astaga, pantas saja berat sekali," decaknya tak percaya.
__ADS_1
Penutup berbentuk kotak tadi telah terbuka. Dari bagian atas, penutup yang ternyata merupakan pintu rahasia itu memang berlapis kayu. Namun, di bagian bawahnya ternyata berlapis baja cukup tebal.
"Inilah keahlian Igor, Tuan Muda. Dia paling pintar dalam menyusahkan hidup orang lain," ujar Grigori yang segera turun terlebih dahulu, ke dalam lubang yang hanya cukup untuk satu orang saja.
"Tak jarang dirinya pun merasa kesusahan. Sama seperti barusan," timpal Ivan yang begitu puas mengolok-olok sahabat lamanya tersebut.
"Aku mendengarmu, Brengsek!" seru Igor yang sudah berada di bawah. Suara pria itu terdengar menggema.
Tak berselang lama, Ivan mempersilakan Carlo untuk turun. Namun, Carlo memilih untuk menjadi yang paling akhir, pasalnya dia takut jika Ivan tak kuat menutup kembali pintu masuk tadi. Saat itulah, Igor balas tertawa dengan sangat kencang. Dia merasa bahwa Carlo sudah membalaskan segala olok-olok sahabat dekatnya tersebut.
Setelah semua turun dan pintu masuk tadi kembali tertutup, mereka kemudian menyusuri lorong yang teramat sempit dan lagi-lagi hanya cukup untuk satu orang. Mereka pun berjalan dengan posisi beriringan ke belakang. Karena di sana tak ada pencahayaan sama sekali, Carlo juga ikut menyalakan senter dari ponselnya.
Sekitar beberapa saat lamanya, keempat pria itu menyusuri lorong sempit nan panjang tadi. Pada akhirnya, mereka tiba di depan sebuah pintu yang juga berukuran sangat kecil, sehingga orang yang melewatinya harus dalam posisi menyamping.
Satu per satu dari mereka melewati pintu sempit tersebut. Saat itu, Carlo merasa seperti tengah berada di dunia para kurcaci. Namun, rasa pengap yang dalam beberapa saat menderanya tadi telah berakhir, ketika mereka dihadapkan pada tangga yang terlihat jauh lebih normal. Carlo pun bernapas lega. "Luar biasa," gumam pria berambut gelap itu. Hawa dingin yang tadi menerpa, tak terasa sama sekali di ruang bawah tanah tersebut.
"Bagaimana, Tuan?" tanya Grigori ketika mereka sedang meniti anak tangga berbentuk melingkar. Entah ada berapa puluh undakan yang harus mereka lewati kali ini.
"Siapa yang mendesain jalan masuk tadi?" tanya Carlo seraya berdecak tak percaya.
"Igor yang mendesainnya, Tuan. Terowongan kecil itu merupakan duplikat dari markas Serigala Merah. Jika nanti Anda ke sana, persiapkan diri untuk menyusuri terowongan yang jauh lebih panjang dan juga pengap," tutur Grigori mengingatkan. Pria itu kemudian tertegun sejenak dengan wajah tertunduk. "Di sana pula, tuan Nikolai beserta putra kembarnya dihabisi dengan tak manusiawi."
"Jangan khawatir, Grigori. Tak lama lagi, ayahku akan segera mendapatkan ketenangannya."
__ADS_1