The Bodyguard

The Bodyguard
Fear


__ADS_3

“Apa maksudmu?” tanya Miabella. Sorot mata gadis itu terlihat semakin ketus, saat menatap Carlo yang masih terlihat begitu tenang.


“Ini jadwalmu datang bulan, Nona. Apakah tanggalnya masih rutin?” Sang penguasa klan Serigala Merah itu balik bertanya. Betapa dia sangat mengenal seorang Miabella, sehingga dirinya mengetahui jadwal bulanan gadis itu.


Mendengar pertanyaan demikian, bukannya menjawab tapi Miabella justru malah bangkit dari duduknya. Gadis itu juga memasang wajah merah padam, karena menahan malu serta rasa kesal yang teramat luar biasa. “Kau adalah orang yang paling aneh dan menjijikkan, Carlo!” Gadis cantik itu bermaksud untuk meninggalkan sang mantan pengawal pribadinya dengan begitu saja.


Namun, gerak pria rupawan tadi jauh lebih cepat dan gesit dari Miabella. Carlo segera melompati sofa panjang, lalu mendarat tepat di hadapan gadis yang selama tiga tahun terakhir sudah mengganggu tidurnya. “Tolong jangan pergi lagi, Bella. Aku belum juga memberikan penjelasan padamu,” cegah Carlo.


Perlahan dan penuh kehati-hatian, tangan kanannya bergerak melingkar di pinggang ramping si gadis “Tak perlu malu padaku, Nona. Kau dan aku sama-sama saling tahu, sedekat apa kita dahulu. Begitu pun dirimu yang sudah mengetahui segalanya tentangku,” bisik Carlo lembut.


“Lepaskan tanganmu!” geram Miabella dengan tatap mata tajam menghujam wajah tampan Carlo.


“Duduklah dulu,” balas pria bermata biru itu. Sorot matanya tampak begitu lembut dan penuh cinta.


Miabella mendengus kesal seraya menampik tangan Carlo agar tak lagi menyentuh tubuhnya. Dia lalu mengempaskan diri kembali ke atas sofa. “Katakan apa yang ingin kau jelaskan! Setelah itu segeralah pergi dari sini!” tegas Miabella.


Carlo tersenyum lebar. Dia pun mendekat ke arah gadis yang dulu menjadi kekasihnya. Namun, dia tak hendak duduk berhadapan dengan Miabella. Pria tampan itu mengambil tempat tepat di sebelah sang kekasih.


Untuk beberapa saat, mereka berdua saling membisu. Carlo menatap wajah cantik yang kini lebih memilih untuk menunduk, dan menghindari bertatapan secara langsung dengannya. “Aku sudah mempersiapkan sepasang cincin untuk kita,” ucap Carlo pelan.


Mendengar hal itu, Miabella segera menoleh dan melotot kepadanya. “Lelucon apalagi ini?” sergahnya.


“Ini bukan lelucon, Nona. Aku sudah mempersiapkan segala rencana indah bersamamu, sejak sebelum tuan Adriano mengusirku dari sini,” jawab Carlo dengan begitu tenang.


“Rencana indah yang kau katakan barusan sudah tak lagi berarti, Carlo! Aku sudah membuangmu sedari awal kau tak lagi membalas pesan ataupun menjawab telepon dariku! Aku bahkan membencimu ketika aku meringkuk sendirian di ranjang rumah sakit, dan mendengarkan kata-kata dokter yang menyakitkan bahwa janinku terpaksa harus mereka buang!" tutur Miabella dengan kalimat yang penuh penekanan. Gadis itu mulai mengungkapkan segala unek-unek yang dia simpan selama ini.

__ADS_1


“Ya. Seharusnya kau dan aku sudah menjadi orang tua saat ini. Namun, calon bayi kita tak sanggup bertahan. Dia tak cukup kuat untuk tetap tinggal di rahimku. Mungkin dia tahu jika dirinya akan terlahir tanpa kehadiran seorang ayah.” Nada bicara dan suara Miabella terdengar bergetar saat itu.


“Aku menghadapi semuanya seorang diri, Carlo. Kau tak tahu seberapa beratnya saat mengetahui jika aku hamil dan keguguran dalam waktu yang bersamaan. Entah aku harus tertawa ataukah meratap.” Suara Miabella terdengar semakin lirih dan lemah.


“Kau pergi di saat aku benar-benar sangat membutuhkanmu, Carlo.” Setitik air mata menetes di pipi Miabella. Tangisan pelan itu makin lama terdengar semakin kencang. Miabella seakan ingin meluapkan seluruh perasaan yang dia pendam sekian tahun lamanya.


“Bella.” Carlo tak peduli meskipun nantinya sang kekasih akan menolak, dia tetap merengkuh tubuh rapuh itu dan mendekap gadis itu dengan erat. Dia membiarkan Miabella yang membenamkan wajah di dada bidangnya, menumpahkan segala amarah, kecewa, serta air mata.


“Aku membencimu, Carlo! Kau sudah menyakitiku! Aku membencimu!” Miabella bermaksud untuk memberontak dengan berusaha untuk melepaskan diri sambil memukul-mukul dada Carlo. Namun, itu semua tentu tak berarti apa-apa.


Carlo semakin erat merengkuh si gadis ke dalam pelukannya, hingga Miabella lelah dan akhirnya memilih untuk menyerah. “Pagi itu, tuan Adriano menyuruhku untuk mengemasi barang-barang dan pergi menjauh darimu. Sedih dan terhina, itulah yang kurasakan saat mendapat perlakuan demikian. Aku merasa tak punya kekuatan apapun untuk membawamu pergi,” tuturnya.


“Waktu itu aku mengira bahwa diriku hanyalah anak yatim piatu yang terbuang, tak memiliki harta maupun kekuasaan. Lalu, bagaimana caraku untuk menghadapi tuan Adriano?” Carlo mengempaskan napasnya pelan.


“Maka, ketika Grigori mengatakan jika diriku ternyata adalah anak dari seorang penguasa klan besar di Rusia, aku pun mulai mengikutinya. Dalam bayanganku, dengan mendapatkan segala kekayaan dan kekuasaan besar dari mendiang ayah, maka aku bisa mempunyai cukup kekuatan untuk berhadapan dengan ayahmu,” tutur Carlo lagi mencoba memberikan penjelasan.


Tangan Carlo masih tetap melingkar di tubuh Miabella. Rasanya begitu enggan untuk dia lepaskan. Terlebih ketika Miabella juga tampak nyaman berada di pelukan pria rupawan bermata biru tersebut. Berkali-kali dirinya membenamkan wajah di dada bidang sang mantan pengawal pribadi sekaligus kekasihnya yang telah lama menghilang.


“Menikahlah denganku, Nona. Aku bersumpah akan mengganti setiap detik yang terlewat saat kita saling berjauhan,” pinta Carlo sembari membelai lembut rambut Miabella.


Sementara putri dari mendiang Matteo de Luca tersebut sempat terbuai. Angan gadis itu seketika melayang membayangkan dirinya dalam balutan gaun pengantin bersama Carlo. Namun, bayangan indah itu seketika sirna saat gambaran darah menetes dari sela-sela paha. Masih terekam dengan begitu jelas segala rasa sakit yang dirinya alami saat itu. Semua kejadian tersebut telah berhasil membuyarkan segala angan indah Miabella.


“Tidak!” Miabella segera menjauhkan badannya secara tiba-tiba. Dia berdiri dengan raut panik dan gelisah.


“Nona? Ada apa?” Carlo bermaksud hendak menenangkan Miabella, sama seperti yang selalu dia lakukan dulu.

__ADS_1


“Menjauh dariku, Carlo!” Wajah cantik Miabella mendadak pucat. Dia menggeleng kuat-kuat, lalu berlari meninggalkan Carlo begitu saja.


“Nona!” Carlo berniat mengejar Miabella. Akan tetapi, suara lembut seseorang terpaksa menghentikan langkahnya.


“Berikanlah putriku sedikit waktu, Nak,” ujar seseorang yang tak lain adalah Mia. Entah sejak kapan dia berada di sana.


“Nyonya?” Perhatian Carlo beralih pada Mia.


“Anda berada di sini?” tanyanya heran.


“Aku baru saja datang. Sepulang dari Rusia, aku mengantar Adriana kembali ke asrama kampusnya di London. Lalu, Adriano mengantarkanku kemari untuk melihat keadaan Bella,” jelas Mia dengan senyuman khasnya yang lembut. "Aku selalu menjenguk keadaan Miabella secara rutin di sini."


“Oh ya? Jadi, tuan Adriano juga ada di sini?” tanya Carlo.


Mia tertawa pelan sebelum menjawab pertanyaan Carlo. “Dia hanya mengantarku sampai bandara. Adriano tidak bisa meninggalkan London karena harus mengurus bisnisnya bersama tuan Juan Pablo Herrera di sana,” jelasnya.


“Oh, jadi begitu.” Carlo mengangguk dan balas tertawa, demi menyembunyikan segala resah dalam hatinya. Dia lalu terdiam dan menunduk, ketika Mia memperhatikan dirinya secara lekat.


“Aku bisa mengetahui perasaan cinta yang begitu besar dari Miabella terhadapmu, Carlo. Aku yakin jika dalam dua puluh lima tahun hidupnya di dunia, Bella hanya mencintai dirimu seorang. Akan tetapi, pengalaman buruk yang pernah dia alami dulu, tak bisa dihilangkan begitu saja dari hati dan pikirannya,” tutur Mia kemudian.


“Sedikit banyak, aku dan putriku memiliki kesamaan. Kami tak mudah jatuh hati pada laki-laki. Namun, ketika cinta itu hadir, maka akan sulit bagi kami untuk menghapus perasaan indah tersebut. Sayangnya, kami juga sangat mudah terluka dan trauma,” sambung ibunda Miabella, yang membuat Carlo segera mendongak dan menatap ke arah wanita paruh baya tersebut.


“Ya, Carlo. Miabella mengalami trauma pasca keguguran. Sejak kejadian itu, putriku lebih banyak mengurung diri di kamar dan termenung. Beruntungnya sedikit demi sedikit dia berubah, walaupun tak banyak,” papar Mia lagi.


“Lalu, kini tiba-tiba kau hadir di hadapan putriku. Diadari atau tidak, kau adalah cinta sekaligus ketakutan terbesar Miabella. Hadirnya dirimu di sini, kembali mengungkit luka dan trauma yang selama ini telah tengah berusaha untuk dia sembuhkan," ucap Mia pelan, tapi cukup untuk mencabik-cabik hati Carlo.

__ADS_1


"Ini bukan sepenuhnya salahku, Nyonya," bantah Carlo.


"Aku tahu. Siapa yang bisa menebak jika semuanya akan berakhir seperti ini," sahut Mia.


__ADS_2