The Bodyguard

The Bodyguard
Dissappointed


__ADS_3

"Aku ingin mengembalikan nama besar Klan Serigala Merah di daratan Eropa. Sudah menjadi kewajiban diriku sebagai keturunan resmi yang masih tersisa dari keluarga Volkov, untuk membersihkan nama baik klan itu. Aku mengemban tanggung jawab yang besar selama ini. Semuanya bukan hanya untuk sebuah kisah cinta yang indah, Nona." Carlo menuturkan segalanya kepada Miabella.


"Kau harus tahu bahwa setiap saat aku selalu memikirkanmu. Aku tak bisa kembali atau menemuimu sebelum semua tugasku selesai. Semuanya kuwakilkan lewat bunga lily putih yang selalu kau buang," sesal Carlo.


"Aku tidak tahu jika kau yang mengirimkannya. Kenapa tidak langsung saja mencantumkan namamu di sana?" Miabella membela diri.


"Maafkan aku. Awalnya memang akan seperti itu. Namun, kupikir lagi itu bisa menjadi penanda bagiku apakah kau ...."


"Akan berpaling dengan mudah?" sela Miabella dengan sorot mata setengah protes.


"Um ... ya begitulah." Carlo tersenyum lembut. "Ternyata kau membuangnya. Di satu sisi aku merasa sedih karena kau melakukan hal demikian, tapi di sisi lain aku merasa percaya diri untuk membawamu kembali dalam hidupku."


"Kau memang menyebalkan!" Miabella memukul lengan Carlo dengan kesal. "Aku tidak menyukaimu!" dengusnya seraya membalikkan badan. Kini, gadis itu berbaring dalam posisi membelakangi.


Sedangkan Carlo kembali menyunggingkan senyumannya. Dia menggunakan sebelah tangan yang dilipat sebagai penyangga kepala. Kebisuan pun menyelimuti mereka berdua. Carlo terlarut dalam pikirannya sambil menatap langit-langit. Sementara Miabella ternyata telah tertidur lelap.


Ketika menyadari bahwa gadis itu sudah berada dalam buaian mimpi, Carlo pun bangkit. Dia lalu memindahkan Miabella hingga berada di tempat yang seharusnya. Setelah itu, pria tampan tersebut menyelimuti si gadis hingga sebatas dada.


Dipandanginya paras cantik sang kekasih pujaan. Sampai kapanpun, perasaan indah untuk putri dari Matteo de Luca tersebut tak akan pernah sirna dari hati Carlo. Dia akan berjuang untuk kembali meraih apa yang telah dirinya lepaskan dengan tanpa sengaja.

__ADS_1


Malam telah berlalu. Suara gemericik air membuat Carlo terjaga dari tidurnya. Dia lalu beranjak dari sofa, kemudian melangkah ke dalam kamar mandi. Di bawah shower dengan air yang mengalir deras, Carlo melihat lekukan indah tubuh Miabella yang dulu pernah menjadi miliknya.


Tanpa banyak bicara, pria tampan bermata biru tersebut kemudian melepas pakaian. Dengan langkah gagah, dia menghampiri Miabella yang tengah asyik sendiri. Perlahan, Carlo mendekap gadis itu dari belakang.


Seketika, Miabella menjadi terkejut. Dia lalu membalikkan badan dengan mata terbelalak. "Apa yang kau lakukan?" protesnya keras.


"Dulu kita sering melakukan hal seperti ini bersama-sama," jawab Carlo tanpa mengalihkan pandangan dari paras cantik dengan rambut dan tubuh basah. Miabella bergerak mundur hingga punggungnya menyentuh dinding kamar mandi yang dingin. Dia tak bisa menghindar lagi, ketika Carlo mendekat dan berdiri tepat di hadapannya.


"Ada banyak sekali hal yang kurindukan dari dirimu. Kebersamaan kita selama ini ...." Carlo meraih paras cantik Miabella dengan telapak kanannya. Sedangkan tangan kiri dia gunakan untuk merangkul pinggang ramping gadis tadi.


"Aku sangat merindukan bibirmu," bisik Carlo di antara suara gemericik air.


Sebuah sentuhan kecil dan ringan mengawali pagi itu. Keduanya lalu saling berpandangan. Perlahan, Carlo mengusap rambut panjang Miabella yang panjang dan juga basah. "Aku mencintaimu, dan akan selalu begitu. Aku ingin menjagamu, hingga diriku tak sanggup lagi untuk melakukan apapun. Sampai kapan kau akan menyuruhku untuk menunggu? Tiga tahun telah cukup rasanya, Bella ...."


"Ini aku. Ayo sentuhlah." Carlo meraih kedua tangan Miabella yang dingin, lalu menempelkan ke wajahnya sendiri. "Aku ada di sini, di hadapanmu. Aku tak akan ke mana-mana lagi. Apapun yang terjadi. Aku bersumpah atas nama ibuku. Kau harus segera bertemu dengannya." Carlo mendekap erat tubuh Miabella. Mereka berdua pun berpelukan, di bawah air yang mengalir deras dari dalam shower.


Beberapa saat kemudian, kedua sejoli tadi telah siap untuk melanjutkan perjalanan. Kota Wina di Austria akan menjadi tempat singgah mereka selanjutnya. Tak seperti kemarin, kali ini wajah Miabella tampak sedikit berseri. Hal yang berlainan dengan apa yang tengah dirasakan Mia dan yang lainnya.


"Orang terakhir yang datang kemari adalah tuan Carlo," jawab Luciella ketika Adriano bertanya padanya dengan nada bicara yang terkesan seperti sedang menginterogasi.

__ADS_1


"Carlo?" ulang Adriano. Dia tak sempat untuk kembali bertanya kepada Luciella, karena Dante telah terlebih dulu datang menghadap.


"Tuan," sapa pria yang telah mengabdi selama puluhan tersebut. Dia mengangguk hormat kepada sang ketua Tigre Nero tersebut.


"Bagaimana, Dante?" tanya Adriano yang masih memasang raut serius.


"Dari rekaman kamera pengawas memang terlihat jelas bahwa nona muda pergi bersama Carlo. Selain itu, para penjaga pintu gerbang pun membenarkannya. Namun, mereka sama sekali tak menyangka jika Carlo akan melarikan nona muda dari sini," jelas Dante dengan hati-hati.


"Oh, jadi selama ini dia hanya berpura-pura menawarkan kerja sama kepada Miabella." Vlad yang juga berada di sana, tersenyum samar sembari menggeleng pelan. "Cara yang dia lakukan sungguh tidak elegant," lanjut pria asal Rusia itu lagi.


"Aku tidak suka dengan sikapnya yang membawa Miabella tanpa seizinku atau Mia," sahut Adriano menimpali. Pria paruh baya tersebut mengepalkan tangan karena menahan amarah. Lagi-lagi, Carlo membuat dirinya begitu kecewa.


Sesaat kemudian, Adriano menoleh kepada Mia. Dia hanya terdiam dengan tatapan kosong pada meja berlapis kaca tebal di hadapannya. Setelah itu, ayah kandung Adriana tersebut kemudian merogoh ponsel dari saku kemejanya. Dia tampak menghubungi seseorang. "Marco. Ajak serta Zucca. Bersiaplah karena kita akan segera pergi ke Rusia." Tegas dan juga lugas, apa yang Adriano katakan kepada sang ketua Klan de Luca yang masih berada di Palermo. Setelah itu, dia menghubungi pilot helikopter dan menyuruhnya untuk bersiap-siap.


"Kau akan pergi ke sana, Adriano?" tanya Mia yang sedari tadi hanya membisu.


"Ya, Mia. Carlo sudah bertindak sangat keterlaluan. Aku harus memberi dia pelajaran setimpal!" tegas Adriano seraya beranjak dari duduknya.


"Bolehkah aku ikut, Tuan D'Angelo?" tanya Vlad yang segera berdiri. Sorot mata pria itu tampak penuh harap.

__ADS_1


Akan tetapi, keinginannya harus berakhir dengan kekecewaan, ketika Adriano menggelengkan kepala. "Maafkan aku, Tuan Ignashevich. Namun, ini adalah urusan keluarga dan tak ada hubungannya dengan bisnis," jawab Adriano seraya berlalu menuju landasan helikopter dengan segera.


__ADS_2