
Kepala polisi Ignazio menyarankan agar Marco segera menarik mundur semua anak buahnya, yang masih berada di dalam mansion milik Roderyk Lenkov. Marco pun memutuskan kembali ke Palermo. Begitu juga dengan Carlo. Pikirannya masih kalut saat itu. Namun, dia harus memberitahukan hal ini kepada Adriano dan Mia selaku orang tua Miabella.
Berat bagi Carlo ketika harus memilih nomor kontak Adriano di ponselnya. Entah apa yang akan dia katakan kepada sang ayah mertua. Akan tetapi, sebagai seorang suami yang mengemban tanggung jawab atas keselamatan istrinya, Carlo harus menghadapi segala konsekuensi yang akan dia terima.
“Ayah mertua ….” Ucapan Carlo tertahan.
“Ada apa, Carlo? Apa ada masalah?” Adriano yang berinsting tajam, segera dapat menangkap nada bicara Carlo yang terdengar berbeda.
“Apakah Anda sudah kembali ke Monaco?” tanya Carlo sebelum mengutarakan niat sebenarnya menghubungi sang ayah mertua.
“Ya. Aku dan Mia baru pulang kemarin. Memangnya kenapa? Apa putriku baik-baik saja?” tanya Adriano. Ikatan batin yang kuat dengan Miabella, membuat pria itu seakan dapat merasakan setiap kali ada sesuatu yang buruk terhadap putri sambungnya tersebut.
Sedangkan Carlo tidak segera menjawab. Pria itu berpikir beberapa saat. Dia harus merangkai kata-kata yang pantas dan tak mengundang amarah Adriano, meskipun Carlo tak yakin dengan hal itu.
“Kenapa kau diam, Carlo? Katakan, apa yang terjadi pada putriku?” desak Adriano penuh penekanan. Perasaan sang ketua Tigre Nero semakin yakin bahwa memang ada sesuatu yang tak beres dengan Miabella.
“Ayah mertua … um … begini ….” Carlo kembali terdiam beberapa saat.
“Aku akan membunuhmu andai ….”
“Aku ingin agar anda dan Nyonya Mia segera datang ke Palermo. Ini sangat mendesak,” sela Carlo.
__ADS_1
Adriano tak segera menanggapi. Dia mencoba untuk menerka arah ucapan dari sang menantu. Akan tetapi, Adriano tak berani berpikir terlalu jauh, meskipun dalam hatinya seakan sudah ada jawaban yang tak harus dia tanyakan lagi kepada Carlo. “Miabella ….” Lagi-lagi, kecemasannya tertuju kepada sang putri.
“Iya, ayah mertua,” jawab Carlo. “Kami membutuhkan sampel DNA Nyonya Mia sebagai pembanding ….”
“Carlo!” sentak Adriano tanpa mendengar kelanjutan dari penjelasan sang menantu. “Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!” bentak Adriano, hingga membuat Mia yang baru keluar dari kamar mandi seketika tersentak. Ibunda Miabella tersebut segera mendekat kepada sang suami.
“Ada apa, Adriano?” tanya Mia penasaran bercampur khawatir.
Adriano yang saat itu sudah menutup sambungan teleponnya, bergegas turun dari tempat tidur. “Bersiap-siaplah, Mia. Kita akan ke Palermo sekarang juga.” Raut wajah sang ketua Tigre Nero saat itu terlihat sangat serius. Tanpa banyak bicara lagi, dia berlalu ke dalam walk in closet.
Melihat sikap aneh sang suami, Mia segera mengikutinya ke dalam kamar ganti. Mia mendapati Adriano baru selesai mengemas pakaian untuk mereka berdua. “Ada apa ini, Adriano?” tanya Mia lagi, tanpa melepas raut keheranan yang sejak tadi menggelayuti ibu dua anak tersebut.
“Intinya kita harus segera ke Palermo. Carlo sedang berada di sana,” jawab Adriano. Dia mengecup kening Mia dengan lembut. “Segeralah bersiap-siap. Aku akan ke ruang kerja sebentar. Setelah itu kita akan langsung berangkat.” Adriano berlalu begitu saja tanpa memberikan penjelasan lagi kepada Mia yang masih diliputi rasa penasaran.
Sekitar kurang lebih tiga jam perjalanan udara, harus mereka tempuh hingga tiba di Palermo. Dari Bandara Falcone Borsellino, mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil jemputan yang telah disiapkan oleh Marco. Tak berselang lama, sepasang suami-istri itu pun tiba di Istana de Luca.
Satu hal yang Adriano lakukan saat dirinya baru saja menginjakkan kaki di dalam bangunan megah tersebut, yaitu menghampiri Carlo. Tanpa banyak bicara, dia langsung menyeret kerah baju sang menantu. Menjauh dari Mia dan Daniella, meskipun kedua wanita itu segera mengikuti dengan raut cemas.
“Katakan apa yang terjadi pada putriku?” Adriano mengangkat kerah baju Carlo sambil menyandarkannya pada dinding. “Bicaralah, Karl Volkov!” sentak Adriano.
“Bella menghilang,” jawab Carlo.
__ADS_1
“Apa maksdunya dengan ‘menghilang’?” Nada bicara Adriano penuh penekanan. Tampak jelas bahwa dirinya tengah menahan gejolak amarah yang teramat besar.
Sebelum menjawab pertanyaan sang ayah mertua, Carlo lebih dulu mengatur napasnya. Dia harus tetap tenang dalam menjelaskan detail peristiwa yang terjadi pada malam berdarah itu, di mansion milik Roderyk Lenkov.
“Bicaralah, Karl Volkov! Jangan katakan jika kau menunggu pukulan dariku!” sentak Adriano.
“Begini, Ayah Mertua. Malam itu, aku dan Bella … kami ….” Carlo pun menceritakan semuanya dari awal hingga akhir dengan panjang lebar. Semua dia tuturkan kepada sang ayah mertua, hingga kejadian tragis yang menimpa seorang wanita dalam rekaman video. Wanita yang diduga sebagai Miabella.
“Dasar bodoh!” Satu pukulan keras mendarat di wajah tampan Carlo. Pria itu pun terkulai dengan darah segar yang mengucur dari sudut bibirnya. Namun, Adriano tak merasa puas hanya melayangkan satu serangan kepada menantunya yang tak berniat melawan. Pukulan keras lainnya dia layangkan, lagi dan lagi.
Carlo yang tadinya bertahan dengan tetap berdiri tegak, pada akhirnya ambruk dengan beberapa luka lebam. Mulut dan hidungnya pun mengeluarkan darah cukup banyak.
Tak puas dengan menghajar Carlo secara membabi-buta, Adriano kemudian menyeret tubuh tegap sang menantu ke dekat meja bar. Dia mengambil sebuah botol minuman, kemudian memecahkannya hingga menyisakan ujung rucing pada sisa botol yang dirinya pegang. Tanpa ada rasa segan atau khawatir sama sekali, Adriano mendekatkan ujung botol yang runcing tadi ke leher sang ketua Klan Serigala Merah yang sudah terluka parah.
“Aku tak akan menyesal karena telah kehilangan seorang menantu ceroboh dan tak berguna seperti dirimu!” ucap Adriano penuh penekanan. Sorot mata sang ketua Tigre Nero begitu tajam, bagaikan seekor black panther yang sedang mengawasi mangsanya.
“Anda boleh membunuhku dengan cara paling sadis sekalipun, Ayah Mertua. Aku tak akan melawan sama sekali. Akan tetapi, lakukan itu setelah aku mendapat kepastian bahwa wanita dalam rekaman yang kuceritakan padamu bukanlah Miabella. Jika Vlad Ignashevich telah menghabisi istriku, maka izinkan aku untuk membunuhnya terlebih dulu. Baru lampiaskan kemarahan Anda padaku. Namun, jika ternyata wanita itu adalah orang lain, maka aku tak akan pernah mati sebelum menemukan Miabella kembali."
🍒🍒🍒
Hai. Satu lagi rekomendasi novel keren untuk semua.
__ADS_1