
Adriano sebelumnya telah menghubungi Benigno, ketika dia mendengar kabar bahwa Miabella menghilang dari Casa de Luca. Tanpa berpikir panjang, sang ketua Tigre Nero pun mengajak serta pria yang telah sekian lama mengabdi padanya tersebut untuk pergi ke Palermo. Di sana, Marco telah menunggu mereka. Dari Palermo, Adriano akan berangkat bersama dengan saudara ipar Mia tadi menggunakan pesawat jet pribadi menuju Rusia.
Setibanya di Palermo, Marco dan Zucca yang telah bersiap pun langsung saja bertolak ke negeri Beruang Merah itu. Mereka tak membawa banyak pasukan, karena ini bukanlah misi penyerangan. Adriano hanya ingin menemukan keberadaan Miabella.
Sementara Luciella segera menghubungi Grigori. Dia mengabarkan apa yang terjadi di Casa de Luca kepada pria paruh baya tersebut. Dengan segera, Grigori pun menghubungi Igor. Namun, panggilannya tak juga dijawab oleh sang rekan. Bagaimana tidak, Igor dan Ivan tengah sibuk berhadapan dengan Adriano beserta Marco.
"Tuan muda memang pergi ke Italia. Akan tetapi, hingga saat ini dia belum kembali. Untuk apa kami menutupi keberadaannya? Tuan muda kami bukanlah seorang pengecut yang akan bersembunyi begitu saja," ucap Igor menjelaskan dengan menggunakan bahasa Rusia kepada Adriano.
"Apa katanya?" bisik Marco yang tak memahami ucapan pria paruh baya tadi. Adriano pun menjelaskan dalam bahasa Italia. Setelah mendengar hal itu, Marco hanya berdecak pelan. "Kenyataannya adalah Carlo telah datang ke Casa de Luca. Dalam rekaman kamera pengawas pun terlihat dengan begitu jelas bahwa dia keluar dengan membawa serta keponakanku." Marco menunjukkan raut tak suka atas ucapan Igor.
Sedangkan Adriano tak segera menanggapi. Dia mengedarkan pandangan pada bangunan megah dengan arsitektur yang sangat luar biasa. Pilar-pilar besar berdiri kokoh menyangga bagian atas dengan berbagai ukiran yang diberi sentuhan warna emas. Sedangkan, sebagian dindingnya dihiasi dengan sebuah lukisan menakjubkan dari perpaduan warna yang pastinya dibuat oleh tangan seorang profesional.
"Bukan maksudku untuk bersikap tidak sopan. Akan tetapi, aku ingin memastikan sendiri apakah putriku ada di sini atau tidak," tegas Adriano dengan raut serta intonasi yang teramat serius.
"Apa maksud Anda?" Igor terlihat tenang meskipun dalam hatinya merasa keberatan. Sepertinya dia telah menangkap maksud dari ucapan Adriano barusan. Bagaimanapun juga, dia tak ingin jika istana kebanggaan Klan Serigala Marah diobrak-abrik seenaknya oleh orang asing. Terlebih karena Igor ataupun Ivan tidak terlalu mengenal sosok Adriano maupun Marco. "Jangan katakan jika Anda bermaksud untuk menggeledah tempat ini. Jika memang seperti itu, maka maaf karena kami tak akan pernah mengizinkannya," tegas pria itu.
"Jika Anda tak memberi kami izin, maka itu berarti ...." Adriano tak melanjutkan kata-katanya, ketika seorang wanita paruh baya berambut gelap muncul di ruangan luas nan megah tadi. Adriano tertegun memandang ke arah si wanita yang terlihat masih cantik dan juga sangat anggun dengan pembawaannya yang elegant. "Nyonya Fabiola?" Sang ketua Tigre Nero pun bergumam pelan menyebutkan nama wanita tersebut.
“Apa kabar, Adriano?” Fabiola tersenyum hangat kepada sang ketua Tigre Nero.
“Jadi, Anda sudah tinggal di sini?” Pria bermata biru itu ragu-ragu mendekat ke arah wanita yang berdiri beberapa meter di depannya.
__ADS_1
“Terakhir kali kita bertemu adalah saat Alessandro membawamu ke rumah singgah, kemudian mengajarimu menggendong seorang bayi,” ujar Fabiola dalam bahasa Italia sambil terkekeh pelan. Dia tak menghiraukan pertanyaan Adriano sebelumnya.
“Bayi itu adalah putraku, Carlo alias Karl Mikhailov, atau yang sekarang dikenal dengan nama Karl Volkov. Kau menggendongnya dengan riang. Masih teringat jelas dalam ingatanku, kau menyanyikan lagu untuknya sampai tertidur. Berapa usiamu waktu itu, Adriano? Lima belas? Enam belas?” Fabiola malah balik bertanya.
“Apa-apaan ini? Kau pernah menimang Carlo?” bisik Marco tak mengerti.
“Enam belas tahun, Nyonya. Aku juga mengingatnya dengan sangat jelas. Setelah itu, Anda pergi entah ke mana,” jawab Adriano. Dia tak mengubris perkataan Marco.
“Aku bersembunyi tak jauh dari rumah singgah,” sahut Fabiola. “Aku tinggal di biara selama puluhan tahun untuk menyelamatkan diri dari kejaran Viktor Drozdov," jelas ibunda Carlo tersebut
“Oh, jadi begitu.” Marco manggut-manggut mendengarkan penjelasan Fabiola, meskipun dia tak begitu paham akan apa yang terjadi pada masa lalu.
“Namun, sesuai yang kudengar bahwa Carlo ... ah maksudku Karl Volkov. Dia telah berhasil membantai Viktor,” ujar Adriano lagi.
“Aku turut senang mendengarnya. Namun, maafkan jika aku tak sopan, Nyonya Fabiola. Aku hendak mencari putriku. Mungkin saja dia tengah bersembunyi di balik salah satu pilar raksasa bangunan ini,” ujar Adriano setengah berkelakar.
“Oh.” Fabiola terdiam sejenak, kemudian tertawa lirih. “Adriano … sebelumnya aku mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Alessandro. Aku tahu dia sudah tak bisa mendengar apa yang akan kukatakan ini. Akan tetapi, cukuplah dirimu yang mewakilinya.” Wanita itu melangkah perlahan, sehingga dirinya semakin mendekat kepada Adriano.
“Nyonya,” desis Igor mengingatkan. Dia merasa khawatir jika nyonya besarnya itu berada terlalu dekat dengan orang-orang yang menurutnya masih sangat asing.
Fabiola segera mengangkat tangannya kepada Igor, sebagai isyarat agar salah satu dari orang kepercayaan mendiang sang suami tersebut tak perlu cemas. “Jika bukan karena Alessandro Moriarty yang merupakan paman dari Adriano D’Angelo, mungkin aku dan putraku saat ini sudah tak ada lagi di dunia. Mereka yang telah memberikan naungan dan perlindungan untuk kami, Igor. Pokazat' nekotoroye uvazheniye (Tunjukkan rasa hormatmu)!” tegas nada bicaranya yang kali ini berkata dalam bahasa Rusia, membuat setiap orang yang berada di ruangan luas itu seketika terdiam.
__ADS_1
“Adriano.” Fabiola kembali mengarahkan tatapannya pada ayah sambung dari Miabella tersebut. “Aku tak akan takut mengatakan kejujuran bahwa putrimu tidak ada di sini.” Suara wanita itu memang terdengar begitu lembut. Namun, terdapat kekuatan yang teramat besar pada setiap penekanan kata yang dia ucapkan.
“Terakhir kali aku bertemu dengan Karl adalah dua hari yang lalu. Dia berpamitan dengan terburu-buru padaku, seolah ada sesuatu hal penting yang hendak dirinya selesaikan. Sejak saat itu aku belum melihatnya lagi. Hingga detik ini, Karl belum pulang kemari. Aku berani menjamin hal itu, karena jika sedang berada di rumah, maka dia akan selalu mampir ke kamarku untuk mengucapkan selamat malam,” ujar Fabiola dengan yakin.
“Apakah Anda bisa menghubungi putra Anda, Nyonya?” tanya Adriano lagi.
“Ya. Tadi pagi dia menghubungiku dan mengatakan bahwa dirinya dan Miabella baik-baik saja. Benarkah itu nama putrimu? Miabella?” Fabiola balik bertanya.
“Ya, Nyonya. Putriku bernama Miabella,” jawab Adriano seraya mengangguk.
“Kurasa mungkin saat ini mereka tengah bersenang-senang.” Fabiola tersenyum lebar selesai berkata demikian. "Biarkanlah. Mereka masih muda dan juga sama-sama lajang," lanjut wanita itu.
“Bersenang-senang?” ulang Marco dengan nada tak suka. Dia buru-buru menarik tangan Adriano. “Bukan seperti ini yang kubayangkan, Amico. Dalam pikiranku, Miabella yang mengurung diri di kamar akan keluar saat pesta berlangsung. Lalu, bagaimana ini? Undangan sudah terlanjur kusebar,” desisnya pelan. Marco terlihat begitu gusar.
Sedangkan Adriano hanya mendengarkan, tanpa menanggapi. Tak sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya saat itu. Sambil mengempaskan napas pelan, dia kembali beralih pada Fabiola. “Kalau boleh kutahu, di mana tepatnya posisi mereka bersenang-senang saat ini, Nyonya?” pancingnya.
“Aku juga tidak tahu. Karl tak mengatakan apapun padaku,” terang Fabiola dengan bahasa tubuh yang terlihat tenang.
“Aku membayangkan Miabella marah-marah dan memporakporandakan pestanya, lalu para pria akan terpana melihat sikap barbar di balik wajahnya yang cantik jelita. Kemudian pria-pria itu jatuh cinta kepadanya. Kau tahu bukan, pria-pria penguasa dunia hitam akan menyukai sifat wanita yang seperti itu,” bisik Marco tepat di telinga Adriano. “Mereka akan berlomba merebut perhatian Bella. Itu rencanaku pada awalnya. Aku tak menyangka akan berakhir berantakan seperti ini,” ucapnya sembari menggeleng kecewa.
“Jujur saja bahwa setelah mendengar idemu barusan, aku jadi berpikir jika rencanamu itu buruk sekali,” Adriano berdecak kesal.
__ADS_1
“Sesuai perkataan Igor, aku akan menentang keras keinginanmu yang hendak menggeledah tempat ini, Adriano,” sela Fabiola tiba-tiba. “Aku memang berutang budi padamu, tapi itu tidak berarti bahwa kau bisa menginjak-injak harga diriku dengan berbuat seenaknya di tempat ini. Istana ini adalah kenangan dari suamiku.” Tajam sorot mata Fabiola dia tujukan pada Adriano dan juga Marco.