The Bodyguard

The Bodyguard
Beautiful Devil


__ADS_3

“Oh permata? Itu adalah sektor bisnis yang sangat menjanjikan,” sahut Miabella sarat akan basa-basi, padahal dia sudah merasa tak nyaman karena harus berlama-lama berbicara dengan Vlad.


“Ya. Ayah angkatku memiliki banyak kenalan yang berkecimpung langsung dalam dunia mode dan perhiasan. Rata-rata klien mereka adalah artis terkenal dan kalangan kelas atas. Dia bahkan menguasai toko-toko perhiasan mewah di Pulau Sisilia, bahkan Roma dan sekitarnya,” terang Vlad bangga.


“Suamiku juga berkecimpung dalam bisnis permata. Mungkin suatu saat nanti kita bisa bekerja sama,” ujar Miabella sambil memainkan ujung rambutnya yang panjang.


Hal itu membuat Carlo yang tengah mengawasi mereka dari sebuah ruangan khusus, tiba-tiba menjadi resah.


“Lihatlah, cara pria itu memandang istriku,” geram sang ketua Klan Serigala Merah tersebut sambil menunjuk layar, tepat pada sosok Vlad Ignashevich.


“Ya ampun. Memangnya apa yang kau pikirkan? Siapa pun pasti akan terpesona melihat paras gadis secantik Miabella,” ujar Coco dengan enteng. “Andai saja para pria tahu sepedas apa mulut gadis itu saat berbicara, mereka jelas akan berpikir ulang untuk mendekat,” imbuhnya sambil tergelak.


Namun, Coco segera terdiam saat Carlo memperhatikannya dengan sorot aneh.


“Ah, maaf. Aku lupa kalau setan kecil itu sudah menjadi istrimu." Coco kemudian mengempaskan napas pelan. Dia lalu kembali fokus pada layar monitor yang menampilkan gambar Miabella dan Vlad. Mereka berdua masih berbincang akrab di ruang tamu.


“Ayah angkatku merupakan seseorang yang cenderung berhati-hati. Dia tak mudah berhubungan dengan orang baru yang belum benar-benar dikenalnya. Ayah akan menyelidiki latar belakang calon koleganya dengan sangat teliti,” tutur Vlad. Sesekali dia menggosok hidung mancungnya.


“Apa ayah angkatmu tak pernah mendengar tentang nama besar Keluarga de Luca di Italia? Seandainya dia lama tinggal di sini, ayah angkatmu pasti paham dengan nama margaku." Miabella menyunggingkan senyuman bangga.


“Aku yakin dia pasti pernah mendengar nama keluargamu. Akan tetapi, dia tetap harus bertemu secara langsung dengan calon koleganya tersebut, bukan hanya bersumber dari nama besar atau cerita orang. Pengenalan karakter itu penting untuk menjalin kerja sama yang dapat bertahan lama, agar dapat saling memahami. Menjalin ikatan kerja sama, tak jauh berbeda dengan sebuah hubungan percintaan,” jelas Vlad.

__ADS_1


“Bukankah dulu kau pernah mengajakku bertemu dengannya? Ah, mungkin dia sudah lupa padaku. Kalau begitu, bagaimana jika kau menemaniku ke Catania. Ke rumah ayah angkatmu,” ujar Miabella, yang membuat Vlad seketika memicingkan mata. Sepasang iris warna biru miliknya menyiratkan rasa curiga atas sikap Miabella yang tak biasa.


“Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan bisnis permata dan juga ayah angkatku?” tanya Vlad penuh selidik.


“Aku menjadi tertarik dengan permata, semenjak mengetahui bahwa suamiku juga berkecimpung dalam bisnis tersebut. Sebenarnya aku sudah bosan terus-menerus mengurusi anggur dan perkebunan. Rasanya sudah tak ada gairah lagi. Aku ingin merasakan tantangan yang lain. Kau tahu bukan bahwa aku sangat menyukai sesuatu yang tak biasa," tutur Miabella dengan santainya.


“Ya, kau bisa saja memulai bisnis itu. Namun, sepertinya bukan ide yang bagus jika kau ingin menjalankan kerjasama dengan ayah angkatku,” balas Vlad ragu.


“Memangnya kenapa?” Miabella menautkan alis tanda tak mengerti. Dia menatap aneh kepada Vlad.


Apa yang Miabella lakukan, membuat pria dengan gaya rambut man bun tersebut menjadi tampak salah tingkah. “Em, seperti yang sudah kukatakan tadi bahwa dia bukanlah orang yang ramah. Kau pasti masih ingat seperti apa sikapnya dulu.


Jadi … aku hanya tidak ingin kau kecewa,” kilah Vlad.


“Ya. Itu jauh lebih baik,” ucap Vlad yang memaksakan senyum, dengan tatapan mata tak lepas dari wajah ceria Miabella.


“Baiklah. Kalau begitu, kita mulai saja makan malamnya,” ajak Miabella. Istri dari Carlo tersebut segera berdiri dan mengajak Vlad untuk berpindah ke ruang makan.


“Tunggu, Bella,” cegah pria asli Rusia tersebut seraya mencekal pergelangan tangan Miabella.


“Ada apa?” Miabella segera menoleh. Karena merasa tak nyaman, wanita muda bermata abu-abu itu segera menepis tangan Vlad.

__ADS_1


“Apa suamimu sedang berada di sini?” tanya pria bermata biru itu pelan dan terdengar sangat hati-hati.


“Suamiku sedang tidak enak badan. Dia beristirahat di dalam kamar. Memangnya kenapa?” Miabella balik bertanya. Sama seperti Vlad, dia juga terlihat jauh lebih berhati-hati agar pria asal Rusia itu tak merasa curiga.


“Ini tentang keluarga Romanov. Kau harus berhati-hati dengan mereka,” ungkap Vlad. Nada bicara pria itu terdengar semakin pelan, bahkan hampir seperti tengah berbisik.


“Apa maksudmu si perawan tua itu? Untuk apa aku harus berhati-hati padanya? Seharusnya dia yang berhati-hati terhadapku,” tegas Miabella sambil mendongakkan wajah sebagai tanda sebuah tantangan.


“Beberapa hari lalu, Stefan Romanov datang padaku bersama putrinya yang aneh itu. Mereka berniat hendak memisahkan kau dari suamimu. Sesuai dengan yang mereka katakan padaku, Carlo adalah pria yang sangat mudah untuk ditaklukkan oleh gadis secantik Yelena. Apalagi, status pernikahan kalian berdua masih belum sah secara hukum,” terang Vlad yang seketika membuat darah dalam tubuh Miabella bergolak.


Miabella bukannya tidak terpancing dengan apa yang Vlad katakan barusan. Namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan perasaan bergejolak dalam diri. Miabella harus tetap menjaga image di hadapan Vlad. "Lalu, apa jawaban yang kau berikan kepada mereka?" tanya Miabella menghadapkan tubuh sepenuhnya kepada Vlad. Dia melipat kedua tangan di dada. Setenang-tenangnya seorang Miabella, gadis itu tak seperti Mia yang lemah lembut.


"Jujur saja bahwa aku tak ingin menanggapi apapun yang mereka katakan. Aku hanya mendengarkan semua ocehan ayah dan putrinya yang sama sekali tak penting," sahut Vlad dengan bahasa tubuh yang terlihat sangat tenang.


Sementara Miabella tak segera menanggapi. Dia menatap lekat kepada rekan bisnisnya tersebut. Ada sebuah pertanyaan besar dalam benak wanita muda itu, yang ingin segera diutarakan. Namun, Miabella lebih memilih melanjutkan niat menuju ruang makan. Dia mempersilakan Vlad segera duduk, menghadapi berbagai yang menu menggugah selera. "Kapan terakhir kali kau menikmati masakan Italia?" tanya Miabella sambil meletakkan serbet di atas pangkuannya.


"Aku lebih banyak menghabiskan waktu di Rusia. Tak ada alasan lagi bagiku untuk sering-sering berkunjung ke negara ini," sahut Vlad seraya menatap sejenak kepada Miabella.


"Jangan membuatku merasa tak enak," balas Miabella. "Oh ya, Vlad. Aku ingin bertanya sesuatu padamu." Miabella kembali menatap Vlad yang masih memandang ke arahnya. "Untuk apa Keluarga Romanov menemuimu?"


🍒🍒🍒

__ADS_1


Hai, semua. Mampir yuk ke novel keren yang satu ini.



__ADS_2