
Carlo semakin terdesak. Sementara Miabella tak juga membalas panggilannya. Di saat genting seperti saat itu, dia tak mempunyai pilihan lain. Carlo kemudian mengeluarkan beberapa butir benda mirip kelereng yang berukuran jauh lebih kecil, lalu menekan satu sisinya.
Benda itu berkedip dan mengeluarkan cahaya berwarna hijau. Carlo segera melemparkan bola-bola kecil tadi ke arah para pengawal yang terus berusaha menangkap dirinya hidup-hidup. Bola-bola tersebut meledak. Bersamaan dengan itu, Carlo menarik penutup lubang ventilasi yang sempat dirinya lihat di sisi koridor. Dia melompat ke dalam lorong kecil dan merangkak cepat. Menjauh dari area ledakan. Tak dipedulikannya pekik kesakitan dari para pengawal Roderyk yang terbakar.
Carlo terus bergerak sambil memperhatikan jam tangan canggihnya. “Cara mia," gumam pria itu pelan. Sang ketua Klan Serigala Merah, teringat pada sang istri yang belum juga menjawab panggilannya. Berkali-kali dia memanggil lewat benda kecil yang sengaja ditempel di kerah bajunya. Akan tetapi, tetap tak ada jawaban apapun dari Miabella.
Carlo pun memutuskan untuk terus merangkak. Mencari ujung lubang ventilasi yang menembus ke luar mansion. Setelah beberapa saat berada dalam lubang sempit tadi, barulah dirinya dapat menemukan jalan keluar.
Ujung lubang ventilasi tersebut tertutup oleh papan besi dua lapis. Alhasil, Carlo harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menendang papan itu menggunakan kedua kaki. Papan tersebut sampai terlepas dari engselnya, lalu terlempar beberapa meter ke depan.
Setelah pintu itu terbuka secara sempurna, Carlo menyembulkan kepala keluar. Dia mendapati dirinya sudah berada di taman belakang.
Tampaklah di depannya, para pelayan dari agensi berhamburan keluar dari pintu yang menghubungkan langsung ke dapur mansion. Carlo berpikir bahwa pesta dibubarkan lebih awal. Hal itu pasti dikarenakan insiden yang melibatkan dirinya.
Sesaat kemudian, seluruh tubuh Carlo sudah berada di luar lubang ventilasi. Dengan gaya yang dibuat sesantai mungkin, dia berbaur dengan para pelayan yang berseragam dan berjalan tertib melewati gerbang besar.
Akan tetapi, pada dua sisi gerbang itu terlihat juga belasan pengawal Roderyk berjaga sambil menenteng senjata laras panjang. Mereka memeriksa satu per satu orang yang keluar dari sana, dengan cara meminta kartu identitas masing-masing petugas dari agency. Beruntung karena Carlo masih menyimpan kartu identitasnya yang palsu.
Setelah tiba gilirannya, Carlo diminta untuk melepas topeng mata di hadapan para pengawaal berwajah garang tadi. Mereka lalu, membandingkan wajah tampan itu dengan foto yang terdapat di kartu.
“Kau boleh keluar!” ujar salah satu di antara para pengawal dengan wajah bengis.
Tanpa banyak bicara, Carlo mengangguk dan bergegas menjauh dari mansion. Dia berjalan cepat sambil terus berusaha menghubungi Miabella. Hanya satu yang Carlo harapkan, yaitu istrinya pun dapat keluar dari mansion megah itu dengan selamat.
Namun, sepertinya apa yang menjadi harapn Carlo tidaklah terkabul, karena saat itu Miabella tengah digiring menuju lift berukuran kecil bersama Vlad dan dua orang pria bersetelan serba hitam.
Miabella yang masih terlihat cantik dengab gaun merah dan sepatu high hells-nya, merasakan lantai lift bergerak turun lalu berhenti beberapa saat sebelum pintu lift bergeser dan terbuka. Mata abu-abunya yang indah, bergerak memperhatikan sekitar. Tampaklah ruangan luas yang terbentang di hadapannya. Sebuah tempat yang mengingatkan dia, pada ruang bawah tanah rahasia milik sang ayah, Adriano.
“Kenapa kau membawaku kemari, Vlad?” tanya Miabella dengan ketus.
Akan tetapi, rekan bisnisnya itu tak segera menjawab. Dia malah menatap Miabella penuh arti, kemudian berusaha untuk menggenggam tangan wanita cantik tersebut.
__ADS_1
Tentu saja Miabella tak menyukai perlakuan pria itu. Pewaris Perkebunan Casa de Luca tersebut segera menampiknya. “Jangan kurang ajar! Ingatlah di mana posisimu,” desis Miabella dengan raut tak bersahabat.
“Ah, kukira kau mulai tertarik padaku, Bella. Apakah semuanya hanya sandiwara?” Vlad mengunggingkan senyuman sinis. Dia memaksa untuk mencengkeram pergelangan tangan Miabella, lalu menyeret istri Carlo tersebut ke dalam ruangan yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca.
Ruangan tersebut berlantai keramik berwarna putih dan dilengkapi dengan sebuah meja serta kursi yang terbuat dari besi.
“Duduklah, Bella,” suruh Vlad lembut. Pria itu tampaknya tak ingin bertindak kasar.
Mau tak mau, Miabella menuruti apa yang rekan bisnisnya tersebut perintahkan. Dia duduk dengan anggun di satu-satunya kursi yang ada dalam ruangan tadi. Sekilas, Miabella melihat dua buah borgol yang menempel pada permukaan meja.
Vlad yang seakan paham arah pandangan Miabella, segera mengarahkan tangan ramping itu mendekat pada borgol. Dengan gerakan cepat, dia memborgol tangan berbalut kulit putih mulus itu sambil tertawa pelan.
“Hei! Apa yang kau lakukan!” protes Miabella.
“Dari awal aku tak percaya ketika kau tiba-tiba bersikap manis padaku, Bella,” ujar Vlad. Mata birunya meredup, menampakkan sorot kecewa.
“Lepaskan aku atau ....”
Miabella menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tak mungkin memberitahukan pada siapa pun, bahwa Carlo memang berada di sekitar mansion itu.
“Katakan padaku, Nona de Luca. Dengan siapa kau datang kemari?” tanya Vlad.
“Aku datang sendiri. Sesuai undanganmu,” jawab Miabella tanpa ragu.
“Jangan membohongiku. Aku tak suka jika terlihat bodoh di hadapanmu.” Vlad menggeleng lemah.
“Untuk apa aku berbohong? Dari awal, aku berniat untuk hadir di pesta topen yang meriah ini. Carlo tak tahu-menahu jika aku berada di sini,” kilah Miabella sambil tetap berusaha terlihat tenang.
“Oh, ya? Jadi penyusup yang sempat tertangkap beberapa waktu lalu itu bukan suamimu?” Vlad bertanya dengan penuh selidik kepada Miabella.
“Aku tidak mengerti maksud ucapanmu,” sanggah Miabella sambil membuang muka. Sesekali dia berusaha menarik tangannya yang terikat erat pada borgol.
__ADS_1
“Oh, jadi penyusup yang kini sudah menjadi mayat itu bukan suamimu?” pancing Vlad yang seketika mendapat reaksi keras dari Miabella.
“Brengsek kau, Vlad! Apa yang kau lakukan?” Miabella bangkit dari duduknya sambil berusaha meraih leher pria berambut gondrong itu dengan menggunakan sebelah tangannya.
“Sudah kuduga.” Vlad tergelak, kemudian mundur beberapa langkah. Dia sengaja menjaga jarak dari Miabella yang mulai kehilangan kendali. Wanita muda itu terus mencari cara untuk melepaskan tangannya dari borgol yang tertempel kuat pada meja, sampai-sampai meja besi itu ikut bergeser dari tempatnya.
“Aku tak akan mengampunimu jika terjadi sesuatu pada suamiku, Vlad! Kau dengar itu?” sentak Miabella nyaring, sehingga beberapa orang pengawal yang sedari tadi waspada dan berdiri di tiap sudut ruangan segera bergerak mendekat. Salah satu dari mereka bahkan hendak memukul kepala Miabella dengan popor senapan.
Akan tetapi, Vlad lebih dulu mencegahnya.
“Tak akan kubiarkan kalian menyentuhnya seujung rambut pun!” Telunjuk pria berambut pirang itu mengarah tepat pada satu orang pengawal. Raut wajah yang biasanya terlihat ramah dan lembut, kini berubah garang.
“Mundurlah kalian! Aku bisa mengatasi ini!” sentak Vlad. Suaranya menggema ke seluruh sudut ruangan.
Para pengawal tadi tak memiliki keberanian untuk membantah. Mereka mengangguk, lalu menunduk dalam-dalam dan mundur kembali ke tempatnya semula.
“Sekarang katakan padaku, Bella. Dengan siapa kau datang kemari? Di mana suamimu?” cecar Vlad. Kali ini nada bicaranya terdengar begitu pelan.
“Seperti yang kukatakan tadi. Aku datang sendiri dari Palermo!” Miabella tetap pada jawabannya semula.
“Lalu, siapa penyusup itu? Apakah salah seorang dari anggota klan?” Vlad sendiri tak putus asa untuk mengorek informasi dari Miabella.
“Mayat siapa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak paham maksudmu,” Miabella menelan ludah. Dalam hati, dia menyakinkan diri bahwa Carlo tak akan mati semudah itu.
Suaminya adalah seseorang yang sangat kuat dan cerdik. Miabella tak akan percaya dengan setiap perkataan Vlad.
“Ada seseorang yang menyamar sebagai pelayan dan berhasil masuk ke dalam kamar ayah angkatku. Dia memakai topeng sehingga ayahku tak dapat melihat wajahnya. Namun, berdasarkan informasi yang kuperoleh, penyusup itu berhasil dilumpuhkan,” ujar Vlad sambil menyunggingkan senyuman samar.
🍒🍒🍒
Satu lagi rekomendasi novel keren. Jangan lupa mampir dan ramaikan.
__ADS_1