
“Bagaimana ini? Belum apa-apa aku sudah membuat masalah untukmu, Carlo.” Miabella mengempaskan napas pelan.
“Ini bukan salahmu, Cara mia! Aku juga tidak pernah mengenal orang-orang itu,” sahut Carlo seraya mendengus kesal. “Seenaknya saja mereka masuk kemari dan mengatakan kekonyolan seperti tadi!” gerutunya.
“Sebenarnya mereka berdua sudah lama berafiliasi dengan klan kita, Tuan Muda,” sahut Igor setelah beberapa lama terdiam. “Seperti yang tuan Stefan katakan. Banyak dari para tetua Klan Romanov yang menjadi penasihat dan kolega tuan Nikolai," jelasnya.
“Lalu, di mana mereka saat suami dan kedua buah hatiku dibantai, Igor? Di mana mereka saat aku hidup dalam pengasingan?” cecar Fabiola yang tak dapat menahan rasa kecewanya.
“Mereka lebih memilih bermain aman, Nyonya. Mereka berpura-pura untuk tunduk di bawah kekuasaan Viktor, sampai waktunya tiba yaitu ketika tuan muda kembali dan merebut seluruh hak miliknya,” jawab Igor sopan.
“Dari sana saja sudah bisa kujadikan penilaian, sepengecut apa mereka. Klan Romanov tak pernah benar-benar mendukung kita, Igor. Seandainya dulu kita kalah dalam perang melawan Viktor, aku tak yakin jika mereka akan membantu apalagi memberikan perlindungan!” timpal Carlo yang tak kuasa menyembunyikan rasa kesalnya.
“Klan Romanov pasti akan bernaung pada siapa saja yang menguntungkan bagi mereka,” sambung Fabiola. “Aku juga tak sudi berurusan dengan orang-orang bermuka dua seperti itu!” sungutnya sembari melipat tangan di dada.
Beberapa saat kemudian, perhatian wanita paruh baya tersebut berpindah pada Miabella yang tampak gelisah. “Jangan khawatir, Nak. Aku akan selalu mendukung semua pilihan Carlo. Terlebih kau adalah putri dari Adriano D’Angelo. Dia merupakan pria yang sangat berjasa dalam hidupku dan juga hidup putraku,” ucap Fabiola tersenyum lembut, lalu membelai pipi halus Miabella dengan penuh kasih.
"Kau sangat cantik dan juga pemberani. Putraku tak salah dengan memilihmu sebagai pendampingnya. Namun, kusarankan agar kalian segera meresmikan pernikahan yang telah dilakukan tadi sesuai dengan tradisi kita. Dengan begitu, tak ada siapa pun yang akan berani mengusik apalagi sampai menjadikannya sebagai alasan politik untuk menyerang posisi putraku," saran Fabiola. Dia lalu mengecup hangat kening Miabella.
Melihat hal itu, perasaan Carlo pun menjadi sangat lega. Sang ibu menerima pilihan hatinya. “Baiklah. Kurasa kalian semua lelah. Sebaiknya kita segera beristirahat.” Carlo membubarkan barisan pelayan, tak terkecuali Igor yang kini telah menjadi penasihat sekaligus orang kepercayaannya selain Grigori yang lebih banyak menghabiskan waktu di Italia.
“Kuharap setelah ini Anda bisa jauh lebih berhati-hati, Tuan. Jangan menganggap remeh Klan Romanov,” saran Igor mengingatkan sebelum berlalu meninggalkan aula.
“Ya, akan kuperhatikan itu. Terima kasih, Igor,” balas Carlo seraya menepuk pundak pria paruh baya tadi. “Kau juga, Bu. Beristirahatlah.” Pria tampan bermata biru tadi kemudian beralih pada Fabiola.
“Sebenarnya aku belum begitu lelah. Namun, aku tetap akan pergi ke kamar dan membiarkan kalian menikmati saat-saat berdua.” Fabiola tersenyum penuh arti kepada Carlo dan juga Miabella. “Sekali lagi kuucapkan selamat atas pernikahan kalian.” Wanita yang selalu terlihat anggun tersebut, memeluk Carlo dan Miabella secara bergantian, sebelum kembali mengecup kening dua sejoli tadi.
Sepeninggal Fabiola, Carlo segera mengajak Miabella ke kamarnya yang berada di lantai dua Istana Serigala Merah. Sambil berjalan menyusuri setiap bagian yang dilewatinya, Miabella terus menyapukan pandangan pada keindahan arsitektur bangunan megah tersebut.
__ADS_1
"Ibuku menyukaimu, Cara mia. Aku sudah menduga hal itu," ujar Carlo sambil menuntun gadis muda yang kini telah resmi menjadi istrinya, menaiki undakan anak tangga dengan desain meliuk mengelilingi sebuah pilar besar yang tampak sangat kokoh.
"Bagaimana kau bisa begitu yakin?" Miabella melirik Carlo untuk sejenak.
"Karena aku mengenal kalian berdua," sahut Carlo sembari mengangkat tubuh Miabella di atas pundak. sebelah kiri.
"Hey!" Miabella memekik pelan karena rasa terkejut yang luar biasa. Sementara Carlo hanya tertawa renyah sambil terus memanggulnya hingga tiba di depan pintu kamar.
Setelah masuk ke dalam ruangan luas dan mewah yang merupakan ruangan pribadi milik Carlo, barulah pria itu menurunkan tubuh sang istri. Miabella pun kembali mengedarkan pandangan. "Ini kamarmu?" tanyanya.
"Aku tidak mungkin membawamu tidur di kamar ibuku," sahut Carlo seraya merengkuh pinggang ramping Miabella. "Kau tahu, Cara Mia? Ini seperti sebuah mimpi bagiku, ketika bisa memelukmu lagi seperti ini." Carlo membelai lembut rambut panjang wanita muda itu.
"Aku tidak suka saat perawan tua tadi menyentuh rambutku. Andai kami bertemu lagi, apa boleh jika aku menghajarnya?" Miabella menaikkan sebelah alis, kemudian tertawa renyah.
"Apapun yang kau inginkan," sahut Carlo. "Kau adalah putri dari Matteo de Luca yang hidup dalam asuhan Adriano D'Angelo. Kini, dirimu merupakan istri dari Karl Volkov. Wow, luar biasa. Semua gadis pasti ingin menjadi dirimu," ujar Carlo diakhiri dengan sebuah candaan.
"Kau tidak menyukai pesta, Sayangku," sela Carlo sambil tersenyum kalem. "Apakah aku membuatmu kehilangan konsentrasi?" godanya.
"Kau terlalu percaya diri," cibir Miabella seraya membalikkan badan, lalu melepas jaket kulit yang dia kenakan. "Aku ingin mandi," ucapnya kemudian seraya menoleh kepada Carlo yang masih berdiri memperhatikan.
"Akan kutemani," sahut Carlo sambil menunjukkan pintu kamar mandi kepada si cantik penguasa hatinya.
"Aku bisa mandi sendiri," tolak Miabella. Dia bergegas masuk ke sana.
"Kupastikan kau ...." Carlo tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Miabella telah terlebih dulu menutup pintu. Pria itu pun mengempaskan napas pendek sambil berdecak pelan.
Akan tetapi, tak lama kemudian pintu kembali terbuka. "Bisakah kau tunjukkan di mana handuknya?" Kepala Miabella menyembul dari balik dinding penyekat, dengan rambut yang terlihat agak basah.
__ADS_1
"Akan kutunjukkan dengan senang hati," sahut Carlo sembari masuk.
Tanpa terasa malam pun kian larut. Suasana di dalam Istana Serigala Merah sudah sepi. Sebagian besar lampu utama yang berjumlah puluhan telah padam, dan digantikan dengan lampu tempel berwarna kuning temaram.
Saat itu, Miabella terbangun dari tidurnya. Perlahan, dia menyibakkan selimut lalu turun dari tempat tidur tanpa pakaian sama sekali. Miabella kemudian meraih t-shirt yang Carlo pinjamkan, karena wanita muda tersebut pergi dengan tanpa membawa bekal satu helai pun baju ganti. Setelah mengenakan atasan yang bukan untuk ukuran tubuh wanita ramping seperti dia, Miabella kemudian melangkah ke dekat pintu. Baru saja dia menyentuh pegangannya, terdengar suara teguran dari arah belakang. "Kau hendak ke mana?"
Miabella menoleh. Tampaklah Carlo yang sudah terduduk sambil menekuk kedua kaki di depan tubuh. "Kau mau ke mana? Jangan katakan jika dirimu ingin melarikan diri dari sini." Tatapan pria itu tampak sulit untuk diartikan oleh Miabella.
Miabella pun tersenyum. "Aku ingin ke dapur. Perutku sangat lapar," sahutnya seraya meringis kecil.
"Astaga, aku lupa jika kita belum makan malam," decak Carlo seraya menyibakkan selimut. Postur tegapnya yang masih polos pun terlihat jelas saat itu, membuat Miabella begitu asyik memperhatikan. Tak ada satu pun dari gerakan Carlo yang luput dari pengamatan mata abu-abu wanita muda tersebut. Baginya, putra bungsu Fabiola benar-benar seksi, termasuk saat dia memasukkan t-shirt hingga menutupi semua pahatan sempurna dari tubuh atletis tadi. "Mari," ajak Carlo yang sudah berada di hadapan Miabella.
Akan tetapi, wanita muda berambut cokelat itu ternyata tak menanggapi. Entah sadar atau tidak, Miabella malah menyunggingkan sebuah senyuman nakal kepada Carlo yang terlihat keheranan.
"Bukankah kau lapar, Cara Mia?" tanya Carlo memastikan.
"Tadinya. Kurasa saat ini aku ingin makan yang lain saja," jawab Miabella sambil mendongakkan wajah, agar dapat bertatapan langsung dengan pria yang telah menjadi suaminya. Wanita muda itu tersenyum nakal, ketika dia menggerakkan tangan pada sesuatu dari bagian tubuh Carlo. Hal itu membuat sang pemiliknya menahan napas.
Carlo pun makin mendekat, saat sentuhan lembut tangan berjemari lentik Miabella bergerak dengan semakin lincah. Sementara wajah cantiknya semakin mendongak, ketika Carlo melu•mat mesra bibir polos yang malam itu entah sudah berapa kali dia nikmati. Akan tetapi, pertautan manis tersebut tak akan membuat mereka merasa bosan. Helaan napas berat tertahan meluncur dari bibir Carlo, ketika Miabella menurunkan tubuhnya. Pria itu mendongak sambil memejamkan kedua mata, demi meresapi perlakuan luar biasa dari sang istri tercinta.
Malam terus merangkak menghadirkan suasana sepi. Ketika semua orang terlelap dalam mimpi indah mereka, maka lain halnya dengan dua sejoli tadi. Keduanya asyik masyuk di dalam kamar, di atas karpet rasfur yang terletak di bawah sebuah sofa dekat jendela.
Carlo duduk nyaman dengan kaki terulur lurus ke depan sambil bersandar pada sofa. Sedangkan kepala Miabella berada di atas pangkuannya, menari dengan indah dan penuh irama. Sang ketua Klan Serigala Merah pun sesekali tersenyum puas atas pelayanan istimewa tersebut. Dia menyibakkan rambut panjang wanita muda itu agar tak menghalangi gerakan, kemudian menggenggam cukup erat.
"Aku mencintaimu, dan sangat menyukai hal ini," ucap Carlo dengan setengah berbisik. Dia lalu melu•mat bibir Miabella yang telah basah. Perlahan, direbahkannya tubuh polos sang istri. Tak ayal, keindahan raga berbalut kulit putih itu pun menjadi sasaran empuk yang tak mungkin dia lewatkan begitu saja.
Entah untuk yang keberapa kali pada malam tersebut, Miabella kembali merasakan betapa perkasanya seorang Carlo, sehingga dia melupakan rasa lapar karena belum makan malam. Baginya, apa yang tengah dia dan pria itu lakukan saat ini adalah sebuah asupan nutrisi lebih dari sekadar mengenyangkan.
__ADS_1
Karpet raspur berbulu lembut tadi pun menjadi penadah dari setiap tetesan keringat mereka berdua.