The Bodyguard

The Bodyguard
Bull's Eye


__ADS_3

“Lelucon apalagi ini?” Marco tergelak. Akan tetapi, tawanya segera dia hentikan saat melihat raut Adriano yang semakin menegang.


“Katakan sekali lagi, Carlo,” suruh suami dari Mia tersebut dengan penuh penekanan.


“Aku sudah menikahi putri Anda ketika kami sedang di tengah perjalan menuju Rusia,” jelas Carlo terlihat tenang.


“Begitu rupanya.” Adriano tersenyum sinis. “Dengan menjadi seorang ketua klan dari organisasi besar, telah membuatmu kehilangan sopan santun dan rasa hormat, Carlo! Ke mana perginya berbagai macam ilmu yang telah kuberikan padamu dulu?” geram sang ketua Tigre Nero tersebut menahan amarah.


Adriano maju beberapa langkah. Dia berusaha mendekat kepada Carlo, dengan kedua tangan yang tetap tersembunyi di dalam saku celana panjangnya. “Kemarilah, Miabella.” Mata biru Adriano beralih pada putri sambung yang teramat dia sayangi.


Namun, Miabella malah menggeleng pelan, seraya menggenggam tangan pria yang telah menjadi suaminya dengan semakin erat. “Carlo berkata yang sebenarnya, Daddy Zio. Kami sudah menikah. Seorang pendeta yang telah menikahkan kami berdua,” terang Miabella gugup. Dia juga mengangkat tangan kiri serta menunjukkan jari manisnya yang berhiaskan cincin perak pemberian Carlo.


“Baiklah. Kalau begitu, aku meminta suamimu untuk mengikuti langkahku ke ruang kerja,” titah Adriano yang seolah tak menghendaki penolakan. Dia langsung membalikkan badan, kemudian berlalu menuju ruang yang telah disebutkannya tadi.


Miabella dan Carlo saling pandang untuk sejenak, sebelum akhirnya ditanggapi dengan sebuah anggukan pelan dari Carlo. Sorot matanya lembut, berusaha menenangkan sang istri yang terlihat semakin was-was.


“Adriano.” Di tengah ketegangan tersebut, Mia memanggil sang suami yang sudah bergerak menjauh menuju ruang kerja. Tak seperti biasanya, kali ini Adriano tak menanggapi panggilan dari Mia. Dia terus saja berjalan sampai tubuh tegap itu tak terlihat dari pandangan.


“Turuti saja kemauannya, Carlo,” ujar Marco.


“Ya. Aku juga bermaksud demikian,” sahut sang ketua klan Serigala Merah. Dia lalu melangkah gagah, mengikuti Adriano untuk memenuhi permintaan pria itu. Carlo segera memasuki ruangan besar dengan pintu yang sudah terbuka lebar. Tampaklah Adriano tengah berdiri di dekat jendela besar dengan tatapan menerawang.


“Bagaimana, Tuan?” tanya Carlo, membuat Adriano segera menoleh. Sorot matanya masih tajam seakan menguliti mantan anak asuhnya itu hidup-hidup.


“Sudah berapa kali kau membuatku kecewa?” desis Adriano seraya berjalan semakin dekat.


“Aku sangat mencintai Miabella,” tegas Carlo.

__ADS_1


“Cinta?” Adriano bergumam pelan. Dengan tanpa diduga, pria itu mengepalkan tangan kemudian melayangkan pukulan tepat pada hidung mancung Carlo.


Suami dari Miabella tersebut benar-benar tak siap dengan serangan mendadak dari mertuanya. Tubuh tegap Carlo terhuyung ke belakang. Akan tetapi, dia masih sanggup menjaga keseimbangan sehingga tak sampai terjatuh.


“Kau tidak ingin membalasku, Carlo?” Adriano memiringkan kepala sembari tersenyum mengejek.


“Aku tidak akan membalas meskipun Anda membunuhku, Tuan,” jawab Carlo dengan tenang. Beberapa tetes darah mulai mengalir keluar dari lubang hidung pria rupawan itu.


“Hm, baguslah, karena aku tidak akan berhenti.” Adriano kembali menerjang dan memukul ulu hati Carlo dengan kekuatan penuh, hingga pengantin baru itu terjengkang dan jatuh ke belakang. Beruntung kepalanya tidak menghantam lantai ruangan yang terbuat dari marmer. Namun, tangan kanan Carlo sempat berpegangan pada patung yang terletak di sisi pintu masuk. Patung itu roboh dan hampir mengenai tubuh suami Miabella tersebut jika saja dirinya tak segera menghindar.


Carlo batuk-batuk sambil berusaha berdiri. Penglihatan pria itu mulai berkunang-kunang, karena napasnya terganggu akibat pukulan keras di bagian ulu hati. Namun, sebisa mungkin Carlo menghirup udara dalam-dalam, hingga paru-parunya terisi penuh. Setelah itu, barulah dia berusaha untuk kembali berdiri tegak.


“Apa otakmu sudah bisa kau gunakan untuk berpikir, atau haruskah kuhantam lagi supaya isi kepalamu semakin encer!” Adriano sudah bersiap menyarangkan pukulannya yang mematikan, ketika Miabella memaksa masuk.


“Hentikan, Daddy Zio!” cegah gadis itu memekik nyaring seraya merentangkan tangan. Dia berdiri tegak di depan Carlo. Miabella menggunakan badannya sebagai perisai, agar Adriano tak dapat melukai suaminya lebih parah lagi.


“Minggirlah, Bella,” desis Adriano dengan raut wajah yang tampak sangat menakutkan.


Adriano membeku seketika. Tak pernah dia sangka bahwa Miabella akan melakukan pembelaan seperti itu. “Sebesar itukah cintamu padanya, Principessa?”


“Ya, Daddy Zio. Aku sangat mencintainya, sama seperti kau mencintai ibuku,” ujar Miabella dengan posisi tubuh yang tetap seperti tadi. Air mata juga mulai membasahi pipi mulusnya


“Minggirlah, Sayang. Biarkan tuan Adriano meluapkan seluruh amarahnya padaku,” ujar Carlo pelan. Sesekali dia meringis kecil sambil memegangi dada.


“Tidak, Carlo. Aku sama saja telah membiarkan Daddy Zio membunuhmu! Jika kau mati, maka aku pun akan mati,” sahut Miabella sambil terisak. Dia membalikkan badan sehingga menghadap pada sang suami, lalu memeluknya erat-erat.


“Asal kau tahu, Bella. Posisi suamimu sedang dalam keadaan tidak aman. Ada banyak bahaya yang mengelilinginya. Seharusnya Carlo lebih paham akan hal itu. Mungkin saja Viktor Drozdov adalah seorang pemimpin yang lemah. Namun, tidak dengan orang-orang di belakangnya yang tak ikut dibantai oleh suamimu. Sudah pasti mereka akan membalas dendam,” ujar Adriano. Sekuat tenaga dia menahan rasa marahnya.

__ADS_1


“Itulah yang membuatku tidak terima! Kau sudah membahayakan nyawa putriku dengan tindakan gegabah dan ceroboh seperti ini, Carlo! Kau mengajaknya melintasi Italia sampai Rusia melewati jalur darat! Apa-apaan itu!” Teriakan Adriano membahana, nyaring menggema di setiap sudut ruangan sampai terdengar oleh Mia dan juga Marco.


“Hentikan, Adriano!”


Perlahan Adriano menurunkan kepalan tangan saat Mia berlari memasuki ruang kerja dengan tergopoh-gopoh. Dilihatnya sang istri yang tampak begitu gusar, dan Marco yang memandangnya dengan sorot tak percaya.


“Kau sudah menghajar ketua mafia terbesar di Rusia, Amico. Jika kejadian ini sampai tersebar, kau akan memicu peperangan antar organisasi,” desis Marco resah.


“Carlo tak akan berani menantangku. Bukan begitu, Carlo?” Adriano tersenyum sinis. “Lagi pula dia pantas mendapatkan itu!” geramnya.


Sedangkan Carlo hanya terdiam. Dia memang sengaja tak akan membalas apapun perlakuan Adriano kepadanya.


“Sudah, sudah! Hentikan sekarang juga!” sela Mia. “Bella, bawa suamimu ke kamar. Rawatlah luka-lukanya,” suruh wanita paruh baya itu sesaat setelah menghadap ke arah Miabella, “dan kau, Adriano! Kita harus bicara!” Mia langsung berbalik pada suaminya, kemudian menarik pria itu ke luar ruangan.


“Tunggu!” seru Marco ketika ketua Tigre nero sudah tak lagi terlihat di sana. Dihampirinya Miabella yang tengah memapah Carlo. Marco kemudian bergerak lebih dulu dan berdiri di depan sepasang suami istri tadi.


“Jadi, kalian benar-benar telah menikah?” tanya Marco tak percaya.


“Ya, Paman. Sekarang minggirlah. Aku harus mengobati Carlo,” pinta Miabella malas.


“Kalau begitu, kau harus datang menghadiri pesta sayembara,” cetus Marco.


“Astaga, untuk apa? Aku sudah memiliki pasangan. Batalkan saja pestanya!” dengus Miabella kesal. Sementara Carlo sendiri tak banyak bicara. Pria itu masih dengan rasa nyeri yang menyerang sekujur tubuhnya.


“Justru itu! Kau bisa menggunakan pesta tersebut sebagai ajang untuk mengumumkan hubungan kalian, sekaligus meminta maaf kepada para tamu undangan. Perkenalkanlah Carlo kepada para tetua. Aku yakin hal ini akan memberikan dampak positif pada Klan de Luca. Kita akan semakin disegani. Posisi kita akan semakin kuat dan tak terkalahkan!” cetus Marco menggebu-gebu, bak seorang politisi yang sedang berorasi.


“Ya ampun." Miabella berdecak pelan. Dia menuntun Carlo yang mengulum senyum karena menahan tawa, lalu melewati sang paman begitu saja.

__ADS_1


“Jadi, bagaimana, Bella? Kau setuju, ‘kan?” tanya Marco setengah memaksa.


“Akan kupikirkan lagi nanti!” sahut Miabella malas-malasan.


__ADS_2