
Perjalanan Carlo dan Miabella kini telah tiba di sebuah kota kecil bernama Braslav yang menjadi bagian dari wilayah Vitebsk, Belarusia. Di sana, Carlo mengajak gadis pujaannya itu untuk sedikit bersenang-senang menikmati indahnya danau yang sangat terkenal, dan merupakan tempat bagus untuk bersantai sambil mengamati satwa liar. Danau Braslav adalah sebuah waduk dan taman nasional, dengan luas sekitar seratus tiga puluh kilometer persegi.
Di sana juga ada beberapa pondok kayu yang bisa disewa sebagai tempat menginap. Tentu saja hal tersebut menjadi sebuah kesempatan yang bagus bagi keduanya, untuk dapat melepas lelah sambil menikmati keindahan alam Belarusia.
"Setelah dari sini, kita akan segera tiba di Rusia. Aku ingin agar kau berkenalan dengan ibuku," ucap Carlo setelah melepas segala atribut berkendara yang dia kenakan. Akan tetapi, Miabella tak segera menanggapi. Gadis itu berdiri di dekat jendela sambil menatap keluar, pada pemandangan indah yang terhampar luas di hadapannya.
Melihat hal itu, Carlo segera menghampirinya dan ikut berdiri di sana. "Ini sangat menyenangkan bukan? Melihat pemandangan alam akan lebih menghibur, daripada hanya menatap dinding kamar yang monoton," ujarnya.
"Aku pernah memasang fotomu di dinding kamarku," sahut Miabella tanpa menoleh kepada Carlo yang segera mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Sungguh?" tanya Carlo setengah tak percaya.
"Ya. Setiap hari kulempari fotomu dengan tomat, sampai Luciella merasa bosan saat membersihkannya. Setelah itu dia meminta izin untuk memindahkan ke ruangan lain. Lalu, aku menyuruhnya menyimpan fotomu di dalam gudang." Miabella menoleh sambil menatap Carlo. Gadis itu kemudian tersenyum aneh padanya.
"Astaga," decak Carlo semakin tak percaya. "Seandainya aku mengenalmu baru satu atau dua hari, maka ... tenang saja, Cara mia. Apapun yang kau lakukan, perasaanku tak akan pernah berubah padamu. Aku akan selalu ...." Carlo tak sempat menyelesaikan kata-katanya, karena suara dering ponsel yang berbunyi.
Nama Igor tertera di layar sebagai pemanggil. Dengan segera, Carlo pun menjawabnya. Sekian lama tinggal di Rusia, apalagi setelah dia mengajukan untuk pindah kewarganegaraan atas bantuan dari Grigori dan juga Fyodor, tentu saja sang ketua Klan Serigala Merah telah dapat menguasai bahasa negara tersebut dengan fasih.
Pria itu terdengar berbincang beberapa saat di telepon. Sementara Miabella asyik menatap pemandangan pada musim semi yang baru saja datang menggantikan musim dingin. Gadis itu dapat mendengarkan percakapan antara Carlo dengan lawan bicaranya. Akan tetapi, dia tak dapat memahami satu kata pun, yang keluar dari mulut pria yang kini mulai masuk kembali dalam kehidupannya.
__ADS_1
"Baiklah." Carlo mengakhiri perbincangannya. Dia meletakkan ponsel, lalu kembali ke dekat Miabella berada.
"Kau sudah fasih berbicara bahasa Rusia," ucap Miabella sambil membalikkan badan kepada Carlo.
"Aku sudah menjadi warga negara Rusia. Akan sangat konyol jika tak menguasai bahasanya," sahut Carlo menanggapi.
"Oh begitu. Jadi, kau sudah benar-benar meninggalkan Italia?" Miabella menaikkan sebelah alisnya yang terbentuk dengan rapi dan indah.
"Tidak sepenuhnya, karena aku belum meninggalkanmu dan segala kenangan kita di sana," jawab Carlo yang membuat Miabella langsung tertawa sinis.
Gadis itu pun kembali mengarahkan pandangan ke luar jendela. Dia lalu terdiam beberapa saat, sampai akhirnya kembali berkata, "Omong-omong, aku lapar. Selain itu, aku juga belum mengganti pakaian dalam sejak kita berangkat dari Italia beberapa hari yang lalu. Rasanya sungguh tidak nyaman." Miabella mengempaskan keluhan pendek.
Sedangkan Carlo hanya tertawa pelan. Kita akan keluar sebentar lagi, karena aku juga demikian," sahutnya seraya berlalu ke bagian lain pondok kayu tadi.
Carlo pun segera menoleh. Dia lalu beranjak ke dekat jendela, kemudian mengedarkan pandangan. Namun, lagi-lagi dirinya tak menemukan apapun yang tampak mencurigakan. "Siapa yang kau lihat?" tanya pria itu serius.
"Entahlah. Aku hanya merasa jika ada yang tengah menguntit kita berdua," sahut Miabella sedikit ragu.
"Tuan Adriano kemarin datang ke tempatku. Dia bermaksud untuk menggeledah istana Serigala Merah," ujar Carlo.
__ADS_1
"Jika daddy zio yang menyuruh mereka, maka untuk apa dia mencariku hingga ke sana. Apa menurutmu ada sesuatu yang salah, Carlo?" Miabella menatap lekat pria bermata biru di hadapannya.
Carlo pun tampak berpikir selama beberapa saat. Gerak matanya menyiratkan bahwa saat itu dia tengah benar-benar serius. "Aku sudah menumpas habis seluruh anak buah Viktor. Tak ada yang tersisa lagi dari pengkhianat tua itu," pikir Carlo.
"Sudahlah. Mungkin itu hanya perasaanku," ujar Miabella seraya berlalu dari hadapan Carlo, yang segera diikuti oleh pria tersebut. Keduanya bermaksud untuk membeli beberapa barang ke toko terdekat sambil mencari makan.
Ada banyak hal lucu dan menggemaskan, ketika mereka saling memilihkan pakaian dalam. Setidaknya saat itu Miabella dapat menemukan kembali tawa lebarnya yang telah lama menghilang. Carlo yang sudah memberi luka teramat menyakitkan, dan kini pria itu juga yang berusaha untuk menjadi penawarnya.
Seusai dari membeli beberapa kebutuhan pribadi serta mengisi perut, Carlo kemudian mengajak Miabella mengunjungi sebuah bangunan yang ikonik dari kota Braslav. Adalah sebuah tempat yang merupakan tempat ziarah. Bangunan itu bernama Gereja Kelahiran Perawan Maria yang didirikan pada tahun 1824. Gereja itu sendiri dibuat dari dari batu alam dan batu-bata yang tidak diplester, dengan pecahan batuan kecil bermotif dan membentuk sebuah mozaik, yang kini dikenal sebagai Braslav Mosaic.
"Ayo," ajak Carlo seraya menuntun gadis itu untuk menaiki beberapa undakan anak tangga, hingga tiba di bangunan yang dimaksud. Mereka berdua pun kemudian masuk ke sana. Di dalam gereja tadi, terdapat deretan bangku kayu yang ditata rapi, di antara berbagai ornamen indah pelengkapnya. Carlo terus menuntun Miabella hingga mereka berdiri di dekat altar. Dua sejoli itu pun berdiri dengan saling berhadapan.
"Suatu saat nanti, kau pasti akan berdiri di hadapanku dalam balutan gaun pengantin yang indah. Jika seorang Karl Volkov sudah berkata demikian, maka tak ada siapa pun yang akan dapat mencegahnya untuk mewujudkan hal tersebut. Aku bersumpah padamu, Cara mia." Carlo mengalihkan tangannya pada wajah Miabella yang hanya terdiam menatap dengan sorot aneh. Namun, gadis itu tak menolak, di saat Carlo menyentuh bibirnya dengan lembut dan mesra.
Miabella menyukai apa yang Carlo berikan. Dia merindukan hal itu, meski ada satu sisi hati yang masih menolak dan selalu mengingatkan dirinya, akan segala rasa sakit dalam penantian serta kehilangan yang besar. Namun, setidaknya kali ini dia mulai kembali bersedia melihat dunia, meski harus meninggalkan tanggung jawab di Casa de Luca. Sesuatu yang membuat Vlad Ignashevich merasa semakin gelisah.
Seusai dari gereja, Carlo kemudian mengajak Miabella untuk berkeliling menikmati cahaya mentari di musim semi. Di antara rindangnya pepohonan tepi danau, ada sebuah jembatan kayu yang menjorok ke tengah. Mereka berdua pun berjalan menyusuri jembatan kayu tadi.
"Mari abadikan sedikit kenangan di sini," ujar Carlo seraya mengeluarka ponselnya. Dia lalu berdiri di dekat Miabella dan mengarahkan kamera depan ponsel kepada mereka berdua. Beberapa foto pun diambil dalam berbagai pose berbeda. Carlo bahkan sempat mengambil beberapa foto dari Miabella. Gadis itu sangat cantik dalam jepretan kamera, meski diambil secara diam-diam.
__ADS_1
"Apa kau menyukainya, Cara mia?" tanya Carlo. Sedangkan Miabella tidak menjawab. Gadis itu hanya menoleh, kemudian tersenyum lembut.
"Aku ingin memotretmu lagi dan menyimpan banyak foto-foto cantik ini dalam galeri ponselku," ujar Carlo seraya mengarahkan kembali kamera telepon genggamnya kepada Miabella. Namun, seketika dia tertegun, ketika dirinya menangkap satu bayangan misterius di balik pepohonan.