
Seorang pria tampan dengan gaya rambut man bun datang menghampiri mereka berdua. Pria dengan postur yang tak jauh berbeda dari Carlo. Mereka juga memiliki warna mata serupa. “Maaf. Apakah aku telah mengganggu?” tanya pria yang tiada lain adalah Vlad Ignashevich. Dia menatap lekat kepada Carlo untuk beberapa saat, sebelum mengalihkan pandangan pada Miabella.
“Tentu saja tidak, Vlad. Lagi pula, tuan ini akan segera pergi,” ucap Miabella dengan ekor mata yang mengarah kepada Carlo.
Sementara Carlo sendiri masih mengarahkan perhatian pada pria asing yang menatap Miabella dengan sorot berbeda. Sebagai seorang laki-laki, Carlo dapat merasakan bahwa pria asing yang Miabella sebut dengan nama Vlad tadi memiliki perhatian lebih pada gadis itu. “Sebenarnya urusan kami belumlah selesai,” bantah Carlo yang tak sesuai dengan ucapan Miabella tadi.
Vlad pun segera mengalihkan pandangan kepada Carlo. “Oh begitu.” Dia lalu mengulurkan tangan, kemudian mengajak pria dengan jaket bomber di hadapannya untuk bersalaman. “Namaku Vlad Ignashevich. Sepertinya kita belum pernah bertemu,” ujarnya sambil mengingat-ingat.
“Memang belum,” sahut Carlo. Dia membalas jabat tangan dari Vlad dengan hangat sambil menyebutkan namanya. “Namaku Karl Volkov.”
Seusai mendengar Carlo menyebutkan namanya, raut wajah Vlad tiba-tiba berubah. Pria dengan blazer hitam tersebut menatap lekat kepada putra dari mendiang Nikolai Volkov. “Volkov? Apakah Anda dari Rusia?” tanyanya.
“Ya benar sekali,” jawab Carlo dengan seutas senyuman di sudut bibirnya yang berkumis tipis. “Apa ada masalah?” Carlo balik bertanya.
“Tidak. Tentu saja bukan karena itu,” bantah Vlad. “Rasanya nama yang Anda sebutkan tadi sudah tak asing lagi bagiku ... tapi, sudah pasti tak asing karena kita sama-sama berasal dari Rusia.” Vlad tertawa renyah. Bahasa tubuhnya terlihat hangat dan juga akrab, membuat Carlo yang ramah tak terlalu merasa canggung.
“Oh, jadi Anda pun berasal dari Rusia?” Carlo mencoba berbasa-basi dengan Vlad, meski sesekali ekor matanya tertuju kepada Miabella yang terlihat tak nyaman.
“Ya. Aku berasal dari St. Petersburg,” jawab Vlad.
“Kebetulan sekali,” balas Carlo.
“St. Petersburg?” tunjuk Vlad yang langsung berbalas sebuah senyuman dari Carlo. Vlad pun berdecak pelan. “Jadi, Anda berada di Italia untuk ....” Vlad menjeda ucapannya. Sekilas pria itu melihat pada bunga lily putih yang ada di dalam genggaman tangan Carlo. Ingatannya pun tertuju pada kiriman bunga yang selama ini selalu berakhir di tempat sampah.
“Aku datang kemari untuk menawarkan kerja sama kepada nona de Luca. Akan tetapi, sayangnya dia menolaknya dengan mentah-mentah. Padahal aku bisa menjamin bahwa kerja sama ini akan sangat menguntungkan bagi kami berdua,” ujar Carlo menjelaskan. Dia lalu menoleh kepada Miabella yang segera memalingkan wajah darinya.
__ADS_1
“Benarkah itu, Bella?” tanya Vlad yang memasang raut penasaran.
“Ya,” jawab Miabella.
“Mungkin kita bisa berdiskusi setelah ini,” ucap Vlad lagi dengan sorot mata penuh isyarat kepada Miabella yang hendak protes.
“Terserah kau!” balas gadis itu dengan nada bicaranya yang ketus. Tanpa permisi apalagi basa-basi terlebih dahulu, Miabella langsung saja berlalu dari hadapan kedua pria tampan yang mengikuti langkahnya dengan sorot mata sama.
Setelah gadis itu menghilang di balik tembok pembatas, Vlad pun tersenyum simpul. Dia kembali mengarahkan pandangan kepada Carlo. “Maafkan dia. Nona de Luca memang agak sedikit ....”
“Aku tahu,” potong Carlo dengan segera. “Jika boleh kutahu, Anda siapanya nona de Luca?” selidik pria itu.
“Aku sudah menjalin kerja sama dengan nona de Luca selama beberapa tahun terakhir. Kebetulan, aku adalah distributor dari produk anggur milik keluarga de Luca untuk wilayah Rusia dan sekitarnya,” jelas Vlad.
“Oh baiklah. Kalau begitu, bisakah aku meminta sedikit bantuan?” tanya Carlo lagi.
“Terima kasih sebelumnya,” ucap Carlo menanggapi. “Tolong berikan bunga ini untuk Miabella,” ucap Carlo kemudian. Dia menyodorkan lily putih tadi kepada Vlad. Setelah itu, pria tampan tersebut segera berpamitan. Dia kembali pada motornya, lalu pergi meninggalkan Casa de Luca.
Hari ini mungkin Carlo gagal dalam meyakinkan serta merebut hati Miabella. Namun, ada tujuh hari dalam seminggu. Dia akan memaksimalkan waktu yang singkat tersebut sebelum dirinya kembali ke Rusia.
Sementara itu, Vlad menemui Miabella di dalam ruang kerja. Gadis cantik tersebut tampak melamun sendiri di dekat jendela. Tatap matanya menerawang jauh pada hamparan luas perkebunan anggur, serta jalan setapak yang penuh kenangan bagi dirinya.
“Bunga yang sangat cantik. Sayang sekali jika harus berakhir di dalam keranjang sampah seperti teman-teman sebelumnya,” ucap Vlad yang seketika membuyarkan lamunan Miabella. Gadis berambut cokelat itu pun menoleh.
“Buang saja,” ucap Miabella dengan tak acuh. Dia kembali mengarahkan pandangan ke luar jendela.
__ADS_1
“Tuan Volkov datang kemari untuk menawarkan kerja sama. Kenapa kau menolaknya?” Vlad mengernyitkan kening, karena tak mengerti akan sikap gadis cantik penguasa Casa de Luca yang dia rasa begitu aneh.
“Aku menolaknya karena memang diriku tidak tertarik untuk melakukan kerja sama dengan pria itu,” sahut Miabella masih dengan sikap tak acuhnya.
“Apa kau sadar bahwa tindakanmu sangat keliru, Bella?” tegur Vlad. Dia lalu meletakkan bunga lily yang Carlo titipkan tadi di atas meja kerja. Vlad kemudian berjalan mendekati Miabella dan berdiri tak jauh dari sang rekan bisnis. Pria itu masih merasa sungkan, sehingga dia tetap memberi jarak dengan gadis cantik yang selama ini mengisi hati dan pikirannya.
“Jika boleh kutahu, apakah kau ada masalah pribadi dengan tuan Volkov?” tanya Vlad dengan hati-hati, agar jangan sampai menyinggung perasaan Miabella.
“Itu bukan urusanmu,” jawab Miabella dingin. Seperti yang telah Vlad terka sebelum dia mengajukan pertanyaan tadi.
“Kusarankan agar jangan mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan, karena itu tak akan berakhir baik. Ketika semua orang ke sana-kemari mencari relasi, kau justru menolak kesempatan yang datang padamu. Bayangkan berapa persen dari keuntungan yang akan kau terima, tapi harus melayang begitu saja karena sebuah ego.” Vlad menatap paras menawan Miabella dari samping. Ujung hidung yang terlihat begitu indah, berpadu dengan bibir bervolume dengan polesan lipstik berwarna nude.
Pandangan mata lelaki seorang Vlad, kemudian beralih pada leher jenjang berhiaskan kalung kecil. Nakal, perhatian pria asal Rusia tersebut lalu berpindah pada dada dengan ukuran yang terlihat sangat normal. Semua yang ada pada diri Miabella memang indah secara alami. Gadis itu terlahir dengan kesempurnaan fisik yang luar biasa, tanpa campur tangan seorang dokter ahli bedah plastik.
Hasrat dalam diri Vlad mulai bergejolak. Namun, pria tampan bermata biru itu berusaha untuk tetap mengendalikan diri. Dia tak akan bertindak bodoh dengan melakukan sesuatu yang konyol, apalagi dapat merusak jalinan yang sudah tertata dengan baik dalam beberapa tahun ini.
“Pikirkanlah sekali lagi. Lihat segalanya dari dua sisi yang berbeda. Ini bisnis, Nona. Apapun harus kita lakukan, demi dapat tetap berada di jalur persaingan yang tentunya memberikan sebuah keuntungan besar,” ujar Vlad kembali meyakinkan Miabella agar menerima tawaran kerja sama dari Carlo.
“Sepertinya kau berambisi sekali untuk menjalin kerjasama dengannya.” Perhatian Miabella kini beralih pada Vlad. Gadis itu menatap tajam ke arah rekan bisnisnya tersebut.
“Aku sekarang baru ingat tentang siapa Karl Volkov sebenarnya,” sahut Vlad dengan sorot mata penuh arti.
“Memangnya siapa dia?” pancing Miabella seraya menaikkan sebelah alisnya yang terbentuk dengan indah.
“Bisa dikatakan bahwa pria itu adalah penguasa baru di organisasi bawah tanah Rusia,” jawab Vlad dengan yakin. “Bagi kami para pengusaha, adalah suatu kewajiban untuk berkenalan dengan mereka yang memiliki kekuasaan di dunia hitam. Hal itu kami lakukan sebagai salah satu cara untuk melindungi bisnis. Bekerja sama dengan mereka berarti terjaminnya keamanan bagi perusahaan,” tutur Vlad hati-hati.
__ADS_1
“Bayangkan jika kau mendapat dukungan penuh dari Karl Volkov dan seluruh anggota organisasinya, Bella. Kau akan menjadi produsen anggur yang tak terkalahkan di daratan Rusia,” bujuk Vlad dengan nada bicara yang berapi-api.
"Aku tidak tertarik." Lagi-lagi, Miabella menolak segala masukan yang dikemukakan oleh Vlad. Gadis itu kemudian beranjak ke dekat meja kerja. Dia lalu memandang bunga lily yang Carlo bawa untuknya. Selama beberapa saat, gadis cantik tersebut diam dan tampak berpikir. "Jadi, lebih banyak keuntungan yang akan kudapatkan andai bekerja sama dengan Karl Volkov? Jika memang begitu, maka baiklah. Aku terima," putus Miabella.