The Bodyguard

The Bodyguard
Skull Cabinet


__ADS_3

“Maafkan aku, Bu. Aku sungguh tak tahu akan hal itu,” sesal Carlo seraya memandang lembut sang ibu.


“Tidak apa-apa, Nak. Sama sekali tak masalah bagiku. Datanglah ke sana, dan kau akan langsung merasa takjub. Rumah kaca adalah salah satu tempat di mana kau bisa menikmati sinar matahari secara langsung tanpa adanya gangguan. Apalagi sekarang adalah saat yang paling tepat, sebab matahari tidak akan terbenam selama beberapa minggu ke depan,” ujar Fabiola.


Sontak kalimat ibunda Carlo itu membuat pasangan pengantin baru tadi saling pandang. “Kalau begitu, kami akan ke sana setelah sarapan. Siapa yang mau turut denganku?” tanya Carlo. Mata birunya menatap Ivan dan Grigori secara bergantian.


“Maaf, Tuan. Kami berdua harus menghadiri rapat penting untuk menggantikan Anda. Ini tentang kilang minyak yang berhasil kita ambil alih,” tolak Ivan sopan.


“Bagaimana kalau daddy zio saja yang ikut bersama kita?” cetus Miabella. “Kasihan dia tak punya teman. Sungguh tak mungkin daddy Zio akan ikut melihat taman bunga mawar,” sambung wanita muda itu sembari meringis lucu.


“Betul juga,” gumam Fabiola, lalu terbahak. Tawanya menghangatkan suasana di meja makan pagi itu.


Hingga satu jam berlalu, acara makan bersama telah selesai. Mereka lalu meninggalkan ruangan, untuk menyambut aktivitas masing-masing. Begitu pula Adriano yang menyetujui ajakan Miabella. Dia menurut saja saat putri kesayangannya itu melingkarkan tangan ke lengan kekar ketua Tigre Nero tersebut. Bagi Adriano, hari ini patut diabadikan dalam sejarah hidupnya, sebab Miabella kembali pada sikap yang hangat dan teramat manja kepadanya.


“Kalian akan mengajakku ke mana?” tanya Adriano dengan sikap yang tetap terlihat kalem, sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


“Sedikit lagi, Ayah mertua,” jawab Carlo penuh semangat. Ketiganya berjalan melintasi tepian kolam renang luas, lalu berbelok ke kanan. Mereka melewati jalan setapak berbatu dan membelah halaman rumput yang teramat luas. Setelah itu, ketiganya berhenti pada sebuah bangunan terbuat dari kaca. Bangunan tersebut berbentuk kubah raksasa yang terlihat begitu indah.


“Lewat sini.” Carlo mengarahkan ayah dan istrinya ke sebuah pintu kecil yang juga terbuat dari kaca. Saking kecilnya, Adriano sampai harus merunduk untuk bisa masuk ke dalam sana. Begitu pula dengan Carlo dan Miabella.


Namun, rasa tak nyaman saat memasuki ruang kaca tersebut, terbayarkan dengan pemandangan indah di dalamnya. Terdapat pohon cemara yang tumbuh di sekeliling dinding rumah kaca, ditambah tanaman hias lain yang tertata apik sebagai pengisi ruang raksasa tersebut.


Carlo sempat berdecak kagum. Bagaimana tidak, dari yang dirinya ketahui bahwa rumah kaca tersebut sudah ditinggalkan dan tak terawat. Ajaibnya, segala tumbuhan yang hidup di dalam tempat itu, sama sekali tak layu, walaupun sekitarnya tampak kotor dan juga berantakan.


Di tengah-tengah ruang kaca, terdapat sebuah kolam kecil yang berisi air jernih. Namun, tak ada satu pun ikan yang ada di sana. Bagian tengah kolam berbentuk lingkaran, terdapat patung malaikat kecil yang tengah mengangkat tangannya sambil memegang sebuah panah.


“Kita harus memulai dari mana, Carlo?” tanya Miabella.

__ADS_1


“Mencari apa?” Adriano yang mulai curiga, segera mengernyitkan kening.


“Mencari harta karun, Daddy Zio!” Miabella tersenyum lebar.


“Harta karun apa?” Adriano menggeleng tak mengerti.


“Carlo menemukan sebuah ruangan rahasia yang terletak di bawah tungku perapian. Semua petunjuk yang telah kami temukan, ternyata menuntun ke tempat ini,” terang Miabella antusias.


“Kalian seperti anak kecil saja,” cibir Adriano sambil berdecak pelan. Akan tetapi, Carlo tak menghiraukannya. Dia malah asyik mengamati ujung panah yang berkilauan tertimpa cahaya matahari pagi. Kilau tersebut semakin terlihat menyilaukan seiring matahari yang semakin meninggi.


“Sampai kapan kita harus berada di sini?” Adriano mulai tak sabar. Dia melepas satu kancing kemeja putihnya, sebab merasa kepanasan di ruangan tersebut.


“Sebentar lagi, Ayah mertua,” jawab Carlo.


“Mungkin kita bisa menunggu sambil berjalan melihat-lihat tanaman, Daddy Zio,” ajak Miabella.


“Tentu saja berbeda. Kegiatan ibu pastilah sangat membosankan. Tidak seperti kita yang ....”


“Hei, Bella! Lihat ini!” seru Carlo memotong perkataan istrinya. Pria tampan itu masih berada di depan kolam dan mengamati patung di depannya.


“Ayo!” Miabella segera menarik tangan Adriano, kemudian berjalan mendekat.


“Beruntung sekarang matahari bersinar selama dua puluh empat jam. Kita jadi tidak perlu menunggu hingga tengah hari,” ujar Carlo. Satu telunjuknya mengarah pada ujung panah patung tadi yang terbuat dari besi. Benda itu berubah warna dari hitam menjadi keemasan. Iseng, Miabella menyentuhnya.


Dia sangat terkejut ketika ujung panah tersebut ternyata dapat diputar.


“Hati-hati, Bella. Benda itu terlalu runcing,” ujar Adriano mengingatkan.

__ADS_1


Belum sempat Miabella menanggapi, tiba-tiba saja kolam itu bergerak dengan sendirinya, membuat getaran yang terasa cukup kencang. Adriano dan Carlo mengira bahwa telah terjadi gempa, sehingga mereka berdua spontan memeluk Miabella untuk melindungi gadis cantik itu.


“Ayo, cepat. Kita keluar dari sini!” ajak Adriano sebelum getaran kencang itu mendadak berhenti.


Dia menjadi heran ketika melihat kolam yang berada di depannya, sudah terbelah menjadi dua.


“Ini bukan gempa.” Miabella mengurai pelukan dari dua pria di samping kiri dan kanannya. Dia lalu mendekat ke arah kolam.


“Getaran tadi berasal dari sana,” tunjuk Miabella pada kolam yang terbelah sempurna dan bergeser ke arah berlawanan. Di bawah kolam itu ternyata terdapat lubang berbentuk lingkaran yang dilengkapi dengan anak tangga.


“Menuju ke mana itu?” pikir Adriano. Dia mulai tertarik dengan apa yang mereka dapati barusan.


“Mari kita cari tahu.” Carlo menaikturunkan alis sembari tersenyum lebar. Dengan penuh semangat, pasangan suami istri itu bergandengan, kemudian menuruni anak tangga secara beriringan. Sedangkan Adriano berada di posisi paling belakang, masih dengan gayanya yang tenang dan kalem. Hingga pada anak tangga terakhir, mereka bertiga harus menghentikan langkah karena sebagian dasar ruang bawah tanah tersebut terendam air.


“Jalan buntu,” gumam Adriano.


“Tidak juga, Ayah mertua. Biar kuperiksa,” ujar Carlo melipat bagian bawah celana cargonya, lalu mencoba memasukkan kaki ke dalam air yang terasa begitu dingin. Tak dia sangka, ternyata air itu cukup dalam dan membuat Carlo tergelincir. Ketua Klan Serigala Merah tersebut tercebur ke dalamnya dan sempat tenggelam untuk beberapa saat.


“Carlo!” pekik Miabella panik. Dia hendak melompat untuk menolong sang suami. Akan tetapi, Adriano lebih dulu mencegah.


“Tunggu di sini, Bella!” tanpa berpikir panjang, Adriano langsung melompat dan menyelam ke dalam air. Pandangannya terbatas, akibat sedikit sekali cahaya yang masuk. Beruntung, insting Adriano teramat kuat. Sambil meraba, dirinya menemukan Carlo di dasar. Adriano dapat merasakan, menantunya itu bergerak-gerak tak beraturan.


Setelah memusatkan perhatian, tampaklah dengan jelas bahwa Carlo tengah menarik rantai besi yang menjadi satu dengan lantai di dasarnya. Adriano semakin memfokuskan pandangan. Dia menyadari bahwa rantai itu terhubung ke sebuah penutup seukuran tubuh anak-anak berbentuk lingkaran yang juga terbuat dari besi.


Secepat kilat, Adriano membantu Carlo untuk menarik rantai itu hingga penutupnya tertarik dan terbuka. Genangan air yang dalam tadi pun langsung tersedot ke dalam lubang tersebut sampai habis tak tersisa. Kini, tinggal Adriano dan Carlo yang berdiri di dasar ruang bawah tanah. Lantainya terbuat dari keramik yang sudah berlumut.


“Kalian tidak apa-apa?” Miabella berlari turun dan menghampiri mereka berdua. Namun, kedua pria itu tak menjawab. Mereka seolah membeku dengan pandangan takjub tertuju pada satu arah.

__ADS_1


Adalah sebuah lemari kaca berukuran sangat besar yang didesain untuk menempel dengan dinding ruangan yang berbentuk melingkar. Beberapa bagian sudah penuh oleh lumut yang menempel. Namun, seiring dengan mengeringnya genangan air, lumut itu terlepas dengan sendirinya, menampakkan isi di dalam lemari yang cukup mengerikan. Ratusan tulang tengkorak, bertumpuk menjadi satu dengan lembaran kertas yang masih utuh, memenuhi lemari kaca itu.


__ADS_2