
Bangunan megah berlantai empat itu memang memiliki banyak koridor serta ruangan. Orang yang pertama masuk ke sana, pasti akan merasa bingung atau bahkan mungkin tersesat. Beruntungnya, karena Carlo telah memiliki bayangan dari denah ruang dalam mansion luas tersebut. Apa yang digambarkan oleh Igor dan juga Ivan, memang sama persis seperti apa yang Carlo dapati saat ini, meskipun ada beberapa hal yang tak dapat dia ingat dengan baik.
“Viktor! Kita diserang!” Sebuah teriakan nyaring Czar, menggema di dalam koridor dengan pencahayaan temaram yang dilewatinya.
Bersamaan dengan itu, sebuah belati melayang dan menancap tepat pada kaki pria tersebut. Czar yang juga dalam keadaan setengah mabuk, langsung jatuh tersungkur. Dia berusaha untuk bangkit, tapi Carlo telah berada di dekatnya. Pria tampan pewaris tahta Serigala Merah itu menurunkan tubuh, kemudian mencabut belati tadi dengan paksa.
Teriakan Czar pun menggema di dalam koridor tadi. “Apakah kau masih ingat padaku?” tanya Carlo tanpa melepas slayer yang menutupi sebagian wajah tampannya. Namun, meski begitu Czar tentu belum lupa dengan pria muda, yang dulu pernah melukai telapak tangannya menggunakan belati yang sama.
Sambil merangkak mundur secara perlahan, pria yang merupakan teman seangkatan Igor tersebut tampak sangat ketakutan. Dia lalu mencoba untuk bangkit, tapi lagi-lagi gerakannya tak jauh lebih cepat dari Carlo. Sebuah tendangan keras lebih dulu bersarang di wajah Czar. Pria itu pun terpental. Dalam kondisi demikian, Czar kembali berteriak. “Viktor! Selamatkan dirimu!"
Dengan segera, Carlo meraih rambut Czar. Tak peduli meskipun pria itu berusia jauh lebih tua darinya, Carlo tetap menyeret tubuh yang setengah telanjang tadi melewati lorong. “Jangan hanya berteriak! Sebaiknya bawa aku pada si pengkhianat berkarat itu, agar bisa kuhabisi kalian secara bersamaan!” sergahnya dingin. Kekuatan yang tak seimbang dan memang dalam kondisi tidak siap, Czar benar-benar tak dapat berkutik. Apalagi karena kakinya pun telah terluka.
Sedangkan Carlo terus menyeretnya tanpa ampun. “Di mana kamar tuanmu?” tanya Carlo. Dia tak peduli meskipun Czar terus meronta.
“Jangan harap kau bisa menemukannya,” jawab Czar menolak untuk memberitahukan ruangan Viktor. Namun, Carlo tak peduli. Dia terus menyeret tubuh renta Czar tanpa menghiraukan tempat yang mereka lalui. Tak jarang, tubuh pria tua itu menabrak meja serta ornamen-ornamen lain yang dilaluinya. Carlo tak menggubris sama sekali, ketika Czar mengaduh kesakitan. “Anak Volkov sialan! Kau sama saja dengan Nikolai! Semoga kalian berdua terbakar di neraka bersama kedua saudara kembarmu!” umpat Czar.
Mendengar perkataan kasar dari pria tua itu, Carlo segera menghentikan langkah. Dia lalu menoleh, kemudian mengempaskan pegangannya dari rambut Czar dengan kasar, sehingga kepala si pria menimpa lantai begitu keras. Czar pun kembali memekik kesakitan.
Namun, penyiksaan yang Carlo lakukan tak sampai di situ. Dia berjalan ke depan ajudan kepercayaan Viktor tadi, lalu menendang selang•kangannya dengan kencang. Pekikan nyaring pun tak terelakan lagi, begitu menggema di dalam lorong sepi tadi. Czar setengah bangkit, sambil memegangi bagian bawah tubuhnya yang tak tertutupi apapun.
“Itu untuk gadis-gadis yang telah kau jadikan sebagai barang komersil!” seringai Carlo dengan puas. Tak merasa puas, sekali lagi dia melakukan hal yang sama hingga Czar terkulai tak sadarkan diri. “Tak berguna!” Carlo pun meninggalkan tubuh pria tua tadi di sana. Dia melanjutkan pencarian seorang diri.
__ADS_1
“Tuan muda!” seru Igor yang menyusul Carlo.
“Aku tidak tahu di mana kamar Viktor,” ucap Carlo sambil terus berjalan memeriksa satu per satu ruangan yang berada lantai dua. Dia begitu leluasa bergerak, karena sebagian besar anak buah dan penjaga telah berhasil dilumpuhkan.
“Viktor pasti menempati kamar yang dulu dipakai oleh kedua orang tua Anda, Tuan,” sahut Igor. Tangan kanannya mengarah pada satu lorong di sebelah kanan.
“Bagaimana keadaan di bawah?” tanya Carlo.
“Sudah bersih, Tuan. Pasukan yang dipimpin oleh Pavel Sashenka memang sangat terlatih. Kami sudah menyisir setiap sudut,” jelas Igor sambil terus mengarahkan Carlo menuju kamar yang dimaksud. Beberapa saat kemudian, mereka berdua akhirnya tiba di depan pintu dengan ukiran berlapis emas.
“Semuanya masih sama,” gumam Igor.
“Proses perencanaan yang sangat panjang, apakah memang semudah ini?” pikir Carlo curiga dengan setengah menggumam pelan. Dia lalu merogoh pistol dari balik pinggang dan mulai mengokangnya. Hal sama pula yang dilakukan oleh Igor. Dia bergeser ke samping dekat dinding dalam posisi siap menembak, ketika Carlo mendobrak pintu kokoh di hadapannya dengan sekali tendangan.
Tak berselang lama, beberapa orang dari anggota pasukan yang dipimpin oleh Pavel, datang membantu. Baku tembak pun berlangsung dalam ruangan yang cukup luas itu. Namun, lagi-lagi sosok Viktor tak terlihat di sana.
“Di mana bajingan tua itu?” dengus Carlo tak sabar untuk segera menghabisi orang yang telah memporak-porandakan kejayaan sang ayah, sehingga dia dan sang ibu harus terkena imbasnya selama berpuluh tahun.
“Dia pasti bersembunyi di dalam lorong bawah tanah,” pikir Igor. “Apa Anda baik-baik saja, Tuan?” tanyanya mulai cemas, saat melihat dekat pundak Carlo yang terus mengeluarkan darah segar.
“Jangan hiraukan ini,” sahut Carlo tak peduli.
__ADS_1
“Kalau begitu, ikuti aku, Tuan. Dari dalam kamar ini seingatku ada akses langsung menuju lorong bawah tanah,” ajak Igor. Dia dan Carlo mengendap-endap menuju tempat tidur besar berhiaskan kelambu putih.
Dengan gerakan cepat, Igor menyibak kelambu. Namun, dia tak mendapati siapa pun di baliknya, selain ranjang berukuran besar dengan sprei putih yang telah kusut seperti baru saja ditempati.
“Dia sudah pergi,” geram Carlo seraya mengepalkan tangan.
“Semua akses keluar dan terowongan yang biasa dipakai untuk melarikan diri sudah ditutup, Tuan muda. Aku yakin Viktor tidak akan lolos,” ucap Igor menenangkan.
“Dia memang tidak mungkin lolos, tapi aku ingin mengirimnya ke neraka menggunakan kedua tanganku sendiri!” Sorot mata Carlo yang biasanya teduh dan tenang, kini berubah garang. Sekuat tenaga dia mendorong ranjang besar tadi menggunakan kedua tangan, hingga bergeser beberapa meter. Ranjang itu bahkan menabrak laci antik dan beberapa guci mahal yang menjadi hiasan kamar tersebut.
Tepat di bawah ranjang itulah Carlo melihat sebuah lubang berukuran cukup besar yang tertutup oleh pintu bulat yang terbuat dari besi.
“Apakah benda itu terkunci?” tanya Carlo dengan nada dingin dan datar.
“Sepertinya terkunci dari dalam sana, Tuan,” jawab Igor.
“Hm, perasaanku mengatakan bahwa dia tidak terlalu jauh.” Carlo mengeluarkan pistol yang terselip di balik pinggang, lalu menembakkannya berkali-kali ke arah penutup besi tadi.
Lama-kelamaan, bagian tengah pintu besi melesak ke dalam, lalu berlubang. Sambil tersenyum sinis, Carlo maju dan menendang pintu yang sudah hampir rusak itu sekuat tenaga hingga terbuka.
“Tunggulah di sini,” titah pria tampan bermata biru itu pada Igor. “Kau bertugas mengabarkan pada semua jaringan seandainya nanti aku berhasil menghabisi Viktor. Akan tetapi, jika aku yang mati, kau tak perlu mengabarkan apapun. Anggap saja aku menghilang, tapi Viktor harus tetap mati!” pesan Carlo berapi-api.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi pada Anda, Tuan! Tidak akan!” Igor begitu emosional. Dia bergegas mengikuti sang majikan untuk turun ke dalam terowongan.
Akan tetapi, Carlo langsung mencegahnya. “Jangan khawatir, Igor. Tetaplah berada di tempatmu. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mati, sebab masih ada yang belum terselesaikan antara aku dan Miabella. Aku belum menunaikan janjiku untuk membawa pergi, serta memberikan kebahagiaan tak terbatas baginya.” Mata biru pria itu menyipit. Tanpa banyak bicara lagi, sosok Carlo pun kemudian menghilang ditelan gelapnya terowongan bawah tanah.