
“Keguguran? Apa maksudmu, Adriano?” Nada bicara Mia seketika meninggi. Rasa tak percaya memengaruhinya, sehingga dia tak kuasa mengendalikan diri.
“Tenangkan dirimu, sayang. Aku akan memastikan hal ini kepada Miabella jika dia sudah bangun. Putrimu terlihat sangat lemah, tapi aku tahu bahwa dia memaksakan dirinya, Mia,” terang Adriano.
“Kalau begitu kau pulanglah, sayang. Aku yang akan tinggal di sana untuk sementara waktu,” ujar Mia dengan nada bicara yang terdengar jauh lebih tenang.
“Baiklah.” Setelah berbasa-basi sejenak, Adriano pun mengakhiri sambungan teleponnya bersama Mia. Dia termenung sesaat di tempat dirinya berdiri. Tatapan pria paruh baya itu kembali menerawang ke luar jendela.
Sama halnya seperti sepasang mata biru milik Carlo, yang tengah tertuju pada dua orang pria di hadapannya. Fyodor Vasiliev, berdiri dengan gagah dan terlihat arogan memandang balik kepada sang calon penerus tahta Klan Serigala Merah. “Baiklah, Tuan muda. Kuperkenalkan padamu. Ini adalah tuan Pavel Sashenka. Dia merupakan ketua dari kelompok pasukan khusus yang telah kupersiapkan untuk membantu Anda dalam misi ini.” Tangan kanan Fyodor mengarah kepada seorang pria dengan perawakan hampir sama seperti Carlo. Namun, pria itu memiliki raut wajah yang jauh lebih beringas.
“Apa kabar, Tuan Sashenka?” sapa Carlo seraya menjabat tangan pria yang dimaksud.
“Jadi, inikah sang pewaris tahta yang hilang?” Bukannya membalas sapaan dari Carlo, pria itu malah balik bertanya. “Senang bisa ikut terlibat dalam misi ini. Sudah lama aku ingin membasmi tikus-tikus dari organisasi kotor itu,” ujarnya dengan sikap yang tak kalah angkuh dari Fyodor.
Mendengar perkataan Pavel yang terkesan memprovokasi, Ivan tampak sudah bereaksi. Namun, dengan segera Carlo mengarahkan tangannya, memberi isyarat agar pria itu tetap tenang dan dapat mengendalikan diri. Sebisa mungkin Carlo harus pandai-pandai menguasai segala emosi, demi terciptanya kerja sama yang nyaman di antara dirinya dengan pihak pemerintah.
“Aku tahu jika nama Serigala Merah saat ini tak lagi terdengar positif di mata Anda berdua dan mungkin yang lainnya. Aku, tuan Fyodor Vasiliev, dan juga Anda Tuan Pavel Sashenka. Kita bertiga tak mengetahui secara langsung seperti apa sejarah panjang dari organisasi yang dipimpin oleh mendiang Nikolai Volkov, ayahku sendiri. Akan tetapi, Igor dan juga Ivan merupakan saksi hidup dari nama besar organisasi tersebut. Tentunya beserta tuan Boris Vasiliev. Dia sudah mengakui hal itu,” tutur Carlo dengan gaya bicaranya yang penuh wibawa.
“Namun, tentu saja pertemuan kali ini tentunya bukan untuk membahas hal tersebut secara berulang. Itu hanya akan membuang waktun dengan percuma,” tegas Carlo lagi.
“Baiklah. Sesuai dengan keahlian kami sebagai pasukan khusus, aku sudah menyiapkan anak buah yang akan diikutsertakan dalam misi ini. Kami juga memiliki strategi sendiri. Namun, tentu saja harus kembali dikoordinasikan denganmu, Tuan muda,” ujar Pavel.
“Aku ingin kalian bergerak di bawah perintahku,” tegas Carlo.
“Tidak bisa!” tolak Pavel dengan segera. “Aku yang memimpin anak buahku, bagaimana tiba-tiba ... itu tidak mungkin!” tegasnya lagi.
“Pavel benar. Pasukannya sudah terbiasa bergerak di bawah perintah dia. Akan menjadi penghambat jika mereka harus mendapat perintah dari orang lain,” timpal Fyodor.
__ADS_1
“Apakah pasukan khusus yang telah Anda siapkan benar-benar telah menguasai seperti apa medan di sana?” tanya Igor.
Mendengar pertanyaan seperti itu, Pavel justru tertawa dengan nada mencibir. “Medan seperti apa yang tidak bisa kami takluklan? Anda adalah orang yang mengetahui seluk-beluk istana dari markas Klan Serigala Merah, itu juga jika Viktor tidak mengubahnya. Kita tahu berapa puluh tahu waktu telah berlalu. Lihatlah, sang pawaris tahta bahkan sudah setinggi ini,” tunjuk Pavel membuat Carlo hanya dapat mengepalkan tangannya.
“Kami sudah menyelidiki ke sana beberapa waktu yang lalu. Markas Klan Serigala Merah masih tetap seperti dulu, tak ada yang berubah sama sekali,” terang Igor.
“Itu malah sangat bagus. Artinya, Anda tinggal membuatkan kami denah lokasi yang bisa aku dan anak buahku pelajari. Dengan begitu, Pasukan Kucing bisa bergerak secara leluasa,” ujar Pavel penuh percaya diri.
“Apa maksud Anda dengan Pasukan Kucing?” tanya Carlo, membuat Pavel kembali tertawa.
“Lihatlah, Tuan muda bahkan tak mengetahui sejarah di St. Petersburg,” ujarnya lagi setengah meledek. “Biar kuberitahukan sesuatu. Pada peperangan Dunia ke-2, pemerintah pernah mengerahkan lima ribu ekor kucing untuk memberantas hama tikus di kota itu. Sama halnya dengan yang akan kita lakukan saat ini. Kami sudah tidak sabar untuk menumpas ‘hewan-hewan pengerat’ merugikan tersebut!” ujar Pavel dengan nada bicara yang teramat tegas. “Karena itulah, pasukan yang kubawa dalam misi kali ini kunamakan dengan sebutan Pasukan Kucing,” pungkasnya sembari menyeringai puas.
“Hm." Carlo mengangguk-angguk sambil mengusap dagunya. “Sepertinya aku mempunyai sedikit ide untuk itu," ujarnya kemudian.
“Bagaimana?” tanya Fyodor dengan raut dingin.
“Betul sekali, Tuan. Terowongan itu memanjang, bahkan sampai menjangkau seluruh wilayah kota St. Petersburg. Dulu, anggota klan menggunakannya sebagai akses gerilya untuk menuju ke setiap tempat ketika perang dunia. Namun, berdasarkan informasi dari salah seorang mata-mataku, sekarang terowongan itu terbengkalai dan tak terpakai lagi,” jelas Igor panjang lebar.
“Jadi, terowongan itu bisa menembus ke mana saja?” ulang Carlo.
“Ya, Tuan Muda,” jawab Igor lagi membenarkan.
“Baguslah. Dengan begitu, pasukan rahasia bisa menyamar menjadi warga kota. Lalu, kita menyusun kekuatan, sekaligus menyimpan amunisi di sana. Kita bergerak bagaikan virus untuk dapat menghancurkan Serigala Merah milik Viktor dari dalam,” cetus Carlo. Ide brilian itu cukup membuat seorang Fyodor dan Pavel terpana. Dalam hati, mereka menyetujui strategi tersebut. Kini giliran Carlo yang menyeringai puas.
“Sepertinya kita mulai bisa menjalankan rencana itu sedikit demi sedikit dari sekarang,” ucap Pavel setelah beberapa saat dirinya terdiam.
“Baiklah, kalau begitu. Kita sudahi pertemuan kali ini. Untuk selanjutnya, kita cukup berdiskusi melalui panggilan video saja,” putus Fyodor sambil berjalan keluar dari gedung tua yang sudah berlubang atapnya.
__ADS_1
Beruntung saat itu masih belum memasuki petang hari, sehingga suasana di dalam gedung tua tidaklah terlalu gelap. Pavel pun turut melangkah keluar setelah Fyodor dan menghilang begitu saja, ketika dirinya telah tiba di jalan raya yang berada tepat di depan gedung.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Carlo setelah hanya dua orang tersisa di tempat tersebut, yaitu Igor dan juga Ivan.
“Mungkin kita bisa menenangkan diri sejenak, Tuan Muda,” saran Ivan.
“Dengan cara apa?” Carlo mengernyitkan keningnya.
“Aku ingat jika ada bar tua yang cukup bagus di daerah sekitar sini. Dulu waktu masih muda, aku sering minum-minum di sana,” jawab Ivan.
“Ya, itu ide yang bagus. Menenggak sedikit Rum mungkin bisa menghangatkan badan sekaligus mencerahkan pikiran kita,” sahut Igor setuju.
“Kalau aku ... terserah kalian saja.” Carlo yang masih terbawa perasaan aneh sejak beberapa hari yang lalu, hanya menanggapinya dengan sedikit senyuman simpul. Lagi pula, dia juga memang membutuhkan sedikit relaksasi.
“Dulu di bar itu, terkenal dengan pelayan-pelayannya yang cantik jelita. Mungkin Tuan Muda bisa berkenalan dengan salah satunya,” celoteh Ivan saat mereka berjalan menuju bar yang dituju.
“Ah, aku sama sekali tak tertarik. Lagi pula, aku sudah memiliki kekasih yang menungguku di Italia,” sahut Carlo.
“Tak dapat dipungkiri. Darah tuan besar Nikolai mengalir deras dalam tubuh Anda. Saya tak pernah melihat seorang pria manapun yang kesetiaannya melebih tuan Nikolai pada nyonya Fabiola,” ujar Igor bangga sembari menepuk-nepuk pundak Carlo.
Mendapat sanjungan yang demikian, pria tampan bermata biru itu hanya menyunggingkan senyuman samar. Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun tak berbicara lagi sampai tiba di bar yang dimaksud oleh Ivan. Dengan cepat, Igor mencarikan mereka meja yang terletak di sudut, agar tak menarik perhatian siapa pun. Baginya, Carlo harus tetap tak terlihat walaupun berada di tempat yang paling aman sekalipun.
Akan tetapi, sepertinya wajah rupawan Carlo akan tetap menjadi daya tarik bagi para gadis. Buktinya, saat itu ekor mata Igor menangkap sesosok gadis cantik jelita yang tersenyum ramah sambil mendekat ke arah sang pewaris tahta.
“Carlo? Apa yang kau lakukan di sini? Di mana nona muda?” Terdengar suara merdu gadis itu bertanya sembari menyentuh lembut pundak sang pewaris tahta.
Seketika Carlo menoleh. Dia menatap gadis cantik tadi untuk beberapa saat, sampai akhirnya dia lalu menyunggingkan sebuah senyuman kecil.
__ADS_1