
"Isadora!" panggil Igor dengan suara yang terdengar begitu nyaring, ketika mereka telah tiba di dalam rumah. Padahal, para pria itu hanya butuh beberapa langkah saja jika masuk melewati pintu utama. Namun, karena harus melalui lorong sempit tadi, semuanya jadi terasa begitu melelahkan.
"Isadora!" panggil Igor lagi. Suaranya menggema di dalam ruangan yang sepi, karena si penghuni rumah sudah terlelap.
Tak berselang lama, seorang wanita yang tak lain adalah Isodora datang dengan tergesa-gesa sambil mengikat rambutnya. Selain itu, dirinya juga sibuk mengikatkan tali kimono tidur di pinggang. Isodora terbelalak tak percaya, saat melihat ada empat orang pria yang sudah duduk dengan tenang di ruang tamu rumah yang ditinggalinya.
"Astaga, Tuan-tuan. Bagaimana kalian semua bisa masuk kemari?" tanya wanita bertubuh tambun tersebut. Dia lalu menoleh ke arah pintu yang masih terkunci rapat.
"Katakan jika aku tidak sedang bermimpi," celoteh Isadora sambil mencubit lengan sendiri. Dia lalu meringis. Itu berarti dirinya masih merasakan sakit. "Bukan mimpi ternyata," pikirnya setengah bergumam.
"Sudah-sudah. Sebaiknya kau segera siapkan kamar untuk kami berempat, karena kami sangat lelah," suruh Igor.
Namun, Isodora hanya terpaku. Tatapannya nanar tertuju kepada sosok Grigori dan juga Ivan yang ada di sana. "Tuan Kostya, Tuan Lunev. Bagaimana kabar Anda berdua? Lama sekali tidak mendengar kabar tentang Anda," tanya wanita paruh baya tersebut dengan lirih.
"Seperti inilah kami sekarang, Isadora," sahut Ivan yang memang mengenal baik wanita paruh baya tersebut.
"Aku senang melihatmu masih dalam keadan sehat seperti ini," timpal Grigori.
"Terima kasih. Tuhan memberikanku umur dan kesehatan yang tak ternilai harganya. Aku rasa, Dia pasti sengaja menjaga diriku karena tuan muda akan kembali. Semoga setelah ini aku bisa dipertemukan dengan nyonya Fabiola." Isadora menyeka sudut matanya yang mulai basah.
"Apa yang dia katakan, Grigori?" bisik Carlo. Grigori pun menjelaskan isi perbincangan mereka, sehingga Carlo bisa memahaminya.
__ADS_1
"Setelah semua ini selesai, aku akan kembali ke Italia untuk membawa ibu pulang. Rusia adalah rumah dia yang sebenarnya, di dekat suami serta kedua putra kembar yang teramat dirinya sayangi," ucap Carlo dalam bahasa Italia. "Selain itu ...." Carlo menoleh kepada Grigori yang tersenyum penuh keyakinan sambil mengangguk pelan. Carlo pun membalasnya dengan melakukan hal yang sama.
"Aku akan menunggu hingga saat itu tiba. Kuharap Tuan Muda bisa segera belajar bahasa Rusia, karena aku tidak terlalu fasih berbicara dengan bahasa Italia, apalagi bahasa Inggris," ujar Isadora sambil tersenyum malu-malu, sebelum dirinya berlalu ke bagian lain bangunan itu.
Sambil menunggu Isadora yang tengah menyiapkan kamar untuk mereka, keempat pria lintas usia tadi kembali berbincang. Segala hal mereka bahas, mulai dari tema yang ringan, hingga berlanjut pada obrolan berat masalah strategi dan lainnya.
Beberapa saat kemudian, Isadora pun kembali. Tanpa membuang waktu, mereka yang telah begitu lelah langsung saja masuk ke kamar masing-masing di lantai dua. Tak berbeda dengan Carlo yang juga sudah teramat letih. Setibanya di dalam kamar, pria itu tak segera melepas jaket hoodie yang dia kenakan.
Carlo berdiri sejenak di dekat jendela kaca berukuran kecil. Dia menatap keadaan di luar sana yang sudah benar-benar sepi. Cuaca di Rusia begitu dingin. Carlo harus membiasakan diri dan mulai beradaptasi.
'Bella. Ini adalah malam terakhir di musim panas. Untuk pertama kali setelah sekian lama, aku akan melewati banyak musim tanpa dirimu. Entah kau dapat bertahan atau tidak. Setidaknya ingatlah diriku walau hanya sedikit. Semoga kau juga selalu ada dalam keadaan yang baik-baik saja.'
Lirih, Carlo berkata dalam hatinya. Dia tak tahu apakah alam akan berbaik hati, untuk menyampaikan bisik kecil tadi kepada seorang Miabella yang entah seperti apa keadaannya saat ini. Carlo hanya berharap, agar ada satu cara di mana dia dapat mengungkapkan rasa cinta, kasih, serta rindu tersebut kepada gadis pujaan hatinya tersebut.
Sedangkan Grigori sendiri kembali ke Italia. Dia punya pekerjaan dan segudang urusan yang harus ditangani. Selain itu, Grigori juga memiliki tanggung jawab untuk mengawasi keamanan Fabiola serta memberikan kabar mengenai Miabella.
Sementara Igor pun menyerahkan pengelolaan penginapan sederhana miliknya pada salah seorang yang sudah dia percaya, sehingga dirinya bisa tenang dan juga fokus dalam menemani sang tuan muda dalam mengatur segala strategi.
Dalam beberapa hari ketika berada di Moskow, Fyodor kerap berkunjung ke sana. Mereka membahas perjanjian kerja sama yang telah disepakati, antara pemerintah dengan Carlo selaku calon pewaris tahta.
Kerja sama tersebut dibuktikan nyata oleh Fyodor. Dia mengerahkan beberapa anggota dari pasukan pilihan untuk membantu Carlo, yang mulai bergerak sedikit demi sedikit menuju kota St. Petersburg, di mana markas Serigala Merah berada. Pelan, tapi pasti. Carlo mengumpulkan kekuatan yang suatu saat dia yakini dapat mengalahkan kekuatan Viktor.
__ADS_1
................
Sudah dua bulan berlalu sejak Carlo pergi dari sisi Miabella. Gadis itu masih tampak murung, seakan baru kemarin sang kekasih meninggalkannya. Seperti pagi itu, jam digital di atas nakas menunjukkan pukul delapan pagi. Seharusnya, saat itu Miabella sudah siap di meja makan untuk sarapan, lalu pergi ke perkebunan.
Akan tetapi, entah mengapa pagi itu dirinya merasa sangat lelah. Seluruh tubuhnya juga terasa ngilu. Miabella pun memutuskan untuk kembali memejamkan mata. Sayangnya, hal itu tidak berhasil dia lakukan. Rasa ngilu tadi bertambah dengan nyeri yang teramat sangat di bagian perut.
Perasaan gadis itu mengatakan bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan tubuhnya, sehingga dia bergegas turun dari ranjang dan berniat mencari bantuan. Tepat pada saat dirinya hendak membuka pintu, seseorang telah lebih dulu mengetuknya “Luciella?” ucap Miabella lirih. Wajahnya pun tampak pucat.
“Nona? Apakah Anda sakit? Aku baru saja hendak menawari Nona sarapan," ujar pelayan muda itu tampak khawatir.
“Iya. Perutku sakit sekali. Aku ….” Belum sempat Miabella melanjutkan kata-katanya, dia sudah merasakan sesuatu yang basah merembes di sela-sela pahanya. Gadis itu menunduk, bersamaan dengan Luciella yang memandang ke arah yang sama.
“Astaga!” Luciella begitu terkejut sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Dia benar-benar panik saat celana piyama majikannya telah berubah warna menjadi merah darah.
“A-apa yang terjadi? Darah apa ini? Aku tidak sedang datang bulan.” Wajah cantik Miabella semakin memucat.
“Nona ….” Mata Luciella membulat. Sepertinya dia sudah dapat menebak tentang apa yang terjadi pada Miabella. “Aku harus membawa Anda ke rumah sakit!” putusnya tanpa ragu. “Apakah Anda bisa berjalan hingga ke depan?”
“Ya, aku bisa. Aku tidak selemah itu,” jawab Miabella dengan nada yang terdengar ketus. Namun, Luciella sudah terbiasa akan sikap majikannya.
“Baiklah. Aku akan menuntun Anda.” Luciella segera melingkarkan tangannya di pinggang ramping Miabella. Pelan dan hati-hati, mereka berjalan hingga tiba di teras depan. “Tunggu sebentar, Nona. Aku akan memanggilkan sopir agar segera kemari!” pesannya sambil berlari menuju area garasi.
__ADS_1
Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam sudah berhenti tepat di halaman depan Casa de Luca. Luciella bergegas turun dan membantu gadis cantik bermata abu-abu itu untuk masuk dalam kendaraan. Beberapa pelayan dan pengawal sempat melihat hal itu, termasuk Dante yang memang bertugas sebagai ajudan pribadinya. “Hei! Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan pada nona?” seru Dante.
“Nanti saja kuceritakan padamu, Dante! Aku harus buru-buru ke rumah sakit. Ingat, jangan katakan apapun pada daddy zio atau kau akan menerima akibatnya!” ancam Miabella sebelum Luciella sempat menanggapi seruan Dante. Ketika sang nona sudah berkata demikian, maka tak ada yang bisa dilakukan oleh Dante selain diam dan mengawasi mobil hitam itu bergerak menjauh.