
Setelah tiga jam perjalanan udara menggunakan pesawat pribadi milik Adriano, Carlo dan sang ayah mertua akhirnya tiba di bandara Kiel, Jerman. Tak ingin membuang waktu, Carlo dan Adriano bergegas turun dari pesawat. Mereka segera mencari mobil sewaan, yang akan membawa keduanya bertemu dengan Gilbert Bachmeier. Sebelum tiba di Kiel, Carlo sempat membuat janji untuk bertemu dengan pria asal Jerman tersebut.
Setengah jam waktu yang harus ditempuh dua pria rupawan itu hingga tiba di pusat Kota Kiel. Di sana, Gilbert sudah menunggu di salah satu sudut taman kota.
“Tuan Bachmeier?” sapa Carlo hati-hati, pada pria yang tengah duduk di bangku taman sambil memainkan ponsel.
Gilbert mendongak dan sempat terpaku untuk sejenak. Bagaimana tidak? Dua orang pria gagah nan rupawan yang berdiri di hadapannya, terlihat seperti bukan orang biasa.
Sikap dan aura mereka menunjukkan kekuatan sekaligus sesuatu yang menakutkan. “Siapa di antara kalian yang bernama Carlo?” tanya Gilbert setelah beberapa saat terdiam.
“Aku.” Carlo maju selangkah, lalu mengulurkan tangan ke hadapan Gilbert. “Ini ayah mertuaku. Adriano D’Angelo,” ucapnya kemudian.
“Di mana kau bertemu dengan putriku?” Adriano tak ingin berbasa-basi. Dia bertanya demikian sambil menjabat tangan Gilbert.
“Aku menurunkannya di dekat batas kota beberapa jam yang lalu. Dia menumpang dari daerah Sieseby dengan mengenakan pakaian yang tampak terlalu tua untuk usianya. Tanpa alas kaki dan juga ... aku yakin dia tak membawa uang. Katanya, dia dirampok. Karena itu kuberi dia sedikit uang. Setidaknya untuk membeli sandal," terang Gilbert menuturkan. "Semoga saja dia belum bergerak terlalu jauh dari tempat terakhir aku menurunkannya."
“Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kita sisir kota ini secepatnya,” ujar Adriano. Sikap tenang yang selama ini selalu menjadi ciri khasnya, tak terlihat lagi. Dia justru tampak begitu cemas memikirkan nasib putri yang teramat dirinya sayangi.
"Maafkan aku, Tuan-tuan. Aku hanya bisa menunjukkan tempat terakhir saat menurunkan nona muda itu. Aku harus segera pulang, karena istriku sedang tidak enak badan," ujar Gilbert.
"Tak apa. Kami telah menyewa sopir yang mengetahui daerah ini dengan baik," sahut Carlo diiringi senyum simpul. Dia lalu merogoh dompet dari dalam saku jaketnya. Carlo menyodorkan beberapa lembar Euro kepada Gilbert. "Terimalah ini, Tuan. Anggap sebagai ucapan terima kasih karena Anda telah membantu istriku."
Gilbert terdiam. Ditatapnya uang dengan jumlah jauh lebih banyak dari yang sudah dia berikan kepada Miabella. Pria itu tersenyum kecil, lalu mengalihkan pandangan kepada Carlo. "Aku membantu istri Anda dengan tulus. Bukan tidak menghargai, tapi Anda tak perlu melakukan ini. Aku hanya berharap semoga dia segera ditemukan." Gilbert mengangguk pelan, kemudian melangkah tenang menuju mobil pick up yang terparkir di tepi jalan.
Melihat sikap pria asing tersebut, Carlo dan Adriano hanya saling pandang. Tak ingin membuang waktu, mereka pun segera ke mobil yang telah disewa. Sedan berwarna hitam itu mengikuti kendaraan milik Gilbert menuju batas kota.
__ADS_1
Selang beberapa saat, mobil pick up yang dikendarai oleh Gibert berhenti. Pria itu turun dan menunggu Carlo serta Adriano. Setelah kedua pria asal Italia tadi berada di hadapannya, barulah Gilbert menunjukkan tempat terakhir dia menurunkan Miabella.
"Jika istri Anda membeli sandal, maka dia pasti akan pergi ke sebelah utara. Di sana ada banyak pertokoan. Coba saja cari dia ke arah yang kusebutkan," saran Gilbert.
"Baiklah," balas Carlo, "sekali lagi, kuucapkan terima kasih atas semua bantuan Anda." Carlo kembali menyalami Gilbert.
"Terima kasih, Tuan Bachmeier." Adriano pun ikut melakukan hal yang sama.
"Aku hanya melakukan sebisaku, Tuan-tuan. Semoga berhasil," balas Gilbert.
"Sampaikan salam kami untuk istri Anda. Semoga dia cepat sembuh." Carlo tersenyum hangat. Dia memandang pria berambut pirang yang telah kembali ke mobilnya. Pick up berwarna hitam itu melaju, meninggalkan tempatnya terparkir tadi.
"Ayo, Carlo. Kita tidak boleh membuang waktu," ajak Adriano yang sudah tak sabar untuk mencari Miabella. Carlo menanggapinya dengan sebuah anggukan. Kedua pria lintas usia itu pun kembali ke dalam mobil yang bergerak ke arah utara.
Sementara Miabella dapat tersenyum, karena kali ini dia berjalan menggunakan alas kaki. Pandangan Miabella awas melihat sekeliling. Entah bagaimana caranya, agar dia dapat memberikan sinyal keberadaannya kepada Carlo. Haruskah dia kembali meminjam ponsel pada seseorang?
Namun, Miabella harus menghentikan langkah, ketika tiba-tiba ada seseorang yang mencekal pergelangan tangannya dengan cukup kencang. Miabella langsung menoleh. Sepasang matanya terbelalak sempurna.
Vlad, telah berdiri di belakangnya dengan sorot terlihat aneh. Dia memegangi pergelangan tangan wanita itu jauh lebih kencang dari sebelumnya. Vlad seakan sudah tahu bahwa Miabella pasti akan melawan dan kembali melarikan diri. "Ini tempat umum. Jadi, tolong bersikaplah yang wajar," ucap Vlad pelan, tapi penuh penekanan.
"Lepaskan aku!" Benar saja apa yang Vlad pikirkan. Miabella melawan. Dia sudah bersiap untuk melayangkan tinjunya.
"Hentikan, Bella. Tolonglah," cegah Vlad. Dia segera menahan tangan istri Carlo tersebut, yang sudah mengarah padanya. Dengan cepat, Vlad menuntun Miabella menjauh dari sana.
"Bagaimana kau bisa menemukanku di sini?" Miabella berusaha mengikuti langkah cepat Vlad, yang terus menuntun bahkan setengah menyeretnya.
__ADS_1
"Aku bisa menemukanmu di manapun, Bella. Sudah kukatakan, kau tidak akan bisa melarikan diri," jawab Vlad. Dia menoleh sejenak sambil menyeringai.
"Apa? Jangan katakan jika kau memasang alat pelacak di pakaianku." Miabella memaksa pria itu agar menghentikan langkah, meskipun sangat kesulitan.
Vlad tertegun. Dia menoleh dengan tatapan malas. Pria itu memperhatikan Miabella yang tengah sibuk memeriksa setiap bagian pakaian. Mencari alat penyadap di sana.
"Katakan di mana, Vlad!" Miabella menatap tajam pria tampan di dekatnya.
"Jangan mengurusi hal itu. Sebaiknya kau segera ikut denganku. Keadaanmu tidak aman, Bella." Vlad kembali menarik tangan Miabella. Menuntunnya dengan cepat membelah keramaian orang-orang.
Akan tetapi, Miabella tentu tak ingin pelariannya menjadi sia-sia. Dia kembali memberontak. Memukul-mukul tangan Vlad yang memegangi pergelangannya dengan erat. Wanita muda itu tak putus asa, hingga dia ingat bahwa Vlad menderita luka di dada kanannya. Miabella menghentikan langkah. Membuat Vlad ikut tertegun. Ketika pria itu setengah membalikkan badan, Miabella segera melayangkan tinju ke arah dada sebelah kanan Vlad dengan keras.
Spontan, Vlad melepaskan genggaman tangannya. Dia mundur beberapa langkah sambil memegangi dada. Pria tampan berambut pirang tersebut meringis kesakitan.
Sontak, orang-orang yang melihat hal itu menjadi heran. "Dia bersikap kurang ajar padaku!" teriak Miabella dalam Bahasa Inggris. Putri sambung Adriano tersebut yakin pasti ada orang yang mengerti ucapannya.
Vlad yang tak terima, segera maju untuk kembali meraih tangan Miabella. Akan tetapi, beberapa pria mencegahnya.
"Pergilah, Nona. Kami akan menahan pria ini," ucap seorang pria dalam Bahasa Inggris.
"Thank you," balas Miabella. Tanpa membuang waktu, dia bergegas meninggalkan tempat itu. Menjauh dari Vlad dengan beberapa pria yang sigap menahan geraknya. Miabella setengah berlari menyusuri trotoar, hingga ada seseorang yang menariknya masuk ke mobil.
🍒🍒🍒
Cek lagi novel keren ini.
__ADS_1