
Sepeninggal Adriano dan Mia yang hendak menuju Inggris, Carlo dan yang lain segera bersiap untuk berangkat ke Italia. Sebelumnya, sang ketua Klan Serigala Merah itu menjenguk Igor yang kondisinya sudah semakin membaik. Setelah semua persiapan selesai, Carlo, Miabella, Grigori, beserta Coco akhirnya terbang ke negara yang mereka tuju dengan menggunakan pesawat pribadi dari perusahaan Grigori. Alat transportasi udara tadi membawa mereka langsung ke Istana de Luca di Palermo.
Setibanya di sana, Marco dan Daniella menyambut tamu-tamu istimewa mereka dengan penuh sukacita. Karena telah diberitahu sebelumnya, sehingga Daniella sudah menyiapkan berbagai hal. Satu di antaranya tentu saja adalah makanan lezat khas Pulau Sisilia. Pasta con le sarde, merupakan sajian pasta dari Palermo. Makanan itu menemani santap siang mereka.
“Kenapa kau tidak mengajak Francy?” Daniella membuka percakapan di meja makan, pada siang itu. Pertanyaan sama, seperti yang dilontarkan Mia saat Coco pertama kali tiba di Rusia.
“Istriku sibuk, Dani. Dia membantuku dalam segala hal. Kau tahu bukan jika Francy adalah wanita yang aktif?” sahut Coco sambil mengunyah makanannya.
“Ya, kau benar. Di antara kedua saudaraku, aku memang yang paling malas. Namun, untungnya karena Marco sangat baik dan menerima diriku apa adanya,” celoteh Daniella diiringi tawa renyah.
“Kau pikir suamimu tidak tertekan?” celetuk Coco dengan enteng, membuat Daniella mendelik tajam padanya. Sementara Marco segera minum karena hampir tersedak.
“Ah ini pasti akan seru,” bisik Miabella dengan tak acuh kepada Carlo yang segera menoleh dengan tatapan heran.
“Apa maksudmu, Cara mia?” tanya pria bermata biru tadi sambil menautkan alis.
“Inilah mengapa aku memilih untuk tidak menikah,” bisik Grigori dengan teramat pelan kepada Carlo, membuat sang ketua Klan Serigala Merah merasa bingung.
“Tutup mulutmu, Coco!” sentak Marco dengan kesal. Dia merasa jengkel dengan ulah sahabat lamanya tersebut. Sedangkan Coco masih tampak biasa saja. Dia terus menyantap makanannya hingga tak tersisa.
“Astaga. Seandainya kau bukan adik iparku ....” Daniella mengeluh pelan.
__ADS_1
Sementara Carlo hanya menggaruk keningnya. Dia kembali menyantap sisa makanan yang belum habis di dalam piring. “Bisakah kita membahas sesuatu yang serius, Tuan?” Sepasang mata biru milik suami Miabella tersebut mengarah kepada Marco, yang tengah mengelap mulut dengan serbet berwarna kuning gading.
“Baiklah. Kita bicara di ruang kerjaku saja,” ajak Marco.
“Memangnya kenapa kalau di sini? Aku masih ingin makan,” ujar Coco yang saat itu meminta satu porsi lagi makanan seperti tadi kepada seorang pelayan.
“Astaga. Kelakuanmu benar-benar memalukan,” cibir Daniella.
Namun, Coco nyatanya tak peduli. Dia kembali menikmati makanan yang baru disuguhkan kepadanya. “Beberapa hari kemarin aku menyantap masakan Rusia. Jadi, saat ini aku benar-benar merindukan makanan Italia,” ujar pria berambut ikal itu, dengan tatapan yang terus tertuju pada piring di hadapannya.
Sementara Carlo menoleh sejenak kepada Grigori yang tampak mengangguk pelan. Gerakan tersebut merupakan sebuah isyarat kepada sang tuan. Carlo pun membalas dengan melakukan hal yang sama. Setelah itu, dia kembali mengarahkan perhatian kepada Marco.
“Begini, Tuan de Luca.” Carlo memulai untuk mengutarakan maksud kedatangannya ke sana. “Salah satu ajudan kepercayaanku, mengatakan bahwa dia melihat seseorang saat di pesta yang berakhir dengan kericuhan beberapa waktu lalu di tempat ini.”
“Roderyk Lenkov,” jawab Carlo dengan lugas.
“Roderyk Lenkov?” ulang Marco. Suami Daniella tersebut tampak sedang mengingat-ingat. Sesaat kemudian, sang ketua Klan de Luca itu pun manggut-manggut. “Ya, aku ingat. Roderyk Lenkov,” ucapnya kemudian.
“Apa benar dia datang ke pesta?” tanya Carlo lagi memastikan.
“Ya. Dia datang bersama Vlad Ignashevich,” jawab Marco dengan yakin.
__ADS_1
Mendengar nama rekan bisnisnya disebut, Miabella pun menjadi semakin tertarik dengan perbincangan itu. Pandangan wanita muda tersebut terus berpindah. Mulai dari sang suami, kemudian beralih pada Marco. Berkali-kali pula dia mendengar nama Roderyk Lenkov disebut, hingga akhirnya Miabella teringat akan sesuatu.
Miabella kemudian menopang dagu sambil terus menyimak. Sementara pikirannya justru melanglangbuana entah ke mana. Pada akhirnya, wanita cantik berambut cokelat tadi menyunggingkan sebuah senyuman.
“Sepertinya aku mulai ingat sesuatu, Carlo,” ucap Miabella tiba-tiba, membuat Carlo dan Marco menoleh secara bersamaan. Begitu juga dengan Grigori serta Daniella yang sejak tadi hanya menyimak. Sementara Coco baru menyelesaikan porsi keduanya.
“Apa yang kau ingat, Cara mia?” tanya Carlo penasaran.
“Biar kupastikan dulu, apakah Roderyk yang kau maksud merupakan pria dengan janggut tebal dan berambut cokelat tembaga?” tanya Miabella seraya menaikkan sebelah alisnya.
“Aku tidak tahu seperti apa penampilannya saat ini, tapi rambutnya memang berwarna cokelat,” sahut Carlo meski terdengar agak ragu. “Apa kau mengenalnya, Cara Mia?” Sang ketua Klan Serigala Merah balik bertanya.
Miabella tak segera menjawab. Putri mendiang Matteo de Luca tersebut, membuat semua yang berada di meja makan menjadi sangat penasaran. Namun, wanita muda itu sendiri masih terlihat sangat tenang. “Sebenarnya, aku tidak mengenal pria yang kau maksud itu. Akan tetapi, dulu Vlad pernah mengenalkan diriku kepada seseorang yang bernama Roderyk. Jika aku tak salah ingat, dia tinggal di Catania,” terang Miabella.
“Setahuku memang di sana,” timpal Marco. “Kami sempat bertegur sapa sebentar. Namun, jujur saja bahwa aku tidak terlalu nyaman. Menurutku bahasa tubuh dan ekspresi pria itu terasa begitu mengintimidasi. Entahlah, tapi ....” Marco seperti tak mampu mengungkapkan apa yang ingin dia katakan.
“Ah berarti memang benar orang yang sama,” timpal Miabella. “Menurutku juga begitu, Paman. Dari gaya bicaranya terlihat sangat berbeda. Aku bahkan lebih memilih untuk tidak berbicara terlalu lama dengannya. Namun, Vlad sangat dekat dengan pria itu. Mereka berbincang hangat dan akrab,” tutur Miabella lagi.
Namun, apa yang menjadi perhatian Carlo saat itu tentu saja bukan hanya tentang Roderyk, melainkan juga kebersamaan antara Miabella dengan Vlad Ignashevich. Carlo menatap lekat sang istri. “Katakan kenapa Vlad sampai mengajakmu ke Catania?” selidiknya.
“Tentu saja untuk urusan bisnis. Roderyk adalah pengusaha. Kami sempat membahas masalah seputar pekerjaan dan segala hal yang berkaitan dengan itu. Sepertinya dia bukan orang yang sembarangan,” jelas Miabella lagi dengan santai.
__ADS_1
“Hanya itu?” tanya Carlo dengan nada ragu.
“Apa maksudmu dengan ‘hanya itu’? Tentu saja aku tak melakukan apapun di sana. Setelah berbincang dalam acara pertemuan dengan pria bernama Roderyk tadi, aku memutuskan untuk langsung pulang. Aku sempat bertanya kepada Vlad tentang Roderyk Lenkov. Vlad hanya mengatakan bahwa pria itu telah dirinya anggap sebagai ayah,” jelas Miabella kemudian.