
“Astaga! Apa yang kau lakukan, Adriano?” Mia bergegas meraih lengan Adriano, menjauhkannya dari Carlo yang tak melawan sama sekali. “Jangan gila!” sergah Mia.
Dengan terpaksa, Adriano melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Carlo. Dia mengempaskan tubuh sang menantu yang sudah terluka cukup parah. Adriano mendengus kesal sembari melempar sisa botol yang masih dia pegang, hingga benar-benar hancur berkeping-keping. “Kau sungguh tak berotak, Carlo!” Hardik Adriano. Dia belum sepenuhnya melampiaskan kemarahan. Pria paruh baya tersebut bermaksud untuk kembali menyerang Carlo.
Akan tetapi, dengan segera Marco mencegahnya. “Hentikan, Adriano. Apa yang kau lakukan ini tak akan menyelesaikan masalah.” Marco mencoba menenangkan saudara iparnya tersebut. Sesaat kemudian, sang ketua Klan de Luca mengalihkan perhatian kepada Carlo yang berusaha untuk kembali berdiri tegak. “Dengarkan aku, Carlo. Tindakanmu kali ini memang sangat gegabah. Aku tahu bahwa kau memiliki kemampuan yang baik dalam hal bertarung. Namun, menyusup ke tempat musuh tanpa ada persiapan dan strategi yang matang, itu sama artinya dengan bunuh diri. Terlebih, kau juga melibatkan Miabella dalam hal ini,” tegur Marco.
“Kau memang bodoh!” bentak Adriano lagi yang belum puas melampiaskan segala kemarahannya.
“Menjadi seorang ketua klan, membutuhkan sebuah pengalaman. Kuakui kau tidak memiliki hal itu. Kau hanya mengandalkan warisan! Namun, seharusnya kau tahu diri, Carlo!” Adriano terus mengecam tindakan ceroboh sang menantu.
“Adriano benar. Aku juga dulu sama sepertimu, Carlo. Aku buta tentang organisasi. Rasanya seperti mendapatkan mimpi buruk, ketika Matteo menunjukku sebagai pengganti dirinya untuk menduduki kursi kepemimpinan tertinggi Klan de Luca. Namun, dalam menjalani itu semua, aku terus melakukan koordinasi dengan Matteo sebagai seseorang yang jauh lebih berpengalaman,” tutur Marco memandang lekat suami Miabella tersebut.
“Kau sebenarnya bisa berkoordinasi denganku atau Adriano. Kita bisa merundingkan ini secara matang. jika hal itu kau lakukan sebelumnya, mungkin saja hal seperti ini bisa kita hindari. Akan tetapi, Miabella pun tak mengatakan apapun padaku. Dia hanya berpamitan untuk menghadiri undangan pesta topeng dari Vlad Ignashevich. Aku sama sekali tak mengira bahwa kau akan ada di sana, karena kupikir ini murni tentang bisnis,” tutur Marco lagi.
Carlo tak membantah semua ucapan Marco ataupun Adriano. Dia mengakui keteledorannya yang mengakibatkan Miabella menjadi korban.
Suasana sempat hening untuk beberapa saat. Mia yang terlihat resah, berkali-kali menyeka air matanya. “Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyanya di sela isak tangis, karena merasa khawatir dengan keadaan Miabella yang belum ada kejelasan.
“Aku ingin Ibu ikut denganku ke Rumah Sakit Kepolisian wilayah Palermo. Mereka akan mengambil sampel DNA Ibu sebagai pembanding dengan darah yang ditemukan di lokasi kejadian,” sahut Carlo. Dia mengusap darah yang terus mengucur dari hidung dan sudut bibirnya.
“Aku masih memiliki keyakinan bahwa darah itu bukanlah milik Miabella,” ucap Carlo lagi meskipun ada setitik keraguan yang sempat menghinggapi hatinya.
“Aku rasa, itu yang harus segera kita lakukan saat ini. Dengan memastikan apakah Miabella masih hidup atau tidak, maka kita bisa mengambil langkah selanjutnya,” saran Daniella. “Mari, Carlo. Biar kubantu mengobati lukamu,” ajaknya. Dia meraih lengan Carlo, bermaksud untuk membantunya berjalan.
“Tidak usah, Nyonya. Aku bisa berjalan sendiri,” tolak Carlo dengan halus.
“Obati lukamu. Setelah itu, kita akan berangkat ke rumah sakit,” ucap Marco seraya menepuk lengan Carlo yang melintas di dekatnya. “Kebetulan, Ignazio Raineri yang menangani kasus ini. Aku meminta bantuannya kemarin,” ucap Marco lagi mengarahkan perhatian kepada Adriano.
“Sudah lama aku tidak bertemu dengannya,” sahut Adriano yang mulai menenangkan diri. Dia lalu menoleh kepada Mia. Wanita paruh baya tersebut masih terlihat murung. Adriano pun segera merengkuh lengan sang istri dengan mesra. Sikapnya jauh lebih manis, dibanding saat dirinya berhadapan dengan Carlo. “Tenanglah, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Aku hanya merasa perlu menegur menantumu,” ujar Adriano.
__ADS_1
Namun, Mia tak menanggapi. Perasaannya tak bisa setenang Adriano ataupun Marco. Meskipun dia sudah terbiasa berjauhan dengan Miabella, tapi tetap saja nalurinya sebagai seorang ibu tak dapat menahan kesedihan atas nasib sang putri.
Keresahan Mia terus berlanjut, bahkan ketika petugas lab telah selesai mengambil beberapa helai rambut yang akan diperiksa dan diambil sampel DNA-nya sebagai pembanding. Semua berharap hasil yang akan keluar nanti adalah negatif.
Terutama Carlo. Dia terus memanjatkan doa. Bagaimanapun juga, sewaktu tinggal di panti asuhan dalam bimbingan Miranda, Carlo seringkali ikut ke gereja. Hal positif tersebut, kembali dirinya ingat saat ini. Dia tak langsung ikut pulang ke Istana de Luca. Pria itu memutuskan untuk mampir sejenak ke bangunan sakral tersebut.
Di dalam sana, Carlo memanjatkan doa dengan khusyuk. Dia memohon kepada Tuhan agar melindungi Miabella, andai sang istri masih hidup hingga saat ini. Carlo juga meminta diberikan ketenangan batin dan hati yang lapang, jika ternyata hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan positif.
Dengan langkah yang terlihat lesu, Carlo berjalan keluar dari gereja tadi. Tepat saat dirinya menginjakkan kaki pada undakan anak tangga, Carlo merasakan ponsel yang dia simpan di dalam saku jaket bergetar. Sang ketua Klan Serigala Merah segera memeriksa telepon genggamnya. Saat itu, dia mendapat sebuah panggilan dari Grigori.
“Ada apa, Grigori?” tanya Carlo.
“Bagaimana proses identifikasinya, tuan?” tanya Grigori yang sudah mengetahui tragedi mengenaskan itu.
“Semua sudah selesai. Kami tinggal menunggu hasilnya besok,” jawab Carlo. “Apa ada sesuatu yang penting?” tanya Carlo kemudian.
“Oh ya. Lalu, bagaimana?” tanya Carlo yang seketika memasang raut berbeda. Dia tampaknya mulai tertarik dengan perbincangan itu.
“Fyodor memberitahuku bahwa dia sudah menemukan alamat tempat tinggal Roderyk di Jerman. Pria itu tercatat memiliki sebuah hunian mewah di Kota Hamburg. Apakah Anda ingin melacaknya ke sana? Siapa tahu Anda bisa mendapat sebuah petunjuk tentang keberadaan Vlad Ignashevich.” Grigori memberikan masukannya.
Sementara Carlo tak segera menjawab. Dia berpikir terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. “Aku akan membahas hal ini dengan ayah mertua dan juga Tuan Marco de Luca,”ucapnya beberapa saat kemudian. “Lalu, bagaimana dengan anak buah yang kau perintahkan untuk menyisir wilayah Rusia dan sekitarnya?”
“Sebagian dari mereka sudah memberikan laporan. Rata-rata mengatakan bahwa tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Vlad Ignashevich di sana. Namun, kita akan menunggu laporan dari yang lainnya,” jelas Grigori.
“Baiklah. Saat ini pikiranku sedang kacau. Aku akan menghubungimu lagi nanti.” Usai berkata demikian, Carlo pun menutup sambungan teleponnya. Tujuan pria tampan bermata biru itu Istana de Luca, yang berjarak tak seberapa jauh dari gereja tadi. Carlo berjalan tenang menyusuri jalanan, hingga tiba di markas besar Klan de Luca.
Setibanya di sana, Carlo segera menuju ke kamar yang telah disiapkan oleh Daniella. Bagaimanapun juga, dia membutuhkan tempat untuk mengistirahatkan tubuh.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Carlo merebahkan tubuh atletisnya di ranjang dalam posisi telentang. Sesungguhnya, dia tidak dapat memejamkan mata dengan sempurna, sebelum memastikan bahwa Miabella baik-baik saja. Namun, rasa lelah yang mendera, ditambah sakit di sekujur tubuh akibat tindakan dari Adriano, membuatnya terlelap begitu cepat. Tidurnya pun terbilang sangatlah nyenyak, sampai-sampai Carlo tak sadar jika hari telah berganti.
__ADS_1
Carlo baru membuka mata, ketika terdengar gedoran cukup keras di pintu. Sekilas, Carlo sempat melihat angka penunjuk waktu yang tertera di layar ponsel sebelum membuka pintu kamar. “Tuan Marco?” sapanya pelan.
“Astaga. Kupikir kau pingsan atau koma. Aku sudah mengetuk pintu ini sejak tadi hingga tanganku pegal,” keluh Marco, “tapi, kupikir wajar kalau kau pingsan. Mengingat Adriano menghajarmu habis-habisan. Jika kau orang biasa, pasti kau sudah mati mendapatkan pukulan mematikan berkali-kali seperti itu,” imbuhnya.
“Aku sudah merasa lebih baik sekarang, Tuan,” ucap Carlo memaksakan tersenyum, walaupun hati dalam hati sebaliknya..
“Baguslah kalau begitu. Sekarang, bersiap-siaplah. Kepala Polisi Ignazio Ranieri sudah menunggu kita di bawah. Dia membawakan hasil tes DNA,” jelas Marco yang membuat Carlo terkesiap.
“Tunggu sebentar, Tuan.” Carlo buru-buru menyambar kaosnya, kemudian melangkah gagah mengikuti Marco di samping. Sesampainya di ruang tamu, ternyata semua orang sudah menunggu di sana. Tak terkecuali Mia yang was-was menunggu dengan wajah sepucat mayat.
“Bagaimana hasilnya, Tuan?” tanya Carlo tanpa basa-basi. Dia bahkan belum sempat bersalaman dengan Ignazio.
“Duduk dulu, Carlo,” bisik Marco. Dia menuntun suami dari keponakannya tersebut agar duduk di sebelah Adriano yang sama sekali tak mau menoleh ke arah Carlo.
“Baik. Sebelumnya, aku mengucapkan terima kasih karena kalian bersedia menunggu sampai suami Miabella de Luca hadir di ruangan ini. Perlu kuingatkan, proses identifikasi DNA seharusnya tak secepat ini. Orang awam umumnya harus menunggu antara seminggu hingga empat belas hari. Namun, berhubung kalian adalah-adalah orang-orang yang istimewa di mataku, maka aku bisa mempercepat prosesnya,” terang Ignazio dengan tenang.
“Baiklah. Tak perlu berlama-lama. Aku bisa merasakan kegundahan kalian,” kepala polisi tersebut mencoba berkelakar, meskipun tak ada yang tertawa sama sekali.
Dengan hati-hati, pria paruh baya tersebut, menyobek ujung dari amplop coklat, kemudian mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalamnya. Dia sempat mengamati tulisan yang tertera di sana sebelum membaca keras-keras.
“Dari hasil identifikasi laboratorium, dapat diambil kesimpulan bahwa 99% darah yang ditemukan di lantai bukanlah milik Miabella de Luca,” ujar Ignazio yang spontan membuat mereka semua dapat bernapas lega. Mia bahkan sampai memeluk Carlo berkali-kali sebagai tanda rasa syukur
“Namun, bercak darah di bantal serta helaian rambut di ranjang, memanglah milik putri Anda, Nyonya Mia,” lanjut Ignazio, yang membuat kebahagiaan di raut wajah semua orang seketika sirna tak tersisa.
🍒🍒🍒
Rekomendasi novel keren dan pasti bikin nagih.
__ADS_1