
Carlo tampak memicingkan mata. Dia kembali melihat sekeliling ruang kerja itu. Baru saja dirinya akan merangkak masuk ke dalam sana, suara Miabella telah lebih dulu menahan gerak sang ketua klan. Carlo pun kembali menarik tubuhnya.
“Sedang apa kau di situ?” tanya Miabella. Wanita muda itu sudah berdiri di dekat pintu masuk ruang kerja. Dia tampak keheranan dengan tingkah sang suami yang dirasa tak wajar.
“Masuk dan kunci pintunya. Setelah itu kemarilah. Kurasa ada sesuatu yang tersembunyi di dalam sana,” sahut Carlo membuat Miabella merasa penasaran. Dia pun melakukan apa yang sang suami suruhkan padanya.
Setelah mengunci pintu, Miabella segera mendekat ke arah di mana Carlo berada. “Ada apa di dalam tungku perapian itu, Carlo?” tanyanya setengah membungkuk, agar dapat melihat ke dalam tungku perapian tadi. Tampaklah di hadapannya sebuah pintu kecil yang terbuka pada dinding belakang tungku. “Ruangan apa di dalamnya?” Miabella mengernyitkan kening.
“Karena itu harus kuperiksa sekarang,” sahut Carlo. “Kau tunggulah di sini. Jika aku tidak kembali dalam setengah jam, maka pergilah untuk memanggil ayahmu atau Grigori kemari,” pesan Carlo.
“Apa-apaan kau? Kata-katamu membuatku ....” Miabella tak melanjutkan kalimatnya, karena tiba-tiba Carlo mengecup kening dan juga bibir wanita muda itu. “Baiklah,” lanjut putri sulung Mia tersebut. Dengan wajah yang diliputi harap-harap cemas, Miabella menatap sang suami masuk ke dalam tungku perapian dengan dinding belakang yang terbuka tadi. “Hati-hati, Carlo,” pesannya.
Carlo yang telah masuk, tak sempat lagi untuk memberikan jawaban. Dia merangkak dalam sebuah lorong yang teramat sempit dan hanya cukup untuk satu orang saja. Lorong kecil yang tidak seberapa panjang, karena tak berselang lama Carlo telah menemukan ujungnya. Dia pun melompat dari sana, yang tenyata merupakan sebuah lubang pada dinding ruangan.
Untuk sejenak Carlo terpaku sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dengan luas sekitar tujuh puluh meter persegi. Di bagian pinggir, ada empat buah pilar yang tidak terlalu besar. Sementara tepat di tengah ruangan tadi terdapat sebuah pilar yang jauh lebih besar ukurannya dan tampak tidak biasa.
Akan tetapi, sebelum mendekat pada pilar tadi, Carlo lebih dulu mengelilingi ruangan luas yang ternyata merupakan sebuah perpustakaan. Pada sekeliling dinding di sana, terdapat lemari kaca yang berisi ribuan buku. Namun, sayang sekali karena tempat itu tampak sangat kotor dan tidak terawat. Sepertinya, perpustakaan tadi merupakan tempat rahasia yang tidak diketahui semua orang.
“Bella!” Suara seruan Carlo merambat melalui dinding lorong kecil yang tadi dia lewati, menggema hingga tiba ke telinga Miabella yang menunggu di dekat perapian. “Apa kau ingin ikut kemari, Cara Mia?” tawar pria itu kemudian.
__ADS_1
Mendengar tawaran demikian, Miabella segera masuk tanpa berpikir panjang. Dia merangkak seperti yang Carlo lakukan, hingga dirinya tiba di ujung dengan sebuah lubang. “Carlo!” panggil Miabella. Mendengar panggilan itu, Carlo pun segera menghampiri lubang pada dinding tadi. Dia lalu membantu sang istri untuk turun. Sama seperti Carlo, Miabella pun tampak begitu takjub dengan tempat tersebut. “Banyak sekali bukunya, Carlo.” Miabella terus mengedarkan pandangannya.
“Aku rasa tempat ini merupakan perpustakaan pribadi. Namun, entah milik ayah atau kakek buyutku. Satu yang pasti aku sangat takjub melihatnya,” ujar Carlo kagum. “Kita hanya perlu membersihkan ruangan ini agar terlihat jauh lebih nyaman.”
“Ya, kau benar. Sepertinya tempat ini sudah lama sekali terbengkalai,” timpal Miabella. “Apa kau yakin bisa menemukan sesuatu di sini?” Wanita muda itu menoleh kepada sang suami dengan raut yang tampak ragu.
“Semoga saja ada sesuatu yang bisa kita dapatkan di sini, meskipun itu hanya sedikit informasi.” Carlo berjalan mendekat pada salah satu lemari kaca, kemudian membukanya. Seketika, pria itu menjauh sambil menutupi mulut dan hidung karena debu yang berterbangan. “Banyak sekali debunya. Hati-hati, Cara mia. Kau alergi debu,” pesan Carlo mengingatkan Miabella yang memang hanya berdiri terpaku. Wanita muda itu tak berani menyentuh apapun.
Beberapa saat lamanya Carlo membuka-buka lemari kaca berisi ribuan buku. Dia juga memeriksa beberapa meja dan laci susun. Akan tetapi, tak ada sesuatu yang berarti di sana. Lagi pula, berhubung tempat itu tak terawat sama sekali, sehingga tak sedikit buku yang hancur karena termakan usia.
“Tak ada apapun yang bisa ... apa yang sedang kau lakukan, Sayangku?” Carlo menghampiri Miabella. Wanita muda itu tampak sedang mengamati sesuatu pada pilar besar di tengah ruangan.
Sepasang suami istri tadi saling pandang untuk sejenak. “Tolong ambilkan ponsel di saku belakang,” pinta Carlo pada Miabella. Setelah wanita muda itu mengambilnya, sang ketua Klan Serigala Merah kemudian menyuruh istri tercinta agar menyalakan senter dan mengarahkannya ke dalam pilar besar tadi. Di dalam sana, tampak ada sebuah kotak besi berwarna hijau.
“Ambilah dan periksa isinya, Carlo,” suruh Miabella pelan yang terlihat penasaran dan juga tak sabar. Carlo pun segera melakukannya. Lagi pula, tanpa disuruh pun dia memang bermaksud hendak merogoh ke dalam untuk mengeluarkan kotak besi tadi.
Kotak besi itu berukuran tidak terlalu besar. Kondisinya pun mulai berkarat pada beberapa bagian, meskipun masih tampak sangat kokoh. Di bagian depannya, terdapat cantelan untuk mengunci. Namun, beruntung karena kotak tersebut tidak dipasangi gembok, sehingga Carlo dapat membukanya dengan mudah.
Di dalam kotak besi tadi, terdapat dua buah buku bersampul kulit dengan warna cokelat. Dari modelnya saja, terlihat jelas seberapa tua buku itu. Carlo kemudian mengambil salah satu dari kedua buku tadi, lalu membukanya.
__ADS_1
Pada lembaran pertama, Carlo menemukan sebuah catatan yang ditulis dengan tangan dalam menggunakan bahasa Rusia. Pria tampan bermata biru tersebut sempat membaca apa yang ada di sana. Tulisan itu sepertinya dibuat oleh Nikolai, karena pada baris bagian atas terdapat tanggal dan juga tahun kapan tulisan tersebut dibuat.
“Buku ini milik ayahku,” ucap Carlo melirik sejenak kepada Miabella.
“Apa yang dia tulis di sana?” tanya wanita muda itu penasaran.
“Ayahku bercerita tentang kedua sahabat dekatnya ... ah, rupanya dulu dia pernah masuk militer.” Carlo kembali melirik sang istri, sebelum melanjutkan membaca. “Ayahku memiliki dua sahabat dekat yaitu Piotr Rylov dan Roderyk Lenkov,” lanjutnya.
“Mereka menimba ilmu di sekolah militer yang sama. Lihat ini, Cara mia.” Carlo menunjukkan buku tadi pada sang istri. “Sepertinya ini adalah buku harian ayahku. Rupanya dia merupakan seseorang yang cukup melankolis.” Pria rupawan itu tertawa sampai matanya menyipit.
“Hm sangat mirip denganmu,” balas Miabella sembari meraih selembar foto, yang tertempel pada bagian halaman buku tadi. Miabella kemudian mendekatkan benda itu ke wajahnya. “Pasti ayahmu yang berada di tengah,” ujarnya sambil terus mengamati potret hitam putih yang tampak usang tersebut. Miabella kemudian membalik foto itu dan menemukan tulisan tangan Nikolai. “Apa ini?” tanyanya pada Carlo sembari menyodorkan foto tadi.
“Itu hanya nama ayahku beserta nama kedua sahabatnya,” jawab Carlo.
Semakin penasaran, mereka pun membuka lembar demi lembar hingga tiba di bagian akhir. Terdapat coretan gambar batu nisan dengan nama Piotr Rylov serta tulisan panjang yang menyertai gambar itu di bawahnya.
“Apa yang dituliskan oleh ayahmu ini, Carlo?” Miabella kembali bertanya dengan raut yang teramat penasaran.
Sementara Carlo tak segera menjawab. Dia terus memperhatikan tulisan tadi, kemudian menyipitkan kedua matanya. Sesaat kemudian, Carlo mengalihkan perhatian kepada sang istri yang berada di sebelahnya. “Sepertinya ayahku menyimpan satu rahasia besar,” pikir Carlo pelan dan dengan setengah bergumam.
__ADS_1