
Carlo melanjutkan lagi perjalanannya melintasi kota-kota di Austria. Kini, Miabella tak lagi menjaga jarak dengannya saat mereka berboncengan. Gadis itu mulai nyaman melingkarkan tangan di pinggang sang ketua Klan Serigala Merah. Dada putri sulung Mia tersebut bahkan sudah menempel rapat di punggung Carlo, membuat pria tampan itu sedikit kehilangan fokus.
Tak ingin konsentrasinya semakin buyar, Carlo memelankan motor besar yang dia kendarai saat melintasi jembatan yang terletak di atas sungai Donau, yaitu sungai terbesar di benua Eropa. Sungai itu berhulu di pegunungan Jerman bagian selatan, dan bermuara di Laut Hitam wilayah teritorial Ukraina.
Carlo lalu berhenti di sebuah rest area untuk mengisi bahan bakar sekaligus mencari makanan pengganjal perut. Di area tersebut sudah dilengkapi dengan restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam, beserta pom bensin besar. Setelah mengisi penuh tanki motornya, dia mengajak Miabella memasuki restoran.
Tanpa bertanya terlebih dulu, pria rupawan tadi langsung saja memesan dua buah burger berukuran besar, beserta dua botol softdrink dan kentang goreng porsi jumbo.
“Kau masih menyukai burger ‘kan, Cara mia?” tanya Carlo seraya mengangkat alis dan memamerkan senyumnya yang menawan.
“Kau masih ingat rupanya,” sahut Miabella datar, tapi tak lama kemudian gadis itu memalingkan wajah yang terlihat malu-malu.
“Tak ada sedikit pun dari kenangan tentangmu yang kulupakan, Nona. Aku mengingat semuanya dengan sangat detail.” Lagi-lagi, Carlo tersenyum manis kepada Miabella, membuat jantung gadis cantik bermata abu-abu itu berdebar lebih kencang.
“Baguslah,” sahut Miabella tak ingin berbasa-basi lagi. Dengan segera, gadis itu melahap burger dan beberapa kentang goreng berukuran besar. Sedikit saus tomat pun tampak mengotori sudut bibir indahnya, sehingga Carlo harus mengusap dan menghilangkan noda tadi menggunakan ibu jari.
“Berapa lama kau tak makan, Cara mia?” Carlo terkekeh geli memperhatikan gadis yang diharap akan kembali menjadi kekasihnya tersebut. Dia merasa lucu saat melihat Miabella makan dengan begitu lahap.
“Sekitar dua hari,” jawab Miabella enteng, membuat senyuman di bibir Carlo memudar begitu saja.
“Dua hari?” ulangnya.
“Aku sudah terbiasa begitu,” sahut Miabella tanpa memedulikan sorot protes dari mata biru Carlo.
“Kau terbiasa tidak makan, Bella? Apa yang kau pikirkan?” tegur Carlo mulai memasang wajah serius. Tak lama lagi, dia akan bersikap seperti Adriano.
“Jangan salahkan aku!” dengus Miabella sebelum Carlo melanjutkan ceramahnya. "Kau sangat cerewet seperti daddy zio. Aku sudah terbiasa mendengar ocehanmu." Miabella terdiam sejenak. Dia pun mengunyah dengan jauh lebih pelan.
“Duniaku hancur dan aku kehilangan arah semenjak kau pergi dari hidupku. Bayangkan, Carlo. Aku yang terbiasa kau suapi, lalu tiba-tiba kau menghilang begitu saja,” ujarnya seraya kembali menggigit burger dalam genggaman, kemudian mengunyah dengan cepat.
“Bella." Carlo mende•sah pelan. “Sebegitu besarkah pengaruhnya diriku dalam hidupmu?” Tangan kekar itu terulur, lalu mengusap lembut pipi gadis yang teramat dia sayangi.
“Kau pikir saja sendiri!” sahut Miabella ketus sambil meraih sebotol softdrink, kemudian meneguknya hingga tak tersisa. Setelah itu dia beralih pada ponsel yang tiba-tiba menyala. Terlihat satu panggilan masuk yang berasal dari Mia. “Ibuku menelepon,” ucap Miabella pelan seolah meminta persetujuan dari Carlo untuk menerima panggilan tersebut.
“Angkatlah,” ujar Carlo lembut.
__ADS_1
Tak ingin membiarkan Mia menunggu lama, Miabella pun segera menggeser ikon hijau di layar. Dia menyapa sang ibu dengan suara yang begitu merdu. “Ada apa, bu?” tanyanya.
“Kau di mana, Bella? Kami sungguh mengkhawatirkan keadaanmu. Semua orang tengah mencari keberadaanmu, sayang,” resah nada bicara Mia dari seberang sana.
“Aku ….” Gadis itu kembali mengarahkan ekor matanya kepada Carlo. Pria di hadapannya itu menggeleng pelan, menunjukkan isyarat kepada Miabella agar tidak mengatakan di mana dirinya berada. “Aku sedang berjalan-jalan, bu. Jangan mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik dari kemarin-kemarin,” jawab Miabella.
“Benarkah itu, Nak?” Setitik keraguan terdengar dari nada bicara Mia.
“Tentu saja, bu. Aku tidak akan mungkin berbohong padamu,” tegas Miabella, meski raut wajahnya menyiratkan penyesalan.
“Apakah Carlo sekarang sedang berada di dekatmu?” tanya Mia lagi penuh kehati-hatian.
Akan tetapi, Miabella tak segera menjawab. Dia memandang pada sang kekasih dengan sorot penuh arti, lalu tersenyum saat Carlo mengangguk.
“Iya, bu. Aku bersama Carlo sekarang. Dia yang menjagaku,” jelas Miabella kemudian.
“Syukurlah, nak,” sahut Mia lega. Suasana pun hening sejenak sampai Mia melanjutkan kalimatnya. “Tolong sampaikan pada Carlo, di manapun kalian berada pastikan untuk segera pulang. Adriano marah besar saat mengetahui bahwa dia telah membawamu keluar dari Casa de Luca secara diam-diam.”
“Sampaikan juga pada daddy zio dan juga paman Marco, agar tidak perlu repot-repot mencarikanku jodoh melalui cara-cara konyol seperti mengadakan sayembara, bu,” balas Miabella dengan kesal.
“Apa? Daddy Zio dan paman Marco mendatangi markas Carlo?” Miabella terbelalak tak percaya. Demikian pula dengan pria bermata biru yang intens menatap gadis itu sejak tadi.
“Astaga.” Bukannya merasa takut, Carlo justru tertawa lirih seraya menyandarkan punggung pada kursi restoran.
“Pulanglah, nak. Nanti kita akan membicarakan semuanya secara baik-baik dengan ayahmu,” bujuk Mia lagi.
“Baiklah, akan kupikirkan. Oh ya. Katakan pada Dante agar jangan repot-repot melacak keberadaanku, karena aku sudah melepas alat penyadap yang daddy zio pasang di ponselku. Dia ataupun daddy zio tak akan menemukan titik koordinat di mana saat ini aku berada. Baiklah, bu. Selamat pagi, aku menyayangimu.” Miabella mengakhiri panggilannya begitu saja sambil tersenyum puas.
Namun, senyuman indah itu memudar tatkala dirinya memperhatikan raut serius di wajah tampan Carlo. “Kenapa? Apa kau akan meninggalkanku lagi seperti dulu? Apa kau akan menyerahkanku pada daddy zio begitu saja? Tanpa perlawanan? Lalu kau akan menghilang lagi?” cecar Miabella tanpa jeda.
“Ya ampun.” Carlo tergelak mendengar Miabella yang berbicara tanpa henti. Namun, itu merupakan sebuah peningkatan. Setidaknya, Miabella tak lagi hanya diam saat berhadapan dengannya. “Mana mungkin aku akan meninggalkanmu lagi, Cara mia.”
“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang? Daddy Zio dan paman Marco akan mengobrak-abrik istanamu.” Miabella melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah Carlo.
Sementara pria rupawan itu terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Pertama, aku akan menghubungi anak buah kepercayaanku untuk mengatasi masalah yang ada di sana. Kedua, kita lanjutkan lagi perjalanan kali ini tanpa terburu-buru.” Carlo mencondongkan badan ke depan, lalu meraih tangan Miabella dan mengecupnya lembut.
__ADS_1
“Memangnya kau akan membawaku ke mana?” Miabella mengernyitkan kening.
“Ke tempat di mana seharusnya kau berada,” Carlo tertawa kecil, lalu berdiri sembari menarik tangan sang kekasih. Sambil bergandengan tangan, mereka berjalan keluar dari restoran menuju motornya terparkir.
Dengan telaten, Carlo memasangkan helm, sarung tangan, dan jaket pada Miabella. Setelah memastikan sang kekasih nyaman, dia pun menyalakan motor dan melajukannya pelan meninggalkan rest area di jalur bebas hambatan.
Hingga menjelang sore, Carlo tak juga menghentikan laju motornya. Namun, setiap satu jam sekali, dia akan mengusap paha Miabella sambil menanyakan apakah kekasihnya itu mulai merasa lelah. Carlo akan terus menjalankan motor saat Miabella menjawab bahwa dirinya cukup kuat.
Perjalanan pun terus berlangsung. Sesekali, Carlo mengajak gadis itu bercanda sambil terus berkendara. Tak jarang dirinya mengusap-usap punggung tangan Miabella yang melingkar di perut. Sentuhan kecil yang dirasakan sebagai sebuah perhatian besar oleh sulung dari dua bersaudara tersebut. Miabella pun tersenyum. Keputusannya untuk melarikan diri kali ini memang dinilai tepat.
Menjelang malam, mereka sudah hampir melewati wilayah Polandia. Carlo pun memutuskan untuk berhenti di sebuah penginapan yang cukup besar, dan berada di perbatasan antara Polandia dengan Belarusia.
Penginapan tersebut berbatasan langsung dengan kawasan hutan pinus yang berselimut salju.
Setelah melakukan reservasi, Carlo menerima sebuah kunci manual. Bersama Miabella, dia bergegas masuk ke dalam kamar yang sudah dipilihkan di lantai tiga. Dengan segera, Carlo menutup pintu kamar, sebab cuaca terasa begitu dingin.
Lain halnya dengan Carlo, Miabella justru membuka jendela lebar-lebar sambil menghirup udara dengan dalam.
“Dingin sekali di luar, Nona. Tutuplah jendelanya atau kau akan terkena flu,” suruh Carlo seraya melepas jaket dan sepatu yang dia kenakan.
“Sebentar saja, Carlo. Aku ingin menikmati pemandangan indah di luar,” pinta Miabella dengan nada bicara sedikit manja.
“Memangnya pemandangan apa yang bisa dilihat malam-malam begini, Cara mia.” Carlo tertawa geli menanggapi tingkah Miabella yang tak jarang bersikap kekanak-kanakkan tersebut.
“Aku masih bisa melihat puncak gunung salju itu,” tunjuk Miabella. Akan tetapi, seketika gerak tangannya membeku, ketika ekor mata gadis itu menangkap beberapa sosok manusia yang berdiri di bawah sana. Orang-orang itu tengah menatap ke arah jendela tempatnya berada. “Carlo! Kemarilah!” panggilnya sembari menoleh kepada sang kekasih, ketika pria itu hendak melepas t-shirt yang dia kenakan.
“Ada apa?” Carlo berjalan mendekat, lalu mengikuti arah pandang Miabella. Sesaat kemudian pria tampan itu tampak kebingungan.
“Lihatlah orang-orang ….” Miabella menghentikan kata-katanya ketika beberapa orang yang sempat dia lihat tadi telah menghilang. Gadis cantik itu pun menautkan alisnya yang indah. Miabella kemudian membungkuk, sehingga setengah tubuhnya keluar dari jendela. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat yang dapat dijangkau oleh indera penglihatannya.
"Ada apa? Ayo masuklah." Carlo menarik pelan tubuh Miabella sehingga kembali berdiri tegak.
"Aku tadi melihat ada sekitar empat orang yang berdiri di luar. Mereka seperti tengah mengawasi kita," pikir Miabella ragu.
Mendengar hal itu, Carlo pun melihat keluar. Dia mengedarkan pandangan, tapi tak menemukan siapa pun. Pria itu tampak berpikir sambil memicingkan mata.
__ADS_1