
Carlo berpikir sejenak sebelum kembali masuk ke mansion melalui lubang ventilasi. Roderyk pasti sudah memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di setiap lubang saluran udara tersebut, sehingga Carlo akan kesulitan melewati lorong kecil itu.
Carlo teringat pada helikopter milik Keluarga de Luca yang masih terparkir di landasan. Carlo harus memutar otak untuk mendatangi pilot dari Casa de Luca yang tetap berjaga di helipad. Pasalnya, saat itu atap landasan serta tempat-tempat dengan akses penting lainnya juga pasti sudah dijaga ketat oleh para pengawal Roderyk.
Carlo terdiam sesaat. Beruntung saat itu dia telah melepas atribut pelayan dan topeng yang dikenakan, ketika tercetus ide waktu melihat beberapa orang pelayan yang melintas di sampingnya. Dari pakaian para pelayan tadi, Carlo memastikan bahwa mereka bukan berasal dari agensi yang sama dengan tempat dia mendaftar. Pelayan-pelayan itu sepertinya merupakan para pekerja tetap mansion.
Carlo tersenyum saat menemukan cara yang paling mudah dan cepat, untuk menuju atap landasan. Dia segera berbaur dengan para pelayan tadi. Carlo pun mulai mengikuti orang-orang itu. Sang ketua Klan Serigala Merah, berjalan setenang mungkin di belakang mereka.
Dengan percaya diri, Carlo merangsak ke tengah-tengah para pelayan yang berusia lebih muda. Awalnya mereka terlihat keheranan dengan kehadiran suami Miabella tersebut. Namun, Carlo malah menyapa mereka dengan ramah, seolah-olah dia sudah mengenal mereka sejak lama.
“Aku dari agensi. Seragamku tertinggal di toilet tadi,” jelas Carlo tanpa diminta.
“Di toilet mana?” tanya salah seorang pelayan yang paling dekat dengannya.
“Toilet lantai dua,” jawab Carlo asal.
“Oh. Kau tentu sudah hafal jalannya, bukan?” sahut seorang pelayan yang lain menimpali.
“Ya, tentu saja. Aku sudah menghafalnya di luar kepala,” ujar Carlo seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Saat itu, dia tengah berada di dapur. Ada banyak orang di sana yang saling berteriak dan terlihat panik. “Ada apa ini?” tanyanya pura-pura tak mengerti.
“Ada seorang penyusup ke dalam mansion. Sekarang para pengawal Tuan Roderyk sedang menyisir setiap bagian bangunan ini,” jelas salah seorang pelayan.
“Oh, begitu.” Carlo manggut-manggut, lalu kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Ya, sudah. Kalau begitu, aku akan mengambil seragamku di toilet,” pamitnya.
__ADS_1
Dia sempat melambaikan tangan pada pelayan tadi, kemudian menghilang di balik dinding pembatas antara dapur dengan ruangan lainnya.
Sambil mengendap dan berusaha menghindari tangkapan kamera pengawas, Carlo meniti deretan anak tangga hingga dia tiba di lantai teratas yaitu tempat landasan helikopter berada. Pria tampan bermata biru itu terpaksa menunduk dan berhenti berkali-kali, saat berpapasan dengan beberapa orang pengawal Roderyk. Untungnya, tak satu pun dari mereka yang mengenali sosok Carlo, sebab ketika dia beraksi tadi Carlo dalam keadaan memakai topeng. Para pengawal itu pun tak menaruh curiga sama sekali.
Setelah dirasa aman, Carlo segera berlari sekencang mungkin mendekati helikopter yang bertuliskan de Luca di bagian ekornya. Sambil mengendap, dia menuju bagian pintu samping tempat pilot berada. Kebetulan, pintu itu dalam keadaan terbuka. Carlo lalu menepuk bahu pilot yang sedang bersantai sambil membaca buku. Sang pilot pun menoleh. “Tuan?” sapanya sopan.
Carlo segera menempelkan telunjuk pada bibirnya sendiri. “Situasi sedang genting. Terbanglah ke Palermo dan katakan bahwa Nona Miabella de Luca sedang berada dalam bahaya,” titahnya setengah berbisik.
“Ta-tapi … semua alat transportasi dilarang meninggalkan mansion oleh Tuan Vlad Ignashevich, sampai penyusup itu ditemukan, Tuan,” balas sang pilot ragu.
“Asal kau tahu, penyusupnya adalah aku,” balas Carlo. “Sekarang, lakukan perintahku. Untuk urusan lainnya, biar aku yang membereskan.”
“Apakah Anda membawa senjata lengkap?” tanya pilot tersebut yang tampak enggan, mengikuti perintah dari pria yang dia ketahui sebagai suami dari majikannya.
“Apakah kau membawa simpanan senjata?” Carlo malah balik bertanya.
Tanpa menunggu lama, Carlo segera membuka pintu belakang helikopter. Memang benar apa yang dikatakan oleh pilot itu. Miabella ternyata menyimpan banyak senapan yang tersembunyi di lantai kabin, dan tertutup oleh alas khusus.
Carlo memilih satu senjata bertipe senapan serbu M16 dan satu pistol kecil semi otomatis. Dia menyelipkan pistol kecil di pinggang, kemudian menyampirkan senapan M16 di pundak. “Terbanglah. Jangan lupa sampaikan pesanku pada Tuan Marco de Luca!” seru Carlo seraya menutup pintu helikopter.
“Lalu, bagaimana dengan pengawal-pengawal itu?” Pilot helikopter itu mengangkat telunjuk dan mengarahkannya ke samping kiri bodi helikopter. Tampak beberapa orang bersetelan hitam yang berjalan mendekat.
“Seperti yang sudah kukatakan tadi. Biar aku yang mengurusnya.” Selesai berkata demikian, Carlo memutari helikopter, lalu menembakkan senjatanya pada para pengawal tinggi besar yang berada beberapa meter di depannya.
__ADS_1
Hanya beberapa kali tembakan, pengawal pribadi Roderyk itu ambruk seluruhnya, bersamaan dengan baling-baling helikopter yang mulai berputar.
Carlo menurunkan tubuhnya agar tak terkena embusan angin dari baling-baling, sambil terus memuntahkan pelurunya ke setiap sosok yang berusaha menghentikan helikopter Miabella.
Setelah helikopter tersebut terbang tinggi, barulah Carlo menembakkan senjatanya secara membabi buta, tanpa merasa takut akan mengenai alat transportasi milik Miabella yang sudah mengangkasa.
Carlo sempat kewalahan saat para pengawal terus menyerbu, dan seperti tak ada habisnya. Mereka terus bermunculan dari berbagai sisi, hingga dia merasa terpojok pada satu sudut landasan. Dalam keadaan terdesak, Carlo dipaksa untuk mengambil keputusan dalam sepersekian detik. Tak ada jalan lain bagi dirinya, selain menerobos kerumunan pengawal di depan yang juga sama-sama menodongkan senjata. Namun anehnya, tak seorang pun dari mereka yang berusaha menembak.
Hal itu tentu menjadi sebuah keuntungan bagi Carlo. Dia tak peduli meskipun banyak raga bergelimpangan akibat tersambar peluru miliknya. Dia terus merangsak, sampai berhasil mencapai lift. Pikiran Carlo sempat buntu, saat melihat banyaknya tombol di sisi pintu lift. Entah di lantai mana saat ini Miabella berada.
Jemari Carlo akhirnya bergerak tak beraturan. Dia memencet tombol angka yang menuju ke lantai dasar. Bagi seorang yang dilanda rasa cemas luar biasa, gerak lift tersebut terasa begitu lamban. Ingin rasanya dia melubangi lantai lift dan melompat ke bawah. Beruntung, akal sehatnya masih berfungisi, sehingga dia memilih diam sampai pintu lift terbuka lebar.
Di sana, Carlo sudah disambut banyak orang bersenjata lengkap. Lagi-lagi, mereka hanya menodongkan senjata, tanpa berniat untuk melukainya. “Bukan salahku jika aku harus melukai kalian,” ujarnya sebelum memberondong orang-orang itu dengan tembakan, hingga menyisakan satu orang saja. Dia terlihat masih sangat ketakutan saat Carlo berjalan mendekat. “Di mana majikanmu menyekap istriku?” geram pria rupawan itu.
“Aku sama sekali tidak tahu. Tuan besar hanya memerintahkan kami untuk mengawal Anda menuju ruangan pribadinya,” jawab pengawal itu dengan suara bergetar.
“Untuk apa dia ingin menemuiku!” sentak Carlo. “Seharusnya dia langsung menghabisiku sejak awal! Kenapa dia tidak memikirkan betapa banyak pasukannya yang mati olehku?” cecarnya.
“Tuan Roderyk tak akan segan kehilangan banyak hal, asalkan keinginannya terpenuhi. Hal itu sudah menjadi prinsipnya sejak awal,” jawab pengawal yang semakin terlihat ketakutan tadi. Dia mundur perlahan seiring dengan Carlo yang berjalan mendekat.
“Kalau begitu, bawa aku menghadap padanya,” ucap Carlo sambil menyeringai.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Hai, semua. Mampir yu ke novel keren di bawah ini.