The Bodyguard

The Bodyguard
Pretty Prisoner


__ADS_3

Carlo terdiam sejenak untuk mengatur ulang strategi. Bagaimana pun caranya, dia harus mencari cara agar dapat masuk kembali ke dalam mansion. Pikirannya begitu kalut saat membayangkan jika Miabella masih berada di sana, dan kemungkinan besar dalam bahaya.


Kekhawatiran ketua Klan Serigala Merah itu tak sepenuhnya salah. Meskipun Vlad sudah melepas borgol wanita muda itu, tetapi Miabella tak sepenuhnya bebas. Vlad mengarahkan Miabella ke dalam sebuah ruangan yang berada di samping ruang interogasi.


Ruangan tersebut hampir mirip dengan sebuah kamar, lengkap dengan tempat tidur dan meja kecil beserta kursi. Ruangan itu juga dilengkapi dengan kamar mandi sederhana, tetapi bersih dan terawat. “Beristirahatlah di sini, Bella,” ucap Vlad lembut.


“Bagaimana jika aku menolak?” Miabella setengah mendongak, seolah tengah menantang pria bergaya rambut man bun di hadapannya.


“Kau tahu bahwa dirimu tak mempunyai pilihan lain, Nona de Luca,” sahut Vlad sambil tersenyum. "Kau sangat keras kepala dan juga pembangkang. Wanita pemberani. Jangan khawatir. Aku menyukai wanita sepertimu. Kau sangat berbeda," ujar Vlad lagi kembali diiringi senyuman kalem.


“Sepertinya ayah angkatmu adalah seorang psikopat!” gerutu Miabella sambil berbalik. Pada akhirnya dia menuruti ucapan Vlad, untuk beristirahat di dalam kamar tersebut. Selain itu, Miabella juga dapat berpikir dan mencari cara agar dapat menemukan keberadaan Carlo.


“Dia hanya terlalu ambisius,” sahut Vlad pelan.


“Lihat saja jika kalian terus menyekapku di sini! Akan kupastikan Roderyk tidak akan pernah bisa bersikap sombong lagi!” Miabella menyunggingkan senyuman sinis pada rekan bisnisnya itu. Dia lalu mengempaskan tubuh rampingnya ke tepian ranjang sambil menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanan, sehingga belahan gaun pesta yang dia kenakan tersingkap dan memperlihatkan pahanya yang mulus.


Melihat hal indah itu, Vlad hanya bisa menelan ludah berkali-kali. Dia lalu menggeleng pelan sembari memijit pangkal hidung supaya dirinya bisa kembali fokus. “Aku harap tidak ada pihak luar yang turut campur lagi, Bella. Aku ingin menyelesaikan masalah ini secara diam-diam,,” ujar Vlad. “Lagi pula, ayah angkatku sudah tua. Sudah waktunya dia beristirahat dan berhenti memikirkan organisasi,” imbuhnya.


“Katakan juga pada ayah angkatmu itu bahwa semua orang termasuk daddy zio, sudah mengetahui dosa besar yang telah dia lakukan. Roderyk Lenkov tinggal menuju kehancurannya saja.” Miabella tertawa dengan nada mengejek.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” Vlad mengernyitkan kening sambil menunjukkan raut wajah tak suka.


“Kau tidak perlu tahu. Sampaikan saja padanya persis seperti yang telah kukatakan padamu barusan,” jawab Miabella ketus. “Sekarang keluarlah. Aku ingin beristirahat!” usir wanita muda itu.


“Astaga.” Vlad menarik napas panjang melihat sikap wanita yang telah membuatnya tergila-gila tersebut. Pria berambut pirang itu pun menutup pintu kamar tadi. Dia bergegas pergi mencari sang ayah angkat.


Lain halnya dengan Miabella yang mendadak gelisah setelah dirinya terkurung dalam kamar tersebut. Dia segera bangkit, lalu berusaha membuka pintu yang ternyata terkunci dari luar. “Brengsek!” umpat wanita cantik bermata abu-abu itu sambil menendang daun pintu dengan kencang.


Miabella pun memutuskan berbalik ke ranjang. Dia melihat kamera pengawas yang terpasang di sudut ruangan. Dengan seenaknya, Miabella mengacungkan jari tengah ke arah kamera tadi. "Persetan kalian semua!" umpat wanita itu lagi seraya melepas sepatu dan melemparnya begitu saja.


Sementara itu di sebuah ruangan rahasia, Roderyk memperhatikan tingkah putri sambung dari Adriano D’Angelo dari layar monitor di depannya. Mimik muka Roderyk terlihat sarat akan amarah. "Kurang ajar!" Pria paruh baya tersebut menggebrak meja dengan kencang. “Di mana Vlad!” teriak Roderyk, bersamaan dengan putra angkatnya yang baru saja memasuki ruang rahasia tadi.


“Ayah. Apa kau mendengar apa yang dikatakan oleh Miabella de Luca?” tanya Vlad was-was.


“Barang bukti apa? Aku sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Miabella, maupun olehmu.” Vlad menggeleng pelan.


Akan tetapi, Roderyk tak segera menjawab. Dia malah menoleh ke arah belasan pengawal yang setia menjaganya ke mana-mana. Roderyk kemudian menjentikkan jari sebagai isyarat agar para pengawal itu segera meninggalkan ruang rahasia tersebut. Setelah hanya ada dia dan putra angkatnya di ruangan tersebut, Roderyk berjalan mendekat sambil menatap lekat kepada Vlad. “Satu-satunya alasan kenapa aku memihak Viktor Drozdov, adalah supaya aku bisa menguasai istana Serigala Merah. Namun, ayahmu itu ternyata seorang pria yang bodoh!” dengusnya.


“Dulu aku pernah merencanakan kudeta dan mengajak Nikolai beserta beberapa sahabatku untuk ikut serta. Akan tetapi, mereka semua menolak! Orang-orang itu lebih memilih tetap taat pada presiden terpilih yang akan melakukan reformasi besar-besaran. Reformasi itu secara tidak langsung akan membahayakan ideologi komunis yang sudah mengakar di kehidupan bernegara Uni Soviet,” jelas Roderyk panjang lebar.

__ADS_1


“Saat itu, aku begitu kecewa dan diliputi emosi. Aku kalut dan memerintahkan anak buahku untuk menghabisi Nikolai dan kawan-kawan lainnya. Itulah kesalahanku,” Roderyk mengempaskan napas pelan. Nada bicaranya juga tak sekeras tadi.


“Aku menembaki setiap orang yang ada di ruang pertemuan Istana Serigala Merah, termasuk sahabat dekatku Piotr. Aku lupa bahwa Nikolai merekam pertemuan kami sejak awal dengan kamera videonya. Saat aku hendak mengambil kamera tersebut untuk menghilangkan barang bukti. Namun, ratusan anak buah Nikolai datang dari berbagai sisi dan membuat pasukanku tersudut. Banyak yang mati dari pihakku dan juga dari pihak mereka,” tutur Roderyk.


“Aku tak mempunyai pilihan selain melarikan diri, agar tidak ada korban jiwa yang semakin banyak,” lanjut pria berjanggut lebat tersebut. “Sejak saat itulah, aku berpikir untuk menghabisi Nikolai dan merebut barang bukti dari tangannya.”


“Beberapa waktu kemudian, aku bertemu dengan ayahmu yang tidak berguna itu. Aku melakukan segala cara agar Viktor dapat memasuki lingkaran organisasi dan menggulingkan kekuasaan Nikolai. Dalam pikiranku, jika Viktor dapat menguasai Istana Serigala Merah, maka dia akan dapat membantu mencari barang bukti berupa rekaman video yang telah disembunyikan oleh Nikolai. Namun, nyatanya sampai Viktor tewas pun rekaman video itu tak juga ditemukan.” Roderyk berdecak kesal.


“Memangnya sepenting apa rekaman itu, Ayah?” tanya Vlad.


“Sangat penting. Jika sampai rekaman itu bocor ke publik apalagi terdengar oleh jajaran pemerintahan, maka mereka akan menyeretku ke mahkamah luar biasa atas tuntutan percobaan kudeta. Aku bisa saja dipenjara seumur hidup atau bahkan menerima hukuman mati. Terlebih karena diriku pun pernah menjabat sebagai anggota parlemen,” jawab Roderyk dengan mata berkilat


“Sebelum hal itu terjadi, aku harus lebih dulu melakukan persiapan. Satu-satunya cara adalah dengan memusnahkan barang bukti yang menyudutkan diriku, dan menghimpun kekuatan di kalangan para agen rahasia serta beberapa jendral korup. Dengan begitu, mereka tak akan mudah menyingkirkanku,” pungkas pria yang masih terlihat garang di usia tuanya.


“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang? Miabella tadi mengatakan bahwa dia, Karl Volkov, dan juga Tuan Adriano D’Angelo sudah menemukan barang bukti itu,” wajah tampan Vlad mendadak berubah gelisah.


“Jalan satu-satunya adalah memaksa istri Karl Volkov!” geram Roderyk. “Jika perlu, siksa dia agar wanita ****** itu bersedia untuk memberitahukan di mana barang bukti itu berada!" titahnya.


🍒🍒🍒

__ADS_1


Rekomendasi novel keren untuk hari ini. Yuk, mampir dan ramaikan.



__ADS_2