The Bodyguard

The Bodyguard
Something Bad


__ADS_3

Grigori sudah bersiap di tempat tidur, ketika dia mendapat sebuah pesan dari Carlo yang menanyakan kabar tentang keadaan Miabella. Dalam hati pria paruh baya tersebut memang ada rasa bersalah yang teramat besar, ketika dia menjawab bahwa Miabella dalam keadaan baik-baik saja. Grigori mengatakan agar Carlo tak perlu khawatir dan harus tetap fokus pada tujuan awalnya.


Setelah mendapat jawaban yang menenangkan dari Grigori, Carlo pun mencoba untuk tetap berpikir positif. Dia ingin agar dapat secepatnya melaksanakan semua yang telah direncanakan. Awal musim gugur ini, dirinya beserta orang-orang pilihan akan mulai mematangkan rencana.


Meskipun ada rasa tak nyaman yang melanda sudut hatinya saat ini.


Perasaan yang begitu aneh yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Akan tetapi, Carlo segera menepisnya dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. “Tunggu aku, Bella. Aku akan segera menjemputmu,” gumamnya seraya merebahkan diri di atas ranjang.


......................


Sementara itu, Miabella sudah tiba di Casa de Luca. Meskipun masih terlihat lemah, tapi putri sulung Mia tersebut tetap menunjukkan sisi kuat, seperti yang dimiliki oleh seorang Matteo de Luca. Miabella bahkan tak membiarkan Luciella untuk memapahnya. "Aku bukan orang sakit!" tolak gadis itu. Seperti biasa, dengan nada bicaranya yang terdengar ketus.


Gadis cantik bermata abu-abu itu berjalan dengan anggun, menuju pintu masuk utama bangunan Casa de Luca. Namun, kekuatan serta rasa percaya dirinya seketika sirna, saat dia melihat sosok Adriano sudah berada di ruang tamu bersama pria yang tiada lain adalah Vlad. "Daddy Zio," sapa Miabella pelan. Dia berusaha untuk terlihat biasa serta baik-baik saja di hadapan sang ayah sambung.


"Kau dari mana, Bella?" tanya Adriano. Sekilas, dia melirik plester yang menempel pada pergelangan tangan anak gadisnya. Namun, Adriano menahan diri untuk tak bertanya macam-macam dulu, berhubung di sana ada orang lain yaitu Vlad.


"Aku hanya pergi berobat karena merasa sedikit tak enak badan," sahut Miabella. Dia tak akan pernah mengatakan bahwa dirinya baru saja mengalami keguguran. Sesaat kemudian, gadis cantik itu menoleh kepada Luciella yang berdiri dengan kepala tertunduk di belakangnya. Pelayan muda tadi menggenggam sebuah kantong berisi obat yang harus Miabella minum. "Kembali pada pekerjaanmu, Luciella," titahnya.

__ADS_1


Tanpa bersuara, Luciella pun mengangguk sopan. Gadis muda tadi juga mengangguk kepada Adriano, kemudian menatap Vlad untuk sejenak. Setelah itu, pelayan muda yang kini mulai dekat dengan Miabella tersebut kemudian beranjak dari hadapan mereka.


Sementara Miabella yang tadinya ingin beristirahat di dalam kamar, terpaksa harus duduk sejenak di antara sang ayah sambung dan pria yang asing yang telah membuat dirinya merasa muak. Gadis itu bahkan tak ingin menatap si pemilik rambut pirang tadi barang sedikit pun.


"Tuan Ignashevich sudah mengirimkan proposal tawaran kerja sama kepadamu. Namun, sepertinya belum kau periksa atau ...." Adriano menjeda ucapan dengan sengaja. Dia melihat raut tak nyaman yang ditunjukkan oleh putri kesayangannya tersebut. Adriano sudah mengenal Miabella jauh sejak lama, karena itu dia dapat mengetahui segala hal yang dirasakan oleh putri sulungnya, bahkan jika Miabella tak mengatakan apapun juga.


"Aku sangat sibuk dan belum memeriksa email yang masuk. Kau tahu sendiri bahwa kami baru melakukan panen besar akhir musim panas ini. Setelah dia pergi, aku melakukan segalanya sendirian," kilah Miabella. Suaranya semakin pelan pada kalimat terakhir yang dia ucapkan.


Adriano mengerti atas rasa kecewa gadis itu. Namun, dia tak hendak membalasnya saat ini. "Ya. Aku sudah menjelaskan hal tersebut kepada tuan Ignashevich. Karena itulah dia berinisiatif untuk bertemu langsung denganmu. Kebetulan aku juga ada keperluan ke Casa de Luca. Aku ingin menyampaikan pesan dari Mia. Namun, kita bahas itu nanti saja," jelas Adriano. Dia mengarahkan pandangannya sejenak kepada Vlad, kemudian mengangguk pelan.


Vlad membalasnya dengan hal yang sama. Setelah itu, pria dengan gaya rambut man bun tadi mengalihkan perhatian kepada Miabella yang tak sedikit pun menoleh padanya. "Nona de Luca," sapa Vlad dengan senyuman yang tampak sangat menawan. Dia menyentuh telinga sebelah kanannya, yang dihiasi tindik kecil dari platinum berwarna hitam. Vlad tahu dan dapat merasakan bahwa Miabella menjaga jarak dan mungkin tak ingin tersentuh sama sekali.


"Baiklah. Akan kuperiksa nanti email yang Anda kirimkan. Hari ini aku sangat lelah dan ingin beristirahat. Kondisi badanku juga belum fit. Maaf. Permisi." Miabella beranjak dari duduknya. Dia bermaksud untuk pergi ke kamar, sebelum suara seorang pria yang merupakan penjaga pintu gerbang membuat dirinya harus mengurungkan niat.


"Nona, ada kiriman untuk Anda," ucap si penjaga seraya menyodorkan seikat bunga lily putih yang cantik.


Miabella tampak malas. Dia juga terdengar mengeluh pelan saat menerima kiriman bunga tadi. Dilihatnya kartu yang tertempel di sana. Seperti biasa, dari seseorang berinisial V. "Apa kurirnya masih ada?" tanya Miabella dingin.

__ADS_1


"Dia langsung pergi sesaat setelah memberikan ini pada penjaga di gerbang pertama," jawab pria itu sembari mengangguk dan bermaksud untuk undur diri dari hadapan sang nona muda.


Miabella terpaku sejenak, setelah mendengar penuturan sang penjaga. Ekor matanya kemudian melirik Vlad yang tengah berbincang dengan Adriano. Rasa kesal itu kembali hadir dalam hati gadis cantik tersebut. "Tunggu!" cegahnya dengan agak nyaring kepada si penjaga pintu gerbang tadi. Pria tadi pun menoleh. "Ambil ini. Kau boleh membuangnya ke tempat sampah," suruh gadis itu dengan angkuh. Puas rasa hati Miabella saat melihat Vlad yang menatap ke arahnya dengan sorot penuh sesal.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Miabella membalikkan badan kemudian berlalu begitu saja menuju kamarnya. Sedangkan Vlad hanya menggaruk pelan kening yang tak gatal. "Apakah putri Anda sedang berada dalam masalah?" tanya Vlad kepada Adriano yang merasa tak nyaman atas sikap gadis itu. "Maaf jika aku lancang dengan bertanya seperti ini. Aku hanya merasa heran saat melihatnya yang tampak tertekan."


"Tidak juga," jawab Adriano seraya tersenyum kalem. "Ini adalah pertama kalinya Miabella belajar hidup mandiri. Jadi, aku rasa dia sedang beradaptasi dengan segala aktivitasnya yang baru dan mungkin tak senyaman dulu. Dia memiliki tanggung jawab yang besar saat ini atas kelangsungan perkebunan milik keluarga de Luca. Aku rasa, tugas demikian bukan hal yang mudah bagi gadis muda seperti dirinya. Karena itulah, aku meminta maaf jika ada beberapa dari sikap Miabella yang kurang berkenan. Putriku hanya belum terbiasa," tutur Adriano menjelaskan.


"Sebenarnya aku sama sekali tak ada masalah dengan hal itu. Putri Anda justru terlihat berbeda dari gadis-gadis kebanyakan. Menurutku dia unik dan ... dan tentu saja sangat cantik." Vlad tertawa renyah atas ucapannya sendiri. "Aku harap Anda tidak tersinggung, Tuan D'Angelo," ucapnya kemudian.


"Tenang saja. Aku bukan tipikal orang yang mudah tersinggung," balas ayah dua orang putri tersebut, dengan senyumnya yang dibuat seramah mungkin. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin Adriano sampaikan kepada pria asal Rusia tersebut saat itu. Namun, bunyi nyaring yang berasal dari bagian dalam bangunan Casa de Luca telah berhasil memecah konsentrasinya.


“Astaga, ada apa lagi ini?” ucap Adriano dengan raut penuh penasaran. Dia melihat ke sekeliling ruangan. Namun, sayangnya tak ada satu pun pelayan yang lewat di sana.


Pikiran Adriano pun seketika melayang pada Miabella yang tadi terlihat kurang sehat. Dia menjadi semakin was-was. “Maaf, Tuan Ignashevich. Bolehkah jika aku permisi dulu sebentar? Aku harus memeriksa keadaan Miabella terlebih dulu.” pamitnya.


“Oh tentu saja, Tuan D'Angelo. Silakan. Jangan khawatir, karena aku tidak sedang terburu-buru,” balas Vlad seraya mengangguk sopan. Sedangkan Adriano membalas dengan ucapan terima kasih. Dia merasa terkesan kepada pria muda itu, karena sikapnya yang sopan dan pengertian. Tanpa membuang waktu terlalu banyak, pria paruh baya tersebut kemudian segera berbalik dan berjalan tergesa menuju kamar Miabella.

__ADS_1


Memanglah benar apa yang menjadi dugaan Adriano tadi. Pria itu melihat Miabella sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Gadis tersebut berdiri sambil bersandar pada dinding luar kamar, dengan mata terpejam. Sedikit lagi, tubuhnya akan melorot ke lantai, jika saja Adriano tak sigap menahan dan segera merengkuhnya.


__ADS_2