
Seketika wajah tampan Vlad berubah serius. Otot rahangnya tampak sedikit menegang. Dia lalu meneguk minuman yang telah disediakan oleh seorang pelayan untuknya. Vlad pun mendehem pelan. “Maaf, Bella. Tenggorokanku sangat kering,” ucap pria berambut pirang tersebut seraya kembali meletakkan gelasnya. Dia lalu menoleh kepada seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari meja makan.
Seorang wanita muda yang mengenakan seragam khusus itu pun mendekat. Dengan setengah membungkukkan badan, pelayan tadi berkata dengan begitu sopan. “Apakah ingin kuisikan lagi gelasnya, Tuan?” tawar wanita yang sepertinya berusia sama dengan Luciella.
“Silakan,” jawab Vlad. Pria itu telah kembali pada sikap tenang yang menjadi ciri khas dirinya. Vlad kemudian mengalihkan perhatian kepada Miabella yang masih memperhatikan dengan lekat. “Apakah aku belum bercerita padamu?” tanyanya. Namun, beberapa saat kemudian Vlad meralat kata-katanya sendiri. “Ah ya. Maaf. Kau baru mengenal Keluarga Romanov sekarang, setelah menikah dengan Karl Volkov.”
“Ya. Aku bertemu dengan perawan tua itu saat pertama kali tiba di Rusia. Dia sudah berani menyentuh rambutku. Kau tahu, Vlad? Aku bersumpah akan menembaknya dari jarak dekat, andai wanita itu berani berbuat macam-macam lagi,” ancam Miabella dengan yakin.
“Aku tak akan pernah meragukanmu, Bella,” balas Vlad seraya tersenyum sambil menggeleng pelan. “Aku juga tidak terlalu suka dengan ayah dan anak itu,” imbuhnya.
“Jadi, apa yang mereka tawarkan padamu, Vlad?” tanya Miabella saat pria tampan dari Rusia itu hendak meneguk minumannya, membuat Vlad hampir tersedak. Dengan segera, pria dengan gaya rambut man bun tersebut meletakkan gelasnya ke atas meja. Dia tersenyum kecil untuk menyembunyikan rasa gugup yang kembali menggelayuti.
“Mereka hanya menawarkan untuk bisa dekat denganku, tapi aku segera menolak. Stefan dan putrinya itu seperti parasit. Aku tidak akan sudi menerima apapun yang berkaitan dengan dua orang itu,” jawab Vlad kemudian.
“Baguslah kalau begitu. Aku sangat menyukai keputusanmu. Aku juga tidak akan setuju, seandainya suatu saat kau menjalin kerja sama dengan keluarga Romanov. Jika itu terjadi, maka aku akan memutuskan kerja sama yang terjalin sekian tahun di antara kita,” ucap Miabella dengan tegas dan terdengar seperti sebuah ancaman.
“Aku lebih baik kehilangan semuanya dari pada harus berhenti berkomunikasi denganmu,” sahut Vlad, yang seketika dia ralat. “Maaf, maksudku bukan begitu. Aku ….”
“Tidak apa-apa. Aku bisa memahaminya,” sela Miabella seraya tersenyum manis dan diiringi sorot penuh arti. Sikap yang ditunjukkan wanita muda itu, membuat Vlad harus memalingkan wajah karena salah tingkah. Sesaat kemudian, Vlad memulai acara santap malam itu, setelah Miabella mempersilakannya. “Jadi, suamimu sakit apa?” tanyanya berbasa-basi.
“Bukan hal yang serius. Akhir-akhir ini dia terlalu sibuk dengan segala urusannya, sehingga mengabaikan kesehatan. Terlebih karena kami melakukan perjalanan udara dan … oh ya, Vlad. Apa ayah angkatmu pernah mencicipi Du Fontaine?” Miabella kembali mengalihkan perbincangan yang mengarah kepada Roderyk Lenkov.
“Tentu saja. Namun, ayah angkatku saat ini sudah mengurangi konsumsi minuman beralkohol,” jawab Vlad tanpa rasa curiga sama sekali.
“Ah sayang sekali. Itu berarti dia tidak bisa sering-sering menikmati anggur dari Casa de Luca,” kelakar Miabella.
__ADS_1
“Dari dulu dia selalu menjaga kebugaran tubuhnya, Bella. Ayah angkatku berkomitmen untuk hidup dengan pola makan yang sehat,” jelas Vlad.
“Lalu, jika dia merupakan ayah angkatmu … ke mana ayah kandungmu?” Pertanyaan Miabella terdengar semakin dalam mengulik sosok sang rekan bisnis.
Bukannya merasa terbebani karena harus memberikan jawaban kepada Miabella, Vlad justru tertawa pelan. Pria bermata biru itu kembali meneguk air di dalam gelas yang berada di sebelah tangan kanan. Entah mengapa dia melakukan hal itu. Mungkin saja bahwa segelas air dapat mencairkan rasa gugup dalam dirinya.
“Sudah berapa lama kita saling mengenal, Bella? Kenapa baru kali ini kau merasa tertarik dengan kehidupan pribadiku?” Vlad merekatkan kedua tangan, sehingga jemarinya saling bertaut. Dia lalu memainkan jemarinya yang bertaut tadi di dekat dagu. Vlad seperti tengah menganalisa apa yang ada di dalam pikiran lawan bicaranya.
“Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali. Kau pasti sudah mengetahui peribahasa itu dengan baik,” sahut Miabella tenang. “Lagi pula, pikiranku dulu sedang tidak fokus. Kau tahu bahwa aku menjadi orang yang sangat tidak menyenangkan saat itu.” Miabella menyunggingkan sebuah senyuman yang tampak sangat berbeda kepada Vlad.
“Astaga, keponakanku ternyata pintar bersandiwara juga,” celetuk Coco yang sejak tadi fokus memperhatikan layar bersama Carlo. Namun, sepertinya sang ketua Klan Serigala Merah tak berminat untuk menanggapi celotehan Coco yang bernada provokasi.
Carlo tak berpaling sedikit pun mengawasi setiap gerak dan ekspresi sang istri yang tertangkap kamera pengawas. Jika bukan karena membutuhkan sebuah informasi, maka dia tak akan pernah membiarkan pria manapun menatap Miabella berlama-lama, seperti yang Vlad lakukan saat ini terhadap wanita cantik berambut cokelat itu.
“Kau lucu sekali, Bella. Sangat sulit untuk dapat mengenalmu secara utuh. Namun, jika aku teringat akan ucapan tuan D’Angelo, maka diriku patut berbangga hati. Setidaknya kau tak ada niat untuk menembakku dari jarak dekat.” Vlad tertawa pelan saat mendengar hal itu.
“Aku akan berubah pikiran andai kau bertindak menyebalkan. Ingat kata-kataku ini dengan baik, Tuan Ignashevich.” Miabella berkata dengan begitu tenang, tapi sorot matanya menunjukkan keseriusan yang besar.
“Aku yakin kau tak akan melakukannya, Bella,” bantah Vlad.
“Kata siapa?” Miabella tertawa renyah. “Jadi, kau tak akan menceritakan apapun padaku?” tanya Miabella kembali pada pembahasan semula.
“Haruskah aku merasa curiga?” Vlad seakan hendak mengulur waktu dengan mempermankan kesabaran Miabella.
“Kenapa kau harus merasa curiga?” Miabella mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
“Entahlah. Bisa saja suamimu sedang mengawasi kita dari sebuah tempat yang tersembunyi di dalam bangunan ini, lalu dia menyadap semua perbincangan kita ….”
“Bagaimana kau bisa berpikir sejauh itu?” sela Miabella. Sebisa mungkin dia menyembunyikan rasa gugupnya, karena Vlad mengatakan sesuatu yang merupakan kebenaran. “Kau tak perlu merasa takut. Suamiku tak akan menyerang secara membabi-buta, tanpa aturan, apalagi terhadap seseorang yang tak memiliki masalah dengannya. Kenapa kau harus merasa resah?”
“Entahlah. Anggap saja bahwa itu hanya perasaanku.” Vlad kembali tertawa kecil, lalu meletakkan peralatan makannya.
“Jika kau memang sangat tertarik dengan latar belakangku, bagaimana kau hadir ke pesta yang rencananya akan kulangsungkan di Catania? Di sana, aku akan menceritakan segala hal yang ingin kau ketahui. Itu pun jika memang kau tertarik,” tawar Vlad. Mata birunya yang indah tampak berkilat, membuatnya terlihat berkali lipat lebih tampan.
“Ah benarkah?” Miabella yang terus memperhatikan Vlad sambil menopang dagu, semakin lekat memperhatikan pria di hadapannya. “Berhubung suamiku sedang tak ada di sini, maka biarlah kukatakan padamu. Aku memang tertarik pada segalanya tentang dirimu. Sejak kejadian penculikan yang menimpaku di pesta paman Marco. Daddy Zio sempat mengatakan padaku bahwa kau begitu mengkhawatirkanku kala itu. Hal tersebutlah yang membuatku merasa tersanjung,” dalih Miabella.
Vlad pun seketika terbelalak tak percaya, mendengar penjelasan rekan bisnisnya tersebut. “Apa aku tidak salah dengar?” desisnya.
“Tidak. Aku mengatakan yang sebenarnya, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Oleh karena itu, aku ingin memenuhi undangan pestamu di Catania,” jawab Miabella.
“Apa kau yakin?”
“Aku sepenuhnya yakin,” tegas Miabella menanggapi keraguan dalam diri Vlad.
“Namun, aku hanya mengundangmu seorang, Bella. Itu artinya, kau tak boleh membawa serta suamimu,” balas pria berambut gondrong tersebut, yang membuat Miabella langsung terkesiap.
🍒🍒🍒
Rekomendasi novel bagus, yuk mampir dan masukkan favorit. Pasti suka.
__ADS_1