
Dalam perjalanan pulang menuju Istana Serigala Merah, Carlo lebih banyak diam dan merenung. Sosok pria bernama Redoryk Lenkov yang wajahnya samar terekam pada video milik Nikolai, terus terbayang-bayang di benak sang ketua klan. Satu hal lagi yang harus dia lakukan, yaitu menemukan bukti kuat bahwa Redoryk adalah sosok pria di balik kekuasaan dan kekuatan Viktor Drozdov.
“Aku sungguh tidak mengerti, Tuan,” ujar Grigori yang telah berhasil membuyarkan lamunan Carlo. Mantan penasihat kepercayaan mendiang Nikolai Volkov itu duduk di samping kursi pengemudi, sementara majikannya berada di jok belakang.
“Apa yang membuatmu tidak mengerti?” tanya Carlo. Sorot mata birunya tak lepas dari pemandangan di luar jendela yang dilewati oleh kendaraannya.
“Bagaimana bisa Redoryk Lenkov berhubungan dengan Viktor Drozdov?” pikir Grigori seraya mengernyitkan kening.
“Ini hanya tebakanku saja. Tuan Vasiliev pernah mengatakan bahwa seakan ada kekuatan tak terlihat, yang membantu sekaligus melindungi Viktor Drozdov. Begitu pula mata-mata misterius yang berusaha mencelakaiku dengan Miabella. Salah satu dari para penguntit itu memberitahukan padaku bahwa Viktor Drozdov didukung oleh oknum pejabat pemerintah yang berkuasa. Ada sosok-sosok korup yang memanfaatkan keberadaan pria keji itu,” jelas Carlo sambil mengusap-usap dagu, dengan tatapan yang masih tertuju ke luar jendela.
“Akan tetapi, hal itu tak dapat dijadikan alasan untuk menuduh Redoryk, Tuanku. Walaupun kita tahu bahwa dulu dia berusaha untuk mencelakai tuan Nikolai,” sahut Grigori.
“Ada sesuatu yang janggal di sana,” gumam Carlo. “Katakan padaku, bagaimana bisa kau tak mengetahui sama sekali tentang tragedi berdarah di tahun ’80an itu, Grigori?” tanyanya penuh selidik.
“Karena tuan Nikolai tidak pernah menceritakan apapun padaku,” jawab Grigori dengan yakin. “Dia seolah menutupi kejadian itu dengan sangat rapat. Aku bahkan tak mengetahui sama sekali, ruangan tempat anda menemukan kaset-kaset rekaman itu.”
“Kira-kira, apa yang membuat ayahku menyembunyikan hal itu dari semuanya?” tanya Carlo lagi. “Apakah Igor dan Ivan juga tak mengetahuinya sama sekali?”
“Aku yakin bahwa tak satu pun dari kami bertiga yang mengetahui kejadian tersebut. Namun, dulu aku sempat curiga karena tiba-tiba saja Redoryk menghilang dan tak pernah datang lagi ke Istana Serigala Merah," terang Grigori lagi.
“Lalu, sedang berada di mana kalian saat ledakan itu terjadi?” Carlo seakan ingin terus memuaskan rasa penasarannya.
“Tuan Nikolai memerintahkan kami untuk mewakilinya dalam pertemuan penting antar pengusaha di Moskow, Tuanku,” jawab Grigori. Dia begitu sabar menghadapi pertanyaan Carlo yang terkesan seperti sedang menginterogasi.
“Hm. Satu lagi teka-teki yang harus kuungkap. Kenapa ayahku seolah menyembunyikan dari kalian, tentang pertemuan rahasia antara dirinya dengan Redoryk?” gumam Carlo seraya mengusap pelipisnya.
__ADS_1
“Itu pula yang membuatku begitu terkejut saat melihat rekaman video tadi, Tuan,” timpal Grigori. “Waktu itu, kami pergi ke Moskow selama dua hari. Saat kembali ke Istana Serigala Merah, area taman dan ruangan hitam tiba-tiba diberi pagar betis. Tuan Nikolai memerintahkan kami untuk tidak melintasi wilayah tersebut. Namun, saat itu kami sama sekali tak berpikir apa yang menyebabkan tuan Nikolai melakukan hal demikian,” paparnya.
“Satu-satunya jalan untuk mendapatkan semua jawaban adalah bertemu dengan Redoryk Lenkov,” pikir Carlo.
“Jalan yang sulit, Tuanku. Kita belum menemukan keberadaannya yang pasti,” balas Grigori.
“Akan tetapi, Igor pernah mengatakan padaku bahwa dia seperti melihat sosok Redoryk, pada pesta yang diadakan oleh tuan Marco de Luca di Palermo,” sahut Carlo.
“Oh, ya?” Grigori segera membalikkan badan menghadap majikannya dengan mata terbelalak.
“Ya. Saat itu Igor mengatakan padaku bahwa Redoryk berada satu rombongan dengan Vlad Ignashevich. Pria itu merupakan rekan bisnis Miabella,” tutur Carlo.
“Vlad Ignashevich, si pengusaha terkenal dari St. Petersburg itu? Pria gondrong bermata biru?” Grigori memastikan orang yang dia maksud.
“Apa kau mengenalnya juga?” Carlo malah balik bertanya.
"Bisa jadi. Jaringan pertemanan tuan Marco de Luca sangat luas. Aku akan membicarakan ini dengan ayah mertua. Namun, untuk langkah pertama, kita harus segera menghubungi dan membuat janji bertemu dengan Vlad Ignashevich terlebih dahulu.” Carlo tersenyum penuh arti.
Sementara itu, pria yang tengah dibicarakan oleh Carlo bersama Grigori, sedang bersantai di ruang keluarga mansionnya. Bangunan megah tersebut berada di jantung kota St. Petersburg. Sesekali, dia meneguk anggur dari gelas yang berada di tangan kanan. Pria yang tak lain adalah Vlad Ignashevich, tengah menikmati waktu luangnya.
Akan tetapi, hal itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba, pelayan mansion mendatanginya dengan tergopoh-gopoh. “Maaf, Tuan. Aku sudah berusaha menghalangi mereka agar tidak masuk,” lapor si pelayan dengan wajah panik.
“Apa maksudmu?” tanya Vlad tak mengerti.
Namun, belum sempat si pelayan membuka mulut, pertanyaan Vlad tadi sudah lebih dulu terjawab. Dua orang masuk dengan paksa ke dalam ruang keluarga, dan membuat Vlad yang masih memakai kimono sutranya segera berdiri dengan wajah gusar. “Siapa kalian!” sentak pria itu tak suka.
__ADS_1
“Ah, Tuan Ignashevich. Maafkan atas ketidaksopanan kami,” ucap seorang wanita cantik dengan tubuh indah. Dia melangkah dengan gemulai bak seorang peragawati, mendekat kepada Vlad. “Perkenalkan. Namaku Yelena Romanov, dan ini ayahku, Stefan.” Wanita muda nan cantik itu menunjuk pria tua di sebelahnya.
"Romanov?" ulang Vlad seraya menaikkan sebelah alisnya. Tanpa meletakkan gelas anggur yang sedang dia pegang, pria itu terus melayangkan tatapan kepada dua orang tamu tak diundang tadi. "Benalu!" desisnya bernada cibiran.
Hinaan Vlad barusan, langsung saja menyulut amarah dalam diri Srefan yang memang memiliki temperamen tinggi. Pria paruh baya itu sudah hendak membalas ucapan tak bersahabat dari sang pemilik mansion, andai Yelena tak segera menahannya. Sang putri, dapat bersikap jauh lebih tenang. Dia seperti tidak terpengaruh sama sekali, dengan kata-kata dari pria berambut gondrong yang berdiri gagah di hadapan mereka.
"Vlad Ignashevich." Yelena bergerak semakin mendekat kepada pria berambut pirang itu. "Pengusaha muda, suskes, dan juga sangat tampan," sanjung wanita muda tersebut dengan penuh godaan. "Pria sepertimu pantas mendapatkan seorang wanita yang juga setara dan sama berkelas," ujarnya kemudian.
"Tidak perlu banyak basa-basi," balas Vlad penuh penekanan.
"Ow, aku suka pria sepertimu. Tak memerlukan banyak basa-basi. Baiklah. Lagi pula, aku tak ingin terlalu banyak menyita waktu bersantaimu yang berharga," ujar Yelena lagi. Wanita muda berambut gelap itu masih berdiri tepat di hadapan Vlad.
"Karl Volkov telah berhasil menduduki kursi kepeminpinan Klan Serigala Merah. Akhirnya, organisasi itu kembali pada pewarisnya yang sah." Yelena tersenyum licik kepada Vlad.
"Kalian datang kemari hanya untuk mengatakan sesuatu yang sudah kuketahui?" cibir Vlad setelah meneguk sisa anggurnya di dalam gelas.
Sedangkan Yelena, menanggapi cibiran tadi dengan sebuah tawa renyah. Wanita muda itu tampak jauh lebih cerdik dari sang ayah. Pembawaannya begitu tenang, tapi ada aura iblis yang sangat kuat terpancar dalam tubuh molek berbalut pakaian mahal yang dia kenakan.
"Lalu bagaimana setelah kau mengetahui, bahwa dia juga sudah menghabisi ayahmu dengan sangat brutal. Kabar kematian Viktor Drozdov tersebar luas di kalangan para mafia Rusia. Aku bahkan mendengar bahwa jasadnya tidak ditemukan, karena Karl Volkov telah mencincang habis hingga tak tersisa dan membuangnya entah ke mana. Mungkin saja potongan tubuh ayahmu langsung menjadi santapan istimewa, bagi sekawanan anjing hutan yang kelaparan." Yelena seperti tengah berusaha untuk memanas-manasi Vlad dengan segala kata-kata yang bernada provokasi.
Akan tetapi, kenyataan jauh dari harapan. Vlad justru malah tertawa saat mendengar penuturan wanita muda di hadapannya. "Aku sama sekali tidak peduli dengan si tua bangka yang kau sebutkan tadi. Dia hanya meniduri ibuku hingga hamil. Tak ada hal berguna lagi yang dirinya lakukan, selain bermain-main dengan banyak wanita. Aku justru berterima kasih, karena Karl Volkov telah meringankan pekerjaanku dengan menghabisi manusia tidak berguna itu."
Yelena dan Stefan pun seketika saling pandang, saat mendengar jawaban yang sangat menohok dari pria tampan bermata biru tadi. Mereka harus segera memutar otak untuk mencari cara lain. Sesaat kemudian, Yelena tampak menyunggingkan sebuah senyuman.
"Apa kau tahu bahwa Karl Volkov seharusnya menikah denganku? Namun, sayangnya karena wanita murahan asal Italia sudah merebut hakku untuk ...."
__ADS_1
"Jaga bicaramu!" sergah Vlad dengan sangat tegas.