
Dengan langkah tegap berbalut overcoat hitam, Carlo menyusuri jembatan yang terbuat dari batuan alam. Pria itu sengaja memerintahkan sang sopir untuk menurunkannya di sana. Sementara kendaraan yang tadi dia dan Grigori tumpangi, langsung melaju ke bagian bawah bangunan melalui jalur lain. Istana Serigala Merah, memang memiliki garasi yang berada di bawah jembatan batu tadi.
"Apakah kita harus mencari tahu tempat tinggal Roderyk di Jerman?" tanya Carlo yang memilih berhenti di atas jembatan itu. Kedua tangannya dia letakkan pada pinggiran dengan bentuk bergelombang, dan terbuat dari bebatuan yang sama. Carlo melayangkan tatapan pada hamparan luas di sekitar istananya, dengan pepohonan yang mengelilingi dan seakan menjadi sebuah benteng alami.
"Kita tunggu dulu kabar dari Fyodor. Bukankah dia telah menawarkan diri untuk membantu mencari tahu. Namun, jika Anda merasa penasaran, kenapa tidak mencoba untuk bertanya kepada tuan Marco de Luca?" saran Grigori.
"Ya, kau benar. Jika memang yang Igor lihat waktu itu adalah Roderyk, maka ...."
"Hey, Suamiku!" Seruan Miabella membuat Carlo harus menjeda kata-katanya. Pria itu segera menoleh ke arah sumber suara, yang berasal dari balkon lantai dua. Tampaklah paras cantik dengan rambut panjang yang meriap-riap karena terkena embusan angin. Miabella melambai sambil memamerkan senyum indahnya yang menawan.
"Kau sedang apa di sana, Cara mia?" tanya Carlo setengah berseru, karena jarak mereka yang memang cukup jauh. Keresahan hatinya sirna seketika, saat melihat wajah ceria dari wanita yang teramat dia cintai.
"Aku bosan menunggumu pulang, Tuan Volkov. Ibu sedang beristirahat. Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan," seru Miabella lagi dari atas balkon. "Bolehkah jika aku turun ke sana, Sayang?"
Sementara Carlo tak segera memberikan jawaban. Dia memandang wanita pujaannya tadi untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk setuju.
Setelah melihat tanda persetujuan dari sang suami, Miabella pun tampak bersorak. Tanpa banyak bicara lagi, wanita muda itu bergegas menuruni deretan anak tangga dengan bentuk meliuk hingga tiba di lantai pertama. Dia lalu berlari ke arah lawang yang berukuran tinggi dengan dua daun pintu. Tanpa melepas senyuman manis, Miabella menghampiri sang suami yang telah menunggu dan siap menyambutnya. Miabella segera menghambur ke dalam pelukan Carlo.
"Astaga, Cara mia ...." Pria itu tertawa renyah saat menahan tubuh sang istri yang langsung melingkarkan tangan di leher Carlo.
"Aku merindukanmu," ucap Miabella manja. Tanpa sungkan, wanita muda itu mencium bibir sang ketua Klan Serigala Merah dengan sangat mesra. Mereka seakan lupa bahwa di sana ada Grigori, yang terlihat risih karena harus menyaksikan adegan tersebut.
"Sebaiknya aku masuk saja, Tuanku," ucap Grigori sopan.
Apa yang dia katakan barusan tentu saja membuat Carlo segera menghentikan adegan ciumannya bersama Miabella. "Ah tidak usah, Grigori. Aku masih ingin bicara denganmu ... dan kau juga, Cara mia." Carlo tersenyum lembut kepada sang istri yang dia rengkuh dengan mesra.
Grigori pun mengurungkan niatnya yang hendak berlalu dari hadapan sang majikan. Pria itu kembali ke tempat di mana tadi dia berada. Sementara Miabella pun memilih untuk berdiri di sebelah kanan Carlo.
"Aku ingin mengajakmu ke Italia, Cara mia. Aku hendak menemui tuan Marco de Luca," ucap Carlo sambil melirik sang istri.
"Ada perlu apa kau menemuinya?" tanya Miabella penasaran.
"Sedikit urusan," jawab Carlo singkat. Setelah itu, dia mengalihkan perhatian kepada Grigori. "Lagi pula, Grigori sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan. Kasihan Feliks jika dia harus berpikir seorang diri," ucap Carlo lagi.
__ADS_1
"Terserah kau, Yang Mulia," sahut Miabella diiringi tawa pelan. "Memangnya kita akan berangkat kapan?" tanya wanita muda itu.
“Bagaimana kalau besok?” cetus Carlo.
“Kebetulan besok daddy zio dan ibu juga akan bertolak ke Inggris untuk mengunjungi Adriana. Kau bisa mengajak serta paman Ricci, Carlo. Karena besok adalah akhir pekan dan paman Ricci harus sudah berada di rumahnya, atau bibi Francy akan marah,” celoteh Miabella tanpa jeda.
“Astaga.” Carlo tergelak saat menanggapi tingkah menggemaskan istrinya tersebut. “Baiklah, kita berangkat besok. Namun, sebelumnya kita harus mendarat di Roma untuk mengantarkan paman Ricci,” putusnya kemudian.
“Kurasa itu ide yang bagus, Tuan. Oh, ya, jangan lupa. Nanti malam pengacara akan datang untuk meminta tanda tangan Anda dalam proses pengambilalihan kilang minyak di utara Rusia,” ujar Grigori mengingatkan.
“Baiklah. Aku akan menyelesaikan semua urusan sebelum bertolak ke Italia besok,” sahut Carlo dengan tangan yang tetap melingkar di pinggang Miabella.
Malam itu, seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Beberapa orang pengacara yang menangani segala urusan bisnis Klan Serigala Merah datang dan langsung menghadap kepada Carlo. Pertemuan itu berjalan lancar dan diakhiri dengan penandatanganan berkas-berkas penting. Tak lama kemudian, mereka pun berpamitan.
Grigori dan Ivan tampak begitu puas saat menyalami pengacara-pengacara tadi. “Sedikit demi sedikit, Anda mulai meraih kejayaan sama seperti mendiang tuan Nikolai dulu, Tuanku,” sanjung Ivan setelah hanya ada mereka bertiga di dalam ruang kerja yang luas itu.
“Ya, tapi aku masih belum bisa merasa tenang sebelum aku bertemu dengan Redoryk Lenkov,” sahut Carlo yang kembali tampak gusar setelah menyebutkan nama itu.
“Baiklah. Kita lanjutkan besok pagi. Ivan, lagi-lagi kutitipkan tempat ini padamu selama aku berangkat ke Italia.” Carlo menepuk pundak orang kepercayaannya itu pelan, sebelum berlalu menuju kamarnya.
Di depan pintu kamar, Carlo sempat mengernyitkan kening. Dia mendengar suara beberapa orang wanita di dalam sana. Carlo pun segera memutar gagang pintu. Akan tetapi, sebelum pintunya berhasil terbuka, sebuah tepukan di punggung telah berhasil mengagetkan pria tampan bermata biru itu.
Carlo segera menoleh dan mendapati Coco beserta Adriano yang sudah berdiri gagah di belakangnya. “Tuan Ricci? Ayah mertua?” sapa pria itu keheranan.
“Nyonya Fabiola dan Mia tengah berbincang seru bersama istrimu. Kau tentu tak ingin mengganggu obrolan para wanita, kecuali jika dirimu memahami apa yang sedang mereka bahas,” ujar Adriano.
“Bagaimana jika kita bersantai di tempat lain sampai para wanita selesai dengan urusan mereka?” cetus Coco.
“Um.” Carlo tak segera menjawab. Sebenarnya, dia merasa keberatan. Akan tetapi, sang ketua Klan Serigala Merah itu juga tak enak jika harus menolak ajakan para senior. Pada akhirnya dia mengarahkan dua pria itu ke ruangan hitam yang dulu menjadi tempat pertemuan yang berakhir dengan tragedi berdarah.
“Bukankah ini tempat yang sama dengan yang terekam di dalam video mendiang ayahmu itu?” tanya Coco saat mereka sudah memasuki ruangan luas tersebut
“Ya. Padahal ini adalah tempat kesukaanku sebelum berhasil menemukan rekaman video milik ayah,” jawab Carlo seraya mengempaskan napas pelan.
__ADS_1
“Sama sekali tak terlihat jika pernah terjadi pertumpahan darah di tempat ini sebelumnya,” ujar Adriano yang masuk paling akhir. Pria paruh baya tersebut mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.
Dinding ruangan hitam terbuat dari batu alam khusus. Pada setiap sisinya, terdapat rak kaca mewah yang berisi botol-botol minuman mahal. Di depan salah satu rak kaca tersebut terdapat meja bar lengkap dengan gelas-gelas kristal yang sengaja diletakkan dalam posisi menggantung.
"Ada beberapa perbaikan pada ruangan ini. Aku sengaja merenovasi tanpa meninggalkan kesan antik dari suasana ruangan sebelumnya," jelas Carlo tanpa diminta.
“Ini adalah surga dunia,” Coco berdecak kagum sembari merentangkan tangan dan memutar tubuhnya.
“Jangan berlebihan,” ujar Adriano mengingatkan. “Ambilkan aku whiskey Macallan, Carlo,” titahnya kemudian.
“Anda tak ingin menikmati anggur, Tuan?” Carlo mengernyitkan kening keheranan.
“Sepertinya malam ini aku menginginkan sesuatu yang sedikit lebih keras,” jawab Adriano seraya tersenyum. Dia lalu menoleh ke arah Coco.
“Aku juga!” seru Coco menimpali.
“Baiklah, Tuan-tuan.” Carlo tersenyum lebar. Dia lalu mengambilkan minuman pilihan ayah mertuanya dan juga Coco. Carlo juga mengambil tiga gelas whiski lalu mengisinya dengan minuman tadi. Setelah semua gelas terisi, pria yang berusia paling muda di antara yang lainnya itu, kemudian menyodorkan dua gelas ke hadapan para pria paruh baya tadi. Mereka telah duduk dengan nyaman di atas kursi bar, tepat di hadapan sang ketua Klan Serigala Merah.
“Salute,” ucap Carlo seraya mengangkat gelas.
“Salute,” balas Adriano dan Coco secara bersamaan, kemudian saling menempelkan gelas mereka hingga terdengar bunyi berdenting. Ketiganya menenggak minuman itu dalam sekali tegukan. Setelah kosong, Carlo mengisinya kembali. Hal itu terus berulang, diiringi dengan canda dan obrolan ringan.
“Jadi, apakah rencanamu selanjutnya?” tanya Adriano saat suasana berangsur serius.
“Misi utamaku kali ini adalah menemukan keberadaan Roderyk Lenkov, kemudian berbicara dengannya,” jawab Carlo dengan segera.
“Maksudmu pria yang ada di dalam video itu, yang sudah menembaki ayahmu?” tanya Coco dengan wajah yang mulai memerah. Dia sekadar ingin memastikan tentang si pemilik nama yang Carlo sebutkan tadi.
“Betul sekali, Tuan Ricci,” sahut Carlo.
“Kurasa pria seperti itu tak akan bisa diajak bicara dengan mudah,” ujar Coco. “Kau harus menyiapkan kekuatan tambahan sebelum bertatap muka dengannya. Aku yakin jika kau akan bekerja keras."
“Jangan lupa dengan rompi anti peluru!” imbuh Adriano sebelum menenggak minuman dalam gelas hingga habis.
__ADS_1