The Bodyguard

The Bodyguard
Exchange


__ADS_3

Miabella kembali bersiap saat Yelena menerjang. Satu kakinya sudah dalam posisi hendak menendang wanita cantik itu. Akan tetapi, Yelena bukanlah seorang yang bodoh. Dia sudah mengantisipasi hal itu sebelumnya, sehingga bukanlah dada Miabella yang menjadi sasaran pisau Yelena, melainkan kaki istri Carlo tersebut.


Miabella memekik nyaring, bersamaan dengan pasukan Damien yang melepaskan tembakan entah pada siapa di luar sana. Membuat konsentrasi wanita muda bermata abu-abu itu terpecah. Entah mengapa, dia memiliki keyakinan yang di luar sana adalah Carlo.


Namun, Miabella tak dapat berbuat apapun untuk membantu sang suami. Kondisinya pun saat ini sedang terikat dan tampak sangat menyedihkan. Darah mengucur dari kulit yang membalut tulang kering di kaki kanannya. Belati milik Yelena menancap berkali-kali di betis Miabella. Perawan tua itu menggila. Dia menyerang kaki kanan dan kiri Miabella secara bergantian.


Istri dari sang ketua Klan Serigala Merah itu juga tak ingin menyerah begitu saja. Dia tak mau mati konyol, apalagi tewas di tangan Yelena. Dengan kesadaran yang masih tersisa di tengah nyeri hebat pada kakinya, Miabella mengumpulkan kekuatan terakhir.


Kaki kiri yang bebas sementara, dia arahkan tinggi-tinggi dan tepat mengenai leher Yelena. Wanita itu tersungkur. Belatinya terlempar dan terjatuh di pangkuan Miabella. Tak ingin membuang waktu, dia segera mengangkat satu pahanya sehingga belati tersebut terlempar perlahan.


Dengan sigap, Miabella menangkapnya menggunakan mulut, lalu memutar kepala ke samping. Dia menjatuhkan belati tepat ke tangan kiri yang terikat. Buru-buru dia menggerakkan belati itu sekuat tenaga untuk memotong tali tampar.


Miabella semakin gelisah, ketika Yelena mulai tersadar setelah sempat pingsan sesaat.


Yelena bangkit dan melangkah gontai ke arah Miabella yang tengah berusaha melepas ikatannya.


“Kurang ajar kau! Perempuan sialan!” maki Yelena kencang sambil mengepalkan tangan. Dia hendak menyarangkan tinju ke wajah cantik Miabella.


Beruntung, karena telah Miabella berhasil memotong tali tampar di pergelangan. Setelah itu, dia memotong tali yang mengikat tubuhnya pada sandaran kursi. Miabella berhasil melepaskan diri, tepat pada saat Yelena melayangkan pukulan.


Dengan gerakan secepat kilat, Miabella menghindar ke samping. Pisau belati yang sudah berada di genggaman tangan kanan, dia manfaatkan dengan baik. Putri sambung Adriano D’Angelo tersebut, membalas serangan bertubi-tubi Yelena. Tak dipedulikannya darah yang mengucur semakin deras dari kaki. Miabella bangkit sambil menghunuskan pisau. Dia berhasil melukai lengan dan kulit leher mulus Yelena.


Putri tunggal keluarga Romanov tersebut kembali berteriak kesakitan saat kulit di atas dadanya terkoyak dan membuat luka terbuka. Yelena histeris. Dia kini sibuk memegangi bagian depan leher yang sudah basah oleh darah.


Melihat Yelena yang mulai kehilangan fokus dan kekuatan, Miabella tak tinggal diam. Kesempatan terbuka lebar di depan matanya. “Apakah kau bisa merasakan perihnya, Perawan Tua? Tunggu sampai kuhancurkan wajahmu,” ujarnya sambil menyeringai.


Tangan kiri Miabella bergerak bebas. Memukul ulu hati dan hidung Yelena, hingga wanita itu terhuyung ke belakang. Merasa tak puas, Miabella terus menyerang sampai Yelena terdesak. Punggung wanita asal Rusia tersebut menempel erat pada tembok ruangan. Dia tak bisa lagi ke mana-mana.

__ADS_1


Keadaan sekarang telah berbalik. Yelena yang awalnya berada di atas angin, harus mengaku kalah di hadapan Miabella.


“Tunggu!” serunya ketika belati itu melayang cepat ke arahnya. “Sebaiknya kita berdamai,” ucap Yelena dengan suara lemah, membuat Miabella tergelak.


“Kau pikir aku bersedia berdamai denganmu, setelah apa yang kau lakukan pada kedua kakiku?” Mata indah Miabella menatap tajam Yelena yang mulai ketakutan.


Yelena dapat melihat aura mematikan yang keluar dari wajah cantik Miabella. Dia menyesali sikapnya yang terlalu meremehkan istri dari Karl Volkov tersebut. Miabella ternyata merupakan seorang wanita yang teramat tangguh. Dia tidak roboh meskipun Yelena sudah melukai kedua betisnya sedemikian parah. Miabella juga sudah tidak dapat merasakan aliran darah, yang semakin berkurang ke jantung dan otaknya. Terbukti, kini dia hampir kehilangan keseimbangan karena merasa pusing.


Itu artinya, sebelum Miabella tak sadarkan diri, dia harus melumpuhkan Yelena terlebih dulu. “Selamat tinggal, wanita ular,” ucapnya dengan senyuman mengejek, sebelum belati yang tergenggam erat di tangan merobek kulit dan menghancurkan wajah jelita yang selalu terawat dengan sempurna.


Ujung belati itu bergerak dari pelipis dan memanjang melintasi pipi hingga leher Yelena. Tak berhenti sampai di situ, Miabella menikam dada dan perut Yelena sampai tubuh ramping itu tak bergerak lagi.


Setelah memastikan musuhnya tak lagi bernyawa, Miabella menjatuhkan belati yang dia pegang. Rasa ngilu tak tertahankan lagi. Ditambah pusing yang semakin hebat, membuatnya kehilangan kesadaran. Miabella ambruk di dekat jasad Yelena.


Sementara itu, tiga pria rupawan berbeda generasi yang berada di halaman luas berumput depan bangunan beratap jerami tersebut, tengah mati-matian berusaha melindungi diri dari terjangan ratusan peluru yang berasal dari anak buah Damien.


“Biar aku yang keluar lebih dulu! Damien tak akan berani menembakku,” ujar Vlad. Sebelum Adriano dan Carlo sempat memberikan jawaban, Vlad bergegas keluar dari persembunyian sambil mengangkat tangan. “Damien! Kita harus bicara! Aku membawakanmu Karl Volkov. Sekarang serahkan Miabella!”


“Brengsek!” umpat Carlo di balik pohon. “Pria tak berguna itu hendak menjadikanku umpan!”


“Ikuti saja permainannya,” saran Adriano dengan tenang. “Aku yakin kau jauh lebih kuat dan cerdik dari dia.”


Carlo mendengkus kesal. Mau tak mau, dia menuruti apa kata Adriano. Carlo tak memiliki pilihan lain.


Sayup-sayup, terdengar suara Damien yang menanggapi perkataan Vlad. Pria tersebut keluar dari balik pertahanan puluhan pengawal bersetelan rapi. Dia menyibak dua tubuh kekar, lalu berjalan tenang mendekati Vlad. “Di mana dia?” tanyanya dingin.


“Karl Volkov ada di balik pohon itu,” tunjuk Vlad.

__ADS_1


“Lubangi kepalanya sekarang juga, baru kuserahkan Miabella padamu,” ujar Damien.


Vlad sempat terdiam beberapa saat, lalu tersenyum licik. “Tentu." Dia langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah pohon oak yang menjadi tempat persembunyian Carlo dan Adriano.


Mertua dan menantu itu bersikap waspada. Mereka mengokang senjata masing-masing, bersiap seandainya Vlad menembaki mereka. Namun, perkiraan Carlo dan Adriano saat itu keliru. Vlad menghentikan langkah tiba-tiba, lalu berbalik pada Damien.


Vlad, bergerak cepat meraih dua pistol yang tersembunyi di pinggang. Tangan kanan dan kirinya seolah menari. Menghadiahkan berondongan peluru pada saudara angkatnya tersebut. Tembakan itu tak hanya mengenai Damien, melainkan juga anak buahnya yang lain.


Melihat hal tersebut, Adriano mengangguk pada Carlo sebagai isyarat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Carlo juga membalas dengan anggukan dan berjalan gagah keluar dari persembunyian sambil memuntahkan pelurunya ke arah depan.


Demikian pula Adriano. Usia tua tak membuatnya kehilangan kejelian dan ketepatan bidikan. Dalam waktu sepersekian detik, dia berhasil melumpuhkan belasan orang.


Carlo juga seolah tak mau kalah. Dia bahkan berhasil melukai Damien. Pria itu meringis sambil memegangi lengan.


Namun, bukannya membalas tembakan pada Carlo, Damien malah mengarahkan moncong pistolnya kepada Vlad. “Dasar kau! Pengkhianat!” sentaknya sambil menembak Vlad.


Vlad sendiri berhasil berkelit dan berlindung di balik tubuh pengawal Damien yang sudah berhasil dia lumpuhkan sebelumnya, dengan cara memiting leher dan menekan erat-erat. Vlad menempelkan ujung pistol ke pelipis pria tersebut. Akan tetapi, bukan senjata Vlad yang membunuh pengawal itu, melainkan peluru milik Damien yang mengoyak perutnya. Pria tinggi besar tersebut merosot dari cengekeraman lengan Vlad.


Bersamaan dengan itu, Damien cepat-cepat membidik Vlad yang berada dalam posisi terbuka. Beberapa butir peluru berhasil dia lesatkan pada pria berambut pirang yang masih sempat menghindar dengan cara berguling.


Sayangnya, kemampuan Damien berada sedikit di atas Vlad. Sebelum Vlad berhasil mencari tempat berlindung, peluru Damien sudah lebih dulu berhasil menembus kaki kiri, pinggang, serta punggungnya.


🍒🍒🍒


Rekomendasi novel keren lagi untuk semua.


__ADS_1


__ADS_2