The Bodyguard

The Bodyguard
Moonlight


__ADS_3

Pagi yang dingin di ibukota Rusia. Carlo menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap. Dia berdiri di dekat jendela kamar yang ditempatinya. Tak dapat dipungkiri, bahwa angan pria itu kembali melayang pada sosok Miabella.


Entah kenapa, beberapa hari terakhir ini perasaannya begitu tak tenang saat membayangkan gadis cantik bermata abu-abu tersebut. “Sedang apa kau di sana, Cara mia?” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.


Merasa jika kerinduan dalam hati semakin tak terbendung, Carlo hanya bisa menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Memandangi foto-foto Miabella yang masih tersimpan lengkap di galer ponsel, merupakan obat mujarab untuknya kali ini.


Perlahan jemari berhiaskan tato itu menyentuh layar, menggeser satu demi satu foto Miabella. Ada beberapa yang diambil Carlo secara diam-diam. Salah satunya adalah foto beberapa saat setelah pesta ulang tahun kedelapan belas sang kekasih.


Miabella tampak begitu cantik dalam balutan gaun berwarna putih dengan hiasan mahkota kecil di atas kepala. Dia tengah menggandeng Adriana yang saat itu masih berusia dua belas tahun. Dengan penuh perasaan, Carlo memperbesar potret tersebut dan mengusap bagian wajahnya.


Setitik air mata tiba-tiba menetes di pipi Carlo, hingga membuat pria rupawan itu tertegun. Dia terheran-heran ketika mengusap cairan bening yang lolos begitu saja. “Perasaan apa ini?” ucapnya kebingungan.


Saat itu pula, keinginannya semakin tak terbendung untuk menghubungi Miabella. Namun, sebelum niat itu terlaksana, sebuah panggilan masuk tiba-tiba muncul. Carlo mende•sah pelan. Dia harus menjawabnya. “Pronto. Oxana,” sapa pria tampan itu.


Sebelumnya, Carlo dan Oxana sudah saling bertukar nomor telepon saat di bar.


“Hai, Carlo. Aku hanya ingin menanyakan. Apakah kita jadi bertemu nanti malam? Jika iya, maka aku akan mengosongkan jadwalku untuk hari ini,” balas Oxana dengan suaranya yang merdu mendayu.


“Ya, tentu saja. Pukul delapan malam, Oxana. Terima kasih banyak. Aku akan mengganti rugi seluruh jadwal menarimu yang kau batalkan hari ini demi pertemuan nanti,” sahut Carlo. Tak lupa senyuman menawan tersungging dari bibir tipisnya.


“Ah, jangan pikirkan itu. Bisa bercakap-cakap denganmu saja sudah sangat membuatku senang,” balas Oxana.


Carlo hanya menanggapinya dengan tawa renyah. “Baiklah. Sampai jumpa nanti malam.” Dia segera mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban dari gadis itu, karena yang ada di pikirannya adalah membuat janji dengan Igor dan Ivan di gedung tua nanti malam.


Ketiga pria tersebut telah tiba di tempat sebelum waktu yang disepakati. Ivan bertugas menunggu di bagian depan gedung yang hampir rusak itu. Dia berjalan mondar-mandir dekat anak tangga sambil mengisap rokoknya, hingga sesosok gadis dengan langkah yang gemulai datang menghampiri.


Ivan mengetahui gadis itu sebagai penari di bar yang dia datangi kemarin malam. Segera saja dirinya memasang senyuman ramah untuk gadis yang tak lain adalah Oxana.

__ADS_1


Namun, si gadis malah menatapnya dengan sorot mata yang sedikit takut. “Maaf, aku ada janji bertemu dengan Carlo,” ujarnya ragu.


“Ya, Nona. Tuan muda sudah menunggumu di dalam. Mari.” Ivan mengulurkan tangan ke arah Oxana yang malah mundur ketakutan. “Hei, jangan begitu. Dia sudah menunggumu di dalam.”


Oxana menggeleng kuat-kuat. “Aku tidak mengenalmu. Aku hanya janji bertemu dengan Carlo saja. Bukan yang lain,” tolaknya.


“Astaga.” Ivan menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Baiklah. Tunggu dulu di sini. Aku akan memanggil tuan muda supaya kau percaya.” Pria itu berdecak pelan sebelum membalikkan badan. Tak lama kemudian, Ivan kembali lagi bersama Carlo. Barulah saat itu Oxana dapat tersenyum lega.


“Carlo. Kupikir orang ini akan menjebak atau menculikku,” celetuk gadis itu dengan polos sembari berjalan mendekat kepada calon penerus tahta Klan Serigala Merah tersebut.


“Tidak, Oxana. Dia adalah teman sekaligus pelindungku. Kenalkan, namanya Ivan.” Carlo menepuk-nepuk punggung pria paruh baya itu pelan. Ivan sendiri terlihat sebal karena dikira akan menculik gadis jelita itu.


“Maafkan aku, Tuan. A-aku mengira jika hanya bertemu berdua saja dengannya,” ucap Oxana yang tak dapat menyembunyikan raut kecewa. Sesaat, bola mata birunya melirik kepada Carlo.


“Tidak masalah. Tampangku memang agak beringas,” seloroh Ivan, membuat Carlo mengulum bibir untuk menahan tawa.


“Ya sudah. Ayo, kita masuk. Tak enak bercakap-cakap di sini. Terlalu banyak orang yang berlalu-lalang.” Carlo mengarahkan tangan ke dalam gedung, sebagai isyarat agar Oxana mengikutinya.


“Karena apa yang akan kita bicarakan adalah suatu hal yang teramat besar dan bersifat rahasia, Oxana,” jawab Carlo. Saat itu, dia tengah berjalan di samping gadis cantik berambut pirang tersebut.


Dari jarak dirinya berdiri, Oxana dapat mendengar dengan jelas hembusan napas Carlo yang teratur. “Apakah itu?” dia melirik ke arah Carlo dengan malu-malu. Walaupun dalam keremangan yang hanya mendapatkan seberkas sinar dari cahaya rembulan saja, tetapi wajah tampan Carlo masih dapat tergambar dengan jelas dalam penglihatan Oxana.


“Apakah kau sudah mengetahui siapa identitas asli dari pria yang dirimu panggil dengan nama Carlo ini, Nona?” Belum sempat sang tuan muda menjawab, Igor sudah lebih dulu menyela.


“A-aku tidak tahu,” jawab Oxana terbata sambil menggelengkan kepala. Lagi-lagi, dia melirik pada pria di sebelahnya.


“Oxana, apakah kau masih mengingat organisasi yang membawamu paksa ke Italia?” Kini, giliran Carlo yang bertanya.

__ADS_1


“Ya, tapi mereka sudah diberangus habis oleh Romeo dan anak buahnya. Dari kabar terakhir yang kudengar, bahkan Romeo de Luca juga menghancurkan markas mereka di perbatasan Slovenia dan Austria hingga tak tersisa,” jelas Oxana.


“Oh ya?” Mata Carlo membulat setengah tak percaya. “Apakah itu artinya, mereka sudah hancur di Italia dan sekitarnya?”


“Ya. Oleh sebab itulah, aku bisa pulang ke Rusia dengan aman. Namun, pergerakanku tak sebebas dulu, karena aku sudah tak bisa keluar dari wilayah Moskow. Aku harus menghindar dari Czar atau dia akan mengeksploitasi diriku lagi,” papar Oxana pilu. “Aku tak bisa pulang ke rumah. Padahal aku sangat merindukan kedua orang tuaku,” imbuhnya.


“Bagaimana kalau aku menawarkan sebuah kerja sama untukmu?” Carlo mengangkat satu alisnya.


“Apakah itu?” Jantung Oxana berdegup kencang, ketika Carlo berjalan semakin mendekat ke arahnya.


“Kembalilah pada Czar dan berpura-puralah mengabdi padanya,” jawab Carlo yang seketika membuat Oxana menggelengkan kepala kuat-kuat.


“Tidak! Aku takut dia akan mengirimku ke luar negeri lagi,” tolak Oxana dengan segera.


“Aku bisa meyakinkanmu bahwa hal itu tak akan terjadi,” tegas Carlo.


“Bagaimana caranya?” sahut Oxana tak percaya.


“Aku tak bisa menjelaskan caranya sekarang, karena yang aku inginkan hanyalah agar kau memercayaiku,” jawab Carlo yang terdengar aneh di telinga Oxana.


“Maaf, Carlo. Aku sama sekali tidak mengerti. Kurasa aku juga tidak bisa melakukan apa yang kau minta.” Oxana mundur perlahan dan berniat untuk meninggalkan ketiga pria itu di sana.


“Tuan muda adalah satu-satunya peluang agar kau benar-benar terbebas dari Czar untuk selamanya!” seru Igor. Mendengar hal itu, Oxana segera menghentikan gerakannya.


“Czar hanyalah kaki tangan tak berguna dari Viktor Drozdov, penguasa Serigala Merah saat ini. Sebelumnya, Viktor Drozdov hanyalah anak haram dari salah satu gundik Vladimir Volkov, kakek dari tuan Carlo, atau yang memiliki nama asli Karl Mikhailov,” lanjut Igor.


“Jika tuan muda berhasil merebut tahta klan Serigala Merah yang memang seharusnya menjadi hak milik dirinya, maka dia akan menghancurkan Viktor Drozdov beserta Czar tentunya. Tuan Mikhailov akan menghancurkan mereka hingga tak tersisa, dan kau sudah pasti bebas menjalani hidupmu. Lepas dari bayang-bayang Czar,” terang Ivan setengah membujuk.

__ADS_1


“Benarkah itu?” Wajah takut Oxana seketika berubah menjadi penuh kekaguman terhadap Carlo.


“Benar sekali, Oxana. Kau pun tak usah khawatir. Selama menjalani misi, aku akan membayarmu dua kali lipat dari upah yang kau terima tiap bulan di bar murahan itu,” jawab Carlo.


__ADS_2