
Mereka yang ada di dalam ruangan itu seketika saling pandang, lalu menggelengkan kepala dengan perlahan. Jelas sudah bahwa tak ada satu pun dari kelima pria tersebut yang setuju dengan kekonyolan yang ditawarkan oleh Roderyk.
Sementara Nikolai terlihat penuh amarah setelah mendengar penuturan sahabat kentalnya tersebut. Dia juga sudah mengepalkan kedua tangan di atas meja. Namun, sebisa mungkin Nikolai menahan diri agar tak terpancing semakin jauh. Bagaimanapun juga, pria itu masih memegang segala prinsip dan nilai-nilai persahabatan yang sudah terjalin sekian lama antara dirinya dengan Roderyk Lenkov.
"Apa yang telah membuatmu menjadi seperti ini, Saudaraku? Ke mana semua ideologi serta kawarasan, logika yang selalu menjadi ciri khasmu selama ini?" Nikolai menatap penuh arti kepada pria yang bukan lagi merupakan sahabat baiknya. Dia tak lagi mengenal sosok Roderyk saat ini.
"Justru karena aku masih memiliki kewarasan dan logika. Aku tidak seperti kalian yang bodoh dan mau saja menjadi pecundang tak berdaya, sehingga dengan mudahnya menerima segala perubahan. Nikolai, Piotr, dan kalian semua. Sungguh mengecewakan!" Roderyk tiba-tiba menggebrak meja dengan nada bicara yang meninggi.
“Aku dan yang lain akan tetap menolak, meskipun kau mengancam kami dengan nada tinggi seperti itu!” ucap ayah kandung Carlo dengan tegas.
“Apa?” Roderyk terbelalak tak percaya. Dia menatap wajah sang ketua Klan Serigala Merah dengan penuh kekecewaan. "Jangan bercanda, Nikolai!" sergahnya tak kalah tegas.
“Aku sepenuhnya mendukung upaya pemerintah demi kemajuan bangsa ini. Itu artinya, aku tidak akan pernah mengikuti ide gilamu!” tegas Nikolai lagi tanpa ragu.
“Apakah aku tidak salah dengar, Tuan Nikolai Volkov yang terhormat ?” Roderyk menggelengkan kepala. Dia tak habis pikir, dan tentu saja tidak dapat menerima kenyataan bahwa sahabat dekatnya sendiri telah menolak mentah-mentah semua ide brilian yang tadi dirinya uraikan di hadapan semua.
Sesaat kemudian, Roderyk tampak manggut-manggut. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada rekan-rekan yang sejak tadi hanya menyimak tapi tak berkomentar sama sekali. Basic mereka yang merupakan pengusaha, tentu saja berbeda dengan Roderyk ataupun Nikolai serta Piotr yang berasal dari militer. Karena itu, diam dan menyimak akan jauh lebih aman.
__ADS_1
“Baiklah. Tak apa jika Nikolai menolak. Akan tetapi, bagaimana dengan yang lain? Aku yakin kalian memiliki pendapat sendiri!” Roderyk masih berharap ada yang mendukung rencana gila serta berbahaya yang akan dirinya lakukan, meskipun dia sudah dapat membaca sebuah penolakan dari bahasa tubuh yang diperlihatkan oleh ketiga pengusaha tadi.
Namun, lagi-lagi pria dengan rambut cokelat tembaga itu harus kembali menelan rasa kecewa, karena pada kenyataannya mereka yang ada di dalam ruangan tersebut memilih untuk mendukung pendapat Nikolai.
“Oh, jadi begitu rupanya? Tak kusangka, ternyata orang-orang yang kuanggap sahabat selama ini, ternyata hanya sekelompok pengecut tak berguna!” Kata-kata cacian pun pada akhirnya keluar dari mulut Roderyk saat itu. Bersamaan dengan ucapan kasar tadi, pria tersebut juga mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas yang dirinya kenakan.
Adalah sebuah senapan semi otomatis yang Roderyk arahkan langsung dan tepat ke arah jantung Nikolai.
Gerakan yang dilakukan pria yang sama-sama mengenyam dunia militer bersama Nikolai dan Piotr tadi teramat cepat. Tiba-tiba saja dia sudah menarik pelatuk dan menembakkan sebutir peluru.
Akan tetapi, Piotr yang sedari awal berdiri di samping Nikolai segera bergerak. Secara spontan, dia menjadikan dirinya sebagai tameng bagi sahabat yang telah sekian lama berjuang bersama. Tak ayal lagi, peluru itu pun bersarang tepat di jantung Piotr. Hal tersebut membuat salah satu dari sahabat Nikolai tersebut roboh seketika dalam keadaan tak bernyawa.
“Apa yang kau lakukan, Sobat? Kenapa kau berusaha mencelakai kami? Apakah kau tak ingat bahwa kita bersahabat?” geram Nikolai tak terima.
“Sahabat? Ini karena ulah kalian sendiri yang tak ingin bangkit bersama denganku!” sahut Roderyk tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
Nikolai memicingkan mata, lalu mengalihkan perhatian pada jasad Piotr yang masih tergolek di atas pangkuannya. Perlahan dan hati-hati, dia meletakkan mayat pria itu, kemudian berdiri dan berjalan mendekati Roderyk.
__ADS_1
“Pergilah kau dari sini dan jangan tunjukkan dirimu lagi di sekitar Istana Serigala Merah,” geram Nikolai dengan nada datar, dingin, dan penuh penekanan. “Mulai detik ini, aku memutuskan segala hubungan kerja sama, bisnis, dan bahkan persahabatan kita!” Nikolai tampak berusaha untuk mengendalikan emosi dalam dirinya.
“Kau akan menyesal, Nikolai!” sentak Roderyk dengan sorot tajam.
“Selamat tinggal, Teman,” balas Nikolai sambil membuat gerakan isyarat agar kolega-koleganya yang lain melepaskan cengkeraman mereka dari tubuh Roderyk.
“Kau pasti akan menyesal!” ulang pria itu seraya merapikan jasnya yang sedikit berantakan. Roderyk kemudian berlalu dari ruangan tersebut dengan diiringi tatapan dari semua yang ada di sana. Sesaat setelah membuka pintu ruang hitam, Roderyk kembali membalikkan badan ke arah semua orang. “Habisi mereka!”
Nikolai sempat berpikir sejenak tentang siapa yang tengah Roderyk ajak bicara saat itu. Namun, pertanyaannya segera terjawab ketika belasan orang tiba-tiba berdiri di belakang mantan sahabatnya tersebut. Mereka memberondongkan tembakan ke arah semua orang yang berada di dalam ruangan pertemuan.
Semua orang tewas, kecuali Nikolai yang bersembunyi di balik pilar. Dia melindungi kamera video yang masih dalam posisi merekam setiap kejadian, termasuk ketika dirinya dihujani peluru. Nikolai yang memiliki dasar pendidikan militer, dapat merangkak dengan mudah menuju pintu rahasia.
Akan tetapi, gerakannya terhenti saat dia mendengar keributan yang berasal dari luar ruangan.
Nikolai dapat memastikan bahwa itu adalah suara para pengawal yang berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Dia sempat merasa optimis, sebab seluruh pengawalnya adalah orang-orang terlatih. Sayang sekali, apa yang dia bayangkan tidaklah sesuai dengan kenyataan.
Roderyk yang terpojok karena pengawal Nikolai menghabisi seluruh anak buahnya, mengeluarkan senjata pamungkas berupa beberapa buah granat yang dia lepaskan kuncinya, lalu dia lemparkan ke arah pengawal Nikolai yang semakin banyak berdatangan.
__ADS_1
Suara ledakan menggegelegar itu tertangkap oleh kamera video berukuran besar yang kini berada dalam genggaman Nikolai. “Roderyk berhasil menghancurkan istanaku,” terdengar gumaman ketua Klan Serigala merah tersebut sesaat sebelum rekaman video berakhir.