The Bodyguard

The Bodyguard
Sweet Touch


__ADS_3

“Membawaku ke mana?” tanya Miabella datar dan dingin. “Bukankah kau sudah berjanji bahwa tak akan datang kemari jika aku tak memintamu?”


“Kulupakan janji itu daripada kau harus berakhir dengan pria lain,” sahut Carlo tegas.


“Apa maksudmu?” tanya Miabella lagi tak mengerti. Gadis itu menggeleng pelan, kemudian bermaksud kembali ke dalam kamar sambil berusaha menutup pintu. Namun, dengan segera Carlo menahannya. “Hentikan, Carlo!” sergah Miabella tegas. Dia berusaha untuk mendorong tubuh tegap pria yang berusaha untuk masuk ke kamarnya.


Akan tetapi, Carlo bergeming. Tenaga Miabella tak cukup kuat untuk menggeser posturnya yang jauh lebih besar dari gadis cantik tadi. Carlo memaksa menerobos masuk, meskipun sang pemilik tak mengizinkan. Saat itu, sang ketua Klan Serigala Merah tersebut langsung berjalan menuju lemari baju Miabella. Dia lalu membukanya dan mengambil satu setel pakaian yang berupa celana jeans, t-shirt lengan panjang, beserta sebuah jaket kulit berwarna cokelat.


Setelah itu, Carlo lalu mengambil sepasang sepatu kets berwarna putih dan mengumpulkannya dengan pakaian tadi. Dia tak peduli meskipun Miabella terus mengikuti segala hal yang dirinya lakukan, dengan tatapan tajam diliputi rasa heran luar biasa.


“Apa-apaan ini, Carlo?” protes Miabella. Sejak tadi, gadis itu hanya terpaku memperhatikan si pria yang ke sana kemari menyiapkan pakaian serta perlengkapan lain untuknya. Saking mengenal Miabella dan juga setiap sudut kamar gadis yang pernah menjadi kekasihnya tersebut, Carlo bahkan sudah tahu di mana Miabella meletakkan ikat rambut dan segala pernak-pernik.


“Kemarilah.” Carlo menarik perlahan tangan Miabella agar mendekat padanya. Dia lalu melepas baju tidur gadis itu meski Miabella menolak dengan keras. Namun, Carlo tetap memaksa. Dengan gerakan yang terbilang cepat, pria tersebut mengganti atasan singlet yang Miabella kenakan dengan baju yang sudah tadi dirinya siapkan.


Untuk sejenak, pria tampan bermata biru tersebut harus menahan napas, ketika dia menurunkan celana tidur gadis itu dan menggantinya dengan celana jeans. Namun, sebisa mungkin sang ketua Klan Serigala Merah berusaha menepiskan segala gejolak yang membuat dirinya merasa tak nyaman.


“Apa-apaan kau, Carlo?” Miabella kembali mencoba untuk menolak perlakuan mantan pengawal pribadi sekaligus kekasihnya tadi.


Akan tetapi, Carlo tak membiarkan gadis cantik itu sedikit pun. Dia lalu mendudukkan Miabella di ujung tempat tidur. Dengan cekatan, tangan pria tampan tersebut menyisir rambut panjang si gadis lalu mengikatnya.


“Aku biasa merapikan rambut adik-adikku saat di panti dulu,” ujar Carlo tanpa ditanya. Dia tak peduli meskipun Miabella tak menanggapinya sama sekali.


Setelah selesai dengan urusan rambut, Carlo kemudian memakaikan gadis itu jaket dan juga sepatu. Ketika dia setengah berlutut untuk memasangkan sepatu di hadapan Miabella, gadis cantik tersebut hanya menatapnya dengan lekat.


Sesaat kemudian, Carlo kembali menegakkan tubuh. Dia mengulurkan tangan dengan maksud membantu Miabella agar berdiri. “Untuk apa?” tanya Miabella lagi.


“Aku ingin membawamu melihat dunia, seperti yang sering kita lakukan dulu. Apa kau tidak merindukan semua itu?” Tatap mata Carlo lekat menghujani paras cantik gadis pujaannya. Begitu lembut dan juga penuh cinta. Karakter seorang Carlo yang ramah serta hangat, tak pernah berubah meskipun kini dirinya telah menjadi seorang ketua klan dari organisasi besar Rusia.

__ADS_1


“Ayolah, jangan buang-buang waktu,” ajak Carlo lagi, “atau perlukah kugendong hingga keluar?” Pria itu sudah membungkuk bermaksud hendak mengangkat tubuh Miabella yang masih saja duduk di ujung tempat tidur.


“Tidak usah!” tolak gadis cantik tersebut dengan segera. Dia lalu bangkit dari duduknya, kemudian berjalan keluar kamar mendahului si pria yang langsung menyunggingkan sebuah senyuman puas.


“Akan kubelikan perlengkapan safety riding saat di jalan nanti,” ujar Carlo setelah duduk di atas motor. Dia mengisyaratkan Miabella agar segera naik.


Setelah gadis itu duduk nyaman di belakangnya, barulah Carlo melajukan motor keluar dari area Casa de Luca. Sesuai dengan yang tadi dia ucapkan, dalam perjalanan Carlo menyempatkan diri untuk membeli perlengkapan bagi Miabella mulai dari helm, sarung tangan, dan sebagainya. Kini, gadis itu pun telah aman untuk memulai petualangan mereka.


Miabella tak banyak bicara. Pada awalnya, dia duduk normal dengan memberi jarak dari Carlo. Namun, makin lama dia semakin merapat. Gadis cantik itu tampaknya mulai menikmati perjalanannya kali ini.


“Kau akan membawaku ke mana?” tanya Miabella ketika mereka telah tiba di sebuah penginapan, yang berada di luar kota Brescia. Keduanya bahkan telah meninggalkan jauh wilayah tersebut dan tak lama lagi akan keluar dari perbatasan Italia.


“Aku ingin membawamu ke tempat paling aman, di mana tak akan ada yang mengusik ....” Carlo menjeda kalimatnya. “Kau belum mengetahui apa yang akan dilakukan oleh tuan Marco dan tuan Adriano?” tanya pria itu hati-hati.


“Memangnya apa yang mereka lakukan?” tanya Miabella tanpa ekspresi yang terlalu berlebihan.


Sontak hal itu membuat gadis cantik berambut cokelat tadi terbelalak tak percaya. Namun, dia tak ingin percaya begitu saja. “Kau tidak perlu melakukan sampai sejauh ini hanya untuk membuatku kembali, Carlo,” tegur Miabella dengan tegas.


“Romeo yang memberitahuku,” sahut Carlo menegaskan. “Dia mengatakan bahwa tuan Marco de Luca dan tuan Adriano sedang menyusun daftar penerima undangan untuk acara tersebut,” ucap Carlo lagi meyakinkan Miabella.


“Aku tidak bisa mempercayai ini!” tolak Miabella dengan segera. Dia beranjak dari duduknya, kemudian menjauhi Carlo.


Miabella meraih ponsel yang tersimpan di saku celana, kemudian mulai menghubungi Romeo.


Dari tempatnya berdiri, Carlo memperhatikan lekat-lekat setiap gerak gadis yang membuatnya tergila-gila itu. Miabella tampak mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Romeo di telepon dengan raut gusar. Sesaat kemudian, gadis itu mengakhiri panggilannya dan melempar benda pipih yang dia pegang dengan begitu saja di atas kasur.


“Apa-apaan ini! Paman Marco dan daddy zio sudah keterlaluan!” sungut Miabella seraya mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang.

__ADS_1


“Menurutku, itu adalah hal yang wajar, Nona. Mereka terlalu mengkhawatirkanmu.” Carlo berusaha mendekat dengan duduk di sisi ranjang yang ditempati Miabella.


“Aku tidak membutuhkan rasa khawatir dari siapa pun!” sahut gadis cantik itu ketus.


“Tidak begitu, Nona. Orang yang benar-benar mencintai dan peduli denganmu, akan selalu mengkhawatirkan hal sekecil apapun. Itu tanda bahwa mereka memperhatikan dan menyayangimu,” ucap Carlo pelan dan hati-hati.


Sekuat tenaga dirinya menahan debaran jantung dan gejolak yang mulai menggila, ketika melihat Miabella berbaring dalam posisi telentang.


“Sekarang aku merasa jauh lebih nyaman sendirian berada di dalam kamar, sambil merenung tentang hidup,” sahut Miabella beberapa saat kemudian. Matanya kosong menerawang ke langit-langit penginapan.


“Apa yang membuatmu berubah, Nona?” tanya Carlo lagi.


“Rasa rindu yang teramat sangat dan tak bisa diobati. Juga rasa kehilangan yang begitu besar,” jawab Miabella. Setitik butiran bening meleleh dari sudut matanya.


“Maafkan aku, Cara mia,” ucap Carlo lirih.


“Kau sangat keterlaluan, Carlo. Setidaknya, meskipun kau pergi tetaplah menghubungi dan menerima pesan yang kukirimkan. Dengan begitu, aku tidak perlu merasa bahwa kau telah membuangku seperti sampah,” ungkap Miabella lagi.


“Nona.” Dengan ragu-ragu, Carlo ikut merangkak naik ke atas ranjang, kemudian berbaring di sisi Miabella.


“Berapa kali harus kujelaskan bahwa aku tidak pernah membuangmu,” bantah pria itu. Mata biru Carlo sendu memindai setiap inci wajah cantik gadis pujaannya. Mereka kini berbaring saling berhadapan, karena tak ada lagi sikap penolakan dari putri Matteo de Luca tersebut.


“Grigori melarangku untuk menghubungimu, karena dia khawatir jika musuh-musuhku akan menyadap panggilan yang masuk dan keluar. Hal itu juga membahayakan dirimu, Cara mia,” jelas Carlo. Tangan kekarnya terulur, kemudian menyentuh pipi halus sang kekasih.


“Seharusnya Grigori mengabariku tentang kejadian buruk yang kau alami waktu itu. Namun, dia menyembunyikannya semuanya. Jika diriku tahu sejak awal, sudah pasti aku akan datang dan terus mendampingimu,” sesal Carlo. "Akan tetapi, dia melakukan hal demikian bukan tanpa alasan. Semuanya hanya karena agar diriku bisa tetap fokus pada tujuan. Kau tak tahu betapa mengerikannya apa yang telah terjadi pada ayah dan kedua saudara kembarku." Sorot mata Carlo terlihat semakin sendu.


"Kau memiliki saudara kembar?" tanya Miabella mengulangi ucapan Carlo.

__ADS_1


"Ya. Akan tetapi, mereka tewas bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan ayahku. Tujuan awalku hanya ingin sebuah kelayakan. Namun, pada akhirnya menjadi jauh lebih dari itu."


__ADS_2