
Menyadari sebuah kejadian tak terduga di Istana de Luca, marco segera memerintahkan anak buahnya untuk melakukan tindakan pengamanan. Dia yang merasa kecolongan, secepatnya memerintahkan Zucca yang dulu menjadi anak buah kepercayaan mendiang Matteo de Luca, untuk segera menekan salah satu tombol dari remote kecil yang selalu berada di dalam saku jas pria itu.
Beberapa saat kemudian, seluruh akses keluar, baik berupa pintu dan jendela di setiap sisi istana de Luca tertutup secara otomatis. Tak hanya itu, teralis besi juga bergerak turun pada masing-masing pintu, jendela serta lorong keluar menuju taman.
Tembok tinggi yang terbuat dari besi berukir yang dibangun mengitari istana pun, kini telah dialiri dengan arus listrik bertekanan tinggi. Alhasil, siapa pun yang berusaha keluar dari sana, dapat dipastikan akan hangus terpanggang dalam waktu singkat.
“Nona de Luca tak akan berada jauh dari sini, Tuan. Aku sudah mengaktifkan pengamanan. Siapa pun yang telah berkhianat, maka dia tak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup,” lapor Zucca kepada Marco.
“Apa kau melihat siapa penyerangnya?” tanya Marco panik.
“Ya, Tuan. Tadi aku melihat seseorang yang memakai seragam pengawal dari Klan de Luca,” jawab Zucca dengan yakin.
“Sial! Kita telah disusupi!” dengus ketua klan tersebut sambil mengepalkan tangan. Marco merasa bodoh, karena tak dapat menganalisa akan terjadi hal seperti ini.
"Apa-apaan ini? Bagaimana kau bisa sampai kecolongan?" Adriano yang berdiri di sebelah Marco tampak sangat emosi. Dia segera memerintahkan anak buahnya untuk memberikan pengamanan bagi para wanita yang berada di bagian lain Istana de Luca, selagi dirinya menuju ke sana.
Sedangkan Carlo sudah berlari lebih dulu meninggalkan aula pesta dari semenjak Miabella menghilang. Pria itu melintasi ruangan super luas tadi, menyibakkan orang-orang yang tampak panik dan memilih untuk berlindung pada penjaga mereka masing-masing. Satu hal yang ada di dalam benak Carlo saat itu hanyalah mencari keberadaan Miabella. Dengan ditemani oleh Igor dan Grigori, mereka berjalan menuju pintu keluar.
Namun, belum sampai dua langkah jauhnya dari pintu, Igor sudah lebih dulu mendapatkan serangan dari seseorang yang memakai seragam pelayan. Orang tersebut menghunus sebuah pisau dapur dan berusaha dia layangkan ke dada pria paruh baya tersebut.
Melihat orang yang selama beberapa tahun terakhir ini telah berjasa besar dalam hidupnya sedang berada dalam situasi yang berbahaya, tentu Carlo tak akan tinggal diam. Satu tangan yang sedari tadi sudah menggenggam pistol, segera dia arahkan tepat ke jantung si pelayan tadi. Sebuah peluru melesat dan mengenai sasaran. Pelayan tak dikenal itu pun roboh seketika.
Namun, Igor sudah terlanjur terluka. Sebelum musuh tak dikenal itu mati diterjang peluru, dia sempat melukai lengan dan leher pria paruh baya tersebut. Darah segar pun tampak deras mengalir.
“Igor!” Grigori yang berada pada posisi paling depan, secepat kilat berlari mendekat. Perlahan dan hati-hati, dia menyandarkan tubuh Igor ke dinding aula, sambil menekan leher rekannya yang sempat tersayat.
__ADS_1
“Kejarlah nona muda, Tuan! Biar aku yang menjaga Igor di sini,” suruh Grigori sama paniknya.
“Baiklah. Kuserahkan penjagaannya padamu.” Carlo mengangguk, lalu membalikkan badan. Dia berlari melintasi taman yang menghiasi halaman depan istana de Luca. Sorot mata menantu Adriano tersebut awas mencari sosok sang istri. Akan tetapi, Miabella tak terlihat di manapun.
Carlo akhirnya menyisir bagian samping istana. Lagi-lagi, dia tak menemukan apapun di sana. Tak ingin menyerah, dia terus berlari menuju bagian belakang kastil mewah tersebut. Di sana terdapat taman yang berbentuk labirin.
Masih dalam sikap siaga dan juga waspada, Carlo menyapu pandangannya ke sekeliling. Dia tak melihat ada jalan keluar yang terbuka di tempat itu. Seluruh akses sudah tertutup secara total oleh pagar-pagar besi yang dialiri listrik.
Untuk sejenak, pria rupawan itu tersenyum. Siapa pun pengkhianatnya, dia pasti masih berada di dalam istana dan tak mungkin bisa keluar, apalagi tempat itu terbilang luas dan pasti membingungkan bagi yang belum pernah mendatanginya.
Apa yang menjadi tebakannya tadi memang benar adanya. Sesosok pria berseragam pelayan, nekat mendobrak pintu kayu yang telah dipasangi pagar besi. Pintu kecil itu terletak tepat di sebelah taman labirin. Akan tetapi, bukannya berhasil dengan apa dia lakukan, pria tadi malah tersengat hingga asap putih keluar dari tangan yang tengah memegang teralis.
Tak ada yang Carlo lakukan selain memandang sosok itu hangus meregang nyawa. Dia lalu kembali melanjutkan langkah ke bagian samping. Carlo melihat banyak sekali anggota Klan de Luca yang tengah melakukan penyisiran. Melihat banyaknya personil Marco, dapat dipastikan jika penculik Miabella tak berada di sana. Satu-satunya area yang masih tidak aman adalah labirin. Tadi Carlo belum melihat seorang pun yang melakukan pencarian di tempat itu.
Pria jangkung dengan postur tegap dan atletis tersebut segera berbalik. Dia berlari sekencang mungkin ke arah taman labirin. Tepat di depan jalan masuk, Carlo melepas tuxedo serta dasi kupu-kupunya. Dia mengokang pistol di tangan kanan, lalu menyelipkan pisau lipat warisan di pinggang sebelah kiri.
Ternyata angin tersebut juga membawa suara bising yang berasal dari baling-baling helikopter. Carlo mendongak dan melihat benda besi itu terbang berputar pada ketinggian rendah. Tampak pula tangga tali terulur dari bagian dalam helikopter.
Tak ingin membuang waktu, Carlo segera menembaki helikopter tersebut. Sebagian peluru mengenai tanki bahan bakar. Beberapa peluru lainnya terlontar ke arah baling-baling kecil, hingga mengalami kerusakan.
Baling-baling kecil di bagian ekor terlihat tak bergerak. Sepertinya hal itu membuat sang pilot harus menggerakkan helikopternya supaya naik dan berputar cepat meninggalkan langit istana de Luca.
Carlo tersenyum puas. Dia masih mengingat dengan jelas, letak helikopter tadi terbang melayang sambil menurunkan tangga talinya. Pria itu memperkirakan bahwa seseorang yang akan diangkut oleh helikopter tersebut berada pada bagian paling belakang dari taman labirin.
Sang ketua Klan Serigala Merah pun bergegas dan tak ingin membuang waktu. Dia berlari sekuat tenaga menuju ujung labirin. Dugaannya tepat. Carlo menemukan seseorang tengah sibuk memangkas daun-daun yang menjadi dinding labirin menggunakan pisau. Sementara seorang lain menodongkan senjata sembari melingkarkan lengannya di leher Miabella.
__ADS_1
Hebatnya, Miabella tak terlihat takut sama sekali. Dia malah cenderung bersikap tenang dan mengikuti gerak tubuh si penyandera.
“Hei!” seru Carlo, membuat dua orang asing itu serempak menoleh kepadanya.
“Carlo!” pekik Miabella tertahan. Dia tak dapat melanjutkan kata-katanya sebab salah satu dari pria itu berusaha membungkam mulut putri sambung Adriano tersebut.
Kemarahan Carlo memuncak melihat sang istri diperlakukan demikian. Secepat kilat dia meraih pisau lipat dan melemparnya ke depan. Adegan itu bersamaan dengan orang asing yang tengah membekap mulut Miabella tadi mengarahkan moncong senjata padanya sembari menarik pelatuk.
Pisau lipat Carlo berhasil bersarang di dada pria yang memegang pisau hingga pria itu roboh. Sedangkan peluru yang ditembakkan ke arahnya ternyata meleset, dan hanya menggores daun telinga.
“Berhenti atau kutembak kepala gadis ini!” ancam orang tersebut. Dari nada bicaranya, jelas terdengar bahwa dia bukan berasal dari Italia. Cara pria itu mengucapkan kata-kata yang begitu kaku, membuat Carlo tersadar.
“Apakah kau adalah berasal dari komplotan sama dengan yang telah mengikutiku di Belarusia beberapa hari yang lalu?” Sorot mata Carlo tajam menghujam pria yang kini kembali mengarahkan pistolnya ke pelipis Miabella.
“Kau adalah seorang yang cerdas, Karl Volkov. Mundurlah. Aku berjanji tidak akan menyakiti istrimu,” ujar pria itu yang sama sekali tak menghiraukan pertanyaan Carlo.
“Kau juga seharusnya berpikir cerdas. Suamiku telah berhasil membunuh rekanmu. Sedangkan helikopter yang seharusnya menjemputmu tadi malah meninggalkan kau sendiri di tempat ini. Dasar bodoh!" ejek Miabella tanpa mengenal takut sama sekali.
“Diam kau!” sentak pria asing tadi. Dia segera menarik pelatuk ketika Carlo yang terlihat sangat marah, berusaha membidiknya. “Kau tembak aku, maka pistolku akan langsung melubangi kepala nona cantik pemberani ini!” ancamnya lagi.
Seketika Carlo membeku. Pikirannya mendadak kosong mendapat ancaman yang terasa amat mengerikan tersebut. Perlahan, Carlo menurunkan senjata dan meletakkannya di atas rerumputan.
Sementara pria tadi tersenyum melihat sikap sang ketua Klan Serigala Merah. Konsentrasinya sedikit terpecah saat memperhatikan Carlo yang seakan hendak menyerah. Saat itulah Miabella bergerak. Tangannya lincah mendorong tangan pria yang tengah memegang pistol itu ke arah atas. Pistol menyalak, melepaskan pelurunya ke angkasa.
Merasa mendapat kesempatan besar, Miabella memutar tubuh dan menendang pangkal pria itu menggunakan hak sepatunya. Melihat hal itu, dengan segera Carlo meraih pistolnya lagi. Tanpa basa-basi, dia menembak dada kiri pria itu. Pria asing tersebut terbelalak lebar. Dia hampir terjatuh ketika tangannya yang masih memegang pistol erat-erat bergerak ke arah Miabella.
__ADS_1
“Hentikan!” Carlo memberondongnya dengan beberapa tembakan. Namun, pria itu sudah lebih dulu menekan pelatuknya. Sebuah peluru terlepas dari selongsong, melesat cepat mengenai tubuh semampai istri tercinta.