The Bodyguard

The Bodyguard
Hidden Secrets


__ADS_3

Hempasan napas berat meluncur dari bibir berkumis tipis milik Carlo. Sang ketua Klan Serigala Merah itu sempat terpekur untuk beberapa saat, setelah menyaksikan rekaman tadi hingga selesai.


"Luar biasa." Suara berat Adriano memecah keheningan di antara para pria yang berada dalam ruang kerja itu. "Roderyk Lenkov. Dia pasti sosok yang sangat tangguh dan pemberani," ucapnya lagi seraya mengalihkan pandangan kepada Carlo yang masih terdiam.


"Apa menurutmu dia ada hubungannya dengan Viktor Drozdov?" Pertanyaan itu Carlo tujukan kepada Grigori dan Ivan. Begitu juga dengan tatap mata yang mengarah lurus pada kedua pria paruh baya tadi.


"Besar kemungkinan, Tuanku. Akan tetapi, harus diselidiki terlebih dahulu kaitan di antara mereka berdua. Kita tidak bisa sembarangan melayangkan tuduhan tanpa adanya bukti yang kuat," ujar Grigori bijaksana.


"Apa yang Grigori katakan memang benar. Ini sangat menarik. Aku jadi teringat ketika dulu harus mengungkap kasus kematian Matteo de Luca. Sebuah teka-teki yang membuatku merasa tertantang." Adriano tersenyum puas seraya menoleh kepada Coco.


"Itu merupakan pengalaman masa muda yang sangat luar biasa, Amico. Aku tak akan pernah melupakannya. Kroasia, Inggris, Serbia ...." Coco tertawa renyah sambil menggeleng pelan. Sedangkan Adriano membalas dengan sebuah tepukan di pundak ayah tiga anak tersebut.


"Apakah anda berdua ada minat untuk kembali bermain teka-teki bersamaku?" tawar Carlo dengan sorot mata penuh arti kepada Adriano dan juga Coco.


Kedua pria paruh baya tadi tak segera menjawab. Mereka saling pandang untuk sejenak, kemudian sama-sama mengalihkan perhatian kepada sang ketua Klan Serigala Merah. Dengan serempak, pria-pria yang sudah berhiaskan uban pada rambutnya tersebut menggeleng seraya berkata, "Tidak!" tegas keduanya sambil tersenyum.


"Aku sudah berjanji kepada Francy tak akan melibatkan diri lagi dalam segala hal yang berbau dunia hitam. Kami telah menjalani kehidupan yang sangat normal di Roma. Rumah tanggaku akan dipertaruhkan jika sampai melanggar janji itu. Aku terlalu tua untuk mencari istri baru," tutur Coco yang diakhiri sebuah tawa. Begitu juga dengan Adriano dan Grigori yang ikut tergelak. Sedangkan Ivan kebingungan karena tak mengerti akan apa yang Coco ucapkan.


"Ya aku pun demikian Ricci. Saat ini, hidupku dan Mia sudah sangat tenang. Kami ingin menghabiskan hari tua tanpa adanya permainan-permainan berdarah," timpal Adriano.


"Namun, kenyataannya tenaga Anda masih sangat kuat, Ayah mertua," sanggah Carlo.

__ADS_1


"Ah tentu saja. Jika aku tak punya tenaga lagi, lalu bagaimana nasib Mia," celetuk Adriano sambil terkekeh. Ucapannya tadi disambut gelak tawa oleh Coco. Berbeda dengan Grigori yang hanya bisa menggaruk kening, karena pria itu memutuskan untuk hidup melajang.


Setelah bersenda-gurau untuk beberapa saat, kelima pria tadi kembali pada sebuah pembahasan yang serius. Untuk kali ini, Coco yang kebingungan karena Carlo dan yang lainnya berbicara dengan menggunakan bahasa Rusia.


"Bisakah kau hubungkan aku dengan Boris dan Fyodor Vasiliev, Grigori?" pinta Carlo setelah mereka berunding.


"Itu bukan hal sulit, Tuanku. Kapan Anda ingin membuat jadwal pertemuan bersama mereka?" tanya Grigori sopan.


"Secepatnya. Bagaimana jika besok?" tawar Carlo. "Aku harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum berlarut-larut. Lagi pula, keselamatan Miabella juga berada dalam tanggung jawabku sepenuhnya. Aku tak akan membiarkan ayah mertua mengambil kembali istriku secara paksa," ujar Carlo seraya menoleh kepada Adriano.


"Ya, kau benar. Ambil tantangan untuk meminimalisir risiko besar yang akan menghancurkanmu ke depannya. Seseorang yang menjadi menantuku, haruslah pria hebat dan pemberani. Aku tahu kau bisa melakukannya, Karl." Adriano menepuk lengan Carlo. Setelah itu, dia mengalihkan perhatian kepada Coco. Adriano memberi isyarat agar Coco mengikutinya keluar dari ruang kerja tadi.


......................


"Jadi, ada masalah apa sehingga kau meminta untuk bertemu secara mendadak seperti ini?" tanya Boris membuka percakapan.


"Tuan Karl ingin membahas sesuatu tentang Roderyk Lenkov. Aku yakin jika Anda pasti mengenal pria itu," sahut Grigori dengan penuh wibawa, tapi tetap terlihat sopan.


"Roderyk Lenkov? Siapa dia, Ayah?" tanya Fyodor menatap lekat kepada Boris yang saat itu tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Roderyk berteman dekat dengan ayahku. Mereka juga memiliki seorang sahabat lagi yang bernama Piotr Rylov," terang Carlo. Apa yang dia ucapkan barusan, sepertinya telah berhasil membantu mengembalikan daya ingat Boris.

__ADS_1


"Ah ya! Aku ingat sekarang." Boris tersenyum lebar, membuat Fyodor terlihat sangat penasaran. "Aku pernah bertemu dengan Roderyk dan juga Piotr. Keduanya memang teman dekat Nikolai. Namun, tak lama setelah adanya gembar-gembor tentang kebijakan perestroika dan glasnost, aku tak pernah lagi bertemu dengan Piotr. Sedangkan Roderyk sempat duduk di kursi parlemen untuk beberapa periode, sebelum runtuhnya Uni Soviet," tutur Boris menerangkan.


"Bukannya dia anti pemerintah?" celetuk Carlo.


"Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu, Nak?" Boris bertanya dengan sorot mata penuh selidik.


"Nanti saja kita bahas hal itu," jawab Carlo. Dia berpikir bahwa memang tidak ada yang mengetahui tentang kejahatan Roderyk, yang telah membantai habis Piotr dan ketiga pengusaha lainnya pada pertemuan rahasia di tahun '80an silam.


"Setelah Uni Soviet runtuh, setahuku Roderyk memutuskan untuk pindah dan bermukim di Jerman. Entah saat ini apakah dia masih di sana atau tidak, karena tak pernah terdengar lagi kabar tentangnya." Boris kembali menerangkan.


Sementara Carlo dan Grigori hanya saling pandang dengan tatapan penuh arti. Namun, mereka tak menunjukkan sikap yang terlalu mencolok di hadapan ayah dan anak tadi.


"Ada apa dengan Roderyk Lenkov? Jika mau, maka aku bisa mencarikan informasi tentangnya." Fyodor yang sejak tadi menyimak, kini ikut bersuara.


"Kebetulan aku menemukan buku harian milik mendiang ayahku. Di sana dia bercerita tentang kedua sahabatnya ketika sama-sama menempuh pendidikan di sekolah militer. Aku hanya merasa penasaran," jawab Carlo dengan sebuah senyuman menawan yang terlihat sangat meyakinkan.


"Bukankah sahabat mendiang tuan Nikolai Volkov ada dua, lalu kenapa kau hanya terfokus pada Roderyk Lenkov?" Pertanyaan Fyodor barusan, dirasa semakin mengerucutkan berbagai spekulasi yang berseliweran dalam pikirannya. Dia berharap ada jawaban lain dari Carlo, selain sesuatu yang dirasa sebagai sebuah jalan aman untuk menutupi rahasia besar di balik itu semua.


"Aku juga sudah mencari tahu tentang Piotr. Akan tetapi, dia tidak berkecimpung di dunia politik. Berbeda dengan Roderyk. Karena itulah aku bertanya kepada kalian. Siapa tahu di antara kalian berdua ada yang mengetahui di mana keberadaannya saat ini," kilah Carlo dengan tenang.


“Seperti yang kukatakan tadi, yang kutahu dari kabar antar sesama mantan anggota parlemen bahwa Redoryk kini bermukim di Jerman. Namun, aku juga tak mengetahui dengan pasti kebenarannya. Dia seakan menghilang semenjak partai komunis miliknya kalah telak dalam pemilu beberapa tahun yang lalu,” tutur Boris.

__ADS_1


“Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan sosok sahabat mendiang ayahmu, Tuan Karl?” tanya Fyodor yang seakan tak puas atas jawaban Carlo.


“Karena aku memiliki firasat bahwa dia turut andil dalam peristiwa berdarah, ketika Viktor membantai ayah dan kedua kakakku,” jawab Carlo.


__ADS_2