The Bodyguard

The Bodyguard
Death Pool


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Coco pun akhirnya tiba di Istana Serigala Merah tepat pada tengah hari. Carlo beserta Adriano segera menyambut kedatangan sahabat dekat Matteo tersebut.


"Apa kabar, Tuan Ricci. Selamat datang di Istana Serigala Merah," sambut Carlo dengan hangat. Dia menyalami Coco yang terlihat makin banyak memiliki uban di rambutnya.


"Jadi ini adalah tempat tinggalmu yang sebenarnya, Carlo?" Coco mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan di mana mereka berada. Interior yang jauh berbeda dengan Casa de Luca, Istana de Luca, ataupun mansion mewah milik Adriano.


"Panggil dia dengan nama Karl Volkov saat berada di sini," bisik Adriano, membuat Coco segera menoleh sembari mengernyitkan kening. Ucapan sang ketua Tigre Nero tadi, membuat Coco segera menoleh padanya dengan raut yang terlihat aneh. "Ah sudahlah." Adriano berdecak pelan. Dia tak berminat untuk menjelaskan lebih detail kepada Coco, karena saat itu para wanita telah hadir di ruang tamu.


"Hai, Ricci. Kupikir kau akan mengajak serta Francy kemari," sambut Mia dengan hangat.


"Adikmu sibuk mengurus tiga anak, Mia," sahut Coco sambil menyalami Fabiola dengan sopan.


"Kau sendiri yang memutuskan untuk memiliki banyak anak, Paman," celetuk Miabella tak acuh.


"Aku akan merasa sangat malu pada uban di kepalaku jika sampai meladeni ocehanmu," balas Coco. "Astaga, Mia. Putrimu yang satu ini selalu saja membuat otakku menjadi panas," keluh pria itu lagi membuat Mia tergelak menanggapi ucapan saudara iparnya.


"Hey, Paman. Kau tidak boleh macam-macam lagi denganku, karena aku sudah menjadi istri Karl Volkov. Dia adalah sang ketua dari Klan Serigala Merah," ucap Miabella bangga seraya merengkuh pinggang sang suami. Sementara Carlo membalasnya dengan sebuah kecupan hangat di kening wanita muda tersebut.


"Selamat datang di kediaman kami, Tuan Ricci. Aku adalah ibu dari Karl. Kebetulan, aku juga berasal dari Italia," sambut Fabiola dengan hangat dan penuh senyum.


"Terima kasih, Nyonya. Aku menyukai keramahan dan penyambutan seperti ini. Seandainya saja istri dan ketiga anakku bisa ikut kemari," ujar Coco selalu dengan pembawaannya yang santai. Obrolan pun terus berlanjut.

__ADS_1


Setelah berbincang santai sambil melepas lelah selama beberapa saat, Carlo segera mengajak Coco dan Adriano untuk menuju ruang kerja. Grigori dan Ivan pun turut serta bersama mereka. Kedua pria senior yang merupakan mantan orang-orang kepercayaan mendiang Nikolai Volkov tersebut, ikut merasa penasaran dengan rahasia yang selama puluhan tahun tak mereka ketahui.


"Kami sama sekali tidak tahu jika ada kuburan massal di bawah patung air mancur dalam rumah kaca," ujar Grigori.


"Aku ingin kau juga memerintahkan para pelayan, untuk membersihkan perpustakaan tua di dalam tungku perapian," titah Carlo penuh wibawa. "Kondisi di sana sangat kotor dan banyak sekali buku-buku yang telah rusak termakan usia."


"Tentu, Tuan," balas Grigori dengan tubuh setengah membungkuk.


"Tuan Nikolai sungguh luar biasa. Dia memiliki banyak ruang tersembunyi di dalam istana megah ini," ucap Adriano sembari mengetuk-ngetukkan ujung sepatu pantofelnya, pada lantai berlapis kayu yang dia pijak.


"Kau sedang apa, Ayah mertua?" tanya Carlo heran.


"Siapa tahu bahwa di bawah lantai ini juga terdapat ruang rahasia," sahut Adriano tanpa mengeluarkan kedua tangan dari dalam saku celana panjangnya. Sementara Coco tengah sibuk dan berkonsentrasi penuh, dengan alat pemutar kaset yang sedang dia periksa.


“Amico, kaset mana yang ingin kau putar pertama kali?” tanya Coco menyela pembicaraan pria-pria di sebelahnya.


“Terserah. Silakan pilih saja, Tuan Ricci,” sahut Carlo sambil mengulurkan tangan ke arah beberapa kaset yang tergeletak di atas meja kerja.


“Baiklah. Kalau begitu, aku pilih secara acak saja.” Coco kemudian memilih salah satu dari beberapa kaset, lalu memasukkannya ke dalam alat pemutar. Sayang, pita kaset tersebut sepertinya rusak sehingga tidak dapat mengeluarkan suara apapun. Demikian pula dengan kaset kedua, ketiga, hingga keempat.


“Tinggal satu kaset. Semoga yang ini bisa didengarkan isinya.” Carlo meraih satu kaset terakhir dan memberikannya kepada Coco.

__ADS_1


Sementara Grigori, Ivan, dan Adriano menampakkan raut penasaran. Mereka bertiga pun mendekat dan berdiri memutari meja.


Satu kaset terakhir yang sudah dimasukkan ke dalam alat pemutar, mengeluarkan suara berisik seperti benda berdecit, kemudian hening. Tak lama kemudian, terdengar suara berat seorang pria yang sangat akrab di telinga Grigori dan juga Ivan. Suara tersebut tak lain adalah milik Nikolai Volkov, ayahanda Carlo.


“19 Juni 1980. Roderyk Lenkov mengajak kami, anggota klan dan persatuan pengusaha Moskow untuk mengadakan pertemuan di ruang hitam, barat daya istana Serigala Merah. Aku tak menolak sebab Roderyk adalah sahabat yang paling kusayang bersama Piotr Rylov. Namun, aku sama sekali tak menyangka bahwa pertemuan yang awalnya berlangsung dengan suasana penuh kehangatan itu justru berakhir petaka."


“Roderyk sengaja mengumpulkan kami untuk membahas satu hal yang teramat berbahaya, bagi kelangsungan pemimpin tertinggi presiden Uni Soviet yang terhormat. Dia tak menyetujui gebrakan baru yang hendak dicanangkan oleh presiden untuk mereformasi pemerintahan ke arah demokrasi dan ekonomi liberal.”


“Roderyk tetap mendukung sistem pemerintahan komunis, sementara presiden kami menghendaki perubahan total menuju demokrasi federal. Roderyk begitu murka sampai-sampai dirinya meminta dukungan kami untuk melakukan kudeta dan menggulingkan kekuasaan presiden yang sah. Tentu saja diriku menolak dengan tegas. Aku menentang keras ide gilanya, yang ternyata malah membuat Roderyk semakin murka. Tak kusangka, terdapat kekuatan iblis yang luar biasa di dalam diri sahabatku itu.”


Semua orang di dalam ruangan terdiam dan saling pandang ketika rekaman suara itu berhenti. Mereka semua berpikir bahwa penjelasan Nikolai telah selesai. Namun, ketika Coco hendak mengeluarkan kasetnya, terdengar lagi suara berat ayahanda Carlo yang kembali berbicara.


“Roderyk hendak menembakku. Akan tetapi, Piotr menghalangi dan menjadi tameng hidup. Piotr telah tewas di tangan sahabat kami sendiri. Aku ikut hilang kendali dan memerintahkan anak buahku untuk menembaknya.”


“Tak kusangka, gerak tangan Roderyk jauh lebih cepat dibanding peluru-peluru pengawalku. Dia menyembunyikan beberapa buah granat dari balik saku jasnya. Dia mengancam akan membunuh kami dengan granat itu, sehingga aku tak mempunyai pilihan selain melepaskannya keluar dari ruangan.”


“Namun, ternyata Roderyk adalah seorang yang sangat keji. Ternyata dia telah mempersiapkan anak buahnya. Mereka berjaga di luar ruang pertemuan, kemudian memberondong kami dengan tembakan membabi buta. Semua tewas, kecuali diriku.


Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk melindungiku. Pilar besar itu telah menghalangi peluru sehingga tak mengenai tubuhku. Aku selamat, dan menjadi saksi hidup dari tragedi mengerikan tersebut."


Suasana kembali hening sejenak, lalu terdengar suara helaan napas berat.

__ADS_1


“Aku tak bisa memberikan pemakaman yang layak, sehingga dengan terpaksa harus mengubur tubuh fana mereka di dalam kolam kematian. Aku menyimpan jasad seluruh korban di sana dan berusaha menutup kisah dari peristiwa buruk itu.”


“Siapa pun yang mendengarkan rekaman ini, kupesankan agar jangan sampai bukti-bukti penting yang sudah kalian dapatkan jatuh ke tangan iblis itu. Jagalah dengan nyawa kalian. Bog blagoslovil (Tuhan memberkati)."


__ADS_2