
Sieseby, Jerman
Suasana hening dan begitu tenang. Rumah dengan cat dinding warna putih dan atap Jerami, bederet rapi. Tanaman hias merambat serta bunga-bunga cantik pun turut menambah suasana asri di sana. Sieseby merupakan desa cantik yang terletak di regio Schleswig-Holstein, Jerman. Jaraknya sekitar 328 kilometer dari Ibukota Berlin.
Di sebuah rumah dengan ukuran yang tidak terlalu besar, duduk seorang wanita cantik memandang nanar ke luar jendela. Sepasang mata abu-abunya yang indah, awas memperhatikan sebuah danau dengan tumbuhan semak di sepanjang pinggirannya. Rambut panjang berwarna cokelat milik wanita cantik tadi, dibiarkan tergerai begitu saja. Kusut dan tampak tidak terawat. Sementara makanan yang berada di atas meja pun dia biarkan.
Sesekali, wanita cantik tadi melirik menu khas Jerman di atas piring. Terlihat menggiurkan. Akan tetapi, dia seperti tak ada keinginan untuk menyentuh, apalagi hingga menyantapnya. Wanita cantik berkulit putih tersebut, lebih memilih kembali mengarahkan pandangan ke luar jendela. Dia asyik memperhatikan riakan air danau yang bergerak karena tertiup angin.
“Kenapa tidak dimakan?” tegur seorang pria berambut pirang yang baru masuk ke kamar tempat si wanita berada. Sepasang mata biru bercahaya milik pria tampan tadi, menatap lekat wanita cantik yang tak menoleh sama sekali terhadap dirinya. “Kumohon, Bella,” pinta pria itu. Dia berjalan mendekat.
“Berhenti di tempatmu, Vlad Ignashevich!” cegah wanita yang tak lain adalah Miabella de Luca. “Jangan pernah berani mendekat padaku!” tegas dan juga sangat ketus nada bicara putri sambung Adriano tersebut. “Aku tidak sudi melihat wajahmu!”
“Kau tahu bahwa aku harus melakukan ini demi menyelamatkan nyawamu.” Vlad memberikan pembelaan, atas apa yang telah dilakukannya.
“Tapi kau tak harus membawaku menjauh dari Italia!” Miabella beranjak dari tempat duduknya. Dia menatap tajam pada pria tampan dengan t-shirt lengan panjang yang berdiri tak jauh darinya. “Biarkan aku pergi dari sini.” Miabella yang tadi berbicara dengan nada tinggi, kali ini mulai menurunkan volume suaranya.
“Tidak, Bella. Aku tidak ingin mengambil risiko,” ujar Vlad pelan.
“Risiko apa?” Miabella memalingkan wajahnya. Dia kembali mengarahkan pandangan ke luar jendela. “Ayah angkatmu sudah mati dibantai oleh Carlo. Tak ada lagi ancaman bagiku,” ujar Miabella.
“Kau salah, Bella,” sanggah Vlad. “Kenyataannya, ada beberapa pihak yang menginginkan kematianmu,” ucap pria itu menegaskan.
Mendengar apa yang Vlad katakan, Miabella kembali menghadapkan tubuh kepada pria tersebut. Dia melipat kedua tangan di dada. Istri dari ketua Klan Serigala Merah tersebut tetap terlihat angkuh, meskipun kini dia sedang berada dalam posisi sebagai tawanan.
__ADS_1
“Siapa yang menginginkan kematianku? Apa yang menjadi alasannya?” Nada pertanyaan Miabella terdengar penuh tantangan. Dia seakan tidak takut sama sekali, setelah mendengar penuturan dari Vlad.
“Ayolah, Bella. Kumohon mengertilah,” pinta Vlad lagi.
“Apa yang harus kumengerti, Vlad Ignashevich?” Nada bicara Miabella kembali meninggi. “Tak ada pembenaran sama sekali atas apa yang telah kau lakukan ini.” Miabella mendengus kesal. “Aku adalah wanita yang sudah bersuami. Aku sangat mencintai Carlo. Saat ini, dia pasti sedang mengkhawatirkanku.”
“Bagi Carlo dan semuanya, kau sudah dianggap mati. Rekaman itu telah sangat jelas ….”
“Suamiku tidak sebodoh dirimu!” sentak Miabella. Amarah dalam dirinya sudah tak tertahankan lagi. Miabella menarik taplak meja dengan gelas serta piring berisi makanan di atasnya. Benda yang terbuat dari keramik itu pun jatuh dan pecah. Makanan yang berada dalam wadah tadi berhamburan di lantai.
Miabella bergerak cepat mengambil pecahan piring berujung runcing. “Kau pikir aku akan diam saja, Vlad?” Tanpa ada rasa takut sama sekali, wanita cantik berambut cokelat yang memiliki sedikit keahlian ilmu beladiri dari Carlo, segera bergerak maju dengan tujuan hendak menyerang pria tampan yang masih berdiri tenang di hadapannya.
Miabella berteriak nyaring sambil menghunus pecahan beling dari serpihan piring tadi.
Dia berharap suara kerasnya terdengar oleh siapa pun yang berada di luar sana. Sementara tangannya terus berusaha menyasar dada Vlad. Dia bermaksud untuk menancapkan benda tajam itu. Akan tetapi, Miabella hanya memiliki sedikit tenaga, karena tidak makan selama berhari-hari.
Tangan kekar pria tampan tersebut menangkis pergelangan Miabella dengan cepat, sehingga pecahan piring yang berada di genggaman wanita itu terlempar cukup jauh dari tempatnya berdiri.
Tak putus asa, Miabella kembali mencoba menyerang mantan rekan bisnisnya dengan tangan kosong. Tangan putri sulung Mia tadi terkepal sempurna. Dia mengarahkan tepat ke wajah tampan Vlad. Namun, lagi-lagi putri mendiang Matteo de Luca itu hanya menyerang tempat kosong di sekitar pria berambut pirang tersebut.
Vlad lebih dulu menghindar, sehingga tubuhnya berada di samping Miabella. Dengan gerakan cepat, anak Viktor Drozdov tadi merengkuh tubuh ramping Miabella, kemudian mendekapnya erat. Kini posisi Vlad ada di belakang wanita itu.
Hidungnya yang menempel tepat pada helaian rambut Miabella, dapat menghirup aroma yang menguar dari sana dengan leluasa. Dinikmatinya sesaat adegan itu sampai dia lengah, sehingga Miabella dapat kembali memberontak.
__ADS_1
Miabella menggerakkan sikunya ke belakang. Gerakan itu tepat mengenai perut Vlad. Pria tampan tadi melepaskan dekapannya untuk sementara, hingga Miabella berbalik padanya.
Mata indah wanita itu nyalang menatap Vlad. “Kau memang benar-benar kurang ajar! Berani-beraninya kau menyentuhku!” seru Miabella sambil melayangkan tinju ke rahang pria asal Rusia tersebut.
Kali ini, Vlad tak ingin mengelak. Dia membiarkan pukulan Miabella mengenai wajahnya. Namun, Vlad tak merasakan sakit sama sekali. “Pukul sekali lagi, Bella,” tantangnya.
Merasa mendapat angin segar, Miabella tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia mengumpulkan tenaga sebanyak-banyaknya, dan menyalurkan pada telapak tangan yang kembali melayang ke wajah Vlad.
Namun, tanpa Miabella duga Vlad segera menangkap kepalan tangan itu dan memelintirnya ke belakang punggung wanita cantik tersebut. Mau tak mau, Miabella kembali membalikkan badan ke arah depan, agar tangannya tak terkilir. Tak disangka, Vlad malah mendorongnya dengan kuat ke arah ranjang. Dia mengempaskan tubuh ringkih Miabella begitu saja.
Miabella yang sama sekali tak memiliki kekuatan, jatuh tersungkur ke atas ranjang dalam posisi tertelungkup. Secepat kilat, dia berbalik dan hendak berdiri. Namun, sebelum dia sempat melakukannya, Vlad lebih dulu menghambur dan mengungkung wanita itu.
Tangan kekar Vlad mencengkeram pergelangan Miabella. Pria tampan berambut gondrong itu menindihnya, membuat amarah dalam dada Miabella kembali berkobar.
Ingin rasanya si pemilik mata abu-abu tersebut memberontak. Namun, sayang sekali karena Miabella tak memiliki energi yang cukup untuk melawan.
Miabella berusaha menggerakkan kaki. Akan tetapi, terlalu sulit bagi seseorang tak bertenaga seperti dirinya, untuk melakukan hal yang lebih kuat dari itu. Dia terus berusaha melawan. Miabella ingin menyingkirkan tubuh tegap Vlad dari atas badannya.
"Tenanglah, Bella. Jangan buang energimu seperti ini," ucap Vlad lembut. Dia masih berada di atas tubuh Miabella, sehingga wanita itu terus memberontak. "Jangan membuatku harus membungkam mulutmu secara paksa," ancam Vlad serius.
"Aku tidak takut dengan apapun yang akan kau lakukan!" tantang Miabella yang segera dia sesali, karena Vlad benar-benar membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Rekomendasi novel bagus nih buat semuanya. Buruan cek ya.