
Setelah mendapat izin masuk dari penjaga pintu gerbang pertama dan kedua, akhirnya Carlo dapat memarkirkan motor besarnya di halaman depan Casa de Luca. Tiga tahun sudah dia meninggalkan tempat yang menyimpan banyak kenangan indah, antara dirinya dengan Miabella. Kini, Carlo telah kembali dalam tampilan sama, tapi status sosial yang berbeda.
Carlo melangkah gagah setelah turun dari sepeda motornya. Dia berjalan menuju bangunan utama. Carlo tahu bahwa pada jam seperti saat ini, Miabella telah kembali dari perkebunan.
"Aku ingin bertemu dengan nona de Luca," ucap Carlo pada seorang pelayan muda yang tak lain adalah Luciella. Namun, gadis manis tersebut hanya diam terpaku, memandang pria di hadapannya yang baru saja melepas kaca mata hitam. Carlo bahkan menaikkan sebelah alis, karena merasa heran dengan sikap gadis itu. "Apa kau tidak mendengarku?" tanyanya. Suara berat si pria seketika menyadarkan Luciella.
Gadis itu pun tersenyum manis. "Apakah Anda si pemilik rambut gelap yang pernah nona muda sebutkan?" Luciella malah bertanya demikian kepada pria tampan di hadapannya.
"Maksudmu?" tanya Carlo.
Namun, sebelum Luciella sempat menjawab pertanyaan tadi, suara lembut Miabella telah lebih dulu terdengar. Gadis itu baru muncul dari bagian lain bangunan Casa de Luca.
Seketika, Miabella tersentak melihat keberadaan Carlo di sana. Gadis cantik tersebut langsung saja membeku. Sementara tatap matanya lekat tertuju pada si pemilik mata biru, yang juga tengah memandang dengan penuh cinta. Tatapan Miabella kemudian beralih pada apa yang Carlo pegang. Adalah seikat bunga lily putih yang sangat cantik dan tampak segar. Miabella pun memalingkan wajahnya.
Sementara Luciella langsung menghampiri sang nona. "Nona, pria itu ...."
"Lanjutkan pekerjaanmu," sela Miabella tanpa ada ekspresi apapun. Luciella mengangguk, kemudian berlalu ke belakang. Kini, di sana hanya ada Miabella dan si tampan Carlo yang masih berdiri di tempat masing-masing, tanpa bicara apalagi saling menyapa.
Kebisuan menggelayuti, membuat suasana canggung kian terasa. Jarak yang hanya beberapa langkah saja, terasa seperti ribuan kilometer jauhnya. Namun, tatapan tajam penuh kebencian dari Miabella untuk Carlo, seperti sebuah magnet yang begitu kuat dan membuat pria tampan tersebut merasa tertantang untuk kembali menaklukan gadis cantik tersebut.
Carlo melangkah gagah, sehingga jaraknya semakin mendekat kepada Miabella. Namun, saat dia sudah berada beberapa langkah di hadapan sang penguasa Casa de Luca tadi, Miabella pun segera mundur. "Apa kau akan melarikan diri lagi? Di rumahmu sendiri? Kau lucu sekali, Nona," ucap Carlo tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
"Aku tidak akan melarikan diri. Aku hanya sedang sibuk dan tak memiliki waktu untuk ...."
"Aku datang kemari dengan membawa tujuan tertentu," sela Carlo dengan segera.
"Aku tidak peduli!" sahut Miabella ketus. Dia lalu membalikkan badan dan bermaksud untuk berlalu dari hadapan Carlo. Miabella bahkan sudah melangkah.
__ADS_1
Namun, gadis itu kembali tertegun saat mendengar ucapan Carlo. "Aku ingin menawarkan kerja sama denganmu, Nona de Luca." Suaranya terdengar nyaring. Dia lalu melangkah maju. Kesempatan baik baginya, ketika pria itu melihat Miabella yang masih berdiri mematung walau dalam posisi membelakangi. Carlo pun kini hanya berjarak sekitar dua langkah saja dari si gadis.
"Aku datang kemari tidak dengan membawa nama Carlo. Aku sengaja menemuimu atas nama Karl Volkov. Seperti yang kukatakan tadi, tujuanku adalah untuk menawarkan sebuah kerja sama denganmu, Nona," jelas Carlo penuh percaya diri.
"Maaf, tapi aku tidak tertarik," tolak Miabella dengan segera.
"Aku bahkan belum memaparkan apapun tentang prospek kerja sama yang akan kita jalin. Kupastikan bahwa ini akan memberikan keuntungan untuk kita berdua," ujar Carlo mencoba membujuk Miabella.
"Aku tidak peduli. Aku sudah memiliki banyak rekan bisnis, dan semuanya bekerja sama dengan baik. Kami saling memberikan keuntungan," sahut Miabella tetap menolak. Gadis itu juga masih dalam posisi membelakangi pria tampan bermata biru tadi.
"Makin banyak yang menjalin kerja sama denganmu, maka itu akan semakin baik. Keuntungan yang didapat pun pasti akan jauh lebih banyak," bujuk Carlo lagi pantang menyerah.
"Maafkan aku, Tuan Volkov. Akan tetapi, aku bukanlah orang yang serakah dan rela mengabaikan segala hal demi mendapatkan sebuah keuntungan." Miabella tetap menolak dengan berbagai alasan. Dia kembali melanjutkan langkah untuk meninggalkan Carlo.
"Kau masih saja keras kepala, Nona!" Suara Carlo kembali terdengar nyaring dan berhasil membuat Miabella menghentikan langkah. "Tak apa, itu artinya kau masih Miabella yang dulu kukenal," ucapnya lagi. Dia kembali berjalan mendekat, bahkan sangat dekat sampai Miabella dapat mencium aroma parfume yang telah begitu akrab di indera penciumannya. Itu merupakan wangi serupa dari parfume yang dia hadiahkan. Namun, Miabella tak ingin membahasnya.
"Kau tidak menyukainya? Bukankah dulu kau selalu memenuhi ruangan dengan bunga lily putih, setiap kali merayakan pesta ulang tahun?" Carlo setengah berbisik di telinga sebelah kanan Miabella yang masih mematung.
"Itu dulu. Sekarang aku tidak menyukainya lagi," jawab Miabella dingin.
"Pantas saja kau selalu membuang bunga yang kukirimkan untukmu," ucap Carlo yang membuat Miabella seketika bereaksi. Gadis cantik tersebut segera menoleh ke samping kanan, di mana wajah pria itu berada. "Aku tahu, Nona. Aku mengetahui bahwa kau selalu membuang bunga yang kukirimkan. Kenapa?" tanya Carlo yang seakan memancing gadis itu agar lebih banyak bicara padanya. Bagaimanapun juga, Carlo sangat mengenal putri sulung Mia tersebut. Dia dapat memanfaatkan celah tersebut untuk dapat melancarkan aksinya.
"Aku membuangnya karena ... karena tak jelas siapa pengirim dari bunga-bunga itu," jawab Miabella masih dengan nada bicara yang teramat dingin.
"Andai kau tahu bahwa aku yang mengirimkan bunga-bunga lily itu padamu, apa kau akan menyimpannya?" pancing Carlo lagi.
Miabella tak segera menjawab. Gadis itu seakan tengah berpikir untuk beberapa saat. Sedangkan Carlo sabar menanti apa yang akan gadis berambut panjang tersebut katakan. "Aku akan tetap membuangnya." Tajam, kata-kata yang terlontar dari bibir sang penguasa Casa de Luca. Wajah cantik nan manis, dengan helaian rambut cokelat sepunggung yang harum dan begitu terawat itu, sangat berlainan dengan untaian kata yang dia tujukan kepada lawan bicaranya.
__ADS_1
Akan tetapi, Carlo tak ingin menanggapi dengan serius. Pria tampan dengan jaket bomber hitam tersebut justru tertawa renyah saat mendengarnya. "Aku tahu, Nona. Aku sangat mengerti kenapa kau begitu membenciku," ucap Carlo masih dengan suaranya yang begitu melenakan di telinga Miabella, membuat dia kembali terkenang pada saat-saat indah yang mereka lalui beberapa tahun silam, dan telah membuatnya harus bersimbah darah sembari menahan rasa sakit.
"Apa yang kau tahu? Kau bahkan tidak peduli dengan segalanya selain kekuasaan!" sergah Miabella terdengar semakin ketus. Dia bergerak maju agar memberi jarak antara dirinya dengan Carlo. Miabella kemudian membalikkan badan, sehingga pria itu dapat kembali memandang paras cantik yang sangat memesona. Itulah sosok Miabella saat ini. Dia terlihat makin dewasa di usianya yang kian matang.
"Kau tak peduli apapun, Carlo!" Telunjuk lentik Miabella terarah lurus kepada Carlo, yang masih berdiri tenang dengan tatapan penuh cinta. "Tak salah jika kubuang semua bunga yang kau kirimkan selama tiga tahun terakhir. Itu sama seperti sikapmu yang telah membuangku dengan begitu mudah!" Nada bicara Miabella tak juga melunak. Tatapan yang dulu penuh cinta, kini tiada lagi pada sepasang mata abu-abunya yang indah. Saat ini, yang tampak di sana hanyalah kebencian dan amarah.
"Aku tahu. Aku telah mendengar semua yang terjadi padamu dari tuan Adriano. Jujur saja bahwa diriku pun menyesalkan hal itu. Namun, situasinya dulu sangat tidak memungkinkan bagiku agar bisa menemui atau bahkan sekadar menghubungimu," kilah Carlo. Dia mencoba untuk memberikan penjelasan kepada gadis yang teramat dirinya cintai tersebut.
"Kau harus tahu bahwa aku pun sangat terluka. Aku merindukan dirimu setiap saat. Rasanya begitu berat ketika harus berjauhan dengan orang yang teramat kucintai." Carlo hendak kembali mendekat, tapi dengan segera Miabella merentangkan tangan sebagai tanda untuk menahan langkah sang pewaris tahta Serigala Merah tersebut. Carlo pun menahan dirinya.
"Kau bahkan pergi tanpa berpamitan padaku," ucap Miabella. Kali ini, nada bicaranya mulai melunak. Akan tetapi, sorot penuh kecewa itu masih terlihat jelas pada sepasang matanya yang tampak sayu.
"Aku memang sengaja tidak berpamitan dulu padamu, karena jika diriku melakukan hal itu maka ... maka aku pasti tak akan sanggup untuk meninggalkan kau di sini sendirian," jelas Carlo lagi. Dia tetap menjaga kendali diri agar tetap tenang dan tak terpancing. Padahal, setan dalam hati terus memaksa agar pria itu segera mendekat dan langsung saja memeluk Miabella dengan erat. Tak peduli meskipun gadis cantik tersebut menolaknya dengan keras.
"Kau membuatku menangis, Carlo. Ah, maaf. Sekarang namamu adalah Karl Volkov," ralat Miabella dengan setengah menyindir.
"Aku tetap Carlo bagimu," balas pria bermata biru itu tak patah arang.
"Aku tidak peduli siapa namamu, karena setelah ini aku tak ingin lagi melihat kau muncul di hadapanku!" tegas Miabella.
Mendapati sikap Miabella yang tak juga melunak, Carlo pun kembali maju. Dia menuruti apa kata hatinya. Dengan sebelah tangan saja, pria itu dapat meraih serta memegangi pergelangan Miabella yang berusaha untuk melepaskan diri. "Aku suka dengan sikapmu yang keras kepala. Ini sangat menantang bagiku. Maaf karena aku tak bersedia menerima permintaanmu," tolak Carlo tegas. Dia pun melepaskan genggaman tangannya.
Sedangkan Miabella bermaksud untuk membalikkan badan, ketika terdengar sebuah suara lain yang menyebut namanya dengan begitu maskulin serta penuh wibawa.
"Bella."
Miabella tertegun. Serempak dia dan Carlo menoleh ke arah sumber suara tadi.
__ADS_1