
Miabella dipaksa masuk ke mobil SUV hitam yang terparkir di tepi jalan. Seorang pria asing yang mengenakan kacamata hitam dilengkapi topi baseball, segera menutup pintunya dengan rapat. Dia berjalan memutari kendaraan tadi, lalu duduk di belakang kemudi. Tanpa menoleh kepada Miabella, si pria menjalankan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi.
“Hey!” sentak Miabella. Dia menggedor kaca tebal yang menjadi penyekat antara jok depan dengan kursi tengah tempat wanita itu berada. Akan tetapi, meskipun Miabella terus menggedor dengan kuat bahkan sampai menendangnya, sang sopir tak menggubris sama sekali. Dia justru melajukan kendaraan dengan semakin kencang.
“Astaga. Apa lagi ini?” Miabella melihat keluar jendela. Entah akan di bawa ke mana dirinya oleh pria asing itu. Dia tak mengenali jalanan yang dilaluinya. Satu yang pasti, Miabella tak boleh tinggal diam.
Miabella mengedarkan pandangan. Mencari sesuatu yang bisa dia jadikan senjata untuk memecahkan kaca. Akan tetapi, tak ada apapun di sana. “Sialan!” gerutu wanita muda itu. “Hey! Hentikan mobilnya!” Miabella kembali menggedor kaca penyekat tebal tadi.
Namun, apa yang wanita cantik tersebut lakukan hanya sia-sia. Tenaganya bahkan hampir habis. Apalagi, Miabella belum sempat mengisi perut. Istri Carlo itu pun akhirnya memilih untuk duduk sambil memeluk kedua lutut. Baru saja dia terbebas dari sekapan Vlad. Kali ini, dirinya harus kembali menjadi sasaran penculikan orang tak dikenal. Hal itu membuat Miabella teringat akan ucapan Vlad, yang mengatakan bahwa dirinya sedang berada dalam situasi tak aman. Apakah ini maksud dari pria itu?
Beberapa saat kemudian, mobil yang membawa Miabella berhenti di depan sebuah rumah peternakan. Rumah itu berada di padang rumput, dengan pepohonan yang menjadi penghias di belakang dan sampingnya.
Miabella yang sedang duduk termenung sambil memeluk kedua lutut, segera mendekat ke pintu. Dia melihat sekeliling tempat itu dari dalam mobil. Wanita berambut cokelat tersebut melihat pria bertopi tadi, berbicara dengan pria lain yang menyambut di depan rumah. Entah apa yang tengah mereka perbincangkan, karena tak berselang lama si pria bertopi mendekat ke pintu mobil. Dia lalu membukanya.
Akan tetapi, sebelum pria tadi sempat membuka pintu dengan lebar, Miabella lebih dulu mendorongnya dengan kuat. Si pria bertopi tadi terjengkang. Kesempatan itu Miabella gunakan untuk segera berlari keluar dari dalam mobil. Namun, putri sulung Mia tersebut langsung tertegun, ketika dari belakang mobil yang tadi dia tumpangi muncul dua pria berbadan kekar dengan wajah beringas.
Miabella mundur perlahan. Dia segera berbalik. Bermaksud untuk mencari jalan lain. Akan tetapi, si pemilik mata abu-abu itu tak menyadari bahwa di belakangnya pun telah berdiri seorang pria dengan postur sama seperti dua pria tadi. “Du bist sehr schön (Kau cantik sekali),” seringai pria itu sambil mencekal lengan Miabella. “Aku tidak tega jika harus bertidak kasar pada wanita cantik seperti dirimu,” ucapnya lagi. Dia menyeret Miabella masuk ke rumah. Setelah berada di dalam, pria bertubuh kekar tadi memaksa Miabella agar duduk di sebuah kursi kayu, lalu mengikatnya dengan kencang.
__ADS_1
“Lepaskan aku, Bodoh! Dasar pria tolol. Otakmu tak jauh lebih besar dari ototmu!” umpat Miabella yang saat itu berbicara dalam Bahasa Italia. “Kau pikir dirimu cukup tampan sehingga berani menyentuhku! Jika suamiku sampai mengetahui apa yang telah kalian lakukan, maka kupastikan ….” Miabella tak melanjutkan kata-katanya, ketika dia mendengar suara hak sepatu yang bergesekan dengan lantai kayu bangunan itu. Wanita muda tersebut bahkan terlihat tak percaya, ketika seraut wajah cantik muncul dari belakang para pria bertubuh kekar tadi. “Kau?” Miabella membelalakan matanya. Dia berbicara dalam Bahasa Rusia. Selama ini, Carlo sudah mengajarinya dengan baik.
“Ya. Ini aku,” sahut si wanita diiringi senyuman puas, saat melihat Miabella dalam keadaan terikat seperti itu.
“Jadi, kau menikahi tiga pria jelek ini rupanya. Syukurlah. Kau bukan perawan tua lagi,” cibir Miabella dengan nada mengolok-olok.
“Tutup mulutmu, Ja•lang!” Wanita yang tak lain adalah Yelena, bergerak maju. Dengan cepat, dia meraih rambut Miabella. Yelena menariknya ke belakang, hingga wajah Miabella sedikit mendongak. “Di sini, semua kesombonganmu tak akan berlaku lagi,” geramnya.
“Singkirkan tanganmu, Perawan Tua!” Nada bicara Miabella penuh penekanan. “Sekali lagi kau sentuh rambutku, maka akan kupatahkan tanganmu hingga kau tak bisa menggunakannya lagi!” ancam istri Carlo tersebut tegas.
Sedangkan Yelena hanya tertawa mendengar ancaman Miabella. Baginya, wanita yang terikat tidak akan dapat melakukan apapun. “Bicaralah sesuka hatimu, Ja•lang. Namun, kau harus sadar dengan situasimu saat ini. Kau berada di kakiku. Jadi, sebaiknya bersikaplah yang manis. Dengan begitu, kematianmu tidak akan terasa lebih menyakitkan dari seharusnya.” Yelena tertawa lepas. Dia begitu puas, karena keinginannya untuk menghabisi Miabella akan segera terlaksana.
Yelena segera memejamkan mata. “Ambilkan tisu, Bodoh! Apa yang kalian lihat?” teriaknya dalam Bahasa Jerman. Lagi-lagi, Miabella berhasil membuatnya merasa terhina.
Emosi, Yelena membalas perlakuan Miabella tadi dengan sebuah tampran keras. Miabella tak sempat menghindar, karena kondisi badannya yang terikat. Yelena kembali menjambak rambut panjang Miabella. Dia kembali menampar wanita muda itu. Yelena seakan ingin melampiaskan segala kemarahannya. Putri Stefan Romanov tersebut bahkan seperti hendak menghabisi Miabella saat itu juga.
Yelena menyibakkan bagian bawah mini dress yang dia kenakan. Wanita berambut hitam itu mengambil pisau dari paha sebelah kanan. Dia kembali menarik rambut Miabella, hingga kepala wanita di hadapannya mendongak. Yelena kemudian menyentuhkan ujung pisau nan runcing tadi ke bawah dagu putri mendiang Matteo de Luca yang tak bisa melawan.
__ADS_1
“Lepaskan ikatanku. Mari kita bertarung secara adil,” tantang Miabella tanpa ada rasa takut sama sekali. Karakter seorang Matteo de Luca terlihat jelas dalam dirinya.
“Aku tidak tertarik. Aku lebih suka membunuhmu secara perlahan,” tolak Yelena penuh cibiran.” Dia memindahkan ujung pisaunya pada pipi mulus Miabella. Ujung runcing tersebut menusuk perlahan, membuat Miabella memejamkan mata. Wanita muda itu menahan sakit, ketika pipinya mulai mengeluarkan darah.
"Dasar, Pecundang Romanov!" cibir Miabella lagi, membuat Yelena kian dilanda amarah tak terkira.
Putri Stevan Romanov tadi semakin mengeratkan cengkeramannya pada rambut Miabella. Sementara pisau tadi masih bermain-main di wajah putri sambung Adriano. “Apa yang akan terjadi jika kugores pipimu sepanjang sepuluh senti?” Yelena kembali tertawa.
Akan tetapi, tawa Yelena segera terhenti, ketika terdengar suara berat seorang pria di ruangan itu. “Hentikan!” cegah suara itu menggema. Membuat Yelena segera menegakkan tubuh. Dia juga melepaskan cengkeraman dari rambut Miabella dengan kasar. "Apa yang kau lakukan, Nona Romanov?" Seorang pria berpostur tegap, berdiri di hadapan Yelena. Sementara ketiga pengawal bertubuh kekar tadi mundur perlahan.
Pria itu berambut cokelat tembaga dengan iris mata berwarna gelap. Tampak sangat misterius. Dia memiliki paras tampan yang terlihat maskulin. Rautnya tenang, tapi ada aura menakutkan di sana. Ibarat sebuah danau yang dalam dan menyimpan banyak rahasia.
"Aku hanya memberi ja•lang sombong ini sedikit sambutan hangat, Damien," sahut Yelena terlihat salah tingkah.
🍒🍒🍒
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Belok dulu deh ke novel ini.
__ADS_1