The Bodyguard

The Bodyguard
Great Idea


__ADS_3

"Tolong biarkan aku untuk memperbaiki semuanya, Nyonya. Aku sudah bukan lagi Carlo yang dulu. Aku telah memantaskan diri untuk berdampingan dengan putri Anda." Pelan tapi terdengar begitu pasti dan sangat meyakinkan, apa yang Carlo ucapkan kepada Mia. Sorot mata pria itu pun menyiratkan kesungguhan yang dapat dilihat jelas meski hanya sekilas pandang.


"Jangan salah paham, Carlo. Aku ataupun Adriano, tak pernah melihat dirimu sebagai seseorang yang hina. Kami berdua justru sangat menyayangimu. Berkali-kali kukatakan bahwa kau adalah putra yang tak pernah kumiliki. Alasan kami, khususnya Adriano adalah ...." Mia tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena saat itu terdengar sebuah benda pecah-belah yang jatuh dengan cukup keras di atas lantai.


Dengan segera, Carlo berlari menuju ke kamar Miabella. Dia membuka pintu dan mendapati gadis itu tengah memunguti pecahan beling di atas permukaan lantai. "Nona!" Pria itu berlari mendekat, kemudian setengah berjongkok di dekat putri sulung Mia tersebut. "Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Aku ... aku tidak sengaja menjatuhkannya, Carlo," sahut Miabella yang terlihat resah.


"Sudahlah, tak apa-apa," ucap Carlo seraya membantu memunguti serpihan beling yang sepertinya merupakan botol parfume. Padahal lapisan kaca yang digunakan untuk botol itu cukup tebal. Kecil sekali kemungkinan pecah jika hanya karena tersenggol. Carlo yakin jika Miabella pasti melemparnya dengan sengaja dan juga kencang.


"Ada apa, Sayang?" tanya Mia yang baru masuk ke dalam kamar. Dia melihat Miabella berdiri tak jauh dari Carlo yang belum selesai memunguti pecahan botol tadi. "Astaga." Mia segera menghampiri dua sejoli itu. "Tak apa-apa, Bella," ucapnya pelan. "Sudahlah, Carlo. Biar pelayan yang membersihkannya," cegah Mia.


Carlo pun berdiri. Dia memandang ke arah Miabella yang juga tengah menatapnya. "Masih ada serpihan kecil yang harus segera dibersihkan," ucap pria bermata biru itu tanpa mengalihkan perhatian sedikit pun.


"Aku akan memanggil pelayan dulu," ucap Mia seraya berlalu dari dalam kamar. Dia meninggalkan putri bersama mantan pengawal pribadinya.


"Kenapa kau belum pergi juga?" tanya Miabella dingin.


"Aku sedang berbincang dengan nyonya D'Angelo barusan," sahut Carlo. Dia lalu mendekat. Akan tetapi, Miabella segera membalikkan badan. "Nona, kumohon. Aku hanya punya waktu selama satu minggu di sini. Aku tak ingin kedatanganku kemari menjadi sia-sia," pinta Carlo dengan penuh harap.


"Jangan mengharapkan apapun dariku, Carlo. Kau hanya akan kecewa. Jangankan untuk orang lain, aku bahkan tak tahu dengan arah langkahku sendiri." Terdengar desa•han pelan dari bibir Miabella.


“Aku berjanji akan memperbaiki semuanya untukmu, Nona. Untuk kita berdua.” Carlo memberanikan diri untuk menyentuh pundak Miabella. Akan tetapi, gadis itu lebih dulu menggerakkan bahunya agar tangan Carlo tak mendarat di sana.


“Jangan berjanji apapun padaku. Aku takut ….” Miabella menghentikan kalimatnya begitu saja.


“Apa yang kau takutkan?” tanya Carlo tak mengerti.


“Aku takut kau akan pergi meninggalkanku lagi,” jawab Miabella sambil terisak pelan.


“Aku bersumpah tak akan meninggalkanmu lagi, Nona. Peganglah kata-kataku ini.” Carlo lalu merogoh sesuatu dari saku celananya. Dua buah cincin perak berbentuk dan dengan motif sama, dia serahkan pada kekasih hatinya.


“Lihatlah. Tiga tahun lalu, aku sudah berniat melamarmu dengan menggunakan cincin ini. Akan tetapi, tuan Adriano sudah lebih dulu mengusirku. Setelah itu, aku menyimpan dua benda ini sampai waktunya tiba ketika aku dapat bertemu denganmu lagi, lalu siap untuk membawamu pergi,” tutur Carlo.

__ADS_1


Sedangkan Miabella sama sekali tak membalikkan badan. Dia terus memunggungi pria tampan yang tak sedetik pun melepaskan pandangannya dari gadis cantik itu. “Apa kau mencintaiku, Carlo?” tanyanya setelah beberapa saat terdiam.


“Tak perlu kau pertanyakan hal itu. Kau pasti sudah mengetahui jawabannya, Nona,” sahut Carlo. Suaranya terdengar begitu dalam dan penuh penekanan. “Kaulah gadis pertama dan satu-satunya yang ….”


“jika kau memang mencintaiku, maka kau harus bersedia membiarkanku sendiri. Setidaknya untuk beberapa waktu,” potong Miabella pelan.


“Sampai berapa lama?” Tegas nada bicara Carlo menuntut jawaban.


“Aku tak tahu. Aku tak memintamu untuk menunggu. Kau boleh pergi dan mencari gadis lain. Aku membebaskanmu,” jawab Miabella dengan yakin.


“Kau mengetahui dengan pasti bahwa aku tak pernah bisa berpaling pada yang lain, Nona. Akan tetapi, jika itu memang keinginanmu, maka akan kupenuhi. Aku akan memberikanmu waktu selama apapun yang kau mau dan aku akan tetap setia menunggu,” ucap Carlo dengan penuh keyakinan.


“Kau akan menunggu sampai tua!” cibir Miabella dengan posisi yang masih membelakangi pria itu.


“Tak masalah bagiku!” sahut Carlo tanpa ragu.


“Kau akan bosan!” Miabella tak mau kalah.


“Coba saja!” Begitu pula Carlo yang juga tak hendak mundur.


“Aku akan pergi, tapi aku tak akan meninggalkanmu,” tegas Carlo dengan sorot penuh arti.


“Jangan datang kemari jika aku tidak memintamu,” balas Miabella lagi.


“Akan kuingat itu, Nona.” Carlo tersenyum begitu lembut. Sayu mata birunya menatap lekat ke arah wajah cantik Miabella. “Aku juga tidak bisa berlama-lama di Italia. Ada tugas dan tanggung jawab besar menantiku di Rusia."


Dua anak manusia itu lalu terdiam dan saling pandang, sampai Carlo nekat meraih tangan Miabella, lalu menciumnya. Miabella sendiri tak sempat mengelak. “Aku akan mengirimkanmu nomor baruku. Hubungi aku kapanpun kau butuh dan aku akan berusaha untuk secepatnya datang,” ucapnya pelan.


“Selamat tinggal, Carlo.” Miabella masih terpaku ketika pria itu bersiap untuk pergi.


“Sampai jumpa lagi, Nona.” Carlo membungkukkan badan, lalu menyunggingkan senyuman terbaiknya untuk Miabella.


Hari itu adalah hari terakhir penguasa baru dari Klan Serigala Merah mendatangi Casa de Luca. Sesuai janjinya, Carlo tak akan datang jika Miabella tak meminta. Namun, tiga bulan telah berlalu sejak pertemuan terakhirnya, putri Matteo de Luca tersebut masih juga belum bersedia menghubungi. Jangankan menelepon dan berbincang secara langsung, Miabella bahkan tak mengirimkan pesan meski hanya satu kata

__ADS_1


Carlo sendiri tak mengenal putus asa. Setiap hari selama tiga bulan itu, dia selalu mengirimkan pesan pada Miabella. Dia tak lelah, meski tak satu pun dari pesannya yang berbalas. Sedikit keresahan mulai melanda hati. Akan tetapi, dia sudah yakin dan memutuskan untuk tidak akan berhenti berjuang.


Dalam kenyataan yang terjadi, bukan hanya Carlo saja yang merasa resah. Baik Adriano maupun Mia, tak dapat lagi tidur dengan nyenyak setiap malamnya, karena memikirkan sikap aneh sang putri. Dalam waktu tiga bulan tersebut, Miabella sangat jarang keluar dari kamar.


Gadis cantik itu lebih senang mengurung diri dan tak ingin berinteraksi dengan siapa pun. Untuk urusan perkebunan pun telah dia wakilkan pada Dante, pengawal pribadi yang menggantikan tugas Carlo dari semenjak pria rupawan itu pergi. Beruntung hal tersebut tak memengaruhi proses produksi maupun kinerja para pekerja perkebunan.


Berita tentang berubahnya sikap Miabella itu terdengar hingga ke telinga Daniella. Kakak tiri Mia tersebut langsung menyampaikannya pada Marco, sang suami.


“Bisa gawat jika Miabella memutuskan menjadi biarawati. Matteo de Luca tak akan memiliki penerus. Ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan keturunan paman Roberto,” pikir Marco. Raut wajah pria itu menunjukkan bahwa dirinya tengah berpikir keras.


“Ini semua gara-gara kaum lelaki,” dengus Daniella kesal.


“Kenapa kau malah menyalahkan laki-laki?” protes Marco tak terima.


“Aku tidak tahu. Aku hanya merasa sebal saja. Kasihan Bella,” jawab Daniella seakan tanpa beban.


“Kau tidak membantu, Dani. Setidaknya berikanlah saran untukku yang sedang kebingungan ini,” keluh Marco seraya mengempaskan napasnya pelan.


“Kenapa tidak kau kenalkan saja Miabella pada kolega-kolega tampanmu yang berjumlah ratusan itu?” sahut wanita berambut pirang tersebut dengan begitu saja


“Bagaimana mau mengenalkan, sedangkan Miabella sendiri enggan untuk keluar dari dalam kamarnya. Gadis itu lebih memilih bersemedi." Marco menggeleng seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Akan tetapi, gerakan itu tiba-tiba dia hentikan. Ayah dua anak tersebut kemudian menoleh pada istrinya dengan mata melotot.


“Apa?” Daniella setengah mendongak membalas tatapan sang suami. “Aneh sekali kau ini.”


“Kau sudah memberikanku ide, Dani!” Marco segera bangkit dari kursinya sambil memasang wajah sumringah. Dengan segera, dia meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja kerja. Marco kemudian mulai menghubungi Adriano.


Tak membutuhkan waktu lama sampai ayah sambung Miabella tersebut menjawab panggilan telepon dari saudara iparnya. “Pronto,” sapa Adriano dengan suara yang berat dan khas dari seberang sana.


“Amico! Aku mempunyai ide cemerlang untuk Miabella!” seru Marco antusias.


“Oh ya? Apakah itu?” sahut Adriano dengan nada yang terdengar tenang dan datar.


“Kita adakan saja sayembara!” jawab Marco berapi-api. Hal itu membuat Daniella yang duduk di hadapannya sambil merapikan kuku menggunakan pisau khusus, langsung melotot tanda protes ke arah sang suami.

__ADS_1


“Kau tahu sendiri sekeras apa sifat Miabella. Dia tidak akan menyukai idemu. Bella sangat menentang perjodohan,” tegas Adriano, masih dengan intonasi yang tetap tenang.


“Justru itu! Tujuan kita hanyalah membuatnya keluar dari tempurung berbentuk kamar yang telah lama dia tempati! Bella pasti menolak, dan kau tahu sendiri seperti apa gayanya jika keberatan atau tidak terima akan sesuatu!” ujar Marco penuh semangat.


__ADS_2