
Setibanya di Casa de Luca, Carlo segera memarkirkan motornya. Dengan langkah gagah, dia memasuki bangunan megah yang penuh dengan cerita pada masa lalu. Di pintu depan, seorang pelayan yang tiada lain adalah Luciella datang menyambut kehadiran pria tadi.
"Apakah nona de Luca ada di tempat?" tanya Carlo.
"Um ... nona ...." Luciella kembali tergagap saat berhadapan langsung dengan sosok Carlo. Selama ini, dia hanya mendapat tugas dari Grigori untuk mengawasi Miabella dan melaporkan segala hal penting yang terjadi pada gadis itu. Dia juga kerap mendengar nama Carlo dari pria paruh baya tersebut. Namun, Luciella tak menyangka bahwa sosok Carlo begitu tampan dan mengagumkan.
"Nona muda ... dia sedang ...." Luciella lagi-lagi tak tahu berkata apa. Seluruh konsentrasinya seketika buyar bahkan hilang sama sekali.
Carlo pun memutuskan untuk langsung masuk tanpa menunggu jawaban pelayan muda tadi. Lagi pula, dia sudah mengenal setiap sudut bangunan Casa de Luca. Dia berjalan dengan langkah tegap dan terlihat sangat gagah. Tujuannya saat itu adalah ruang kerja.
Akan tetapi, langkah pria tampan tersebut seketika berhenti, ketika dia melintas di ruang makan yang langsung menghadap ke area halaman belakang dan juga kolam renang. Dari jarak beberapa meter, ekor mata seorang Carlo dapat menangkap sebuah pergerakan di dalam kolam renang dengan ukuran cukup lebar itu. Carlo pun memutuskan untuk berbelok ke sana.
Tanpa melepas kacamata hitam yang dirinya kenakan, Carlo berdiri di tepian kolam. Adalah sebuah pemandangan yang teramat indah dan tak ingin dia lewatkan, ketika melihat tubuh semampai berbalut bikini two piece berwarna putih, tengah meliuk-liuk di dalam air.
Sebuah senyuman pun terlukis di wajah Carlo. Kenangan indah beberapa tahun silam, ketika dirinya dapat menyentuh dan menikmati raga indah Miabella kembali hadir. Hal itu telah berhasil membangkitkan hasrat dalam dirinya menjadi kian besar, untuk dapat merebut lagi cinta dari gadis pujaan.
Menyadari bahwa ada seseorang yang tengah memperhatikan dirinya, Miabella pun segera berbalik. Gadis itu seketika terkejut, saat mengetahui bahwa sang mantan kekasih yang ternyata ada di sana. Dengan terburu-buru, Miabella naik ke tepian. Dia meraih handuk dan melingkarkan di pinggang.
"Kenapa berhenti, Nona?" tanya Carlo dengan cukup nyaring, berhubung posisi Miabella berada di seberang kolam. Pria itu kemudian berjalan mendekat ke arah di mana si gadis berada. Dia berdiri menghadang Miabella yang hendak berlalu meninggalkannya.
"Permisi," ucap Miabella dingin.
"Beginikah caranya seorang tuan rumah dalam menyambut tamu?" Carlo masih terlihat tenang. Senyuman khas yang sangat menawan pun tak kunjung sirna dari paras tampannya.
__ADS_1
"Kau adalah tamu yang tak pernah diundang," sahut Miabella ketus.
"Seperti halnya hujan yang terkadang datang tanpa diminta, tapi semua orang merasa senang akan suasana sejuk yang dihadirkannya," balas Carlo.
"Kau bukan hujan, Carlo. Kau adalah kuman!" umpat Miabella kesal, karena Carlo terus saja menghalangi langkahnya.
"Aku memang kuman. Akan tetapi, aku adalah kuman yang baik," bantah Carlo mencoba untuk mengajak gadis itu bercanda. Sesuatu yang selalu dia lakukan, ketika Miabella merasa kesal dan merajuk atas segala sikap manjanya.
"Tidak ada kuman yang baik. Dasar bodoh!" dengus gadis itu. Dia mendorong tubuh tegap Carlo, tapi tentu saja tenaganya tak cukup kuat untuk melakukan hal itu. Apalagi, karena Carlo lebih dulu memegangi pergelangan tangan Miabella dan menggenggam erat. "Lepaskan!" Miabella melotot tajam kepada pria tampan di hadapannya.
"Akan kulepaskan dengan satu syarat," balas Carlo.
"Aku tidak peduli dan tak ingin bermain-main denganmu!" tolak Miabella masih dengan nada bicaranya yang ketus.
Sementara Carlo juga ikut terdiam. Lekat, tatap matanya memindai setiap inci dari tubuh dengan kulit seputih susu dan berhiaskan titik-titik air yang belum sempat dikeringkan. Rambut cokelat Miabella pun begitu basah, menjuntai panjang menutupi punggung mulus dengan tali kecil yang melintang dari bikini bagian atasnya.
"Nona," ucap Carlo menyebut gadis cantik itu dengan setengah berbisik. "Izinkan aku untuk menjelaskan semuanya," pinta pria bermata biru tersebut. Sebagai seorang ketua dari sebuah organisasi besar dan ternama di Rusia, Carlo tak akan terlalu merendahkan harga dirinya. Dia tak ingin mengiba. Akan tetapi, dari nada bicara serta sorot mata pria itu pun sudah tersirat jelas harapan besar yang dia bawa ke hadapan Miabella.
"Kau boleh marah, memakiku secara kasar, atau mungkin menampar dengan keras. Namun, setidaknya biarkan aku memberikan sebuah alasan yang kuharap bisa kau mengerti." Lembut dan hati-hati nada bicara Carlo saat itu.
Miabella tak segera menjawab. Dia juga masih membuang muka dari Carlo. Gadis itu menghindari untuk beradu pandang dengan pria yang telah mengisi, sekaligus mencabik-cabik hatinya hingga terasa begitu sakit.
"Tolong, katakanlah sesuatu," pinta Carlo tanpa mengubah intonasinya.
__ADS_1
"Setidaknya, biarkan aku berpakaian terlebih dulu," balas Miabella dingin.
"Oh baiklah. Lagi pula, aku juga tak akan sanggup jika terus melihatmu dalam keadaan seperti ini." Nada bicara Carlo tiba-tiba berubah. Dia tersenyum dan terlihat begitu santai, tak ada kesan serius seperti beberapa saat yang lalu.
Akhirnya, Carlo pun membiarkan Miabella berlalu menuju kamar. Sementara dia menunggu di ruang kerja. Cukup lama pria itu menantikan kehadiran sang nona muda di sana. Carlo bahkan sudah gelisah. Namun, baru saja dia memutuskan untuk memastikan bahwa Miabella tidak melarikan diri, gadis itu telah masuk dengan penampilan yang jauh lebih rapi.
Miabella mengenakan atasan crop berwarna senada, dengan rambut panjangnya yang terlihat sudah kering. Pinggang kecil nan ramping itu terlihat jelas, dengan sebuah tindik di bagian pusar. Sementara celana cargo masih menjadi pilihan utama gadis itu sejak dulu.
Carlo yang sedari tadi telah gelisah menantinya, seketika tersenyum saat melihat gadis cantik tersebut. Getaran dalam hati menyuruhnya untuk mendekat. Akan tetapi, Carlo tak ingin terburu-buru. Sebisa mungkin dia menahan sejenak segala rasa rindu yang ingin segera dirinya curahkan.
"Aku sudah bertemu dengan Vlad Ignashevich. Kami berbicara tentang rencana kerja sama," ucap Carlo membuka perbincangan pada siang menuju sore itu.
Sementara Miabella tak langsung menanggapi. Dia lebih dulu mempersilakan Carlo untuk duduk. Setelah itu, gadis cantik tersebut mengambil dua buah gelas beserta sebotol minuman yang segera dihidangkan di atas meja. Miabella pun duduk dengan anggun tak jauh dari tempat Carlo berada. "Itu bagus. Artinya, aku tak harus menjelaskan apapun lagi padamu," ujar gadis itu seraya menuangkan minuman ke dalam gelas miliknya dan juga Carlo.
"Kenapa aku harus berurusan dengan pria itu? Aku menawarkan kerja sama padamu, bukan padanya," pikir Carlo mencoba untuk tak mencerna segala penjelasan dari Vlad, meskipun dia telah memahaminya dengan sangat baik.
"Aku tahu bahwa kau tidak bodoh, Carlo. Jangan mencari alasan!" sergah Miabella mulai merasa jengkel.
Sedangkan Carlo masih terlihat tenang. Dia tak ingin terpancing sama sekali. Dia malah melihat layar ponselnya. "Oh pantas."
"Kenapa?"
"Periode," jawab Carlo tenang.
__ADS_1