
"Karl," sapa Fabiola lembut. Dia menyapa Carlo yang tengah berdiri di atas balkon kamar. Itu merupakan pagi pertama bagi Carlo, sebagai pemegang tampuk kekuasaan tertinggi Klan Serigala Merah.
Carlo pun segera menoleh. Dia tersenyum seraya berjalan menghampiri sang ibu yang berdiri di ambang pintu. Dengan penuh kasih, Carlo mengecup kedua tangan wanita yang telah melahirkannya tersebut. "Selamat pagi, Bu," sapa Carlo yang kemudian memejamkan mata, saat menerima kecupan hangat di kening dari Fabiola.
"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Fabiola. Wanita paruh baya tersebut mengajak putra yang tinggal satu-satunya, untuk duduk di atas sepasang kursi rotan di atas balkon.
"Aku tidur nyenyak, Bu. Rasanya sangat lelah," sahut Carlo. "Bagaimana denganmu?"
"Sama seperti kau juga, Sayang. Aku masih mengira bahwa ini hanya mimpi, ketika diriku dapat kembali lagi kemari. Kupikir, saat-saat seperti ini tak akan pernah datang kembali dalam hidupku." Fabiola mencicipi minuman hangat yang dia bawa dan sudah dirinya letakkan sebelum menyapa sang putra.
"Setelah hampir tiga tahun lamanya, baru kali ini aku merasakan udara yang begitu menyegarkan dari Rusia. Namun, aku akan pergi dulu ke Italia untuk beberapa hari," ujar Carlo.
"Kau akan meninggalkanku di sini?" Fabiola seakan hendak melakukan protes. "Baru kali ini kita bertemu lagi setelah sekian lama, dan kau malah akan ...." Wanita paruh baya itu tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena dia terlebih dulu melihat sorot mata biru yang tampak begitu melenakan. "Oh ...." Fabiola tak kuasa berkata-kata lagi.
"Ada sedikit urusan yang harus kutangani bersama Grigori. Ini tentang batu-batu permata," jelas Carlo seraya mencicipi minuman buatan sang ibu.
"Memangnya kau akan pergi berapa lama?" tanya Fabiola tanpa mengalihkan pandangan dari sang anak.
"Entahlah. Mungkin empat, lima, atau ... satu minggu," sahut Carlo tak yakin. Saat itu, ekor matanya melihat kehadiran Grigori di sana. "Selamat pagi, Grigori," sapa pria tampan tersebut kemudian. Tatap mata Carlo menyiratkan sesuatu, saat menatap ke arah salah satu seniornya tersebut.
"Selamat pagi, Tuanku. Isadora mengatakan bahwa Anda ingin bicara ...." Grigori melirik sejenak kepada Fabiola. "Selamat pagi, Nyonya. Bagaimana pagi ini?" sapanya dengan sopan dan penuh hormat.
"Sangat luar biasa, Grigori. Aku senang bisa kembali tidur di tempat ini." Fabiola tersenyum lembut kepada mantan penasihat setia mendiang sang suami.
__ADS_1
“Sayang sekali nda melewatkan pesta tadi malam, Nyonya,” sesal Grigori.
“Kau tahu bahwa aku belum merasa siap untuk itu. Aku masih memiliki trauma yang teramat besar pada pesta dan keramaian. Dua hal yang selalu mengingatkanku kepada … kepada ….”Fabiola seakan tak kuasa melanjutkan kata-katanya. “Ah, sudahlah. Sebaiknya aku melihat Isadora dulu dan membantunya.”
“Ibu, kau tak perlu melakukan itu. Ada ratusan pelayan dan pengawal di tempat ini,” cegah Carlo.
“Aku juga terbiasa bekerja, Nak. Tinggal di biara selama puluhan tahun membuatku selalu aktif melakukan banyak hal. Aku malah akan menjadi lelah jika tidak melakukan apapun,” sahut Fabiola seraya tertawa pelan. Dia pun meninggalkan Carlo dan Grigori berdua saja di balkon.
Grigori yang awalnya memperhatikan sang nyonya berjalan ke luar ruangan, kini beralih pada Carlo yang tengah menatapnya tajam. “Apakah ada yang ingin Anda tanyakan padaku, Tuan?” tanyanya sopan.
“Katakan sesuatu, Grigori. Sebesar apa rasa setiamu padaku?” Carlo malah balik bertanya dengan nada datar dan dingin.
“Anda pasti sudah mengetahui jawabannya, Tuanku. Aku sudah mengorbankan segalanya sampai detik ini untuk tuan besar dan juga Anda tentunya,” jawab Grigori diplomatis.
“Aku tidak mengerti maksud Anda, Tuan.” Pria tua itu menunduk, lalu sedikit membungkuk di hadapan sang tuan muda.
“Tiga tahun lalu saat kita baru memulai perjuangan ini, aku sudah memerintahkanmu untuk mengawasi setiap detail dari gerak Miabella kemudian melaporkannya padaku.” Carlo mengalihkan pandangan ke depan. Tangannya erat mencengkeram pagar balkon.
“Bukankah aku sudah melaksanakan semua yang Tuan inginkan? Luciella bahkan hingga kini tetap setia berjaga di samping nona muda Miabella,” jawab Grigori.
“Lalu kenapa kau tidak pernah memberitahukan padaku bahwa Miabella hamil dan keguguran!” sahut Carlo. Nada bicaranya terdengar begitu tegas.
Grigori tertegun sejenak mendengar perkataan Carlo. Dia menjadi tergagap dan kebingungan saat menanggapinya. “Dari mana Anda mengetahui tentang hal itu, Tuan?” tanyanya hati-hati.
__ADS_1
“Tuan Adriano mengatakan semuanya padaku. Bella hamil sesaat setelah aku pergi, lalu keguguran.” Carlo meraup wajahnya kasar, lalu mengacak-acak rambut dengan kesal. “Apakah itu sebabnya Bella jadi membenciku?” pikirnya. “Aku tak ada di sana. Aku tak bisa mendampingi di saat-saat tersulit dalam hidupnya.” Carlo terus meracau dengan raut putus asa.
“Percayalah, Tuan. Semua itu kulakukan demi tujuan yang jauh lebih besar,” kilah Grigori tegas.
“Oh ya?” Intonasi Carlo meninggi. Dia juga menghadapkan badan seluruhnya pada orang kepercayaan mendiang sang ayah. “Adakah yang lebih penting dari sebuah kehidupan? Bella mengandung, Grigori! Dia mengandung anakku! Aku seharusnya sudah menjadi ayah dan menimang balita sekarang!”
“Ya, Tuan. Anda benar. Tak ada yang lebih penting dari sebuah kehidupan. Termasuk kehidupan setiap orang yang Anda selamatkan dari kekejian Viktor Drozdov,” balas pria tua itu bijak.
“Aku memang sengaja tidak memberitahukan berita buruk itu kepada Anda, Tuan. Aku tidak ingin konsentrasi Anda terpecah. Kita harus tetap berada pada jalur yang telah dipilih. Lalu, lihatlah sekarang, Tuan Muda. Lihatlah sekeliling Anda!” Grigori mengulurkan dan mengarahkan tangan ke sekitarnya.
“Anda sudah berhasil. Karena Anda, sedikit demi sedikit kita bisa mengumpulkan pengikut. Anda melatih mereka hingga menjadi prajurit tangguh dan setia. Anda juga berhasil melakukan diplomasi dengan pemerintah dan pasukan rahasia. Pelan tapi pasti, Anda mengumpulkan kekuatan sampai bisa menjadi sebesar sekarang. Tidakkah itu setimpal?” tutur Grigori kalem.
“Setimpal katamu? Jikalau aku tidak mengingat keadilan untuk ayah, ibu, dan kedua kakakku, aku pasti memilih untuk tetap berada di sisi Miabella,” geram Carlo. Mata birunya menyala terang, seterang cahaya matahari pagi itu.
“Untuk apa segala kekuasaan dan materi yang kumiliki, kalau aku tidak bisa mendapatkan hati Miabella, Grigori? Semuanya terasa sia-sia. Aku melakukan semua ini juga demi dia. Akan tetapi, lihatlah. Dia bahkan jijik saat melihatku.” Carlo menunduk dalam-dalam. Berkali-kali dirinya mengempaskan napas panjang demi menenangkan segala rasa yang berkecamuk di dalam dada.
“Anda bisa mendapatkan wanita manapun, Tuan,” ucap Grigori mencoba menghibur.
“Aku tidak mau wanita manapun, Grigori!” bentak Carlo dengan sangat tegas. Tak biasanya dia kehilangan kendali diri. “Aku hanya ingin Miabella.” Nada bicaranya kemudian merendah, bahkan terdengar begitu pelan.
Tersirat kepedihan dari kata-kata Carlo, membuat Grigori terdiam seketika. “Tuan muda." Grigori mencoba memberi penjelasan lagi.
Akan tetapi, pria tampan bermata biru itu lebih dulu mengangkat tangan sebagai isyarat baginya agar diam.
__ADS_1
“Aku tidak mau tahu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan Miabella kembali. Dia hanya milikku. Tak ada seorang pun yang boleh mendekatinya, dan kau Grigori!” Carlo mengarahkan satu telunjuk tepat ke depan dada sang penasihat kepercayaan. “Kau yang bertugas untuk mencari cara agar kami dapat kembali bersama!” tegasnya dengan penuh penekanan.