
Kali ini, giliran Miabella yang segera meneguk minumannya. Tangan wanita muda tersebut sedikit gemetaran, tapi dengan segera dia dapat menguasai diri. Miabella meletakkan kembali gelasnya. Jemari lentik dengan kuku yang sudah dikikir rapi berbentuk lancip, berhiasan kuteks warna pink coral itu juga sempat menjadi perhatian Vlad. Namun, wanita muda itu tak memedulikannya sama sekali.
Miabella kemudian tersenyum lembut. “Baiklah. Aku setuju,” ucapnya dengan yakin.
“Lalu, bagaimana suamimu? Alasan apa yang akan kau katakan padanya?” Vlad memicingkan mata, seakan menantang Miabella untuk berkata lebih dari yang telah dia dengar tadi.
“Kau tak harus memikirkan hal itu. Suamiku sepenuhnya menjadi urusanku.” Miabella mengerling nakal. “Urusan bisnis selalu menjadi alasan yang bagus, bagi orang-orang yang sudah memiliki pasangan,” ujarnya kemudian. Miabella tertawa renyah setelah berkata demikian. Sementara Vlad masih terus menatapnya dengan lekat. “Tidak. Jangan memandangku dengan cara seperti itu,” tolaknya.
Dalam hati, Miabella ingin sekali melemparkan piring kotor yang ada di hadapannya tepat ke wajah Vlad. Namun, dia tak mungkin melakukan tindakan konyol tersebut. Wanita cantik bermata abu-abu itu lebih memilih untuk tak membalas tatapan aneh pria asal Rusia tadi. Rasanya benar-benar tak nyaman.
“Baiklah. Pestanya akan dilangsungkan akhir pekan ini. Jangan lupa untuk menyiapkan topeng yang bagus.” Vlad mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyuman puas.
"Tentu," jawab Miabella.
Dua jam yang terasa begitu memuakkan bagi Miabella. Setelah Vlad berpamitan untuk pulang ke hotel tempat dia menginap, putri sulung Mia tersebut segera mengempaskan tubuhnya ke atas sofa. Namun, dia belum dapat bernapas lega. Tatap mata tajam dari Carlo yang baru muncul di ruang tamu, telah membuatnya harus kembali duduk sambil menegakkan tubuh.
“Apakah tamu istimewamu sudah benar-benar pergi, Cara mia?” Pertanyaan Carlo terdengar seperti sebuah sindiran halus bagi Miabella. Pria tampan bermata biru itu kemudian duduk di sebelah sang istri. Dia merentangkan tangan, lalu merengkuh Pundak wanita cantik tersebut. “Luar biasa,” ucap Carlo lagi seraya berdecak pelan.
“Apanya yang luar biasa, Carlo?” Miabella yang sudah berada dalam dekapan Carlo, segera mendongak dan menatap wajah sang suami. Dia lalu menyentuh dagu berhiaskan janggut tipis, kemudian memainkannya dengan manja.
“Aku tak mengira bahwa ternyata kau bisa bersikap nakal seperti tadi,” ujar Carlo yang seakan ingin protes.
“Aku harus melakukan itu. Setidaknya, kita mendapat sesuatu.” Miabella mengalihkan sentuhan tangan pada pipi sang suami, kemudian menariknya dengan lembut sehingga wajah Carlo jadi menghadap padanya. Sebuah ciuman mesra pun mendarat di bibir Carlo. Untuk beberapa saat, hal itu berlangsung dengan sempurna.
__ADS_1
“Kau pikir aku akan mengizinkanmu pergi seorang diri ke Catania?” Carlo memandang lekat paras cantik Miabella.
“Kata siapa aku akan pergi sendiri?” bantah Miabella masih terlihat tenang.
“Lalu?” Carlo menaikkan sebelah alisnya. Sedangkan Miabella hanya tertawa renyah. Dia lalu menegakkan tubuh dengan posisi masih menghadap kepada Carlo. Paras cantiknya terlihat sangat menggoda dengan polesan lipstick warna burgundy. Hal itu membuat sang ketua Klan Serigala Merah betah untuk menatapnya berlama-lama. Sesaat kemudian, Carlo tersenyum kalem. “Ah ya. Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu, Cara mia,” ujarnya.
“Baguslah. Dengan begitu, aku tak harus menjelaskan apapun padamu,” balas Miabella dengan diiringi senyuman lembut.
......................
Dua hari telah berlalu. Coco sudah kembali ke Roma, sementara Miabella dan Carlo mempersiapkan segala hal yang mereka butuhkan untuk berangkat ke pesta di Catania. Carlo bahkan sudah berkoordinasi dengan Grigori untuk menyiapkan segala keperluan dan menyusupkannya ke sebuah motel kecil tak jauh dari lokasi pesta yang sudah diberitahukan oleh Vlad kepada Miabella.
Miabella menaiki helikopter dari Casa de Luca, dan langsung menuju Palermo. Dia menginap semalam di kediaman sang paman sebelum turut menghadiri pesta yang akan diselenggarakan beberapa hari ke depan.
Sementara Carlo memilih untuk menempuh jalan darat dengan mengendarai motor besarnya. Dia tak ingin mengambil risiko berada di dekat sang istri. Carlo tak ingin siapa pun melihat kebersamaannya dengan Miabella, sampai pesta selesai dilangsungkan. Dia tak mau jika anak buah Vlad atau mata-mata seperti Damien mengetahui keberadaannya di kota kecil itu.
Carlo mengembuskan napas lega, kemudian mengempaskan tubuh atletisnya ke ranjang. Tak berselang lama, dia merogoh ponsel dan mengirimkan pesan kepada Miabella bahwa dirinya sudah tiba. Sesaat kemudian, istri yang teramat dia cintai itu membalas pesannya.
Carlo tersenyum membaca balasan dari Miabella. Tak puas hanya menerima ketikan dari wanita bermata abu-abu itu, dia pun segera menghubunginya. Tanpa menunggu lama, panggilan itu pun terjawab.
“Jangan nakal di sana, Cara mia. Ingat, kita bertemu beberapa hari lagi,” pesan Carlo seraya tertawa pelan.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan selama beberapa hari ke depan?” tanya Miabella dari seberang sana dengan nada manja.
__ADS_1
“Aku akan mengawasi dan memata-matai lokasi di sekitar pesta. Setelah itu, aku akan mencari celah untuk masuk ke sana. Grigori sudah membuatkanku akses masuk ke agensi penyedia pelayan pesta. Kemungkinan besar aku akan menyamar menjadi pelayan,” terang Carlo.
“Kau pasti terlihat keren.” Miabella tertawa ceria. Pasangan suami istri itu menyempatkan diri untuk mengobrol ringan sampai akhirnya Carlo mengakhiri panggilan. Dia juga memiliki tanggung jawab untuk memantau bisnis dan organisasinya di Rusia.
Setelah selesai bercakap-cakap dengan Ivan dan anak buah lainnya, Carlo memakai kacamata hitam dan topi baseball sebelum melangkah gagah keluar dari kamar motel. Dia berniat untuk melihat-lihat keadaan di sekitar mansion milik Vlad yang akan digunakan sebagai lokasi pesta.
Mansion tersebut terletak di pinggiran kota Catania. Bangunan megah itu dibangun di tepian tebing yang berbatasan langsung dengan Laut Lonia. Sebagian besar dinding mansion terbuat dari batuan alam dengan jendela-jendela besar seperti kastil-kastil Romawi kuno.
Sayang sekali, Carlo hanya bisa mengamati dari luar area mansion. Dia berdiri di luar pagar besi yang tinggi menjulang. Namun, dia sudah dapat menyimpulkan jika mansion itu hanya memiliki satu akses keluar masuk, yaitu dari gerbang depan.
“Hm. Baiklah.” Carlo menggumam pada dirinya sendiri, lalu berbalik. Tujuan dia berikutnya adalah agen penyedia pelayan pesta. Setengah jam berjalan kaki dari kawasan pinggiran ke pusat kota, akhirnya pria tampan bermata biru itu tiba di sebuah gedung tiga tingkat.
Dengan langkah penuh percaya diri, Carlo memasuki gedung tersebut. Di sana, seorang resepsionis menyambut kedatangannya. Carlo pun menyodorkan kartu identitas palsu yang sudah dia siapkan sebelumnya.
“Selamat datang, Tuan Ravieli,” sapa si resepsionis, sesaat setelah membaca kartu identitas Carlo. “Anda mengirimkan lamaran melalui pos beberapa hari yang lalu,” lanjutnya.
“Betul sekali.” Carlo mengangguk seraya tersenyum ramah.
“Baik, Tuan. Manajer kami menerima dengan baik lamaran Anda. Anda bisa mengambil seragam di lantai dua. Lusa, Anda harus mengikuti briefing sebelum datang ke lokasi pesta,” jelas resepsionis tersebut.
“Grazie, Nona,” ucap Carlo sebelum menaiki tangga ke lantai dua.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Jangan lupa untuk mampir ke karya keren yang satu ini.