The Bodyguard

The Bodyguard
False Invitation


__ADS_3

"Jadi, itu artinya Vlad mengenal baik Roderyk Lenkov. Apakah mungkin jika Roderyk juga punya keterlibatan dengan Viktor Drozdov? Bisa saja mereka saling terhubung sejak awal," pikir Carlo.


"Segala kemungkinan bisa saja terjadi, Tuanku. Namun, kita harus menyelidiki ini dengan sangat hati-hati. Kita semua tahu bahwa Roderyk Lenkov bukanlah orang sembarangan. Jika salah sedikit saja dalam mengambil langkah, maka akibatnya akan sangat buruk bagi citra Anda dan juga Klan Serigala Merah. Tak menutup kemungkinan juga jika hal itu akan memicu terjadinya sebuah serangan balik kepada pihak kita," jelas Grigori memberikan pendapatnya.


"Seandainya Roderyk Lenkov juga merupakan orang yang berada di belakang Viktor Drozdov, maka itu harus membuat kita semakin waspada. Kurasa, tuan Marco de Luca pasti memiliki saran yang bagus untuk Anda." Grigori mengarahkan perhatiannya kepada sang ketua Klan de Luca yang tampak sedang berpikir.


"Andai saja aku memang mengenal pria itu, maka tak akan terlalu sulit. Namun, dari perbincangan yang pernah kami lakukan beberapa waktu yang lalu dan jika aku tak salah ingat, Roderyk mengatakan bahwa dia baru beberapa tahun ini tinggal di Italia. Sebelumnya dia bermukim di Jerman. Aku tak tahu apakah dia memimpin sebuah organisasi atau tidak di sana, tapi ...."


Marco menjeda kata-katanya, kemudian mengalihkan pandangan kepada Miabella.


"Kau telah mengenal Vlad Ignashevich dengan cukup lama, Bella. Kenapa tidak mencoba untuk mengorek informasi dari pria itu? Seharusnya ini menjadi sangat mudah bagi kalian, apalagi jika sudah terbukti dengan adanya kedekatan di antara mereka berdua," cetus ayah dua anak tersebut.


Namun, Miabella tak segera menanggapi. Dia melirik Carlo yang jelas-jelas memperlihatkan raut tak setuju atas usulan Marco. Miabella pun dapat memahaminya dengan baik. "Vlad bukan tipe orang yang mudah bercerita meskipun dia ramah dan ...."


"Kau sangat mengenalnya, Cara mia," sela Carlo dengan nada setengah menyindir.


"Ah sudahlah. Kumohon jangan mulai, Carlo," protes Miabella tak suka.


"Apa suamimu cemburu padanya?" bisik Daniella kepada sang keponakan, yang hanya berbalas sebuah keluhan pendek dari Miabella.


"Memangnya kenapa? Aku hanya mengatakan bahwa kau sangat mengenal pria itu," ujar Carlo sambil mengangkat kedua bahunya. Sedangkan Miabella memilih untuk tak menanggapi lagi. "Apakah Anda tidak memiliki akses lain yang dapat membawaku kepada Roderyk, Tuan?" Carlo kembaluli mengalihkan perhatian kepada Marco.


"Sudah kukatakan bahwa aku tidak terlalu mengenal pria itu. Namun, Roderyk Lenkov merupakan seorang pengusaha juga. Kudengar bahwa dia memiliki ketertarikan dengan batu permata," tutur Marco menerangkan.


"Kenapa kalian tidak mencoba untuk melacak Roderyk di internet, jika pria yang kalian maksud memang merupakan seseorang yang berpengaruh?" saran Coco. "Menurutku itu bukan hal yang sulit, mengingat aku pernah melakukannya saat melacak seseorang bernama Don Vargas." Coco yang sudah merasa begitu kenyang setelah menyantap dua porsi hidangan khas Palermo tadi, akhirnya ikut bersuara.


"Aku bukan ahlimya dalam hal seperti itu," bantah Carlo.


"Kau bukan ahlinya, Carlo. Namun, Ricci bisa membantumu. Dia adalah penguntit yang dapat diandalkan," celetuk Daniella, membuat Coco segera menoleh ke arahnya sambil memasang raut protes. Sedangkan Daniella terlihat biasa saja. Wanita berambut pirang itu bahkan masih terlihat sangat tenang.

__ADS_1


"Kenapa kau masih ada di sini, Dani?" balas Coco tak suka. Suami Francesca tersebut tampak semakin risih, ketika perhatian yang lain pun terus tertuju pada dirinya. "Apa? Tidak! Sudah kukatakan bahwa aku sangat sibuk dengan pekerjaanku di Roma," tolak Coco yang ssakan sudah dapat menebak makna dari tatapan yang mereka layangkan tadi.


"Aku akan mengganti rugi setiap wakumu yang terbuang untuk membantuku, Tuan Ricci," ujar Carlo setengah berharap.


"Ini bukan tentang uang, Carlo," bantah Coco cukup tegas. “Aku sudah bersumpah pada Francy untuk tidak menempatkan diriku dalam bahaya. Jadi, maaf karena aku hanya bisa membantu memberi saran saja.”


“Kalau begitu, kalian harus mencari jalan sendiri agar bisa mendekat pada Roderyk. Tak ada pilihan lain, Carlo,” timpal Marco seraya mengempaskan napas pelan.


“Kau harus mampu mengendalikan emosi karena masalah pribadi, demi tujuan yang lebih besar. Tahan dulu rasa cemburumu, sebab tak ada pilihan lain untuk mencari tahu tentang Roderyk Lenkov, selain melalui Vlad Ignashevich,” sambung Coco.


“Dalam hal ini, aku sepenuhnya menyetujui usulan dari tuan de Luca dan tuan Ricci. Mereka berdua memiliki pengalaman yang tak dapat diragukan lagi." Grigori pun kembali mengemukakan pendapatnya.


Sementara Miabella memilih untuk tak banyak bicara. Sesekali, istri dari sang ketua Klan Serigala Merah itu saling pandang dengan Daniella yang juga tak hendak berkata apa-apa.


“Ah baiklah.” Carlo mengempaskan napas kasar. “Kalau begitu, kita atur saja pertemuan antara Miabella dengan tuan Ignashevich,” putus putra bungsu mendiang Nikolai Volkov itu pada akhirnya.


“Bagaimana?” tanya Carlo yang kemudian segera menelan ludah. Perasaannya menjadi tak enak, ketika sang istri berucap demikian.


“Entah mengapa, karena pria itu selalu banyak bercerita jika hanya berdua denganku,” jawab Miabella, membuat Carlo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Perasaan tak enak tadi pada akhirnya benar-benar terjadi.


“Apa aku tidak salah dengar, Cara mia? Kau ingin bertemu berdua saja dengannya?” tanya Carlo penuh penekanan.


“Astaga,” Miabella menggeleng pelan sambil tersenyum simpul. “Kukira hanya aku saja yang memiliki rasa cemburu di atas rata-rata. Ternyata kau juga,” celetuknya sambil tertawa pelan.


“Tentu saja, Bella. Tingkat kecemburuan laki-laki menurutku bahkan jauh lebih besar daripada wanita. Akan tetapi, kami lebih pandai mengendalikan diri dan menyembunyikan perasaan seperti itu,” terang Coco dengan bangga.


“Begini saja.” Marco berusaha menengahi. “Bagaimana kalau kau mengundang Vlad ke Casa de Luca. Pura-pura saja kau sedang sendiri, Bella. Sedangkan Carlo bisa bersembunyi di suatu tempat dan menyadap pembicaraan kalian,” sarannya.


“Aku rasa itu ide yang bagus, Tuan.” Grigori menjentikkan jari tanda setuju.

__ADS_1


“Aku juga menyukai idemu Paman Marco,” timpal Miabella sambil manggut-manggut.


“Kalau aku terserah kalian, karena nanti malam aku harus sudah berada di Roma atau Francy tak akan membiarkanku masuk ke rumah.” Coco turut menanggapi.


“Kami akan mengantarmu, Paman Ricci,” seru Miabella antusias. “Sekalian kami akan kembali ke Casa de Luca.”


“Rupanya kau sudah tak sabar untuk mengatur pertemuan dengan kolega tampanmu itu ya, Bella,” sindir Carlo dengan senyum mencibir. Raut wajahnya terlihat biasa. Namun, siapa sangka bahwa di dalam hatinya, Carlo merasa panas seperti tengah terbakar api.


“Itu pasti, Tampan. Aku sudah tak sabar ingin segera mengetahui dalang di balik usaha penculikanku saat itu, dan juga orang-orang misterius yang telah mengancam keselamatan kita,” tegas Miabella.


“Jadi, kapan kau akan berencana bertemu dengannya?” tanya Daniella yang merasakan situasi antara pasangan pengantin baru itu semakin memanas.


“Lihat ini, Bibi Dani.” Miabella mengeluarkan ponselnya, kemudian menekan nomor kontak Vlad dengan tenang. Setelah menyentuh tombol loud speaker, dia membuat panggilan dengan pria asli Rusia tersebut. Tak berselang lama, Vlad menjawab panggilan telepon tadi. Dari nada bicaranya, mereka sudah dapat menyimpulkan bahwa Vlad terdengar begitu bahagia saat menerima telepon dari Miabella.


“Apa kabar, Nona de Luca? Apakah ada sesuatu yang penting sehingga kau menghubungiku secara tiba-tiba?” tanya pengusaha muda itu antusias.


“Kabarku baik sekali. Terima kasih karena sudah bertanya. Oh ya. Aku ingin membicarakan sesuatu tentang bisnis denganmu. Bisakah kau datang ke Casa de Luca besok? Aku akan mengundangmu makan malam secara pribadi,” jawab Miabella dengan gayanya yang santai.


“Besok? Secara pribadi?” ulang Vlad.


“Iya. Makan malam berdua, agar kita bisa lebih leluasa membicarakan tentang semuanya tanpa gangguan siapa pun,” tegas Miabella seraya menyunggingkan senyuman samar.


Mendengar hal itu, Carlo langsung membelalakkan mata sebagai tanda protes. Namun, Miabella tak peduli. Senyumnya semakin lebar, saat Vlad bersedia menerima undangan itu.


🍒🍒🍒


Hai. Mampir yuk ke karya fenomenal dari author bombastis ini.


__ADS_1


__ADS_2